Tugas Tutorial 3 Kewarganegaraan dan
HAM
1. Hubungan antara Hukum dan HAM
Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) memiliki hubungan yang erat, di mana hukum
menjadi sarana untuk menegakkan, melindungi, dan menjamin hak-hak asasi setiap
individu. Dalam pengertian negara hukum secara materiil atau substansial, suatu negara
tidak hanya menjalankan hukum secara formal (berdasarkan aturan yang tertulis), tetapi
juga menjamin bahwa hukum tersebut adil dan melindungi nilai-nilai kemanusiaan. Dengan
kata lain, hukum yang berlaku tidak hanya sah secara prosedural, tetapi juga mengandung
keadilan, kebenaran, dan penghormatan terhadap HAM.
Negara yang menghormati HAM adalah negara hukum dalam arti substansial karena
menjadikan HAM sebagai fondasi utama dalam setiap kebijakan dan peraturan perundang-
undangan. Hukum tidak dijadikan alat kekuasaan, melainkan sebagai pelindung warga
negara dari segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan.
2. Perkembangan HAM di Beberapa Negara di Dunia
Perkembangan HAM di dunia mengalami dinamika yang cukup panjang. Sejak Deklarasi
Universal HAM oleh PBB tahun 1948, banyak negara mulai memasukkan prinsip-prinsip
HAM dalam konstitusi dan hukum nasionalnya.
- Di Amerika Serikat, HAM berkembang sejak ditetapkannya Bill of Rights (1791), yang
menjamin kebebasan beragama, berbicara, dan hak atas proses hukum.
- Di Afrika Selatan, HAM menjadi titik balik penting setelah berakhirnya sistem apartheid.
Konstitusi 1996 menjamin HAM secara progresif dan menyeluruh.
- Di Jerman, setelah Perang Dunia II, konstitusi Grundgesetz (Hukum Dasar) menjamin HAM
sebagai prinsip utama negara demokratis.
- Di Indonesia, reformasi tahun 1998 menandai babak baru HAM dengan diamandemennya
UUD 1945 dan disahkannya UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM.
3. Reformasi Konstitusi dan Jaminan HAM di Indonesia
Reformasi konstitusi di Indonesia terutama setelah tahun 1998 menandai era baru dalam
perlindungan HAM. Amandemen UUD 1945 menambahkan Bab XA tentang HAM yang
memuat pasal-pasal dari 28A hingga 28J. Dalam bab ini diatur berbagai hak dasar seperti
hak hidup, hak berkeluarga, hak atas pendidikan, kebebasan beragama, dan sebagainya.
Dengan pengaturan ini, Indonesia secara eksplisit menegaskan diri sebagai negara hukum
yang menjunjung prinsip supremasi hukum dan menjamin perlindungan HAM. Konstitusi
tidak hanya menjadi simbol negara, tetapi juga alat untuk melindungi hak-hak dasar warga
negara dari segala bentuk pelanggaran.
4. Pihak yang Memiliki Hak Mengadukan Pelanggaran HAM Internasional
Dalam sistem peradilan HAM internasional, terdapat beberapa tahapan dan pihak yang
dapat mengajukan pengaduan. Pihak-pihak yang memiliki hak mengadukan kasus
pelanggaran HAM internasional antara lain:
- Negara (state party) yang menjadi pihak dalam perjanjian HAM internasional;
- Individu atau kelompok korban pelanggaran HAM;
- Lembaga non-pemerintah (NGO) yang diakui memiliki kapasitas hukum untuk
mengadvokasi HAM;
- Organisasi internasional seperti Komisi HAM PBB atau Mahkamah Pidana Internasional
(ICC).
Mekanisme pengaduan ini diatur melalui prosedur yang telah ditentukan, seperti
mekanisme treaty bodies di bawah PBB, serta mekanisme litigasi di Mahkamah HAM
regional atau internasional.
5. Undang-Undang Perlindungan Anak di Indonesia
Indonesia telah meratifikasi berbagai instrumen HAM internasional dan menetapkan
sejumlah peraturan perundangan untuk melindungi hak anak. Beberapa undang-undang
yang mengatur perlindungan anak antara lain:
- Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (yang telah diubah
menjadi UU No. 35 Tahun 2014);
- Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak;
- Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
Undang-undang tersebut mengatur hak-hak anak atas identitas, pendidikan, kesehatan,
perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi, serta sistem peradilan yang ramah anak.
Negara juga berkewajiban untuk menjamin bahwa setiap anak tumbuh dan berkembang
dalam lingkungan yang aman dan mendukung.