0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan6 halaman

Hubungan Hukum dan Hak Asasi Manusia

Diunggah oleh

Yuli Robi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan6 halaman

Hubungan Hukum dan Hak Asasi Manusia

Diunggah oleh

Yuli Robi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS TUTORIAL 3

HAK ASASI MANUSIA/PKN437

Nama mahasiswa : VINA MELIANA


NIM : 859796613
Prodi : PGSD
UPBJJ : PALEMBANG

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS TERBUKA
2024
1. Hubungan antara hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) sangat erat karena hukum
adalah alat yang digunakan untuk menjamin dan melindungi HAM dalam suatu negara.
Ketika sebuah negara menghormati HAM, artinya negara tersebut memastikan hukum
berjalan tidak hanya secara formal, tetapi juga dalam makna yang lebih mendalam, yaitu
hukum dalam arti materiil atau substansial yang mana Hukum tidak hanya dilihat sebagai
aturan tertulis atau prosedur formal yang harus dipatuhi, tetapi juga sebagai sarana untuk
mencapai keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan HAM. yang Mengutamakan nilai-
nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan dalam penerapan hukum.

Maksud Negara yang Menghormati HAM Merupakan Negara Hukum Materiil yaitu
sebagai berikut:
1. Hukum sebagai Alat untuk Melindungi HAM
Negara hukum materiil memastikan bahwa hukum tidak hanya digunakan untuk
memaksa masyarakat patuh, tetapi juga untuk melindungi hak-hak dasar manusia, seperti
hak atas hidup, kebebasan berpendapat, dan perlakuan yang adil.
Contoh: Undang-Undang di Indonesia yang melindungi kebebasan beragama sesuai Pasal
28E UUD 1945

2. Hukum Dilandasi Prinsip Keadilan dan Kemanusiaan


Negara yang menghormati HAM mengutamakan nilai keadilan dalam setiap produk
hukumnya. Hukum tidak boleh diskriminatif atau digunakan untuk menindas kelompok
tertentu. Contoh: Larangan hukuman mati di beberapa negara karena dianggap melanggar
hak untuk hidup.

3. Hukum Memberikan Kepastian dan Perlindungan kepada Semua Warga Negara


Dalam negara hukum materiil, hukum tidak hanya memuat aturan prosedural, tetapi juga
bertujuan melindungi hak-hak masyarakat secara substantif. Hukum dijalankan untuk
kepentingan rakyat, bukan sekadar kepentingan penguasa.
Contoh: Perlindungan hukum bagi korban kekerasan dalam rumah tangga atau tindak
diskriminasi.

4. Menghindari Formalisme Hukum yang Hanya Berfokus pada Aturan Tertulis


Negara hukum materiil menghindari pandangan bahwa hukum hanyalah peraturan yang
harus diikuti. Sebaliknya, hukum diinterpretasikan dan diterapkan dengan
mempertimbangkan aspek moral, HAM, dan kebutuhan masyarakat.
Contoh: Penyesuaian aturan hukum terkait kebebasan pers agar tidak membatasi kritik
terhadap pemerintah.

Argumen Mengapa Negara Hukum Materiil Menghormati HAM karna HAM adalah
bagian dari hukum yang universal: Negara hukum materiil memahami bahwa HAM
adalah prinsip mendasar yang berlaku di seluruh dunia dan harus menjadi dasar dari
hukum nasional.
Hukum harus bersifat dinamis: Agar relevan dengan zaman, hukum harus berkembang
mengikuti kebutuhan masyarakat, termasuk penghormatan terhadap HAM.
Keadilan di atas prosedur: Hukum tidak hanya bicara soal tata cara, tetapi juga tujuan
akhirnya, yaitu keadilan.

2. perkembangan ham yang saya ketahui di beberapa negara dunia sebagai berikut:
1. amerika serikat, Sejarah Awal: Perjuangan HAM di Amerika dimulai sejak
Declaration of Independence (1776) yang menegaskan bahwa "semua manusia
diciptakan setara" dan memiliki hak hidup, kebebasan, dan mengejar kebahagiaan.

2. prancis, Sejarah Awal: Revolusi Prancis (1789) melahirkan Declaration of the Rights
of Man and of the Citizen yang menjadi tonggak awal HAM modern. Dokumen ini
menekankan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan (liberté, égalité, fraternité)

3. Afrika Selatan, Sejarah Awal: Afrika Selatan menghadapi pelanggaran HAM


sistemik selama era Apartheid (1948-1994), di mana sistem hukum mendukung
segregasi rasial

4. india, Sejarah Awal: Hak-hak dasar mulai diperjuangkan melalui perjuangan


kemerdekaan melawan penjajahan Inggris, dipimpin oleh Mahatma Gandhi yang
mengedepankan ahimsa (non-kekerasan).

5. indonesia, Sejarah Awal: Perjuangan HAM di Indonesia diawali dengan kemerdekaan


dari penjajahan Belanda, di mana hak untuk menentukan nasib sendiri menjadi fokus
utama.

6. eropa barat, Sejarah Awal: Setelah Perang Dunia II, negara-negara Eropa Barat
berkomitmen untuk mencegah pelanggaran HAM melalui kerja sama internasional.

7. tiongkok, Sejarah Awal: HAM di Tiongkok sering dikaitkan dengan konsep kolektif
daripada individu. Pada masa Mao Zedong, HAM sering diabaikan dengan dalih
pembangunan negara.
3. Reformasi konstitusi di Indonesia, khususnya yang terjadi setelah era Orde Baru,
merupakan tonggak penting dalam menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum
(rechstaat) yang mengutamakan supremasi hukum dan penghormatan terhadap Hak Asasi
Manusia (HAM). Berikut adalah penjelasan terkait pandangan saya mengenai hal ini:
1. indonesia sebagai negara hukum, Prinsip Negara Hukum: Pasal 1 Ayat (3) UUD
1945 hasil amandemen menegaskan bahwa "Negara Indonesia adalah negara
hukum." Artinya, segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
harus berdasarkan hukum yang adil, bukan kekuasaan atau wewenang semata.
2. jaminan hak asasi manusia dalam konstitusi, Pengakuan HAM dalam Reformasi
Konstitusi: Amandemen UUD 1945 menambahkan Bab XA tentang Hak Asasi
Manusia (Pasal 28A-28J), yang memberikan landasan konstitusional bagi
pengakuan, perlindungan, dan pemenuhan HAM.
Beberapa contoh hak yang dijamin:
- Hak hidup dan kebebasan pribadi (Pasal 28A).
- Hak untuk bebas dari diskriminasi (Pasal 28I).
- Hak berpendapat, beragama, dan berserikat (Pasal 28E).
3. prinsip supremasi konstitusi,
- Kedudukan Konstitusi sebagai Hukum Tertinggi: UUD 1945 adalah sumber
hukum tertinggi di Indonesia, sehingga semua peraturan perundang-undangan
dan kebijakan harus sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam
konstitusi, termasuk prinsip HAM.
- Pengawasan terhadap Pelanggaran Konstitusi: Lembaga seperti Mahkamah
Konstitusi (MK) dibentuk sebagai penjaga konstitusi untuk memastikan
bahwa kebijakan pemerintah dan undang-undang yang dibuat tidak melanggar
HAM atau bertentangan dengan konstitusi
4. Dampak Reformasi Konstitusi terhadap HAM,
- Penguatan Kerangka Hukum Nasional: Reformasi konstitusi memberikan
dasar yang kuat bagi pembentukan undang-undang yang melindungi HAM,
seperti:
1. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
2. UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
- Peningkatan Kesadaran Publik: Reformasi ini juga mendorong masyarakat
lebih sadar akan hak-hak mereka dan lebih kritis terhadap kebijakan
pemerintah yang berpotensi melanggar HAM.
- Peningkatan Akuntabilitas Pemerintah: Pemerintah wajib
mempertanggungjawabkan tindakan yang melanggar HAM, termasuk melalui
mekanisme hukum dan pengadilan.
5. Tantangan dalam Implementasi, Meskipun reformasi konstitusi telah memberikan
landasan kuat bagi penghormatan HAM, tantangan masih ada dalam pelaksanaannya:
- Pelanggaran HAM Masa Lalu: Masih ada pelanggaran HAM berat yang
belum terselesaikan, seperti tragedi 1965 dan kasus pelanggaran HAM di
Papua.
- Diskriminasi terhadap Minoritas: Beberapa kelompok minoritas agama,
gender, atau orientasi seksual masih menghadapi diskriminasi dalam berbagai
bentuk.
- Kesenjangan Antara Hukum dan Praktik: Meskipun aturan hukum sudah ada,
pelaksanaannya terkadang tidak konsisten, terutama karena lemahnya
penegakan hukum.

4. mengajukan atau mengadukan kasus pelanggaran HAM internasional, pihak-pihak


tertentu memiliki hak sesuai yurisdiksi dan mekanisme masing-masing lembaga, pihak-
pihak yang dianggap memiliki hak adalah sebagai berikut:
1. negara anggota atau negara pihak, Negara-negara yang telah meratifikasi perjanjian
internasional, seperti Statuta Roma (untuk ICC) atau Konvensi Eropa tentang HAM
(untuk ECHR), memiliki hak untuk mengajukan pengaduan jika terjadi pelanggaran
HAM internasional, baik terhadap negara lain maupun pihak-pihak tertentu.
2. individu korban pelanggaran ham, Dalam beberapa yurisdiksi internasional, individu
yang menjadi korban pelanggaran HAM berat (seperti genosida, kejahatan perang,
atau kejahatan terhadap kemanusiaan) memiliki hak untuk mengajukan pengaduan
langsung
3. lembaga atau organisasi internasional, Organisasi internasional, seperti Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) atau Uni Eropa, memiliki wewenang untuk memulai proses
hukum atau penyelidikan terhadap pelanggaran HAM internasional.
4. Organisasi Non-Pemerintah (NGO), eberapa organisasi internasional yang bergerak
di bidang HAM, seperti Amnesty International, Human Rights Watch, atau Red
Cross, dapat mengumpulkan bukti pelanggaran HAM dan menyerahkannya kepada
pengadilan internasional atau lembaga HAM terkait.
5. dewan keamanan PBB, ewan Keamanan memiliki kewenangan untuk merujuk kasus
pelanggaran HAM berat ke ICC berdasarkan Pasal 13(b) Statuta Roma. Ini termasuk
kasus di mana negara pelaku bukan pihak pada Statuta Roma.
6. Pemerintah atau Kelompok Oposisi dalam Konflik, Dalam beberapa kasus
pelanggaran HAM berat yang terjadi akibat konflik internal, pemerintah atau
kelompok oposisi dapat mengajukan pengaduan atau bekerja sama dengan lembaga
internasional.
5. Isi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (dan
Perubahannya):
- Isi dan Tujuan:
UU ini dirancang untuk memberikan perlindungan hukum kepada anak-anak agar
dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara fisik, mental, maupun
sosial
- Definisi anak:
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih
dalam kandungan.
- Hak-hak anak yang dijamin:
Hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan mendapatkan perlindungan.
Hak atas pendidikan dan pengajaran.
Hak untuk bebas dari diskriminasi, eksploitasi, dan kekerasan
- Sanksi:
Hukuman pidana bagi pelaku kekerasan, eksploitasi, atau pelanggaran hak anak.
- Perubahan:
UU ini diperbarui dengan UU No. 35 Tahun 2014 untuk memperkuat pengaturan
perlindungan terhadap anak, seperti hukuman lebih berat bagi pelaku kejahatan
terhadap anak.

Anda mungkin juga menyukai