Anda di halaman 1dari 13

RESUME PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

Nama NIM Fak/Prodi Shift/Kel.

: Rahayu Wandari : 06091010009 : FKIP Pend. Kimia : B / Kelompok 1

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK LABORATORIUM DASAR BERSAMA UNIVERSITAS SRIWIJAYA


I. Model Molekul

Bentuk molekul/ model molekul adalah suatu gambaran geometris yang dihasilkan jika inti atom-atom terikat terhubung oleh garis lurus. Karena dua titik membentuk suatu garis lurus, maka semua garis diatomic berbentuk linier. Tiga titik membentuk maka semua molekul triatomik berbentuk datar (planar). Bentuk datar dan bentuk linier kadang-kadang ditemui, akan tetapi biasanya jumlah atom menemukangambaran tiga mitra. Dalam bentuk molekul terdapat ikatan kimia, yaitu daya tarik-menarik antara atom yang menyebabkan suatu senyawa kimia dapat bersatu. Macam-macam ikatan kimia yang dibentuk oleh atom bergantung dari struktur electron atom. Misalnya energy ionisasi dan afinitas electron dimana atom menerima atau melepaskan elekttron. Ikatan kimia dapat dibagi menjadi ddua kategori yaitu ikatan ion dan ikatan kovalen. Ikatan ion terbentuk jika terjadinya perpindahan electron diantara atom untuk membentuk partikel yang bermuatan listrik dan mempunyai daya tarik menarik. Daya tarik menarik antara ion-ion yang bermuatan berlawanan merupakan suatu ikatan ion. Ikatan kovalen terbentuk dari terbaginya electron di antara atomatom. Dengan perkataan lain, daya tarik-menarik inti atom pada electron yang terbagi di antara elektron itu merupakan suatu ikatan kovalen. Dalam bentuk molekul dikenal adanya teori ikatan valensi. Teori ini menyatakan bahwa ikatan-ikatan antar atom terjadi dengan cara saling

bertindihan dari orbital-orbital atom. Elektron dalam orbital yang tumpah tindih harus mempunyai bilangan kuantum spin yang berlawanan. Pertindihan antara dua sub kulit S tidak kuat, oleh karena distribusi muatan yang berbentuk bola, oleh sebab itu pada umumnya ikatan s-s relative lemah. Sub kulit P dapat tindih dengan sub kulit S atau sub kulit P lainnya, ikatannya relative kuat. Geometri molekul merujuk pada susunan tiga dimensi dari atom-atom dalam molekul. Untuk molekul relative kecil yang atom pusatnya mengandung dua hingga enam ikatan, geometri dapat diramalkan dengan baik dengan model tolakan elektron kulit valensi. Model ini didasarkan pada asumsi bahwa ikatan kimia dan pasangan elektron bebas cenderung sejauh mungkin untuk meminimalkan tolakan. Dalam molekul diatomic, selisih keelektronegatifan dari atom-atom yang berikatan menghasilkan ikatan polar dan momen dipol. Momen dipol suatu molekul yang tersusun atas tiga atom atau lebih bergantung pada kepolaran ikatan dan geometri molekul. Pengukuran momen dipol dapat membantu kita untuk membedakan berbagai geometri molekul yang mungkin. Setiap atom dan jenis ikatan pada model molekul mempunyai warnawarna yang berbeda, yaitu atom karbon (C) berwarna hitam, atom hydrogen (H) berwarna putih, atom oksigen (O) berwarna merah,atom klor (Cl) berwarna hijau, atom belerang (S) berwarna kuning, atom nitrogen (N) berwarna biru, ikatan kovalen berwarna hijau dan ikatan fleksibel berwarna putih.

II.

Analisa Unsur

Tujuan dari percobaan ini adalah agar dapat mengidentifikasi kandungan unsur-unsur dalam suatu senyawa. Analisa kima adalah penyelidikan kimia yang bertujuan untuk mencari susunan persenyawaan atau percampuran persenyawaan di dalam suatu sampel. Umumnya suatu reaksi kimia merupakan suatu perubahan dari suatu senyawa atau molekul menjadi senyawa atau molekul lain. Suatu struktur organic ditandai dengan adanyaikatan kovalen antara atom-atom molekulnya. Oleh karena itu, reaksi kimia pada senyawa organic ditandai dengan adanya pemutusan ikatan kovalen dan pembentukan ikatan kovalen yang baru. Proses ini membutuhkan waktu yang sangat bergantung pada kondisi saat berlangsungnya reaksi. Untuk analisa unsur karbon misalnya dengan memanaskan tiga buah sampel diatas porselen. Hasilnya setelah lama dipanaskan, sampel yang mengandung unsure karbon akan menghitam atau hangus. Untuk analisa unsure-unsur halogen misalnya, dapat menggunakan metode tes belstein yaitu dengan menguji warna nyala. Karena unsure halogen memiliki warna nyala yang khas dan mudah diidentifikasi. Atau dengan menggunakan tes CaO, yaitu dengan reaksi pengendapan. Dapat dilihat bahwa

jika akan menguji unsure dalam suatu senyawa, bergantung pada sifak fisik dan kimia unsure tersebut. Sedangkan untuk menganalisa unsure nitrogen dan sulfur, dapat menggunakan reksi pengendapan. Filtrate yang berasal dari natrium karbonat dan bubuk seng dan ditambahkan larutan NaOH dan ditambahkan lagi larutan FeCl3. Endapan berwarna biru yang terbentuk menandakan adanya unsur nitrogen.

III.

Analisa Gugus Fungsi

Tujuan percobaan adalah agar dapat mengidentifikasi adanya ikatan rangkap pada alkena dan gugus fungsi yang terdapat dalam alkohol. Sebagian besar reaksi senyawa organik adalah perubahan dari satu gugus fungsi menjadi gugus fungsi yang lain akibat serangan reagen. Senyawa organic yang diserang oleh reagen disebut substrat atau reaktan. Ada empat jenis reaksi yang dikenal, yaitu reaksi substitusi, reaksi adisi, reaksi eliminasi dan reaksi penataan ulang. a. Reaksi subtitusi Dalam reaksi ini terjadi penggantian gugus atau atom oleh gugus atau atom yang lain. Contoh : CH3 Cl + OH- CH3 OH + Clb. Reaksi adisi

Reaksi adisi ini dapat digunakan untuk tes ikatan ganda-2, pereaksi yang digunakan sepeerti bromine dalam CCl4 dan KMnO4 2%. Pada kimia organic juga dikenal reaksi oksidasi dan reduksi, misalnya gugus fungsi hidroksil berubah menjadi karbonil dan perubahan gugus karboksil dan perubahan gugus karboksil menjadi hidrokarbon melalui proses dekarboksilasi. c. Reaksi eliminasi Dalam reaksi eliminasi ini terjadi pembentukan ikatan ganda dua atau ikatan tiga dari ikatan tunggal. d. Reaksi penataan ulang Contoh : CH3 CH3 C = N - OH PCl3 OH2 O CH3 CH3 C N- H

Alkohol merupakan senyawa organic yang mengandung atom oksigen yang berikatan tunggal denagn hydrogen. Kedudukan atomoksigen didalm alcohol mirip dengan kedudukan atom oksigen yang terikat pada molekul air, oleh karena itu dapat dikatakan struktur alcohol adalah sama dengan struktur air dimana satu atom H pada air diganti dengan R. Gugus R pada alcohol dapat berbentuk alkil atau aril. Oleh karena itu senyawa ini sangat luas dijumpai, baik dari hasil sintesis maupun yang terjadi secara alami. Alcohol berisomer dengan eter, maksudnya alcohol dan eter mempunyai rumus molekul yang sama tetapi strukturnya berbeda. Pada pembuatan alkana dari alkena, ada dua cara yang dapat digunakan yaitu melalui tes bromin dan tes bayer. Pada tes bromin, air brom yang terus-menerus ditetesi dengan minyak sawit menyebabkan warna air brom hilang. Hal ini terjadi karena terputusnya ikatan rangkap pada hidrokarbon menjadi ikatan tunggal. Reksi yang terjadi adalah reaksi adisi. Begitu pula pada tes bayer, hidrokarbon yang direaksikan dengan KMnO4, ikatan rangkap pada hidrokarbon akan teputus menjadi ikatan tunggal. Untuk senyawa aromatik yaitu menggunakan senyawa

benzene dan brominasi fenol. Reaksi yang terjadi pada keduanya adlaah reaksi substitusi. Untuk brominasi fenol, dimana satu gugus atom fenol diganti dengan gugus atom Br.

IV.

Analisa Gugus Fungsi II

Tujuan dari percobaan adalah agar dapat mengidentifikasi gugus fungsi yang terdapat pada senyawa alehid dan amin. Senyawa aldehid merupakan turunan dari alkana yang satu atom hidrogennya diganti dengan gugus COH. Senyawa ini mempunyai sifat diantaranya mampu mereduksi beberapa pereaksi, diantaranya pereaksi Tollens (Ag dalam amonia), pereaksi Fehling (larutan CuSO4 dan kalium natrium tartar ditambah larutan NaOH atau KOH) atau pereaksi Fuchsin. Aldehiid adalah reactor kuat sehingga dapat mereduksi oksidator-oksidator lemah. Pereaksi tollens dan pereaksi fehling adalah dua contoh oksidator lemah yang merupakan pereaksi khusus untuk mengenali aldehid. Oksidasi aldehida menghasilkan asam karboksilat. Pereaksi tollens adalah larutan perak nitrat dalam ammonia. Pereaksi ini dibuat dengan cara menetesi larutan perak nitrat dalam ammonia sedikit demi sedikit hingga endapan yang mulamula terbentuk larut kembali. Pereaksi tollens dianggap sebagai larutan perak oksida. Aldehida dapat mereduksi pereaksi tollens sehingga membebaskan unsure perak. Pereaksi fehling terdiri dari dua bagian yaitu fehling A dan fehling B. fehling A adalah larutan CuSO4, sedangkan fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan larutan kalium natrium tartrat. Pereaksi fehling dibuat dengan mencampurkan kedua larutan tersebut, sehingga diperoleh suatu larutan yang berwarna biru tua.

Dalam pereaksi fehling, ion Cu2+ terdapat sebagai ion kompleks. Pereaksi fehling dapat dianggap sebagai larutan CuO. Ereaksi fehling dipakai untuk identifikasi adanya gula reduksi dalam air kemih pada penderita penyakit diabetes. Senyawa-senyawa golongan amina adalah senyawa organic yang bersifat basa, diturukan dari ammonia. Bergantung dari jumlah atom H yang terganti, maka senyawa amin diklasifikasikan sebagai amin primer, amin sekunder dan amin tersier. Struktur amina : R-NH2, (R)2NH, (CH3)2NH (sekunder), (CH3)3N (tersier). Seperti ammonia, amina juga merupakan senyawa polar yang membentuk ikatan hydrogen intermolekul, kecuali aminna tersier amina mempunyai titik didih yang lebih tinggi dari senyawa nonpolar dengan berat molekul yang sama, tetapi titik didih amina lebih rendah daripada alcohol dan asam karboksilat. Senyawa amina dapat membentuk ikatan hydrogen dengan air, sehingga amina dengan atom karbon di bawah enam akan larut dengan air. Amina dapat larut dalam pelarut kuran polar seperti eter, alcohol, benzene dan lainnya. Metilamina dan etilamina mempunyai bau sepert ammonia,sedangkan amina yang lebih tinggi mempunyai bau amis ikan. Ammonia aromatic umumnya sangat beracun, dapat diabsorpsi oleh kulit dan dapat berakibat fatal. Reaksi oksidasi benzaldehid dengan KMnO4 misalnya, ketika benzaldehid dicampurkan dengan kalim permanganat, akan terjadi reaksi oksidasi pada benzaldehid sehingga membentuk asam karboksilat, dan gugus aldehid pada benzaldehid berubah menjadi gugus karboksilat. Untuk identifikasi senyawa aldehid dapat menggunakan uji tollens. Uji tollens yang menggunakan senyawa aldehid akan terbentuk cincin perak ditengah-tengah larutan, sedangkan jika menggunakan senyawa formaldehid larutan akan bercampur dan terbentuk cermin perak. Begitu pula dengan uji fehling.

V.

Pembuatan n-butil Bromida

Tujuan percobaan ini adalah agar dapat memahami reaksi substitusi nukleofilik pembuatan n-butil bromin. substitusi nukleofilik adalah suatu kelompok dasar reaksi substitusi, dimana sebuah nukleofil yang "kaya" elektron, secara selektif berikatan dengan atau menyerang muatan positif dari sebuah gugus kimia atau atom yang disebut gugus lepas (leaving group). Bentuk umum reaksi ini adalah Nu: + R-X R-Nu + X: Dengan Nu menandakan nukleofil, : menandakan pasangan elektron, serta R-X menandakan substrat dengan gugus pergi X. Pada reaksi tersebut, pasangan elektron dari nukleofil menyerang substrat membentuk ikatan baru, sementara gugus pergi melepaskan diri bersama dengan sepasang elektron. Produk utamanya adalah R-Nu. Nukleofil dapat memiliki muatan listrik negatif ataupun netral, sedangkan substrat biasanya netral atau bermuatan positif. Contoh substitusi nukleofilik adalah hidrolisis alkil bromida, R-Br, pada kondisi basa, dimana nukleofilnya adalah OH dan gugus perginya adalah Br-. R-Br + OH R-OH + Br

Reaksi substitusi nukleofilik sangat umum dijumpai pada kimia organik, dan reaksi-reaksi ini dapat dikelompokkan sebagai reaksi yang terjadi pada karbon alifatik, atau pada karbon aromatik atau karbon tak jenuh lainnya (lebih jarang). Senyawa halida organik adalah turunan senyawa hidrokarbon yang diperoleh dengan jalan menggantikan satu atau lebih atom hydrogen dengan satu atau lebih atom halida. Alkil halide diklasifikasikan berdasarkan turunan dari CH3-X. jika satu atom hydrogen dari metil halide diganti dengan gugus alkil maka dinamakan alkil halida primer, jika dua atom hydrogen dari metil halida diganti dengan gugus alkil maka dinamakan alkil halide sekunder, dan jika ketiga atom hydrogen dari metil halida diganti dengan gugus alkil maka dinamakan alkil halide tersier. N-butil bromida adalah senyawa alkil halida primer yang dapat dibuat dari alcohol primer, yaitu n-butanol direaksikan dengan NaBr dengan bantuan katalis asam sulfat pekat. Reaksi yang terjadi adalah reaksi substitusi. Katalis asam sulfat yang digunakan bertujuan menjadikan reaksi berlangsung pada suasana asam. Untuk pembuatan n-butil bromida ini biasanya digunakan alat yaitu refluks. Refluks adalah salah satu metode untuk mensintesis suatu senyawa yang umumnya bersifat valatil dengan mendidihkan cairan dalam labu didih yang disambung dengan pendingin uap atau kondensor. Proses sintesis yang terjadi pada refluks ini yaitu campuran yang akan dipisahkan dimasukkan kedalam labu didih, dipanaskan diatas hotplate. Uap yang keluar akan naik kedalam tube kondensor dan akan mencair dan turun kembali. Karena adanya transfer dingin dari air dingin dalam bentuk cairan. Air dingin dalam kondensor dialirkan dalam selang kembali dari bawah keatas dengan bantuan pompa.

VI.

Rekristalisasi

Reklistalisasi adalah teknik pemurnian zat padat dari pencemarnya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut yang sesuai.Prinsip dasar dari proses ini adalah perbedaan kelarutan antara zat yang dimurnikan dengan zat pencemarnya. Beberapa hal yang harus di perhatikan dalam memilih pelarut yang sesuai adalah sebagai berikut: 1. Pelarut tidak hanya bereaksi zat pencemarnya.
2. Titik didih pelarut harus rendah,hal ini akan mempermudah pengeringan

dengan

zat yang akan dilarutkan

2. Pelarut hanya dapat melarutkan zat yang akan dimurnikan dan tidak melarutkan

Kristal yang terbentuk. 3. Titik didih harus lebih rendah dari titik leleh zat yang akan dimurnikan agar zat tersebut tidak larut. Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak digunakan, dimana zat-zat tersebut atau zat-zat padat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan zat dalam pelarut tertentu di kala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total impuriti biasanya

lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan, bila dingin, maka konsentrasi impuriti yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap. Kemudahan suatu endapan dapat disaring dan dicuci tergantung sebagian besar pada struktur morfologi endapan, yaitu bentuk dan ukuran-ukuran kristalnya. Semakin besar kristal-kristal yang terbentuk selama berlangsungnya pengendapan, makin mudah mereka dapat disaring dan mungkin sekali (meski tak harus) makin cepat kristal-kristal itu akan turun keluar dari larutan, yang lagi-lagi akan membantu penyaringan. Bentuk kristal juga penting. Struktur yang sederhana seperti kubus, oktahedron, atau jarum-jarum, sangat menguntungkan, karena mudah dicuci setelah disaring. Kristal dengan struktur yang lebih kompleks, yang mengandung lekuk-lekuk dan lubang-lubang, akan menahan cairan induk (mother liquid), bahkan setelah dicuci dengan seksama. Dengan endapan yang terdiri dari kristal-kristal demikian, pemisahan kuantitatif lebih kecil kemungkinannya bisa tercapai. Garam dapur atau natrium klorida atau NaCl. Zat padat berwarna putih yang dapat diperoleh dengan menguapkan dan memurnikan air laut. Juga dapat dengan netralisasi HCl dengan NaOH berair. NaCL nyaris tak dapat larut dalam alkohol, tetapi larut dalam air sambil menyedot panas, perubahan kelarutannya sangat kecil dengan suhu. Garam normal; suatu garam yang tak mengandung hidrogen atau gugus hidroksida yang dapat diusir. Misalnya rekristalisasi aspirin. Aspirin dilarutkan menggunakan larutan alcohol. Dipilih alcohol karena alcohol memenuhi syarat-syarat larutan yang dapat digunakan sebagai pelarut dalam proses ini. Proses rekristalisasi aspirin ini iadalah proses yang sederhana, hanya yang perlu diperhatikan saat melarutkan aspirin, aspirin harus benar-benar larut sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih murni. Dan juga yang perlu diperhatikan pada saat penyaringan larutan. Jika tidak hati-hati maka akan banyak aspirin yang hilang karena telah mengkristal lebih dulu dan tertinggal pada kertas saring. Untuk menguji apakah hasil rekristalisasi yang diperoleh telah murni,

dapat mengujinya dengan menggunakan alat yaitu melting point aparatus. Alat ini bekerja dengan mengukur titik leleh zat tersebut. Jika titik leleh yang diperoleh dengan menggunakan alat sama dengan titik leleh zat yang diperoleh secara teori dari literatur, maka dapat dipastikan bahwa zat tersebut telah murni.