Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN Jika kita menyimak sejarah, terutama tentang berdiri dan jatuhnya suatu kekuasaan, jelas bagi

kita bahwa Allah SWT memberikan dan mencabut kekuasaan terhadap orang yang Ia kehendaki, sebagaimana firman-Nya :

Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, terdapat dinasti-dinasti kecil, di antaranya Dinasti Buwaihi yang berkuasa di Irak yang bercorak Persia. Kemudian dilanjutkan Dinasti Saljuk yang bercorak Turki . Kedua dinasti ini merupakan bagian dari sejarah perdaban Islam yang pernah berkuasa. Keberadaan dan kekuasaannya akan memberikan citra terhadap perkembangan peradaban Islam masa lalu dan memberikan inspirasi bagi generasi berikutnya. Kekuasaan Dinasti Buwaihi yang beraliran Syiah menjadikan Baghdad sebagai pusat pemerintahannya dengan membangun gedung tersendiri yang diberi nama Darul Mamlakah. Setelah mengalami masa kemajuan, akhirnya Dinasti Buwaihi mengalami kejatuhan ketika dirampas oleh Bani Saljuk. Akhirnya Bani Abbasiyah menjadi dibawah kendali Bani Saljuk dalam waktu yang cukup lama. Berikut ini akan disajikan beberapa hal yang berkaitan dengan dinasti Buwaihi dan Dinasti Saljuk di Irak : 1. Berdirinya Dinasti Buwaihi 2. Perkembangan dan Kemunduran Dinasti Buwaihi 3. Berdirinya Dinasti Saljuk 4. Perkembangan dan Kemunduran Dinasti Saljuk

BAB II PEMBAHASAN A. Berdirinya Dinasti Buwaihi (945 1055 M) Bersamaan dengan kekuasaan Nuh bin Nasr, Dinasti Saman terlibat konflik dengan orang-orang dari Suku Daylam di kota Al-Jibal (Ray). Putra Nasr bin Ahmad bin Ismail Samani berambisi menguasai kembali wilayah Ray. Secara de jure, kawasan Ray telah dikuasai oleh orang-orang Suku Daylam. Ternyata tidak mudah bagi Nuh bin Nasr untuk menaklukkan suku ini. Malah sebagian pasukannya sewaktu menyerbu Ray membelot berpihak kepada Suku Daylam. Rezim Saman pun kalah menghadapi suku ini. Ibnu Abi As-Saj, Gubernur Azerbaijan, mengundurkan diri pada tahun 926 M. Bersama pasukannya, dia menuju ke Irak untuk menaklukkan gerakan ekstrimis Kaum Qaramithah (Syiah Zaidiyah). Kekosongan kekuasaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Mardavij bin Zayyar. Tahun 927 M Mardavij berhasil menaklukkan Ray dan Isfahan. Mardavij tidak sendirian dalam hal ini. Untuk membangun kekuatan militer yang tangguh, dia merekrut para nelayan dari tepi pantai Laut Kaspia. Mereka inilah yang dikenal sebagai Suku Daylam. Di antara mereka yang direkrut oleh Mardavij adalah Ali bin Buya, putra seorang nelayan dari klan Buwaihi. Dua saudara Ali, Hasan dan Ahmad, turut juga bergabung. Bersama Suku Daylam, Mardawij berhasil menaklukkan Persia pada tahun 932 M.1 Rupanya, keberhasilan merebut wilayah Persia lebih banyak didominasi oleh peran orang-orang Buwaihi. Wajar jika Ali bin Buya berambisi untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mardavij bin Zayyar. Setelah Mardavij meninggal dunia, dia tidak memiliki pengganti yang cukup cakap. Kesempatan baik ini dimanfaatkan oleh Ali bin Buya. Dia mengambil alih kekuasaan dengan amat mudah. Pasca meninggalnya Mardavij bin Zayyar, kedudukan Ali bin Buya makin kokoh di Ray dan Persia. Ada beberapa riwayat tentang asal-usul Dinasti Buwaihi. Pertama, Buwaihi berasal dari keturunan seorang pembesar yaitu Menteri Mahr Nursi. Pendapat kedua mengatakan bahwa Buwaihi adalah keturunan Dinasti Dibbat, suatu dinasti di Arab. Ketiga, Buwaihi adalah keturunan raja Persi. Dan keempat, Buwaihi berasal dari nama seorang laki-laki
1

A. Syalabi., Sejarah dan Kebudayaan Islam 3 ., ( Jakarta, PT. AlHusna Zikra, 1997) Hal. 325

miskin yang bernama Abu Syuja yang hidup di negeri Dailam. Negeri yang terletak di Barat Daya Laut Kaspia dan telah tunduk pada kekuasaan Islam sejak masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Nampaknya pendapat keempatlah yang dianggap mendekati kebenaran. Dinasti ini berasal dari keluarga miskin. Sampai-sampai setelah berkuasa, Ahmad, salah satu penguasa Dinasti Buwaihi terus mengenang masa-masa pahitnya dengan mengatakan, Aku pernah menjunjung kayu api di kepalaku.2 Buwaihi atau Abu Syuja atau Buya mempunyai tiga orang anak laki-laki, yaitu Ali, Hasan dan Ahmad. Ketiganya menjadikan lapangan ketentaraan sebagai mata pencaharian, dan telah bergabung denga tentara Makan bin Kali, salah seorang panglima terkenal di negeri Dailam. Mereka telah membuktikan kecakapannya di dalam melaksanakan tugas masing-masing. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Dailam telah berada dalam kekuasaan orang-orang Muslim dan tunduk pada pemerintahan Khalifah. Di Provinsi Kaspia yang dihuni Suku Dailam ini pun, pernah didatangi tokoh Syiah Hasan bin Zaid yang ketika itu sedang melarikan diri dari kerajaan Abbasiyah dan berhasil menjadikan warga Dailam memeluk Islam. Namun pada tahun 864, warga Syiah Dailam memproklamirkan kemerdekaan mereka dari Khalifah Abbasiyah, mengusir gubernur Abbasiyah dan mendirikan sebuah negara merdeka.3 Makan bin Kali ialah panglima kedua di Dailam sesudah Laila bin An-Numan yang menjadi panglima pertama. Ketika Laila terbunuh sewaktu memimpin tentara, Zaidiyah menentang Raja Samaniyah. Makan telah mengambil tempatnya sebagai panglima yang pertama. Tetapi salah seorang bawahannya bernama Asfar bin Syiruwaih telah berkhianat dengan dibantu oleh Mardawij bin Ziar. Mereka mendapat kemenangan menentang Makan. Ketika Asfar terbunuh, maka kekuasaan berpindah kepada Mardawij dan saudaranya yaitu Wasyamkir. Ketiga anak Buwaihi ini akhirnya berpihak kepada Mardawij, setelah Makan mengalami kekalahan. Namun sebelumnya, mereka pun meminta izin dulu kepada Makan, dengan alasan meringankan beban Makan, dan akan membantunya kembali apabila

2 3

Ibid., Hal. 324 Joel. L. Kremer., Renaisance Islam, Terj. (Bandung, Mizan 2003) Hal. 63-64

kekuasaan telah pulih. Makan mengizinkan hal itu, begitu juga panglima-panglima lain mengikuti jejak mereka. Mardawij pun menyambutnya dengan senang hati. Dan masingmasing bekas panglima tentara Makan diserahi kekuasaan menjadi pemerintah di wilayahwilayah yang ditundukkan oleh Mardawiij. Ali bin Buwaih wilayah Karkh. Begitu juga Hasan bin Buwaih dan saudaranya, Ahmad, diserahi tugas sebagai pentadbir wilayahwilayah lain yang penting. Pegawai-pegawai pemerintah yang baru itu telah berangkat ke wilayah Raiyi disertai oleh Wasyamkir bin Ziar dan Abu Abdullah Al-Amid, wazir kepada Mardawij, dan singgah di sana sebelum masing-masing menuju wilayah yang telah ditetapkan untuk tugas mereka. Pada waktu tersebut, Mardawij telah memikirkan kembali perkara pelantikanpelantikan, lalu merasa menyesal menyerahkan wilayah-wilayah tersebut kepada bekas panglima-panglima Makan itu. Maka ia pun mengirim surat kepada Wasyamkir supaya menahan dulu ketiga panglima tersebut di Raiyi. Tetapi surat itu sampai kepada Abu Abdullah Al-Amid lebih dulu. Setelah membaca isinya, Abu Abdullah yang mempunyai hubungan baik dengan Ali- segera menemui Ali bin Buwaih dengan sembunyi-sembunyi dan memintanya supaya segera berangkat ke wilayah Karkh yang akan diperintahnya. Pada keesokan harinya, baru Abu Abdullah al Imad menyerahkan surat itu kepada Wasyamkir, sementara Ali bin Buwaih telah berada jauh dalam perjalanannya menuju wilayah Karkh yang kemudian menjadi miliknya.4 Dari sinilah cerita Bani Buwaihi dimulai ketiga bersaudara itu terus mengembangkan wilayah mereka, dengan masing-masing memiliki daerah kekuasaan sendiri. Pemerintahan Buwaihi didasarkan pada sistem kekeluargaan, yang satu sama lain saling mengakui daerah kekuasaan masing-masing, termasuk daerah yang dikuasai oleh saudara tertua, Ali, yang telah menguasai Isfahan, Ahwaz dan Wasit ketika Mardawij terbunuh dan tak lama kemudian seluruh Fars. Sedangkan Hasan menguasai Provinsi Ray dan Jibal, sedang yang paling muda Ahmad menguasai wilayah pantai selatan yaitu Provinsi Kirman dan Khuzistan.5 Pada saat itu, keadaan di Baghdad semakin buruk. Golongan Mamalik dan Amiramir Umara tidak berhasil menjalankan pemerintahan dengan baik. Dalam kitab Ibnu

4 5

A. Syalabi., Sejarah dan. Ibid., Hal 324 Ibid., Hal. 326

Miskawaih Tajarubul Umam yang dikutip oleh A. Syalabi pada tahun 334 H, panglimapanglima Baghdad telah menulis surat kepada Ahmad bin Buwaih supaya datang ke Baghdad dan mengambil kekuasaan. Ahmad telah menanggapi permintaan itu, dan khalifah Abbasiyah telah mengeluk-elukkannya serta menjadikannya Amir Umara dengan gelar Muiz ad-Daulah, saudaranya, Ali diberi gelar Imad ad-Daulah, dan Hasan diberi gelar Rukn ad-Daulah. Beberapa waktu kemudian khalifah-khalifah Abbasiyah telah tunduk kepada Bani Buwaih, dan nasib dunia Islam berkaitan dengan golongan yang baru berkuasa itu. Sehingga pada zaman tersebut, khalifah tidak mempunyai kekuasaan dan pengaruh lagi. Adapun khalifah-khalifah Abbasiah di zaman tersebut adalah : Al-Mustakfi (333-334 H); beliau menyaksikan pengakhiran orang-orang Turki dan kemunculan Zaman Buwaihi. Al-Muti ( 334-363 H) At-Tatie (363- 381 H) Al-Qadir ( 381-422)dan Al-Qaim; pengakhiran Zaman Buwaihi dan kemunculan zaman Salajiqah. Luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyah dan kesulitan kontak dengan wilayah propinsi menyebabkan disintegrasi pemerintahan tersebut. Di samping itu, sistem pemerintahan Buwaihi yang disandarkan pada kekuasaan militer, memudahkan untuk menguasai Baghdad, bersamaan dengan menurunnya kekuatan militer di pemerintahan pusat. Beberapa tahun sebe,umnya tepatnya tahun 322 H. tiga serangkai itu menaklukkan Syraz dan menjadikanya sebagai pusat politik hingga akhir masa Buwaihi, akan tetapi Baghdad juga masih tetap sebagai kota penting bagi budaya, agama dan ilmu pengetahuan. Selama periode Buwaihi, tercatat beberapa Amirul Umara yang memerintah di Baghdad, yaitu : 1. Muiz ad-Daulah tahun 945 M 2. Izz ad-Daulah Bakhtiyar tahun 967 M 3. Adud ad-Daulah tahun 978 M 4. Samsan Ad-Daulah tahun 983 M 5. Sharaf Ad-Daulah tahun 987 M 6. Baha ad-Daulah tahun 989 M 5

7. Sulthan ad-Daulah tahun 1012 M 8. Musharif ad-Daulah tahun 1020 M 9. Jajal Ad-Daulah tahun 1025 M 10. Imaduddin Abu Kalijar tahun 1044 M 11. Al-Malik ar-Rahim tahun 1045-1055 M6

B. Perkembangan dan Kemunduran Dinasti Buwaihi 1. Sistem Pemerintahan Buwaihi Sistem pemerintahan Dinasti Buwaihi tidak independen seperti Dinasti Saman. Ali bin Buya masih mengakui otoritas Baghdad sebagai pusat kekuasaan Dinasti Abbasiyyah, sekalipun pada waktu itu sudah amat lemah. Ali bin Buya terus berusaha mendapat simpati politik dari Khalifah Al-Mustakfi (berkuasa 944-946 M). Jabatan para penguasa Dinasti Buwaihi tidak lain sebatas gubernur, bukan khalifah. Ini jelas berbeda dengan status jabatan penguasa beberapa dinasti sebelumnya di Persia. Para penguasa Dinasti Buwaihi banyak menyandang gelar dinasti Persia Kuno. Seperti gelar Syahansyah (Rajadiraja). Penelitian arkeologis telah menemukan sebuah medali bertahun 969 M bahwa, para penguasa Dinasti Buwaihi menggunakan gelar Syahansyah (Rajadiraja). Dengan demikian, Dinasti Buwaihi termasuk generasi penerus peradaban Persia Kuno, seperti halnya Dinasti Saman, yang bermaksud mengembalikan kejayaan orang-orang Arya.7 Kekompakan tiga bersaudara, Ali, Hasan, dan Ahmad turut menentukan bagi keberhasilan dinasti ini dalam mengembangkan wilayah kekuasaannya. Dengan didukung oleh para tuan tanah dari Suku Arrajan di Persia, Ali dan saudara-saudaranya menancapkan kekuasaan di Ray dan Persia. Hingga pada tahun 945 M, dengan kekompakan tiga bersaudara ini, orang-orang keturunan Buwaihi berhasil menguasai seluruh Persia, Irak, dan Ray. Oleh Al-Mustakfi, ketiga bersaudara keturunan klan Buwaihi ini mendapat beberapa gelar kehormatan: Ali bin Buya mendapat gelar Imad Ad-Daulah (Tiang Negara); Hasan

W. Montgomerry Watt., Kejayaan Islam, Kajian Kritis dari Tokoh Oreintalis., ( Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1990) Hal. 199 7 Ibid., Hal. 206

bin Buya mendapat gelar Rukn Ad-Daulah (Penopang Negara); dan Ahmad bin Buya mendapat gelar Muiz Ad-Daulah (Penegak Negara). Wilayah kekuasaan Dinasti Buwaihi memang lebih menyerupai sebuah federasi ketimbang kerajaan. Kekuasaan Dinasti Buwaihi memang lain dengan kekuasaan orangorang keturunan Saman Khuda (Dinasti Saman). Unit-unit kekuasaannya lebih dipusatkan di kota-kota besar. Seperti kekuasaan di Persia dipusatkan di kota Syiraz dan Isfahan. Kekuasaan di Ray dipusatkan di kota Al-Jibal. Dan, kekuasaan di Irak dipusatkan di kota Baghdad, Bashrah, dan Mosul. Dalam perjalanan berikutnya, rezim Buwaihi terus mendapat tekanan politik dari orang-orang keturunan Saman Khuda. Setelah Ray dan Isfahan berhasil diambil-alih oleh orang-orang Buwaihi, Nuh bin Nasr, putra Nashr bin Ahmad bin Ismail Samani, berusaha merebut kembali wilayah kekuasaannya. Terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Hasan bin Buya (Rukn Ad-Daulah) dengan pasukan Nuh bin Nasr. Pada peristiwa ini, pasukan Dinasti Saman justru memihak kepada orang-orang Buwaihi. Akibatnya Nuh bin Nasr kalah telak. Pasca kekalahan menaklukkan wilayah Ray, Dinasti Saman berkoalisi dengan Dinasti Hamdan di Mosul. Nuh bin Nasr meminta bantuan kepada para penguasa Mosul (Dinasti Hamdan) lewat mediator Ibrahim bin Ahmad, pamannya sendiri. Hasilnya cukup memuaskan karena pada tahun 944 M, Dinasti Saman berhasil merebut kembali wilayah Ray. Tetapi, para keturunan Buwaihi terus menggerogoti kekuasaan Nuh bin Nasr di Ray. Ali bin Buya (Rukn Ad-Daulah), penguasa Dinasti Buwaihi di Syiraz memberikan dukungan kepada Abu Ali yang memberontak pada tahun 950 M.

2. Kemajuan yang Dicapai Pemerintahan Dinasti Buwaihi periode pertama dipegang oleh Muiz ad-Daulah. Sejak zaman ini, otoritas kepemimpinan seorang khalifah sangat terbatas. Namun Buwaihi tidak berusaha melenyapkan kekhalifahan. Keberadaan khalifah hanya sebagai simbol untuk mendapat simpati publik. Serta mengakui sebuah ide bahwa hak mereka untuk memerintah bergantung pada keabsahan khalifah. Pada masa ini mulai diperbaiki kerusakan-kerusakan yang diderita Baghad dari kerusuhan-kerusuhan selama belasan tahun terakhir. Atas keberhasilan memulihkan situasi 7

ini, Al-Mustakfi menyerahkan kekuasaan keuangan pemerintahan kepada Muiz, dan nanti namanya dicetak pada mata uang logam. Muizz menurunkan Al-Mustakfi dari singgasana dan menggantinya dengan AlMuti yang memang sebelumnya telah menjadi saingan Al-Mustakfi. Tindakan ini lebih didasari atas keinginan untuk lebih menguasai pemerintahan, karena dalam hal ini AlMustakfi tidak sejalan dengan Muizz. Muizz memerintah lebih dari dua puluh tahun. Sementara saudara-saudaranya di timur memperluas daerah kekuasaan. Pada tahun 952 M, suatu usaha dari kaum Qaramithah dan Omani untuk merebut Basrah, dipukul mundur oleh tentara Buwaihi. Pada pemerintahan Adud ad-daulah putra Ali bin Buya mulai dilakukan upaya-upaya persatuan atas wilayah kekuasaa Irak, Persia Selatan dan Oman. Dinasti Buwaihi periode ini telah menjalankan suatu kebijakan yang sangat ekspansionis, di Barat terhadap Hamdaniyah al-Jazirah dan Zijariyyah Thabaristan, Samanniyah Khurasan. Pada pemerintahan Adud ad-Daulah inilah Dinasti Buwaihi di Baghdad mengalami masa keemasan, sebagai pusat dari pemerintahan Baghdad, Adud ad-Daulah berhasil mempersatukan semua penguasa Buwaihiyah.8 Pemerintahan Adud ad-Daulah sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan berbagai disiplin ilmu. Kedekatannya dengan para ilmuwan saat itu menjadikan loyalitas mereka terhadap pemerintahan sangat tinggi. Istana pemerintahan pernah dijadikan sebagai tempat pertemuan para ilmuwan saat itu. Bahkan pada masa itu dibangun rumah sakit terbesar, yang terdiri dari 24 orang dokter, dan digunakan juga sebagai tempat praktek mahasiswa kedokteran saat itu.9 Sebagai penganut Syi'ah Dua Belas, Dinasti Buwaihi banyak menghidupkan syiar Syi'ah. Kendati mereka berbuat demikian, Khalifah Abbasiyah tetap dibiarkan meneruskan kepemimpinan simbolis bagi Umat Islam. Di antara tindakan penguasa Buwaihi yang menguntungkan kelompok Syi'ah ialah pengadaan upacara keagamaan Syi'ah secara publik, pendirian pusat-pusat pengajaran Syi'ah di berbagai kota, termasuk Baghdad, dan pemberian dukungan terhadap para pemikir dan penulis Syi'ah.

8 9

Philip K. Hitti., History of Arabs., (Terj. Jakarta; Serambi Ilmu semesta) Hal. 599 Didin Saefudin., Zaman Keemasan Islam., ( Jakarta : PT. Raja Grafindo, 2002) Hal. 77

Periode Buwaihi diwarnai dengan kegiatan penulisan. Para pemikir penting, di samping pakar-pakar teori Syiah, sempat menuliskan ide-ide mereka. Bahkan Ibnu Sina (w 1037 M / 428 H), seorang filosof dan dokter dieri kepercayaan menjadi wazir oleh Syamsud Daulah (w. 1021 M / 412 H) yang berkuasa di Isfahan. Tercatat pula serentetan penulis kenamaan dari berbagai disiplin ilmu, umpamanya Ibnu an-Nadim (w. 995 M / 385 H), seorang ensiklopedis dengan bukunya al-Fihris; Ibnu Miskawaih (w. 1030 M / 421 H), seorang filosof sejarawan menulis Tajarib al-Umam; Abu al-Farah al-Isfahani (w. 967 M / 356 H), seorang sejarwan sastrawan menulis al-Agani; dan Abu al-Wafa an-Nasawi, pakar matematik, memperkenalkan system angka India ke dalam Islam. Di samping itu, berbagai aktivitas ilmiah dan kemanusiaan juga digalakkan dengan dibangunnya peneropong bintang dan rumah-rumah sakit di berbagai kota. Sebagaimana telah dimulai pada masa-masa awal Dinasti Buwaihi dalam memperbaiki kerusakan perekonomian yang beberapa dekade sebelumnya mengalami kehancuran, berupa melakukan perbaikan beberapa saluran irigasi dan mengambil tanahtanah yang ditinggalkan pemiliknya. Sistem administrasi keuangan sangat berkaitan erat dengan organisasi militer, seperti juga pada periode Muiz pertama kali berkuasa. Pemerintahan Adud didasarkan pada metode-metode birokratik perpajakan dan sejumlah pembayaran untuk kebutuhan istana dan militer. Staf pemerintahan pusat mengumpulkan pendapatan negara dari daerah-daerah kekuasaan dan membayar pejabat dan tentara yang mengabdi kepada negara secara kontan dengan pembayaran di muka. Konsep ini lazimnya disebut dengan distribusi iqtha, yaitu sebuah mekanisme untuk mensentralisasikan pengumpulan dan pengeluaran atas pendapatan negara dan pada dasarnya hak tanah iqtha hanya diberikan berdasarkan syarat pengabdian militer, dan hanya berlaku sebatas kehidupan orang yang sedang menjabat.

3. Peristiwa-peristiwa Penting Sebagaimana dikutip dari A. Syalabi selama masa pemerintahan Dinasti Buwaihi, ada beberapa peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah, yaitu :

1. Baghdad dan Siraz


Kedudukan Baghdad pada masa Abbasiyah sebagai ibu kota dari segi politik dan agama. Di zaman Dinasti Buwaihi, Baghdad telah kehilangan kepentingannya dari segi politik 9

yang mana telah berpindah ke Syiraz, tempat bermukimnya Ali bin Buwaih yang bergelar Imad ad-Daulah. Pengaruh Baghdad dari segi agama juga semakin pupus, disebabkan perselisihan madzhab di antara khalifah-khalifah dari Dinasti Buwaihi. Pertikaian ini telah melumpuhkan sama sekali pengaruh rohaniah yang selama ini dinikmati oleh khalifah.

2. Ikhwanus Shafa
Di zaman ini muncul kumpulan ikhwanus shafa yang mengamalkan berbagai falsafah dan hikmah yang dikatakan bersumber dari mereka. 3. Negeri-negeri yang Memisahkan Diri Semasa berada di puncak kekuasaan, Dinasti Buwaihi telah menyatukan kembali sebagian wilayah Islam yang telah memisahkan diri dari pemerintahan Khalifah Abbasiah Tetapi ketika kekuasaan Dinasti Buwaihi mulai merosot, banyak pula kerajaan yang memisahkan diri dari pemerintahan Khalifah Abbasiah, di antaranya ialah kerajaan Imran bin Syahin di Batinah, kerajaan Najahiyah di Yaman, kerajaan Uqailiyah di Mausil, kerajaan Kurd di Diar Bakr, kerajaan Mirdasiyah di Aleppo, kerajaan Samaniyah di seberang sungai dan di Khurasan dan kerajaan Saktikiyah di Ghaznah.

4. Perselisihan madzahab
Ajaran Islam tiba di Dailam melalui kaum Syiah yang diwakili oleh Hasan bin Zaid, kemudian oleh al-Hasan bin Ali al-Atrusy. Sedangkan masyarakat Baghdad ketika itu beraliran Sunni. Terlebih ketika Khalifah al-Qadir berusaha menentang faham Syiah.10

4. Kemunduran Pemerintahan Dinasti Buwaihi Faktor-faktor yang menjadi penyebab mundurnya pemerintahan Buwaihi adalah : 1. Sistem pemerintahan yang semula didasarkan pada kekuatan militer, belakangan diorganisir menjadi sebuah rezim yang lebih setia terhadap pimpinan mereka atas kekayaan dan kekuasaan daripada setia terhadap negara. 2. Konsep ikatan keluarga yang menjadi kekuatan Dinasti Buwaihi pada masa-masa awal, tidak bisa dibina lagi pada masa-masa selanjutnya. Konflik antar anggota keluarga menjadikan lemahnya pemerintahan di pusat. 3. Pertentangan antara aliran-aliran keagamaan. Sebagaimana diketahui bahwa Dinasti Buwaihi adalah penyebar madzhab Syiah yang sungguh bersemangat, di balik kebanyakan
10

A. Syalabi., Sejarah dan.Ibid., Hal. 329-330

10

rakyat Baghdad yang bermadzhab Sunni. Pertentangan tersebut pada periode awal Dinasti tidak begitu nampak, terutama pada masa Adud ad-Daulah, kemudian mulai menajam kembali dan mengalami puncak pada akhir Dinasti Buwaihi di Baghdad. Hal ini tidak terlepas dari peran dan kebijakan Khalifah al-Qadir yang mengepalai pertempuran Sunni melawan Syiah dan berusaha mengorganisir sebuah misi Sunni untuk menjadi praktek keagamaan. Melalui sebuah pengumuman yang resmi, ia menjadikan Hanbalisme sebagai madzhab muslim yang resmi. 4. Kemenangan telak dari Kaum Saljuk yang berakibat jatuhnya pemerintahan Dinasti Buwaihi ke tangan Tughril Beg, yang sekaligus mengakhiri masa pemerintahan Dinasti Buwaihi. Bagaimanapun keberhasilan Dinasti Buwaihi memang tidak bertahan lama. Selain faktor-faktor di atas Sejak kematian Adud ad-Daulah pada tahun 983 (372 H) keutuhan keluarga Buwaihi mengalami erosi dan perpecahan. Ide kerjasama yang dikembangkan generasi pertama rupanya tidak mengakar, cabang-cabang keluarga tidak puas dengan otonomi yang dinikmati bahkan ada yang menginginkan kekuasaan tunggal atas seluruh wilayah Buwaihi. Mungkin tendensi demikian merupakan perkembangan natural dari upaya individu-individu Buwaihi dalam menghadapi perubahan dan tantangan eksternal. Misalnya, pada perempat akhir abad ke-10, Dinasti Fatimiyah telah muncul sebagai ancaman langsung terhadap pengaruh Buwaihi di barat dan selatan. Di Persia dan Arabia Timur ancaman masing-masing datang dari Samaniyah kemudian Gaznawiyah dan Qaramitah. Juga posisi wilayah Buwaihi yang strategis bagi perdagangan antara timur dan barat serta selatan dan utara, kemudian telah dilemahkan oleh politik perdagangan Fatimiyah yang agresif lewat Laut Merah. Peranan Teluk Persia yang pernah dominan menjadi semakin pudar. Kurang berkembangnya pertanian akibat sistem perpajakan yang tidak efisien dan eksploitatif, serta turunnya volume perdagangan jelas melemahkan sistem ekonomi Dinasti Buwaihi. Pada gilirannya kelemahan politik, ekonomi, sosial dan militer telah memudahkan bagi kekuatan-kekuatan baru seperti para pemimpin lokal, dan Gaznawiyah kemudian Saljuk untuk merebut kekuasaan. Ray dan Jibal diduduki Mamud al-Gaznawi (1029/420 H); Fars diambil alih pemimpina Kurdi, Fadluyah (1056/448 H) , Baghdad oleh Tugril Beg (1055/447 H). 11

C. Berdirinya Dinasti Saljuk Adapun kaum Saljuk adalah satu persukuan bangsa Turki yang di zaman Sultan Mahmud Sabaktakin, setelah mereka memeluk Agama Islam diberi tanah tempat mereka tinggal yang baru, setelah mereka meninggalkan tanah tumpah darah mereka yang asal. Kabilah ini berasal dari suatu jurnal bangsa Turki yang bernama Ghez, keturunan dari Saljuk ibn Taklak, asal turunnya dari Turkistan di bawah perintah Raja Turki yang bernama Bigu. Taklak adalah kepala suku, tempat anak cucunya meminta keputusan di dalam perkara perkara yang sulit. Puteranya bernama Saljuk. Saljuk ini sangat dipercayai, oleh raja Turki itu sehingga diangkat menjadi kepala perang. Tetapi permaisuri Raja Turki Bigu memberi nasehat kepada suaminya agar Saljuk lekas dibunuh, karena pengaruhnya nampak kian lama kian besar, takut kelak akan menyaingi baginda. 11 Maksud raja hendak membunuhnya itu terdengar oleh Saljuk. Maka dikumpulkannya segala pengikut dan persukuannya dan segera berpindah boyongan ke negeri Islam. Kerajaan yang berkuasa di waktu itu ialah Kerajaan Sabaktakin. Kedatangan mereka di sambut sebaik-baiknya oleh Sultan Mahmud, diberi tanah dan negeri dan diberi kepercayaan di dalam peperangan-peperangan yang besar-besar. Dan seluruh mereka di bawah pimpinan Saljuk sendiri menukar agamanya yang lama dengan Agama Islam. Negeri yang disediakan buat mereka ialah Sihun. Dari sana mereka senantiasa melancarkan serangan ke negeri-negeri yang di bawah kuasa musuh lamanya, Bigu Raja Turki itu. Pada waktu itu terjadilah perebutan kekuasaan dengan perluasan daerah diantara Kerajaan Samaniyah dengan Harun ibn Ailah Khan. Harun adalah seorang pemuka Turki lain yang sedang meluaskan kuasa pula, sehingga beberapa daerah dibawah kekuasaan Bani Saman telah dapat dikuasainya. Maka Kerajaan Samaniyah mendapat akal, yaitu memukul Turki dengan Turki. Mereka meminta bantuan kepada Saljuk memerangi Harun. Permintaan itu dikabulkan oleh Saljuk dan diserahkannya memimpin peperangan kepada puteranya Arselan. Mereka dapat mengusir Harun dan kembali kekuasaan kepada Bani Saman. Sejak itu bertambah rapatlah hubungan Bani Saman dengan Bani Saljuk. Saljuk sampai wafatnya tidak pernah berpisah dengan tentaranya, dan seketika dia wafat meninggalkan tiga orang puteranya, yaitu Arselan, Mikail, dan Musa.
11

Hamka., Sejarah Umat Islam., (Jakarta Bulan Bintang 1999) Hal. 29

12

Diantara ketiga puteranya itu Mikail terlebih utama, menjadi seorang kepala perang yang gagah perkasa dan tewas di medan perang juga. Dia meninggalkan putera Bigu, Tugril Beg, Muhammad dan Jugri Bey Daud. Keempat pemimpin ini dimuliakan dan ditaati oleh kaumnya. Akhirnya dapatlah mereka berkuasa dibagian Kharasan dan dibuat mereka pula hubungan yang baik dengan pemimpinnya disana, yaitu Abu Sahl Ahmad ibn Hasan Al-Hamduni. Abu Sahl menyerahkan negeri Dandankan ke bawah kuasa mereka. Kian lama mereka kian besar dan menaklukan, sehingga akhirnya berjumpalah tentera mereka dengan tentera Raja Masud ibn Mahmud ibn Sabaktakin yang dahulunya memberikan perlindungan kepada mereka. Mereka telah kuat sehingga Masud tidak dapat bertahan lagi dan dapat mereka kalahkan pada tahun 430 H. Kekuasaan mereka kian lama kian meluas. Bukan saja Kharasan lagi, bahkan telah melimpah ke Irak.12

D. Perkembangan dan Kemunduran Dinasti Saljuk Sementara bintang Saljuk mulai terang, bintang buwaihi mulai redup dan pudar. Diantara keempat putera Mikail itu ada Tugril Beg yang lebih gagah perkasa. Dikuasainya negeri Raj (yang terletak di kota Teheran sekarang) dan kemudian diteruskannya perkembangannya ke negeri Kazwin dan dikuasainya pula dengan berdamai. Sesudah itu ditaklukannya pula negeri Hamdan, dan pelopor-pelopor tenteranya akhirnya telah masuk kewilayah Irak, dan telah dekat dari Bagdad.berikut nama-nama Kholifah Abbasiyah dan Amir Agung Saljuk: Khalifah Al Qaim 1031 M Khalifah Al Muqtadi 1075 M Khalifah Al Mustazhir 1094-1118 M, Beliau menyaksikan kehancuran Dinasti ini. Sementara Nama-nama penguasa Saljuk yang agung adalah: Tughril Beg 1055 M Alp Arslan 1063 M Malik Syah I 1072 Mahmud 1092, dan Barkiyaruq 1094-110513 Bagdab ketika itu bukan seperti Bagdad di zaman Harun Al-Rasyid lagi. Disana hanya kedudukan Khalifah-khalifah yang tidak mempunyai kekuasaan apa-apa. Kekuasaan nenek
12 13

A. Syalabi., Sejarah dan, Ibid., Hal. 336 W. Montgomerry Watt., Kejayaan..Ibid., Hal. 243

13

moyangnya telah dibagi-bagi oleh Raja-raja yang berdiri sendiri, dan sejak Bani Buwaihi Bagdad di bawah kuasa mereka dan khalifak-khalifah hanyalah dibacakan namanya dalam khotbah jumat di samping Raja yang menguasai Bagdad. Sampai Tugril Beg ke Bagdad dan turunlah tentaranya di pinggir sungai Dajlah. Bani Buwaihi yang selama ini berkuasa, pada waktu itu telah pecah kekuasaannya dan telah hilang kewibawaannya dari hati rakyat. Apa lagi Bani Buwaihi terang-terangan berfaham Syiah dan seakan-akan memaksakan fahamnya kepada penduduk Bagdad yang sebagian besar menganut faham Sunnah. Sedang Tugril Beg adalah penganut Sunnah, sebagai umumnya bangsa Turki. Dari itu maka orang-orang terkemuka di Bagdad bermupakat menulis surat dan mengantarkannya dengan utusan, menyatakan bahwa penduduk Bagdad Thaat setia kepada baginda dan khalifah sendiri menyatakan bersedia menyambutnya dan bersedia pula menyuntingkan nama Thogral Bey dalam khotbah jumat, sebagai ganti dari Bani Buwaihi, di samping nama khalifah. Maka masuklah Tugril Beg ke dalam kota Bagdad dengan beberapa kemenangan. Khalifah sendiri, yaitu Al-Qaim bin Amrillah turut mengagung-agungkannya, yaitu sesudah dibacakannya alamat thaat pada setiap masjid, yaitu pada 22 hari bulan Muharram 447 H. Dan pada tanggal 25 Muharram Raja itu masuk. Ada 9 khalifah-khalifah Bani Abbas yang di bawah perlindungan Bani Saljuk, yaitu dari mulai khalifah ke-26 (Al-Qaim bi Amrillah) sampai khalifah yang ke-34 (Ahmad AnNashir bin Al-Mustadhi).14 Tugril Beg berusaha pula memperdekat pertalian keluarganya dengan khalifah sehingga saudara perempuannya dikawinkannya dengan beliau. Kemudian itu di jangkaunya pula barang yang menjadi pantangan bangsa Arab turun-temurun, yaitu dipinangnya saudara perempuan khalifah sendiri untuk jadi istrinya. Permohonannya itu terpaksa dikabulkan oleh khalifah. Baginda dikawinkan dengan saudara perempuan baginda yang usianya telah 90 tahun. Tidak pernah istrinya itu dipulanginya, karena maksud baginda hanya untuk menunjukan bahwa kuasanya dapat merobah adat yang begitu keras. Setelah Tugril Beg meninggal, naiklah menggantikannya puteranya yang bernama Alp Arselan (artinya singa yang menang). Alp Arselan terkenal karena gagah perkasanya dan
14

Ibid., Hal 344

14

sangat teguhnya memegang agama Islam dan menyiarkannya. Musuh yang dipandangnya sangat berbahaya ialah kerajaan Romawi Timur, dan Maharaja Romawi waktu itu ialah seorang yang gagah perkasa pula, Armanus namanya. Sampai terjadilah peperangan yang besar dan dasyat. Sedianya akan kalahkah Alp Arselan karena kekuatan yang tidak seimbang. Tetapi karena sangat beraninya menghalang maut, dapatlah kekalahan itu dilepaskan-nya, bahkan Maharaja Armanuslah yang dapat ditawannya. Alp Arselan meninggal dalam sebuah perang tanding dengan Amir Yusuf dinegeri Khawarizm yang beliau taklukan. Sebab beliau tidak mau mempertahankan diri seketika Amir datang menikamnya dengan Khanjar. Beliau juga memerintahkan untuk menulis dalam nisannya sebuah kalimat Wahai segala mereka yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Alp Arselan yang sampai kelangit. Datanglah ke Mervu dan lihatlah kebesaran itu telah terbenam dalam tanah . Zaman pemerintahan Alp Arselan itu dipandang sebagai zaman yang gilang-gemilang. Karena baginda mempunyai pahlawan-pahlawan perang yang gagah perkasa, lagi amat menghormati ulama dan memajukan ilmu pengetahuan.
15

Banyak masjid beliau dirikan

dan banyak amal-amal akhirat yang beliau anjurkan. Terutama lagi karena beliau mempunyai seorang Wazir besar yang sangat bijaksana, Al-Wazir Nizam-ul-Mulk. Atas anjuran Wazir inilah berdiri sekolah Tinggi Nizamiyah, yang berpusat di Naisabur. Dengan cita-cita untuk membela kepercayaan kaum Sunni, sebagai tandingan faham Syiah. Dalam madrasah-madrasah Nizamiyah itulah timbul bintang-bintang Islam Imamul Haramain dan Imam Ghazali.16 Setelah Alp Arselan meninggal, naiklah putranya Malik Syah. Diapun seorang raja besar seperti ayahnya dan mempunyai jasa-jasa besar dan amat luaslah kerajaan-nya, sampai dengan Kasygar (Singkiang) di Tiongkok, seperti Bukhara, Samarkhan dan Khawarizm, sehingga zaman itu tidak ada sultan atau raja lain yang melebihinya di Asia. Peta wilayah kekuasaan Bani Saljuk dan Buwaihi dapat dilihat di lampiran halaman belakang. Satu perkara yang menjadi kenang-kenangan orang tentang kebaikan Malik Syah, ialah ketika saudaranya memberontak hendak merebut kekuasaan dari tangannya.
Philip K. Hitti., History of Arabs., (Terj. Jakarta; Serambi Ilmu semesta) Hal. 604 W. Montgomerry Watt., Kejayaan Islam., Kajian Kritis dari tokoh Orientalis ( Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya: 1990) hal 248
16 15

15

Pemberontakan telah dimulainya dari Tharsus. Pada suatu hari, setelah mengerjakan sholat jumat, berjumpalah beliau dengan wazir besar Nizam-ul-Mulk, lalu beliau bertanya: jika kami menang menghadapi perlawanan saudara kami, apakah yang baik dikerjakan . Wazir menjawab: semoga baginda memperoleh kemenangan dan dapat menundukkan saudara baginda yang mendurhaka itu . Malik Syah menjawab: permohonanku kepada Tuhan lain daripada permohonan kepada wazir! Saya mohon biarlah saudaraku diberikan kemenangan jika dia lebih layak dari padaku memegang kerajaan. Dengan demikian terdapat kecacatan dalam sejarah Malik Syah karena suka terpengaruh oleh bisikan-bisikan kaum pemfitnah. Adapun seorang diantara selir baginda yang sangat baginda cintai, selir tersebut menginginkan baginda mati untuk dapat mengangkat anaknya menjadi Sultan. Namun usaha tersebut tidak dapat terlaksanan selama Wazir besar Nizamul-Mulk masih ada. Maka oleh karena itu dibuatlah berbagai fitnah, yang mengatakan bahwa Wazir ingin berkuasa sendiri dalam negara dan akan membelokan kesultanan kepada keturunannya. Malik Syah terpengaruh terhadap hasutan tersebut, sehingga Wazir besar Mazulkan yang berjasa tersebut dan digantikan dengan wazir yang lain yang dapat dipengaruhi oleh kaum istana. Dan wazir yang baru tersebut takut wazir besar Nizam-ul-Mulk akan menjabat kembali kelak kalau ternyata oleh baginda bahwa dia sebagai pengganti tidak cakap. Lalu di suruhnya orang pergi membunuh wazir besar tersebut yang namanya sudah terkenal di sejarah Bani Saljuk, sehingga matilah wazir itu dibunuh penghianat. Di dalam riwayat lain disebut bahwa pembunuhan wazir besar ini ada campur tangan kaum Ismailiyah di bawah pimpinan Hasan Sabah.17 Makin lama makin bersalah Malik Syah terhadap perbuatannya, sehingga tidak senang hatinya untuk dapat tinggal lagi di kerajaan yang sekarang. Beliau menginginkan untuk memindahkan pusat kerajaannya ke negeri Bagdad. Tetapi sepuluh hari sebelum mendapat jawaban dari khalifah di Bagdad tentang kemungkinan pemindahan tersebut, Malik Syah meninggal dalam usia yang masih muda, yaitu 33 tahun. Dan banyak juga jasa yang beliau tinggalkan, serta perjuangan-perjuangan lain yang beliu perjuangkan bersama wazir besar ketika mereka masih berbaikan. Ilmu pengetahuan sangatlah maju saat itu, terutama ilmu
17

Mufrodi., Islam dikawasan Kebudayaan Arab.,( Jakarta : Logos wacana Ilmu, 1997) Hal. 124

16

hisab dan falak. Pada waktu itulah seorang sarjana menyusun Taqwim Islam sebagai dasar pembelajaran ilmu falak, yang terkenal namanya dengan nama Taqwim AlJalaliyah, dibangsakan kepada gelar kebesaran Raja Malik Syah, yaitu Jalaluddin Abu Lfathi Malik Syah. Di zaman Malik Syah hidup penyair-filosof-falaki Omar Khayam.18 Setelah beliau meninggal, berhasil juga pada mulanya maksud selir beliau yang telah menanamkan pengaruh dalam istana menaikan putera baginda Mahmud menjadi gantinya dengan gelar Nashir Uddin, padahal dia merupakan putra yang masih kecil (485 H). Tetapi anak tertua Barkiyaruq dapat merebut kekuasaan dan Mahmud dan ibunya dibunuh oleh yang memenangkan kedudukan. Barkiyaruq naik tahta dengan gelar Ruknuddin AbuI Muzaffar Barkiyaruq. Di zaman putra yang menggantikannya, Malik Syah II mulailah pecah perang salib dan baginda telah turut menghadapu peperangan itu. Tetapi puteranya yang bergelar Ghiyatstuddin Abu Syuja yang naik menggantikan adalah seorang yang lemah pemerintahannya, sehingga tak dapat mencegah bahaya yang telah mulai datang dari mana-mana. Maka naiklah pamannya Sanjar putera Malik Syah I merebut kekuasaan dari tangannya dan memulihkan kembali kebesaran Bani Saljuk, dan putera-putera saudaranya diangkat menjadi wali di negeri-negeri yang lain. Hampir dari tujuannya berhasil mengangkat kembali kemegahan Bani Saljuk kalau tidak terjadi peperangan dengan Kabilah Al-Qizz, satu kabilah dari bangsa turki. Kabilah tersebut tidak mau tunduk dan tidak mau membayar jazirah, dan kemudian beliau memeranginya. Tetapi beliaulah yang tersekap dan meninggal. Setelah Sajar meninggal terjadi perpecahan kembali dalam kalangan keluarga dan perebutan mahkota yang tidak henti-hentinya sampai 4 tahun lamanya, yang melemahkan mereka sendiri dan memecah belahkan kekuatannya, sehingga akhirnya timbullah sebuah kerajaan baru di negeri Khawarizm, di mulai oleh Takasy seorang keturunan dari wali-wali yang ditahan oleh daulat Saljuk di negeri Khawarizm. Tetapi kekuasaan keluarga Takasy di Khawarizm tidak bertahan lama, sebab kemudian timbul air bah yang menjadikan sejarah yang paling dasyat, yang menyapu segala bangunan kerajaan-kerajaan Islam yang terkenal itu, yaitu bangsa Mongol dan Tartar di bawah pimpinan Jengis Khan Maharaja dari Mongol yang terkenal itu. Adapun kerajaan Bani Saljuk yang terbagi dalam lima keluarga, yaitu:
18

W. Montgomerry Watt., Kejayaan Islam.. Ibid. Hal. 248

17

1. Kerajaan Saljuk raya Menguasai khorasan, Rayi, pegunungan Iran, tanah Irak, Jazirah, Parsia dan AlAhwaz. Kerajaan ini jatuh karena naiknya kerajaan Syah Khawarizm. Berkuasa dari tahun 429 sampai 522 H 2. Daulat Saljukiyah Karman 3. Daulat Saljukkiyah di Irak 4. Daulat Saljukiyah di Syam 5. Daulat Saljukiyah di Rum (Asia Kecil)19

a. Peristiwa-peristiwa penting di Zaman Saljuk 1. Perkawinan antara kalangan Saljuk dengan kalangan Bani Abbasiyah 2. Penaklukan Asia Kecil Pemerintahan sebelumnya belum pernah ada yang berhasil menjangkau wilayah ini dengan mengalahkan tentara Bizantium. 3. Hasyyasin, kelompok ini terkenal dengan perbuatanya yang keji dengan ketuanya Hasan bin Sabah. 4. Bangunan di zaman Saljuk 5. Kerajaan-kerajaan yang lahir setelah keruntuhan Bani Saljuk.

b. Kehancuran Dinasti Saljuk Berbagai faktor turut melemahkan dinasti ini baik dari internal maupun eksternal : 1. Pemberontakan golongan Ismailiyah dan Hasyyasin 2. Perpecahan dalam negri sebagai akibat perluasan wilayah dan pola hidup bangsa Saljuk yang bersuku-suku. 3. Penghianatan sebagian pegawai pemerintah yang pernah menjadi hamba abdi kaum Saljuk seperti Khwarizm dan Ghur. 4. Berdirinya wilayah-wilayah Amriyah Utabak.

19

Badri Yatim., Sejarah Peradaban Islam., ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2008 ) Hal.65

18

BAB III Penutup

Demikianlah sekilas tentang keberadaan dan kekuasaan Dinasti Buwaihi dan Dinasti Buwaihi pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Buwaihi yang merupakan salah satu Dinasti yang menguasai daerah Asfahan, Syiraz dan Kirman di Persia. Baghdad pun mereka kuasai sampai tahun 1055 M. Khalifah Bani Abbas tetap diakui, tetapi kekuasaan dipegang oleh penguasa-penguasa Buwaihi. Akhirnya kekuasaan Buwaihi dirampas oleh Dinasti Saljuk. Dinasti Salajiqah pun tidak jauh berbeda dengan Dinasti Buwaihi dalam memperlakukan Khalifah Abbasiyah. Merka hanya dijadikan sebagai legitimasi kekuasaan saja. Tetapi tampuk pemerintahan tetap berada pada Amir-amir Kaum Saljuk. Kedua dinasti ini sebenarnya telah berjasa banyak atas terus eksisnya dinasti Abbasiyah walaupun kekuatanya makin melemah. Dan akhirnya hancur di tangan bangsa Moghul dan perang Salib

19

DAFTAR PUSTAKA

K. Hitti, Philip., 2002., Cet. Ke 10., The History of Arabs., ( Terj ) ., Jakarta : Serambi Ilmu Semesta. Kraemer, Joel L., 2003., Kebangkitan Intelektual dan Budaya pada Abad Pertengahan: RENAISANS ISLAM., Terj. Asep Saefulloh., Jakarta: Mizan Lapidus, 1985. Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo. Mufrodi, Ali. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta : Logos. Nasution, Harun. 1985. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta : UI Press. Nasution, Harun (ed.), 1992. Ensiklopedi Islam. Jakarta : Djambatan. Saefudin, Didin., 2002., Zaman Keemasan Islam., Jakarta : PT. Raja Grafindo. Syalabi, A. 1997. Sejarah dan Kebudayaan Islam 3. Jakarta : Pustaka Alhusa. Watt, Montgomery. Kejayaan Islam, Kajian kritis dari Tokoh Orientalis.Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Yatim, Badri., 2008., Sejarah Peradaban Islam., Jakarta : PT . Raja Grafindo Persada http://kliksosok.blogspot.com/2007/08/dinasti-buwaihi-928-1008-m-kebangkitan.html

20