0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
247 tayangan21 halaman

Massa Molekul Ime3

Diunggah oleh

Imelda Sunaryo
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
247 tayangan21 halaman

Massa Molekul Ime3

Diunggah oleh

Imelda Sunaryo
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PENENTUAN MASSA MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN BOBOT JENIS

NAMA NIM KELOMPOK HARI/TGL PERC ASISTEN

: IMELDA SUNARYO : H 311 08 258 : IV : SENIN/22 FEBRUARI 2010 : A. YANTI PUSPITA SARI

LABORATORIUM KIMIA FISIKA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2010

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Setiap zat terdiri dari partikel-partikel yang sangat kecil (atom, molekul, ion). Partikel-partikel ini senantiasa bergerak dan karenanya memiliki energi kinetik. Kecepatan gerak partikel-partikel ini bergantung pada suhu dan keadaan fisik zat (gas, cair, atau padat). Atom atau molekul pada gas terletak saling berjauhan. Berbeda dengan gas, pada cairan, atom atau molekul sangat berdekatan, tapi tidak saling bersinggungan. Gas terdiri atas molekul-molekul yang bergerak menurut jalan-jalan yang lurus ke segala arah, dengan kecepatan yang sangat tinggi. Molekul-molekul gas ini selalu bertumbukan dengan molekul-molekul yang lain atau dengan dinding bejana. Tumbukan terhadap dinding bejana inilah yang menyebabkan adanya tekanan. Volume molekul-molekul gas sangat kecil bila dibandingkan dengan volume yang ditempati gas tersebut, sehingga banyak ruang yang yang kosong antarmolekulnya. Hal ini menyebabkan gas mempunyai rapat massa yang lebih kecil jika dibandingkan dengan cairan atau padatan, dan bersifat mudah ditekan. Jikalau suatu cairan mudah menguap dengan suhu didih kurang dari 100
o

C, ditempatkan dalam labu erlenmeyer tertutup dan berlubang kecil, maka cairan

akan menguap. Uap tersebut akan mendorong udara dari dalam labu keluar melalui lubang-lubang kecil. Berdasarkan teori tersebut maka dilakukan

penentuan massa molekul pada zat yang mudah menguap berdasarkan pengukuran massa jenis zat tersebut.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.2.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari cara penentuan massa molekul zat yang mudah menguap. 1.2.2 Tujuan percobaan Tujuan percobaan ini adalah : 1. Menentukan kerapatan zat mudah menguap dengan menimbang bobot sebelum dan sesudah penguapan. 2. Menentukan massa molekul zat mudah menguap dengan menggunakan data yang sudah ada sebelumnya dan persamaan gas ideal.

1.3 Prinsip Percobaan Penentuan massa molekul zat mudah menguap berdasarkan pengukuran massa jenis, yang dilakukan melalui penguapan, pengembunan, dan penentuan bobot kloroform dan aseton sebelum dan setelah penguapan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Partikel-partikel bergerak secara acak, pada keadaan gas. Jarak antara partikel-partikel relatif jauh lebih besar daripada ukuran-ukuran partikel, sehingga gaya tarik-menarik antarpartikel sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Laju suatu partikel selalu berubah-ubah, hal ini disebabkan terjadinya tumbukan antara partikel yang satu dengan partikel lainnya ataupun antara partikel dengan dinding wadah. Tetapi, walaupun demikian, laju rata-rata partikel-partikel gas pada suhu tertentu konstan. Jika suhu gas meningkat, maka laju rata-rata partikel juga akan meningkat (Bird, 1993). Standard conditions (S.T.P.) denotes a temperature of 0C (273.15 K, rounded off to 273 K) and normal atmospheric pressure (1 atm = 760 torr). As both the volume and density of any gas are affected by changes of temperature and pressure, it is customary to reduce all gas volumes to standard conditions for purposes of comparison (Rosenberg and Epstein, 1997). Kondisi standar (STP) menunjukkan suhu 0 C (273,15 K, dibulatkan menjadi 273 K) dan tekanan atmosfer normal (1 atm = 760 torr). Baik sebagai volume dan densitas dari setiap gas dipengaruhi oleh perubahan temperatur dan tekanan, itu adalah adat untuk mengurangi volume gas untuk semua kondisi standar untuk tujuan perbandingan (Rosenberg and Epstein, 1997). Sifat gas juga dapat dijelaskan dengan teori kinetik gas. Teori ini mulamula diberikan oleh Bernoulli pada tahun 1738 dan disempurnakan oleh Clausius,

Boltzmann, Van Der Waals, dan Jeans. Teori ini berdasarkan anggapan-anggapan sebagai berikut (Sukardjo, 1989): Gas terdiri atas partikel-partikel yang sangat kecil yang disebut molekul,

yang massa dan besarnya sama untuk tiap-tiap jenis gas. Molekul-molekul ini selalu bergerak ke segala arah dan selalu

bertumbukan dengan molekul-molekul yang lain serta dengan dinding-dinding bejana. Tumbukan molekul terhadap dinding ini yang menyebabkan terjadinya

tekanan pada dinding, yaitu gaya per satuan luas. Karena tekanan gas tidak tergantung waktu pada tekanan dan temperatur

tertentu, maka pada tumbukan tidak ada tenaga yang hilang atau tumbukan bersifat elastis sempurna. Pada tekanan yang relatif rendah, jarak antara molekul-molekul jauh lebih

besar daripada diameter molekul-molekul sendiri, hingga gaya tarik antara molekul dapat diabaikan. Karena molekul-molekul sangat kecil dibandingkan dengan jarak antara

molekul-molekul, maka volume molekul-molekul ini dapat dibaikan dan molekul-molekul dianggap sebagai titik-titik bermassa. Temperatur absolut berbanding lurus dengan tenaga kinetik rata-rata dari

semua molekul dalam sistem. Persamaan gas ideal dapat digunakan untuk menentukan massa molekul zat mudah menguap.
P =n T V R

(1)

P =w / M R T V
P M =w / V R T

P M =R T

M=

RT
P

...(2)

Dimana : M= massa molekul zat mudah menguap = densitas gas (g dm-3) P= tekanan gas (atm) V= volume (dm3) T= suhu absolut (K) R= tetapan gas (dm3.atm.mol-1.K-1) Jikalau suatu cairan mudah menguap dengan suhu didih kurang dari 100C ditempatkan dalam labu erlenmeyer tertutup yang berlubang kecil pada bagian tutupnya dan labu erlenmeyer kemudian dipanaskan sampai suhu 100C, maka cairan tersebut akan menguap. Dengan demikian uap itu akan mendorong udara yang ada dalam erlenmeyer keluar melalui lubang kecil. Setelah semua udara keluar, uap cairan akan keluar sampai tercapai kesetimbangan yaitu tekanan uap cairan dalam labu erlenmeyer sama dengan tekanan udara luar. Labu erlenmeyer, pada kondisi kesetimbangan, hanya berisi uap cairan dengan tekanan sama dengan tekanan udara luar. Volume uap cairan sama dengan volume labu erlenmeyer dan suhunya sama dengan suhu didih air pada penangas air (kira-kira 100C). Labu erlenmeyer kemudian dikeluarkan dari penangas air, didinginkan dan setelah dingin ditimbang untuk mengetahui bobot gas yang terdapat didalamnya. Dengan menggunakan persamaan gas ideal diatas massa molekul senyawa dapat ditentukan (Taba dkk, 2010). Beberapa cara yang dapat digunakan berat molekul, yaitu (Sukardjo, 1997):

1.

Cara Regnault Dipakai untuk menentukan B.M. zat pada suhu kamar berbentuk gas. Untuk itu suatu bola gelas (300-500 cc) dikosongkan dan ditimbang. Kemudian diisi dengan gas yang bersangkutan dan ditimbang kembali. Dari tekanan dan temperatur gas dengan memakai rumus gas ideal dapat ditentukan M. Berat gas adalah selisih berat kedua penimbangan. 2. Cara Victor Meyer Dipakai untuk menentukan berat molekul zat cair yang mudah menguap. Alat ini terdiri atas tabung B ( 50 cc) yang di dalamnya dimasukkan pula tabung C. Tabung A berisi zat cair dengan t.d. 30 lebih tinggi daripada zat cair yang akan ditentukan B.M.nya. Alat ini dipanaskan sampai permukaan air di buret G tetap, kenmudian zat cair yang ditentukan B.M.nya dimasukkan dalam tabung B melalui D dengan ampul P. Ampul ini akan pecah dan uapnya akan mendesak air di buret G, hingga permukaan air turun. Volume uap=H. Bila berat zat cair=W, maka dapat dihitung B.M. zatnya. 3. Cara Limiting Density B.M. yang ditentukan berdasarkan hukum-hukum gas ideal hanya kirakira, namun hasilnya telah cukup untuk penentuan rumus-rumus molekul. Hal ini disebabkan karena gas ideal sudah menyimpang walaupun pada tekanan atmosfer. Hukum yang mula-mula diajukan oleh Robert Boyle pada tahun 1662, yang bertindak atas saran asistennya, John Townley, ini membuktikan bahwa pada temperatur tetap, volume sejumlah tertentu gas berbanding terbalik dengan

tekanannya. Menurut Hukum Boyle, isoterm gas-gas membentuk hiperbola; gas nyata hanya mempunyai isoterm hiperbola pada limit p0 (Atkins, 1999). Air has weight and therefore exerts a pressure. The atmospheric pressure is due to the weight of the overlying air. A standard atmosphere (1 atm) is defined as exactly 101 325 Pa. It is approximately equal to the average pressure of the atmosphere at sea level. The standard atmosphere also is approximately equal to the pressure exerted by a column of mercury 760 mm high, at 0 "C and at sea level. The torr is defined by: 760 torr= 1 atm. For problems in this book, the torr and the millimeter of mercury (mmHg) will be taken to be the same. The bar is defined by: 1 bar=exactly 105 Pa. One bar has recently replaced 1 atm as the standard pressure for reporting thermodynamic data (Rosenberg and Epstein, 1997). Udara memiliki berat dan karena itu memberikan tekanan. Tekanan atmosfer karena berat melapisi udara. Atmosfer standar (1 atm) didefinisikan sebagai tepat 101.325 Pa. Kira-kira sama dengan tekanan rata-rata atmosfer di permukaan laut. Suasana standar juga kira-kira sama dengan tekanan yang diberikan oleh kolom air raksa 760 mm tinggi, pada 0"C dan di permukaan laut. Pada 760 torr didefinisikan = 1 atm. Torr dan milimeter air raksa (mmHg) akan dianggap sama. Sedangkan 1 bar didefinisikan = persis 105 Pa Satu bar memiliki 1 atm baru-baru ini digantikan sebagai tekanan standar untuk melaporkan data termodinamika (Rosenberg and Epstein, 1997). Volume gas akan berubah dengan adanya perubahan suhu dan tekanan. Karenanya, berat jenis gas juga akan berubah bila suhu dan tekanan berubah. Semakin tinggi tekanan suatu jumlah tertentu gaspada suhu yang konstan akan

menyebabkan volume menjadi semakin kecil dan akibatnya berat jenis akan semakin besar (Bird, 1993). BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Bahan-bahan yang dipergunakan pada percobaan ini, adalah air, kloroform (CHCl3), aseton (C3H6O), aluminium foil, kertas label, dan tissue roll. 3.2 Alat Alat-alat yang dipergunakan pada percobaan ini, adalah erlenmeyer 50 mL, gelas piala 250 mL, termometer -10 oC 360 oC skala 0,1, jarum pentul, pipet volum 5 mL, penangas air, karet gelang, bulb, neraca analitik dan desikator. 3.3 Prosedur Percobaan Prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah : 1. Diambil dua buah erlenmeyer kemudian dibersihkan dan dikeringkan. 2. Kedua erlenmeyer tersebut ditimbang kosong kemudian masing-masing diberi label aseton dan kloroform lalu dicatat bobotnya. 3. Selanjutnya kedua erlenmeyer tadi diisi dengan aquades sampai penuh dan ditimbang lagi dengan menggunakan neraca ohaus dan catat bobotnya (pastikan neraca analitik telah terkalibrasi). 4. Erlenmeyer yang berisi aquades tadi dibersihkan dan dikeringkan kemudian masing-masing ditutup dengan aluminium foil dan dikencangkan dengan karet gelang, sebelumnya suhu aquades diukur.

5. Kemudian menimbang lagi dengan neraca analitik dan bobotnya dicatat. 6. Kedua erlenmeyer yang tadi tertutup aluminium foil dan diikat karet, dibuka dan pada masing-masing erlenmeyer dimasukkan aseton dan kloroform dengan cara menggunakan pipet skala 5 ml. 7. Setelah diisi dengan aseton dan kloroform, erlenmeyer ditutup kembali dengan aluminium foil dan dikencangkan dengan karet gelang kemudian aluminium foil pada erlenmeyer diberi lubang kecil dengan menggunakan jarum pentul, baik pada gelas piala yang berisi aseton maupun kloroform. 8. Dimasukkan air pada gelas kimia kemudian dinaikkan ke atas penangas sampai suhu mencapai 85 0C. 9. Gelas kimia yang telah berisi kloroform dan aseton dimasukkan ke dalam gelas kimia yang telah berada diatas penangas secara bergantian, dibiarkan hingga semua cairan menguap kemudian suhu penangas air diukur dengan menggunakan termometer dan suhunya dicatat. 10. Setelah seluruh larutan menguap pada kloroform dan aseton, erlenmeyer tersebut diangkat dan air yang menempel pada bagian luar erlenmeyer dibersihkan. 11. Kedua erlenmeyer yang berisi aseton dan kloroform dimasukkan ke dalam desikator. 12. Setelah erlenmeyer dingin, erlenmeyer dikeluarkan dari desikator dan ditimbang dengan menggunakan neraca analitik dan dicatat bobotnya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan 1. Kloroform Bobot erlenmeyer + air Bobot erlenmeyer kosong Suhu air dalam erlenmeyer Suhu air dalam penangas Massa jenis air = 92,6700 g = 37,4100 g = 29 C = 85 C = 0.995944 g

mL

2. Aseton Bobot erlenmeyer + air Bobot erlenmeyer kosong Suhu air dalam erlenmeyer Suhu air dalam penangas Massa jenis air Tabel Pengamatan No. Jenis Zat Cair Bobot erlenmeyer + Bobot erlenmeyer + = 95,0800 g = 37,6000 g = 29 C = 84 C = 0.995944 g

mL

aluminium foil + karet aluminium foil + karet 1. 2. Kloroform Aseton gelang 38,0900 gram 38,0800 gram gelang + uap cairan 38,2300 gram 38,1000 gram

4.2 Perhitungan 1. Kloroform Bobot erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang + kloroform = 45,4800 g Bobot erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang Bobot kloroform Bobot air + erlenmeyer Bobot erlenmeyer kosong Bobot air Massa jenis air
Bobot air air

= 38,0900 g = 7,3900 g = 92,6700 g = 37,4100 g = 55,2600 g =0,9959 g

mL

Volume air = L

55,2600 gram = 0,9959 g mL

= 55,4875mL = 55,487510-3 Volume gas = Volume air

= 55,487510-3 L Massa jenis kloroform =


Bobot kloroform volum gas e

7,3900 gram = 133,1831 55 ,4875 10 3 L

L
= 85 C = 358 K

Suhu penangas air

Tekanan gas = 760 mmHg = 1 atm M =

T R
P

133 ,1831 g

x 0,0821 L.atm 1 atm

mol .K

x 358 K

= 3914,4910 g Mr CHCl3

mol
mol

= 3914,4910 g

Mr CHCl3 teoritis = 119,5 g

mol

2. Aseton Bobot erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang + aseton = 42,0700 g Bobot erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang Bobot aseton Bobot erlenmeyer + air Bobot erlenmeyer Bobot air Massa jenis air
Bobot air air

= 38,0800 g = 3,9900 g = 95,0800 g = 37,6000 g = 57,4800 g = 0,9959 g

mL

Volume air

57 ,4800 gram 0,9959 g mL

= 57,7166 mL

Volume gas = volume air = 57,7166 mL = 57,7166 10-3 L Massa jenis aseton = volume gas Suhu penangas air = 84 C Tekanan gas M =
Bobot aseton

3,9900 gram = 69,1309 g 57,7166 10 3 L L

= 357 K

= 760 mmHg = 1 atm

T R
P

69 ,1309 g

x 0,0821 L.atm 1 atm

mol .K

x 357 K

= 2026,2059 g Mr aseton

mol
mol

= 2026,2059 g

Mr aseton teoritis = 58 g

mol

4.3 Pembahasan Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan zat mudah menguap yaitu kloroform dan aseton. Percobaan ini dilakukan untuk menentukan massa molekul cairan yang mudah menguap dengan berdasarkan pengukuran bobot jenis zat tersebut. Dalam hal ini kloroform dan aseton dicari massa molekulnya berdasarkan pengukuran massa jenis yang dilakukan melalui penguapan, pengembunan, dan penentuan selisih bobot kloroform sebelum dan sesudah penguapan. Kloroform: Pertama-tama yang dilakukan yaitu pengukuran bobot erlenmeyer kosong, hal ini dilakukan untuk mengetahui berat erlenmeyer tersebut, lalu erlenmeyer diisi dengan air hingga penuh, air disini berfungsi sebagai pembanding untuk menentukan bobot air. Seperti data pada tabel massa jenis air, pada suhu 29C massa jenisnya adalah 1gr/mL. Dengan membagi bobot air dengan massa jenisnya maka dapat diketahui volume air, dimana volume air sama dengan volume gas. Massa jenis kloroform kemudian dapat dihitung dengan membagi antara bobot kloroform dengan volume gas. Massa molekulnya pun akan diketahui dengan menggunakan persamaan gas ideal. Erlenmeyer yang digunakan adalah erlenmeyer berleher kecil, agar zat tidak terlalu cepat menguap sehingga zat yang mudah menguap di dalam erlenmeyer dapat diamati. Selanjutnya yakni erlenmeyer ditutup dengan aluminium foil dan dikencangkan dengan karet gelang, agar tutupnya bersifat kedap udara, disini mengunakan aluminium foil sebagai penutup karena titik didihnya tinggi, jika saja digunakan bahan yang titik didihnya rendah, maka bahan tersebut akan ikut terbakar dalam waktu yang singkat. Erlenmeyer, beserta

aluminium foil dan karet gelang lalu ditimbang. Setelah itu, kloroform dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet volume 5 mL, yang dilengkapi dengan bulb. Setelah cairan dimasukkan ke dalam erlenmeyer, segera ditutup dengan aluminium foil dan diikat dengan karet gelang, kemudian aluminium foil dilubangi dengan jarum sebagai jalan keluarnya uap. Setelah itu, erlenmeyer direndam ke dalam air di atas penangas, dengan tujuan agar semua cairan menguap, setelah semua kloroform menguap, suhu di dalam penangas diukur, lalu erlenmeyer diangkat dan dibersihkan bagian luarnya hingga permukaannya kering kemudian dimasukkan ke dalam desikator. Desikator adalah wadah untuk mengeringkan zat atau menjaganya dari kelembapan udara. Sewaktu mendinginkan, cawan harus terbuka agar tidak menghambat penurunan suhu tetapi untuk menimbang cawan harus ditutup agar mengurangi penyerapan uap oleh endapan. Ketika di dalam desikator, tutupnya harus di putar-putar untuk

mengurangi tekanan dari dalam desikator. Udara akan masuk kembali ke dalam erlenmeyer melalui lubang kecil dan uap cairan kloroform yang terdapat dalam erlenmeyer mengembun kembali, lalu erlenmeyer tersebut ditimbang lagi untuk mengetahui bobot kloroform. Dari hasil perhitungan pada pengolahan data didapatkan hasil yang berbeda dengan teoritisnya. Secara praktek didapat massa molekulnya adalah 3914,4910 gram/mol, sedangkan secara teoritis yaitu 119,5 gram/mol. Selisihnya adalah 3794,991 gram/mol. Percobaan penentuan massa molekul pada kloroform tidak berhasil, karena datanya beda jauh dengan teoritisnya, penyimpangan ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti kesalahan dalam menimbang, kesalahan dalam mengukur dengan termometer, kesalahan juga dapat

terjadi pada waktu memipet kloroform yang kurang cermat, sehingga kloroform sempat menguap. Kesalahan waktu menimbang erlenmeyer, erlenmeyer yang kurang kering, dan alat yang tersedia kurang berfungsi dengan baik, dan kesalahan paling fatal adalah sewaktu mendinginkan, cawan tidak berada pada kondisi terbuka. Aseton: prosedur yang dilakukan sama seperti yang dilakukan pada kloroform. Hasil yang didapat setelah percobaan, sama seperti pada kloroform, Secara praktek didapat massa molekulnya adalah 2026,2059 gram/mol, sedangkan secara teoritis yaitu 58 gram/mol. Selisihnya adalah 1968,2059 gram/mol.

Percobaan penentuan massa molekul pada aseton juga tidak berhasil, karena datanya beda jauh dengan teoritisnya, penyimpangan ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti yang telah dijelaskan bagian atas.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang saya dapatkan berdasarkan percobaan ini, yakni 1. Bobot jenis zat yang mudah menguap: 2. Kloroform : 133,1831 gr/L Aseton : 69,1309 gr/L Massa molekul zat yang mudah menguap: Kloroform : 3914,4910 gram/mol Aseton : 2026,2059 gram/mol

5.2 Saran Percobaan: Seharusnya semua alat tersedia pada percobaan ini

sehingga praktikan dapat melakukan percobaan dengan maksimal, seperti barometer yang tidak tersedia. Asisten: Asistennya sudah bagus, lebih ditingkatkan lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P. W., 1999, Kimia Fisika, Jilid 1 Edisi 4, Erlangga, Jakarta. Bird, T., 1993, Kimia Fisik untuk Universitas, Gramedia, Jakarta. Rosenberg, J.L., and Epstein,L.M., 1997, Theory and Problems of College Chemistry Eight Edition, McGraw-Hill, United States of America. Sukardjo, 1989, Kimia Fisika, Bina Aksara, Jakarta. Sukardjo, 1997, Kimia Fisika, Bina Aksara, Jakarta. Taba, P., Zakir, Muh., Fauziah, S., 2010, Modul Penuntun Praktikum Kimia Fisika, Laboratorium Kimia Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin, Makassar.

BAGAN KERJA

Air -

Dimasukkan ke dalam erlenmeyer sampai penuh Ditimbang dengan menggunakan neraca analitik Ditutup dengan aluminium foil Diikat dengan menggunakan karet gelang Ditimbang Ditimbang dan diukur suhunya Diganti dengan kloroform

Kloroform - Masukkan kurang lebih 5 mL ke dalam erlenmeyer Ditutup dengan aluminium foil dan diikat dengan erat-erat sehingga tutupnya bersifat kedap air dan gas Hasil Note: Erlenmeyer diambil yang bersih dan kering. Dibuat lubang kecil pada aluminium foil dengan menggunakan jarum Rendam erlenmeyer dalam penangas air sampai semua menguap Dicatat suhu pada air dalam gelas kimia Setelah cairan menguap, angkat Erlenmeyer, lap bagian luar erlenmeyer Masukkan ke dalam desikator Setelah dingin, erlenmeyerr tersebut ditimbang kembali Ulang percobaan diatas dengan mengganti kloroform dengan aseton

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 25 Februari 2010 ASISTEN PRAKTIKAN

(A. YANTI PUSPITA SARI)

(IMELDA SUNARYO)

Anda mungkin juga menyukai