Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Menurut Petunjuk Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL), Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah latihan kerja secara nyata yang dilakukan oleh mahasiswa, berupa area tertentu yang berhubungan dengan bidang ilmu geologi dan hasilnya disusun dalam bentuk laporan ilmiah. Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan dengan cara melakukan pemetaan geologi dengan luas minimal 10 km2 dan terdapat minimal tiga satuan batuan. Untuk angkatan 2007 semester genap tahun ajaran 2010/2011, Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan dengan cara pemetaan geologi berskala 1 : 25.000 di daerah yang teleh diundi sebelumnya, yaitu di daerah Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap dengan dosen pembimbing perkelompok. 1.2 Tujuan Menurut Petunjuk Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL), tujuan pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah sebagai berikut :

Mahasiswa memperoleh pengalaman kerja mandiri dalam bidang geologi dan dapat mengevaluasi hasil kerjanya. Mahasiswa dapat melakukan kerja lapangan yang berkaitan dengan ilmu geologi.

1.3 Lokasi Pembagian daerah Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan dosen pembimbing adalah sebagai berikut :

Gumelar Purwojati (Kelompok 1, Nomor Kapling 1-10) Dosen pembimbing Dosen pembimbing Dosen pembimbing Dosen pembimbing Dosen pembimbing : Suwardi S.Si, M.Si & Asmoro Widagdo ST, MT : Adi Chandra ST, MT : Eko Bayu Purwa Satria ST, M.Si : Gentur Waluyo S.Si, M.Si & M. Aziz ST, MT : Siswandi ST, MT 1 Kesugihan Wangon Jatilawang (Kelompok 2, Nomor Kapling 11-20) Jeruklegi (Kelompok 3, Nomor Kapling 21-30) Kawunganten (Kelompok 4, Nomor Kapling 31-40) Rawalo Cilongok (Kelompok 5, Nomor Kapling 41-50)

Patikraja Kemranjen (Kelompok 6, Nomor Kapling 51-60) Dosen pembimbing : Sachrul Iswahyudi ST

BAB II GEOLOGI REGIONAL Berdasarkan lembar Peta Geologi Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi tahun 1996 skala 1 : 5.000.000, daerah Praktek Kerja Lapangan (PKL) Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2007 semester genap tahun ajaran 2010/2011, terdiri dari batuan sedimen tersier dan batuan sedimen kuarter dengan adanya sesar secara regional berarah NW. Secara regional daerah Praktek Kerja Lapangan (PKL) termasuk kedalam wilayah zona pegunungan selatan dari fisiografi pulau Jawa, hal ini mengacu pada pembagian fisiografi pulau Jawa oleh Van Bemmelen (1970). Van Bemmelen (1970) membagi fisiografi pulau Jawa bagian tengah menjadi 6 zona, yaitu : 1. Endapan Gunung Api Kuarter 2. Endapan Aluvium Jawa Utara 3. Antiklinorium Bogor 4. Pusat Depresi Jawa Tengah
5. Kubah dan Depresi Rangkaian Pegunungan Serayu Selatan

6. Pegunungan Selatan Jawa Barat dan Jawa Timur

Gambar 1. Sketsa Fisiografi Jawa Bagian Tengah (R.W.Van Bemmelen,1970) 2.1 Geomorfologi 1

Berdasarkan Peta Geologi, Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), dan Peta Topografi yang mencakup area Praktek Kerja Lapangan (PKL), geomorfologi secara regional terdiri dari satuan morfologi alluvium yang dikontrol oleh aliran Sungai Serayu (DAS Serayu), dataran rendah dan dataran tinggi yang dipengaruhi oleh Gunung Slamet dan Pegunungan Serayu Selatan. Sungai Serayu merupakan salah satu pengontrol satuan morfologi secara regional di daerah penelitian. Sungai Serayu berstadium dewasa menuju tua, berbentuk penampang U dengan perbandingan lebar : kedalaman (5 : 1). Selain Sungai Serayu sebagai sungai utama, terdapat pula sungai-sungai kecil yang merupakan anak Sungai Serayu. Berbeda dengan sungai utama yaitu Sungai Serayu, anak Sungai Serayu sungai V. 2.2 Stratigrafi Daerah Praktek Kerja Lapangan (PKL) termasuk kedalam peta geologi lembar Purwokerto Tegal (24-1308-6-1309-3-Purwokerto Tegal) dan peta geologi lembar Banyumas (23-1306-3-Banyumas) skala 1 : 100.000. Pada peta geologi tersebut terdapat formasi batuan yang dapat digunakan sebagai acuan regional dalam melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Beberapa formasi tersebut adalah sebagai berikut :

berstadium muda menuju dewasa yang

dicirikan oleh perbandingan lebar : kedalaman (1:1) dan bentuk penampang

Anggota Breksi Formasi Halang (Tmpb) Breksi dengan komponen andesit, basal dan batugamping. Masa dasar batupasir tufan kasar; sisipan batupasir dan lava basal.

Formasi Halang (Tmph) Batupasir andesit, konglomerat tufan dan napal, bersisipan batupasir. Diatas bidang perlapisan batupasir terdapat bekas-bekas cacing. Foraminifera kecil menunjukkan umur Miosen Akhir; di lembar sebelahnya hingga Pliosen. Tebal sekitar 800 m. Perselingan batupasir, batulempung, napal dan tuf dengan sisipan breksi. Dipengaruhi oleh arus turbid dan pelengseran bawah laut.

Formasi Kalibiuk (Tpb) Napal lempungan bersisipan batupasir, kaya moluska. Tebal sekitar 175 m. Aluvium (Qa)

Kerikil, pasir, lanau dan lempung ; sebagai endapan sungai dan pantai. Tanda titik-titik menunjukkan undak sungai. Tebal hingga 150 m.

Formasi Tapak (Tpt) Batupasir berbutir kasar berwarna kehijauan dan konglomerat, setempat breksi andesit. Di bagian atas terdiri dari batupasir gampingan dan napal berwarna hijau yang mengandung kepingan moluska. Tebal sekitar 500 m.

Endapan Lahar G. Slamet (Qls) Lahar, dengan bongkahan batuan gunungapi bersusunan andesit-basal, bergaris tengah 10 - 50 cm. Dihasilkan oleh G. Slamet tua. Sebarannya meliputi daerah datar.

Gambar 2. Korelasi Peta Geologi Lembar Purwokerto-Tegal Skala 1 : 100.000

Pengendapan Pemali di Utara.

pada

Kala

Miosen

Tengah

menghasilkan

Formasi

Kalipucang dan Formasi Pamaluan di Selatan, Formasi Panosogan dan Formasi Pada Miosen Akhir sampai Pliosen Awal terjadi lagi gerakan tektonik dan kegiatan gunung api meningkat, dan menyebabkan daerah cekungan menjadi labil, terjadinya longsoran bawah laut berulang kali dan menghasilkan Formasi Halang, lalu terjadi pendangkalan yang membentuk Formasi Tapak. Pada Kala Pliosen Akhir, terjadi penerobosan basal disusul oleh pengangkatan, kemudian pelipatan dan pensesaran, pada Kala Plistosen, pengangkatan terus berlangsung dengan ditandai oleh terbentuknya undak sungai yang disertai oleh pembentukan aluvium dan endapan pantai yang berlanjut sampai kini. 2.3 Struktur Geologi Lempeng Samudra Hindia-Australia berpengaruh sangat besar terhadap berkembangan tektonik dan cekungan pengendapan pada Zona Pegunungan Selatan. Tumbukan tersebut mengakibatkan terbentuknya perlipatan-perlipatan dan rekahan yang kemudian berkembang menjadi sesar (Sujanto dan Roskamil, 1975). Perkembangan struktur regional diatas tidak terlepas dari tektonik regional (jalur subduksi) yang melewati pulau Jawa.

Gambar 3. Perkembangan Tektonik Jawa

Gambar 4. Pola Struktur Regional Pulau Jawa Berdasarkan peta geologi lembar Purwokerto Tegal (24-1308-6-1309-3 Purwokerto Tegal), struktur regional pada daerah tersebut merupakan perlipatan yang pada umumnya mempengaruhi batuan Neogen Muda, dengan arah utama hampir barat-timur. Beberapa sumbu lipatan yang arahnya acak diduga merupakan lipatan seretan akibat sesar-sesar regional. Sesar utama berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya, dengan gerakan miring. Sesar lainnya berarah hampir utara-selatan atau barat-timur. Sesar naik yang arahnya barat-timur, dimana bongkah utara nisbi bergerak naik, diduga sebagai bagian dari sistem sesar naik busur belakang. Berdasarkan pola sebaran sesar dan lipatannya, arah mampatan utama adalah utara-selatan.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Dalam kegiatan praktek kerja lapangan pada pemetaan geologi ini, yang menjadi obyek penelitian, meliputi beberapa aspek diantaranya adalah meliputi aspek litologi, geomorfologi, sedimentologi, stratigrafi, geologi struktur, geologi sejarah serta bahan galian yang ditemukan di daerah penelitian.
3.2 Peralatan Lapangan

Dalam melakukan penelitian di lapangan, alat-alat yang diperlukan adalah sebagai berikut :

Peta dasar yang digunakan adalah peta topografi dengan peta skala 1 : 25.000 dan Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1 : 25.000 untuk keperluan pembacaan lokasi secara geografis dan kependudukan.

Kompas geologi, digunakan untuk menentukan lokasi singkapan dalam peta, serta untuk mengukur arah jurus kemiringan batuan, mengukur kemiringan lereng dan mengukur arah lintasan dan lain-lain.

Palu geologi, meliputi palu batuan sedimen (chisel point) dan batuan kristalin (pick point), digunakan untuk mengambil sample batuan. Komparator besar butir untuk batuan sedimen dan komparator mineral untuk batuan beku sebagai pembanding ukuran butir, bentuk butir dan diagram perkiraan prosentasi volume fragmen batuan.

Loupe dengan pembesaran 10 x dan 20 x, digunakan untuk mengamati tekstur batuan. HCL 0,1 N digunakan untuk menentukan adanya kandungan karbonat dalam batuan. Meteran panjang 20 meter, digunakan untuk mengukur jarak lintasan dan ketebalan lapisan batuan. Kamera, digunakan untuk mengambil photo singkapan dan untuk pengambilan kenampakan morfologi pada daerah penelitian. Kantong sample, digunakan untuk tempat dan dibawa sebagai contoh batuan yang akan dianalisa di laboratorium. 1

Alat- alat tulis digunakan untuk mencatat data-data yang diperoleh di lapangan, penggambaran sketsa singkapan dan posisi arah jurus perlapisan batuan pada peta dasar.

3.1 Peralatan Laboratorium 3.1.1 Analisis Fosil atau Paleontologi Peralatan dan bahan yang digunakan untuk analisis fosil, meliputi :

Mikroskop analisator Conto batuan (sample) yang dianalisis H2O2 15 % Lumpang besi dan mortar Lumpang porselin dan penumbuk Oven pengering Ayakan Tyler No.120, 80 dan 60 mesh

3.1.1 Analisis Petrografi Peralatan dan bahan yang digunakan untuk analisis petrografi, meliputi:

Mikroskop polarisasi (transmitted light polarizing microscope) Conto sayatan batuan

3.1 Langkah Penelitian 3.1.1 Tahap Persiapan Tahap persiapan dilakukan sebelum pekerjaan lapangan, pada tahap persiapan kegiatan yang dilakukan adalah : Pembuatan peta dasar berupa peta topografi dan peta pola aliran sungai daerah pemetaan dengan skala 1 : 25.000, yang berasal dari hasil peta topografi Studi literatur untuk memperoleh gambaran umum mengenai keadaan geologi daerah penelitian secara regional. Literaturliteratur yang terkumpul berupa penelitian yang telah dilakukan para peneliti terdahulu, yang mana data-data tersebut bersifat sekunder

Penafsiran peta topografi Analisis geomorfologi, berupa peta pola aliran dan kelurusan sungai Membuat surat perijinan masuk lokasi daerah penelitian sebelum melakukan kegiatan di lapangan kepada aparat setempat 1

3.4.2 Tahap Penelitian Lapangan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode orientasi lapangan. Metode orientasi lapangan dilakukan dengan menarik garis-garis terarah dari titik pengamatan terhadap suatu objek yang jelas dan dapat diketahui di peta atau dengan mengamati serta mencocokan bentang alam di sekitar titik pengamatan, misalnya : garis ketinggian, sungai, jembatan, gunung dan lain-lain. Metode ini sesuai dengan daerah terbuka dengan ciri bentang alam yang sudah dikenali dan lokasi pengamatan yang relatif berjauhan. Pengamatan yang dilakukan selama di lapangan adalah sebagai berikut : Pengamatan terhadap singkapan batuan meliputi jenis, karakteristik fisik secara megaskopis, pengukuran arah dan kemiringan perlapisan, ketebalan lapisan dan struktur sedimen, sehingga dapat dikelompokan menjadi satuan-satuan batuan

Pengamatan terhadap indikasi yang dapat menunjukan adanya perubahan litologi dan struktur geologi Interpretasi lingkungan pengendapan, setelah melakukan korelasi, maka akan diperoleh urutan proses dan siklus sedimentasi pada tiap penampang. Interpretasi dilakukan dengan menggunakan metode komparasi model sedimentasi, sehingga didapat hasilnya seperti lingkungan Laut Dalam.

Pengambilan contoh batuan yang dianggap mewakili satuan-satuan batuan untuk selanjutnya dianalisa di laboratorium. Penggambaran sketsa dan pengambilan foto. Pada tahap pekerjaan laboratorium dilakukan dengan 2 (dua) tahap,

3.4.3 Tahap Pekerjaan Laboratorium diantaranya : 3.4.3.1 Analisis Fosil atau Paleontologi Conto batuan (sample), yang diperoleh dari lapangan selanjutnya dianalisis di laboratorium, yang meliputi analisis fosil, analisis ini dilakukan setelah penelitian lapangan. Analisis bertujuan untuk penentuan umur relatif batuan dan sebagai indikator dalam interpretasi lingkungan pengendapan. 1

Langkah-langkah analisis fosil sebagai berikut :


Menimbang sample batuan lalu menumbuknya Sample dicampur dengan larutan HO 30 % sampai tidak bereaksi Masukan dalam saringan dan pisahkan untuk tiap butiran (60 mm, 80 mm dan 120 mm) lalu masukan dalam mangkuk alumunium

Masukan sample ke dalam oven bertemperatur 100C120C sampai kering, lalu masukan dalam kantong sample Sample siap untuk dianalisis dibawah mikroskop, pisahkan tiap fosil dalam preparat/plate lalu beri nama sesuai literatur.

3.4.3.2 Analisis Petrografi Penilitian ini dilakukan dengan menganalisis secara megaskopis terhadap sayatan batuan sebagai penyusun utama dan sisipan suatu satuan batuan, yang pada akhirnya dapat ditentukan nama batuan berdasarkan klasifikasi batuan beku, menurut (Streckeisen, 1976), klasifikasi batuan sedimen klastik (Pettijohn, 1975), dan klasifikasi batuan menurut (Schmidt, 1981). Pettijohn, 1973 (dalam Nichols, 1999), mengklasifikasi batupasir berdasarkan presentase tiga komponen bentuk segitiga yang digabungkan dengan presentase jumlah kandungan matriksnya. Ketiga komponen tersebut adalah Kuarsa (Q), Feldspar (F), Lithic Fragmen (L). Tahap pertama dalam pemakaian klasifikasi ini adalah menentukan presentase relatif dari kandungan kuarsa, feldspar, dan lithic fragmen dengan bantuan mikroskop. Gambaran tiga dimensi dari diagram klasifikasi adalah untuk menunjukan prosentase kandungan matriknya. Tahap kedua adalah mengukur prosentase kandungan matriks, apabila kandungan matriks berjumlah 0 - 15 %, maka jenis batuannya dinamakan arenite, sedangkan bila kandungan

matriksnya berada diantara 15% - 75%, maka jenis batuan ini dinamakan wacke, dan apabila kandungan matriksnya lebih dari 75% dinamakan mudstone. 3.4.3 Analisis Data Dalam analisis data ini digunakan beberapa analisa diantaranya adalah analisis data dari lapangan meliputi :

Analisis geomorfologi Analisis karakteristik litologi Analisis lingkungan pengendapan Analisis stratigrafi Analisis struktur geologi

Penentuan Daerah Geomorfolog Lapangan Geologi AnalisisData Pengambilan Data Pengolahan Daerah PetaGeologi Kerja Daerah Analisis Struktur Sejarah Geologi Analisis Proposal Praktek Laporan Stratigraf Studi Pustaka (PKL) PenelitianGeologi Lapangan Lapangan PKLRegional Petrografi Struktur Geologi iPKL Fosil i

Keterangan : : Proses Selanjutnya : Bagian Proses

Gambar 5. Diagram Alir Metode Penelitian Praktek Kerja Lapangan

BAB IV RENCANA KERJA HARIAN Waktu Oktober November Septemb Minggu Keer 1 2 3 4 1 2 3 4

N o 1 2 3 4 5 6

Kegiatan

Jul i

Agust us

Pengurusan Administrasi Studi Pustaka Orientasi Lapangan Pengambilan Data dan Sampel Pengujian Sampel Pengolahan, Analisis dan Data Studio Laporan, Evaluasi dan Presentasi

DAFTAR PUSTAKA

Brahmantyo, Budi, dan Bandono. 2006. Klasifikasi Bentuk Muka Bumi (Landform) Untuk Pemetaan Geomorfologi Pada Skala 1:25.000 Dan Aplikasinya Untuk Penataan Ruang. Geoaplika : Indonesia Djuri, M., DKK. 1996. Geologi Lembar Purwokerto dan Tegal, Jawa Skala 1 : 100.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi : Bandung Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia. 1996. Sandi Stratigrafi Indonesia. Ikatan Ahli Geologi Indonesia : Indonesia Sukamto, R., DKK. 1996. Peta Geologi Indonesia Skala 1 : 5.000.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi : Bandung Tim Penyusun. 2011. Petunjuk Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan. Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman : Purwokerto