TUGAS 3
NAMA : ANDO JEPRI MANDALA
NIM : 859802795
MATA KULIAH : HAK ASASI MANUSIA ( HAM )
KODE MK : PKNI4317
SALUT : KISAM TINGGI
1. Hubungan antara hukum dan HAM , dimaksud setiap negara yang menghormati HAM
merupakan negara hukum dalam arti materiil atau substansial. Apa maksudnya?
Jelaskan argumen saudara!
2. Dinamika perkembangan HAM baik dalam ranah internasional dan nasional merupakan
perjalanan penting bagaimana HAM ditegakkan dan diterima sebagai perlindungan bagi
setiap individu diseluruh dunia tanpa terkecuali. Jelaskan perkembangan HAM yang
anda ketahui di beberapa negara di dunia!
3. Reformasi konstitusi khususnya mengenai HAM menegaskan secara eksplisit bahwa
Indonesia adalah negara hukum. Di dalamnya diatur pengakuan terhadap prinsip
supremasi hukum dan konstitusi serta adanya jaminan-jaminan hak asasi
manusia. Jelaskan pendapat saudara!
4. Penyelesaian kasus atau sebuah pelanggaran internasional hingga pada proses
pengadilan yaitu melalui beberapa tahapan. Tahapan ini harus diikuti oleh pihak-pihak
yang terlibat dalam peradilan HAM Internasional. Demikian juga, Beberapa pihak
berhak mengadukan kasus pelanggaran HAM internasional. Pihak-pihak mana yang
dianggap memiliki hak? Jelaskan pendapat saudara!
5. Indonesia telah banyak menetapkan peraturan perundangan yang berspektif HAM dan
dilakukan ratifikasi instrumen HAM internasional yaitu berupa undang-undang,
keputusan dan instruksi presiden. Salah satunya adalah ratifikasi Undang-undang
perlindungan untuk anak. Undang-undang apa saja yang memberi perlindungan anak?
Bagaimana isi Undang-undang ini mengatur?
JAWABAN NO 1
1. Hubungan Antara Hukum dan HAM dalam Negara Hukum
Materiil/Substansial
Maksud dari Negara Hukum Materiil atau Substansial:
Negara hukum dalam arti materiil atau substansial tidak hanya berfokus pada
keberadaan peraturan hukum yang tertulis (formal), tetapi juga memastikan bahwa Hukum
tersebut mencerminkan nilai-nilai keadilan, perlindungan, dan penghormatan terhadap hak
asasi manusia (HAM). Dengan kata lain, sebuah negara yang menghormati HAM adalah
negara hukum yang mengedepankan substansi keadilan di balik peraturan hukum.
Argumen:
1. HAM sebagai Dasar dan Tujuan Hukum:
Hukum dalam negara hukum materiil tidak hanya menjadi alat untuk mengatur dan
menghukum, tetapi juga untuk melindungi hak-hak dasar individu. Negara yang menghormati
HAM memastikan hukum tidak hanya legal (sah secara formal) tetapi juga adil dan
melindungi martabat manusia.
2. Hukum yang Berkeadilan:
Dalam konteks ini, hukum tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai HAM. Misalnya,
hukum yang diskriminatif atau represif tidak sesuai dengan prinsip negara hukum materiil,
meskipun secara formal telah disahkan.
3. Peran Negara:
Negara hukum materiil/substansial harus aktif menciptakan kebijakan yang melindungi
HAM, seperti menjamin kebebasan berpendapat, hak atas keadilan, dan akses terhadap
pendidikan dan kesehatan.
4. Prinsip Rule of Law yang Humanis:
Dalam negara hukum yang substansial, prinsip rule of law (supremasi hukum) tidak hanya
berarti bahwa hukum berlaku untuk semua orang, tetapi hukum juga harus humanis,
melindungi hak-hak fundamental tanpa diskriminasi.
Contoh Implementasi:
- Konstitusi Indonesia (UUD 1945):
Pasal 28A-28J UUD 1945 menjamin hak-hak asasi manusia secara komprehensif. Ini
menunjukkan bahwa Indonesia berupaya menjadi negara hukum dalam arti substansial, yang
tidak hanya mematuhi hukum tetapi juga melindungi HAM.
- Piagam PBB (1948):
Negara-negara yang menandatangani Piagam PBB dan Deklarasi Universal Hak
Asasi Manusia (DUHAM) wajib memastikan hukum nasional mereka selaras dengan prinsip
HAM internasional.
Negara hukum dalam arti materiil menempatkan HAM sebagai fondasi utama hukum.
Hukum tidak hanya harus ditaati, tetapi juga harus mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan,
keadilan, dan perlindungan terhadap hak-hak individu. Negara yang menghormati HAM
adalah negara yang memahami bahwa hukum adalah alat untuk mencapai kesejahteraan
manusia, bukan sekadar alat kontrol kekuasaan.
JAWABAN NO 2
Perkembangan HAM di Ranah Internasional dan Nasional
Perjalanan sejarah HAM adalah proses panjang yang melibatkan berbagai negara dan
sistem hukum di dunia. Berikut adalah perkembangan HAM yang menonjol di beberapa
negara:
1. Perkembangan HAM di Ranah Internasional
1. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) 1948
- Disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai reaksi atas
kekejaman Perang Dunia II.
- DUHAM menjadi dokumen universal pertama yang merumuskan hak-hak dasar
manusia, seperti hak atas kebebasan, persamaan, dan perlindungan hukum.
2. Konvensi Internasional Terkait HAM:
- Konvensi Hak Anak (CRC, 1989): Menjamin hak anak untuk mendapatkan
perlindungan, pendidikan, dan kesejahteraan.
- Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW, 1979):
Fokus pada kesetaraan gender dan pemberantasan diskriminasi terhadap
perempuan.
3. Mahkamah HAM Internasional (ICJ dan ICC):
- Didirikan untuk mengadili pelanggaran berat HAM internasional, seperti
kejahatan perang dan genosida.
- Contoh kasus: Pengadilan kasus genosida di Rwanda dan Bosnia.
4. Regionalisasi HAM:
- Eropa:Konvensi Eropa tentang HAM (1950) yang diawasi oleh European Court of
Human Rights (ECHR).
- Afrika:Piagam Afrika tentang Hak Asasi Manusia dan Hak Bangsa (1981).
- Asia Tenggara:ASEAN Human Rights Declaration (2012).
2. Perkembangan HAM di Negara-Negara Dunia
1. Amerika Serikat:
- Bill of Rights (1791): Memberikan jaminan konstitusional terhadap kebebasan
beragama, berbicara, dan pers.
- Perjuangan hak sipil pada 1960-an, dipimpin oleh tokoh seperti Martin Luther
King Jr., menghapus segregasi rasial.
- Perkembangan terbaru: Gerakan #BlackLivesMatter menyoroti perlunya
reformasi keadilan rasial.
2. Afrika Selatan:
- Era apartheid (1948-1994) merupakan pelanggaran HAM berat melalui
diskriminasi rasial.
- Setelah berakhirnya apartheid, konstitusi 1996 menjadikan Afrika Selatan
sebagai salah satu negara dengan jaminan HAM yang kuat, dipimpin oleh
tokoh seperti Nelson Mandela.
3. India:
- Konstitusi India (1950) mengakui hak asasi seperti kebebasan beragama,
pendidikan, dan hak atas persamaan.
- Tantangan: Isu diskriminasi kasta dan minoritas agama masih menjadi
perdebatan.
4. Indonesia:
- Pengakuan HAM diatur dalam UUD 1945, terutama setelah reformasi 1998
dengan penambahan Bab XA (Pasal 28A-28J).
- Ratifikasi instrumen internasional, seperti Konvensi Hak Anak (CRC) dan
Konvensi Anti-Penyiksaan (CAT).
- Tantangan: Pelanggaran HAM masa lalu, seperti peristiwa 1965 dan pelanggaran di
Papua, masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Perkembangan HAM mencerminkan dinamika politik, sosial, dan budaya suatu negara. Di
tingkat internasional, HAM diakui sebagai prinsip universal yang wajib dihormati oleh
semua negara. Namun, implementasi di setiap negara bervariasi tergantung pada sejarah,
nilai, dan kapasitas hukum masing-masing. Perjuangan untuk menegakkan HAM terus
berlangsung, baik melalui institusi global seperti PBB maupun inisiatif lokal di setiap
negara.
JAWABAN NO3
Pendapat tentang Reformasi Konstitusi dan Penguatan Negara Hukum serta HAM di
Indonesia
Reformasi konstitusi yang dilakukan pasca-Reformasi 1998 adalah langkah penting
dalam menegaskan Indonesia sebagai negara hukum yang menjunjung tinggi hak asasi
manusia (HAM). Dalam konstitusi hasil amandemen, prinsip-prinsip negara hukum dan
penghormatan terhadap HAM diatur secara eksplisit, menunjukkan komitmen negara terhadap
supremasi hukum, perlindungan HAM, dan demokrasi.
1. Indonesia sebagai Negara Hukum yang Berbasis HAM
Menurut Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, “Negara Indonesia adalah negara hukum.” Konsep
negara hukum ini memiliki beberapa ciri utama:
- Prinsip Supremasi Hukum:
Semua warga negara, termasuk pemerintah, tunduk pada hukum. Ini mencakup
jaminan bahwa hukum berfungsi untuk melindungi hak-hak individu, bukan alat
kekuasaan semata.
- Jaminan HAM:
Pasal 28A-28J dalam Bab XA UUD 1945 secara komprehensif mengatur hak asasi
manusia, seperti hak atas kehidupan, kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, dan
persamaan di depan hukum.
- Peran Konstitusi sebagai Pedoman Utama:
Supremasi konstitusi berarti tidak ada aturan lain yang boleh bertentangan dengan
UUD 1945, termasuk dalam hal perlindungan HAM.
2. Dampak Reformasi Konstitusi terhadap HAM di Indonesia
- Pengakuan Prinsip Universal HAM:
Indonesia telah mengadopsi standar HAM internasional, seperti melalui ratifikasi
Konvensi Hak Anak (CRC) dan Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap
Perempuan (CEDAW). Hal ini menunjukkan komitmen negara terhadap nilai-nilai
HAM global.
- Kelembagaan untuk HAM:
Reformasi memunculkan institusi yang mendukung penegakan HAM, seperti
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Mahkamah Konstitusi (MK), dan
Ombudsman Republik Indonesia (ORI).
- Perlindungan Hukum untuk Masyarakat:
Dengan amandemen konstitusi, setiap pelanggaran terhadap HAM dapat diuji
di Mahkamah Konstitusi atau diajukan ke lembaga internasional jika tidak
diselesaikan di tingkat nasional.
2. Tantangan dalam Implementasi Prinsip Negara Hukum dan HAM
Meskipun secara normatif Indonesia telah memiliki sistem hukum yang mendukung HAM,
masih terdapat tantangan dalam implementasi:
- Pelanggaran HAM Masa Lalu:
Beberapa kasus seperti peristiwa 1965 dan pelanggaran di Papua belum
sepenuhnya terselesaikan secara hukum.
- Ketimpangan Penegakan Hukum:
Masih ada persepsi bahwa hukum cenderung berpihak kepada pihak-pihak yang
memiliki kekuasaan atau modal.
- Kebebasan Berpendapat dan Intoleransi:
Meskipun kebebasan berpendapat dijamin, masih ada ancaman terhadap aktivis,
jurnalis, atau kelompok minoritas.
Reformasi konstitusi telah mengokohkan status Indonesia sebagai negara hukum yang
menghormati HAM. Namun, implementasi prinsip ini memerlukan konsistensi, integritas
lembaga hukum, dan partisipasi aktif masyarakat. Prinsip supremasi hukum harus diterapkan
secara adil, tanpa diskriminasi, dan mampu melindungi hak- hak dasar seluruh warga negara.
Reformasi ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan demokrasi yang berkeadilan dan
berkeadaban.
JAWABAN NO 4
Pihak-Pihak yang Berhak Mengadukan Pelanggaran HAM Internasional dan Tahapan
Penyelesaian Kasusnya
Penyelesaian pelanggaran HAM internasional merupakan proses penting untuk
menegakkan keadilan, baik bagi korban maupun komunitas internasional. Proses ini dilakukan
melalui mekanisme pengadilan internasional seperti Pengadilan Kriminal Internasional
(International Criminal Court/ICC) atau lembaga HAM regional dan global.
A. Pihak-Pihak yang Berhak Mengadukan Kasus Pelanggaran HAM
Internasional
1. ndividu yang Menjadi Korban Langsung
- Korban langsung pelanggaran HAM (seperti penyiksaan, genosida, atau
penahanan sewenang-wenang) memiliki hak untuk mengadukan kasusnya ke
lembaga HAM internasional, seperti Komite HAM PBB.
2. Perwakilan Korban atau Keluarga Korban
- Jika korban tidak mampu mengajukan pengaduan karena meninggal dunia atau tidak
memiliki akses, keluarganya dapat menjadi perwakilan hukum.
3. Negara
- Negara dapat mengadukan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara lain,
terutama jika pelanggaran tersebut melanggar perjanjian internasional yang telah
disepakati kedua belah pihak.
- Contoh: Kasus-kasus di Mahkamah Internasional (International Court of
Justice/ICJ).
4. Organisasi Non-Pemerintah (NGO)
- Organisasi HAM seperti Amnesty International atau Human Rights Watch dapat
mengadukan kasus pelanggaran HAM atas nama korban atau kelompok yang terdampak.
5. Lembaga HAM Regional atau Internasional
- Lembaga seperti Komisi HAM ASEAN atau Komisi Eropa untuk HAM dapat
mengadukan kasus ke badan internasional.
6. Dewan Keamanan PBB
- Dewan Keamanan dapat merujuk kasus pelanggaran berat HAM, seperti
genosida atau kejahatan perang, ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
2. Tahapan Penyelesaian Kasus di Peradilan HAM Internasional
1. Pengaduan Awal
- Pihak yang berhak mengadukan kasus mengajukan laporan atau pengaduan awal ke
lembaga yang relevan, seperti Komisi HAM PBB atau ICC.
- Pengaduan harus mencakup bukti awal pelanggaran yang terjadi.
2. Penyelidikan (Investigation)
- Lembaga internasional melakukan penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran, dengan
memverifikasi fakta, mendokumentasikan bukti, dan mengumpulkan kesaksian dari
korban atau saksi.
3. Pemanggilan dan Penyidikan terhadap Tersangka
- Jika cukup bukti, pengadilan dapat mengeluarkan perintah penangkapan terhadap
individu yang diduga bertanggung jawab, seperti pemimpin politik atau militer.
4. Persidangan
- Kasus dibawa ke pengadilan internasional, seperti ICC, dengan proses hukum yang
transparan. Hakim akan memeriksa bukti, mendengarkan saksi, dan memutuskan bersalah
atau tidaknya terdakwa.
5. Putusan dan Penjatuhan Hukuman
- Jika terdakwa dinyatakan bersalah, pengadilan akan menjatuhkan hukuman sesuai
dengan pelanggaran yang dilakukan, seperti penjara atau reparasi kepada korban.
6. Pelaksanaan Putusan
- Pelaksanaan putusan dilakukan oleh negara-negara yang memiliki yurisdiksi atau
kewajiban untuk menegakkan putusan pengadilan internasional.
2. Pendapat Mengenai Mekanisme dan Hak Pihak-Pihak yang Terlibat
Pemberian hak untuk mengadukan pelanggaran HAM internasional kepada berbagai pihak
adalah langkah penting dalam memastikan akses terhadap keadilan. Namun, ada beberapa
tantangan:
- Kendala Akses:Tidak semua korban memiliki akses ke lembaga internasional karena
hambatan teknis atau politik.
- Ketergantungan pada Negara:Banyak proses memerlukan kerja sama negara yang terlibat,
yang terkadang enggan mematuhi putusan internasional.
- Bias Politik: Pengadilan internasional sering dianggap cenderung berpihak pada negara-
negara tertentu.
Meski demikian, mekanisme ini tetap menjadi fondasi utama untuk menegakkan hukum
internasional dan melindungi HAM. Hal ini menunjukkan pentingnya peran komunitas
internasional dalam memastikan pelanggaran HAM tidak dibiarkan begitu saja.
Pihak yang berhak mengadukan pelanggaran HAM internasional adalah korban, perwakilan
korban, negara, NGO, dan lembaga internasional. Tahapan penyelesaian kasus melibatkan
pengaduan, penyelidikan, persidangan, hingga pelaksanaan putusan. Keberadaan mekanisme
ini mencerminkan komitmen global terhadap keadilan dan perlindungan HAM.
JAWABAN NO 5
Undang-Undang yang Memberi Perlindungan Anak di Indonesia
Indonesia memiliki berbagai regulasi yang mengatur perlindungan anak, baik yang
dibuat secara mandiri maupun sebagai hasil ratifikasi instrumen HAM internasional.
Undang-undang ini bertujuan melindungi hak-hak anak sebagai bagian dari komitmen
terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan kesejahteraan anak. Berikut adalah beberapa
undang-undang utama:
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (dan
perubahannya: UU No. 35 Tahun 2014 serta UU No. 17 Tahun 2016)
Isi dan Pengaturan:
- Hak-Hak Anak yang Dilindungi:
- Hak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta hak untuk
mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
- Hak anak atas identitas (akte kelahiran, kewarganegaraan), pendidikan,
kesehatan, dan lingkungan keluarga yang aman.
- Tanggung Jawab Negara, Orang Tua, dan Masyarakat:
- Negara bertanggung jawab memberikan perlindungan hukum kepada anak.
- Orang tua wajib memberikan kasih sayang, pendidikan, dan perlindungan kepada anak.
- Perlindungan Khusus:
- Bagi anak korban kekerasan, eksploitasi seksual, trafficking, dan konflik.
- Sanksi:
- Hukuman berat bagi pelaku kekerasan terhadap anak.
2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA)
Isi dan Pengaturan:
- Keadilan Restoratif:
- Sistem ini mengedepankan pendekatan rehabilitasi daripada hukuman pidana bagi
anak pelaku tindak pidana.
- Diversi (pengalihan penyelesaian kasus di luar pengadilan) diterapkan pada
pelanggaran ringan.
- Hak Anak dalam Proses Hukum:
- Mendapatkan pendampingan hukum, pendidikan, dan perlindungan selama
proses hukum.
- HumaniSanksi yang Humanis:
- Anak tidak boleh dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup.
3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002
Isi dan Pengaturan:
- Mempertegas definisi dan bentuk kekerasan terhadap anak.
- Kewajiban Pelaporan Kekerasan:
- Setiap orang yang mengetahui adanya kekerasan terhadap anak wajib melapor.
- Pengawasan oleh Negara:
-Negara mengawasi perlindungan anak melalui lembaga khusus seperti Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang No. 1 Tahun 2016 tentang Hukuman Kebiri untuk Pelaku Kekerasan
Seksual pada Anak
Isi dan Pengaturan:
- Sanksi Tambahan:
- Hukuman kebiri kimia bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak.
- Tujuan:
- Mencegah berulangnya kejahatan seksual pada anak dan memberikan efek jera.
5. Ratifikasi Instrumen Internasional tentang Hak Anak
- Konvensi Hak Anak (CRC) – Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990:
- Indonesia mengakui hak-hak anak seperti perlindungan dari eksploitasi, hak atas
pendidikan, dan perlindungan dari kekerasan.
- ILO Convention No. 138 dan No. 182 (tentang pekerja anak):
- Melarang eksploitasi anak dalam pekerjaan berbahaya.
6. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan** Isi dan
Pengaturan:
- Larangan memperkerjakan anak di bawah usia 18 tahun, kecuali untuk
pekerjaan ringan yang tidak mengganggu kesehatan dan pendidikan.
Berbagai undang-undang ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap perlindungan anak
sesuai perspektif HAM. Regulasi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari hak atas
pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan hingga perlindungan hukum dari kekerasan dan
eksploitasi. Meski demikian, implementasi di lapangan masih menjadi tantangan, terutama
di wilayah terpencil dan pada komunitas yang belum memahami pentingnya perlindungan
anak.
Teori dan sumber Referensi
Teori yang Mendukung Perlindungan Anak
1. Teori Hak Asasi Manusia (HAM)
Perlindungan anak merupakan bagian integral dari teori HAM, yang mengakui bahwa
setiap individu, tanpa terkecuali anak, memiliki hak yang melekat sejak lahir. Hak-hak
tersebut termasuk hak untuk hidup, berkembang, mendapat perlindungan dari kekerasan,
dan memperoleh pendidikan.
- hak atas Kehidupan dan Kelangsungan Hidup (Artikel 6 Konvensi Hak Anak)
- Hak untuk Tidak Dieksploitasi (Artikel 32 Konvensi Hak Anak)
- Hak atas Perlindungan dari Penyiksaan dan Perlakuan Kejam (Artikel 37
Konvensi Hak Anak)
2. Teori Kewajiban Negara (State Responsibility Theory)
Menurut teori ini, negara memiliki kewajiban utama untuk melindungi hak asasi warganya,
termasuk anak-anak. Negara tidak hanya bertanggung jawab untuk menciptakan peraturan
yang melindungi anak, tetapi juga untuk menegakkan hukum dan memberikan sanksi kepada
pihak-pihak yang melanggar hak-hak tersebut.
- Responsibility to Protect (R2P) juga dapat dihubungkan di sini, di mana negara
diharapkan untuk melindungi warganya, termasuk anak-anak, dari kekerasan atau
eksploitasi.
3. Teori Keadilan Restoratif
Dalam sistem peradilan pidana anak, teori ini mengedepankan pemulihan dan rehabilitasi
anak pelaku tindak pidana, bukan hanya hukuman. Teori ini mendukung proses hukum yang
tidak hanya menghukum tetapi juga mendidik dan memulihkan anak, sehingga mereka dapat
kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif dan tidak mengulang pelanggaran.
- Diversi dalam UU Sistem Peradilan Pidana Anak adalah contoh penerapan teori ini di
Indonesia.
Sumber Referensi tentang Perlindungan Anak di Indonesia
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak UU ini
merupakan dasar hukum utama yang mengatur tentang hak dan
perlindungan anak di Indonesia. Amandemen dalam UU ini menambahkan
ketentuan-ketentuan penting yang lebih melindungi anak dari kekerasan,
diskriminasi, dan eksploitasi.
- Referensi: Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109)
2. Konvensi Hak Anak (CRC)
Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak (CRC) yang menjadi acuan internasional
dalam perlindungan hak anak. Konvensi ini mengakui berbagai hak dasar anak, termasuk hak
untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, perlindungan dari kekerasan, serta hak untuk
berpartisipasi dalam keputusan yang mempengaruhi hidup mereka.
- Referensi: Konvensi Hak Anak (United Nations, 1989)
3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun
2002
UU ini memperbarui dan menegaskan lebih lanjut ketentuan-ketentuan
perlindungan anak, dengan menambahkan hak-hak baru anak, termasuk
perlindungan khusus bagi anak korban kekerasan seksual.
- Referensi: prubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002
4. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
(SPPA)
Undang-undang ini memberikan dasar hukum bagi peradilan yang berfokus pada rehabilitasi
anak pelaku tindak pidana dan menekankan pentingnya proses hukum yang tidak merugikan
masa depan anak.
- Referensi: Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana
Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 153).
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 36 Tahun 1990 tentang Ratifikasi Konvensi
Hak Anak
Keputusan ini menegaskan komitmen Indonesia terhadap hak anak sesuai dengan standar
internasional, termasuk dalam hal perlindungan dari eksploitasi, diskriminasi, dan perlakuan
kejam.
- Referensi: Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 36 Tahun 1990
tentang Ratifikasi Konvensi Hak Anak.
Teori-teori HAM, Kewajiban Negara, dan Keadilan Restoratif mendasari kebijakan
Indonesia dalam memberikan perlindungan kepada anak. Berbagai undang-undang dan
instrumen internasional seperti Konvensi Hak Anak (CRC) serta peraturan perundangan
domestik memberikan kerangka hukum yang jelas dalam melindungi hak anak.
Implementasi yang konsisten dan efektif dari peraturan ini penting untuk memastikan bahwa
setiap anak di Indonesia dapat tumbuh dengan aman, sehat, dan berhak atas masa depan yang
cerah.
Berikut adalah daftar pustaka yang relevan untuk topik perlindungan anak di Indonesia
Daftar Pustaka
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109. Jakarta:
Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2002.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 289. Jakarta:
Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2014.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan
Pidana Anak (SPPA).
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 153. Jakarta:
Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2012.
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 36 Tahun 1990 tentang Ratifikasi
Konvensi Hak Anak.
Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1990.
4. United Nations. (1989). Convention on the Rights of the Child (CRC).
5. R. E. Howard, “Human Rights and the Protection of Children,” in *Human
Rights: Theory and Practice*, ed. Jack Donnelly.
New York: Oxford University Press, 2003.
6. T. H. Marshall, “Citizenship and Social Class,” in Sociology and the Welfare
State, ed. G. P. Freeman.
Cambridge: Cambridge University Press, 1992.
7. M. S. Novella, “The Concept of Human Rights and the Protection of Children in
International Law,” in International Law and the Protection of Human Rights
London: Routledge, 2012.
Daftar pustaka ini mencakup berbagai sumber yang meliputi undang-undang nasional,
konvensi internasional, serta buku-buku teori terkait hak anak dan perlindungan mereka di
Indonesia.