Anda di halaman 1dari 16

BAB II DASAR TEORI

II.1 Hari Guruh Tahunan “Isokreaunic Level” (I kl )

Hari guruh adalah hari dimana guruh terdengar minimal satu kali dalam satu

hari. Jumlah hari guruh yang terjadi pada suatu daerah dalam satu tahun disebut

Isokreaunic Level dan disimbolkan dengan I kl .

Kerapatan sambaran petir ke tanah (ground flash density) adalah jumlah

sambaran petir ke tanah yang terjadi dalam satu tahun pada suatu wilayah yang

luasnya dalam satuan km 2 . Relasi empiris antara kerapatan sambaran petir ke tanah

dengan hari guruh tahunan diberikan pada Tabel 2.1. Terkait bahwa kerapatan

sambaran petir ke tanah

berbeda-beda untuk setiap wilayah. Pada umumnya

kerapatan sambaran petir ke tanah dirumuskan sebagai berikut:

sambaran petir ke tanah dirumuskan sebagai berikut: di mana: n s = kerapatan sambaran petir ke

di mana:

n s = kerapatan sambaran petir ke tanah

[sambaran/km

2 -tahun]

I kl = jumlah hari guruh (Isokreaunic Level)

[sambaran/km

2 -tahun]

Untuk wilayah Indonesia sendiri dalam menentukan kerapatan sambaran petir yang

terjadi, dihitung sebagai berikut:

sendiri dalam menentukan kerapatan sambaran petir yang terjadi, dihitung sebagai berikut: Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1 Relasi empiris antara kerapatan sambaran petir dan hari guruh tahunan

No

Lokasi

Kerapatan sambaran petir n s

Peneliti

(per km.kuadrat per tahun)

1.

India

0.10

I

kl

Aiya (1968)

2.

Rhodesia

0.14

I

kl

Anderson & Jenner (1954)

3.

Afrika Selatan

0.023

(I kl ) 1.3

Anderson & Erikson (1954)

4.

Swedia

0.004

(I

kl ) 2

Muller-Hillebrend (1964)

5.

Inggris (UK)

a

(I kl ) b

 

Stringfellow (1974)

a

= 2.6 ± 0.2 x 10 -3

b

= 1.9 ± 0.1

6.

USA (utara)

0.11

I

kl

Horn & Ramsey (1951)

7.

USA (selatan)

0.17

I

kl

Horn & Ramsey (1951)

8.

USA

0.10

I

kl

Anderson (1968)

9.

USA

0.15

I

kl

Brown & Whitehead (1969)

10.

Rusia

0.036

(I kl ) 1.3

Kolokolov & Pavlova (1972)

11.

Dunia (iklim sedang)

0.19

I

kl

Brooks (1950)

12.

Dunia (iklim sedang)

0.15

I

kl

Golde (1966)

13.

Dunia (iklim tropis)

0.13

I

kl

Brooks (1950)

II.2 Kawat Tanah Transmisi Hantaran Udara

Kawat tanah (earth wire) adalah kawat untuk melindungi kawat fasa dari

sambaran petir. Kawat tanah atau kawat perisai (shielding wire) pada saluran

transmisi

ditempatkan

di

atas

kawat

kawat

fasa.

Awalnya

kawat

tanah

dimaksudkan sebagai perlindungan terhadap sambaran tidak langsung (sambaran

induksi) di sekitar kawat fasa transmisi. Akan tetapi dikemudian hari dari hasil-hasil

pengalaman dan teori, penyebab utama yang menimbulkan gangguan transmisi

tegangan tinggi 70 kV dan lebih adalah sambaran petir langsung.

Universitas Sumatera Utara

II.2.1 Efektivitas Perlindungan Kawat Tanah

Efektivifitas perlidungan kawat tanah diharapkan mampu melindungi kawat

fasa dengan baik, sehingga tidak terjadi sambaran petir langsung ke kawat fasa.

Keefektipan perlindungan kawat tanah bertambah baik jika kawat tanah semakin

dekat dengan kawat fasa. Untuk memperoleh perlindungan (perisaian) yang baik,

harus memenuhi persyaratan penting sebagai berikut:

1. Supaya petir tidak menyambar langsung kawat fasa maka jarak kawat tanah

di atas kawat fasa diatur sedemikian rupa.

2. Pada tengah gawang kawat tanah harus mempunyai jarak yang cukup di atas

kawat

fasa

untuk

mencegah

terjadinya

lompatan

api

karena

tegangan

pantulan negatif dari dasar menara yang kembali ke tengah gawang.

3. Saat petir menyambar menara secara langsung, tidak terjadi flashover pada

isolator.

4. Tahanan kaki menara harus cukup kecil untuk menurunkan tegangan yang

dibebani isolator agar tidak terjadi lompatan api (flashover) pada isolator.

II.3

Hubungan

Isokreaunic

Hantaran Udara

Level

(I kl )

dengan

Kawat

Tanah

Transmisi

Salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah kebutuhan kawat tanah yang

dilakukan untuk mendirikan transmisi hantaran udara adalah jumlah hari guruh

tahunan “Isokreaunic Level” (I kl ) yang terjadi pada daerah transmisi itu akan

didirikan.

Pengaruh

atau

hubungan

keduanya

akan

sangat

jelas

pada

saat

menentukan perkiraan jumlah gangguan yang terjadi pada transmisi hantaran udara

tersebut. Yang mana perkiraan jumlah gangguan berbanding lurus terhadap jumlah

hari guruh tahunan yang terjadi.

Universitas Sumatera Utara

II.3.1 Jumlah Sambaran Petir pada Transmisi Hantaran Udara

Perkiraan jumlah sambaran dipengaruhi dimana sambaran itu diperhitungkan

misalnya: pada menara, seperempat gawang dan pertengahan gawang. Para peneliti

sepakat untuk menentukan perkiraan jumlah sambaran yang terjadi pada menara

adalah 60% dari seluruh jumlah sambaran yang mengenai transmisi sedangkan

sisanya 30% terjadi pada seperempat gawang dan 10% untuk pertengahan gawang.

Jumlah sambaran yang terjadi pada suatu transmisi hantaran udara tergantung juga

pada jumlah kawat tanah yang dipergunakan transmisi tersebut dan tata letaknya.

Jika suatu transmisi mempunyai dua buah kawat tanah dan mempunyai jarak antara

keduanya disesuaikan dengan tata letak kawat fasa, maka jumlah sambaran yang

terjadi pada kedua kawat tanah lebih besar dibandingkan dengan transmisi tersebut

jika mempunyai hanya satu kawat tanah. Disamping itu jumlah sambaran petir pada

transmisi bergantung juga pada:

Tinggi menara yang dipergunakan (h t )

[m]

Tinggi kawat tanah pada pertengahan gawang kawat tanah (h g )

[m]

Jarak antara kawat tanah (s g )

[m]

Secara umum jumlah sambaran petir yang mengenai transmisi hantaran

udara pada 100 km panjang transmisi, dirumuskan sebagai berikut:

pada 100 km panjang transmisi, dirumuskan sebagai berikut: di mana: N s = jumlah sambaran petir

di mana:

N s = jumlah sambaran petir yang mengenai transmisi

[sambaran/100km-tahun]

h t = tinggi menara (tower)

[m]

Universitas Sumatera Utara

h g = tinggi kawat tanah pada pertengahan gawang

[m]

s g = jarak antar kawat tanah

[m]

Berdasarkan Persamaan 2.2, maka untuk transmisi yang berada di wilayah

yang beriklim sedang (Indonesia), jumlah sambaran petir yang mengenai transmisi

untuk sepanjang 100 km adalah:

petir yang mengenai transmisi untuk sepanjang 100 km adalah: Untuk suatu transmisi hantaran udara yang mempunyai

Untuk suatu transmisi hantaran udara yang mempunyai satu kawat tanah sebagai

perisainya maka nilai s g adalah nol.

II.3.2 Mekanisme Sambaran Petir ke Menara Transmisi Udara

Mekanisme sambaran petir berdasarkan pada awan bermuatan, yang akan

menghasilkan kanal inti yang arahnya menuju ke bumi. Awan bermuatan yang selalu

menuju bumi dapat mencapai kecepatan tertingginya hingga satu per seribu (1/1000)

dari kecepatan cahaya (C) atau 300 km/detik, hal ini sangat genting pada sambaran

arus petir. Tegangan kanal permukaan awan bermuatan, sebelum pengosongan awal

arus dapat mencapai 50 MV yang dapat menyambar bumi. Sambaran petir dari awan

bermuatan yang menuju bumi, terjadi pada ketinggian rata-rata dari 60 m hingga 100

m di atas permukaan tanah. Maka rata-rata gradien tegangan yang terjadi dapat

mencapai 50 x 10 3 / (60 m hingga 100 m) atau 500 kV/m hingga 833 kV/m (5

kV/cm hingga 8,33 kV/cm) atau pada tegangan tembus rata-rata udara basah 6

kV/cm.

Universitas Sumatera Utara

Mekanisme sambaran petir yang terjadi pada menara transmisi udara dapat

ditunjukkan pada Gambar 2.1.

I s Z g i g i g Z m e g MENARA (TOWER )
I s
Z g
i g
i g
Z m
e
g
MENARA (TOWER )
e i
i c
i c
e c
Z c

Gambar 2.1 Mekanisme sambaran petir ke menara transmisi

Jika sambaran arus petir yang berasal dari awan bermuatan, sudah mengenai

menara atau kawat tanah transmisi, maka menara akan dibebani tegangan (e g ).

Perbedaan tegangan (e g ) dengan tegangan pada kawat fasa (e c ) akan membebani

isolator (e i ). Hal ini dapat ditunjukkan pada Gambar 2.1. Besar tegangan yang

membebani isolator dapat dihitung sebagai berikut:

yang membebani isolator dapat dihitung sebagai berikut: di mana: dan e g : besar tegangan pada

di mana:

dan

isolator dapat dihitung sebagai berikut: di mana: dan e g : besar tegangan pada kawat tanah

e g : besar tegangan pada kawat tanah

[kV]

e c : besar tegangan pada kawat fasa

[kV]

Z g : impedansi surja kawat tanah

[Ω]

Z c : impedansi kawat fasa

[Ω]

Z m : impedansi bersama kawat tanah dengan kawat fasa

[Ω]

i c : arus yang mengalir pada kawat fasa

[kA]

i g : arus yang mengalir pada kawat tanah

[kA]

Universitas Sumatera Utara

Besar tegangan yang terjadi pada kawat fasa adalah:

Besar tegangan yang terjadi pada kawat fasa adalah: di mana: K f : faktor kopling (
Besar tegangan yang terjadi pada kawat fasa adalah: di mana: K f : faktor kopling (

di mana: K f : faktor kopling (coupling factor) yaitu perbandingan impedansi surja

bersama (mutual surge impedance) kawat tanah – kawat fasa dengan impedansi

kawat tanah (Z m /Z g ).

Jika impedansi surja Z g dan Z c sama, maka tegangan pada kawat fasa adalah :

e c = K f e g + (1-K 2 f ) Z c i c ; serta tegangan yang terjadi pada isolator adalah:

i c ; serta tegangan yang terjadi pada isolator adalah: di mana: e i : tegangan

di mana:

e i : tegangan pada isolator

[kV]

II.3.3 Faktor Kopling (Coupling Factor atau K f ) pada Transmisi Udara

Faktor kopling (K f ) adalah perbandingan antara impedansi surja bersama

kawat tanah-kawat fasa dengan impedansi surja kawat tanah. Adapun besar faktor

kopling (K f ) dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

Kapasitansi dua kawat penghantar

Besar kapasitansi antara dua kawat penghantar dengan radius (r) yang sama

didefenisikan perbandingan muatan pada penghantar dengan beda potensial antara

dua kawat tersebut. Besar kapasitansi antara dua kawat penghantar dapat dihitung

berdasarkan Gambar 2.2.

Universitas Sumatera Utara

G 2r 2r f Q -Q x 2H
G
2r
2r
f
Q
-Q
x
2H

G

Gambar 2.2 Kapasitansi antara dua kawat penghantar

Sesuai dengan Gambar 2.2, muatan pada setiap konduktor adalah Q dengan

polaritas yang berbeda, dengan jarak dari pusat ke pusat kawat penghantar adalah

2H. Pada pengujian unit muatan positif Q di titik f sejauh x dari pusat konduktor

sebelah kiri, total gaya F f yang terjadi adalah:

sebelah kiri, total gaya F f yang terjadi adalah: di mana: Q : muatan pada kawat

di

mana:

Q : muatan pada kawat penghantar

[C]

 

e 0 : permitifitas ruang bebas = 8,85 x 10 -12

[F/m]

x : jarak titik uji

[m]

2H : jarak dari pusat ke pusat kawat pengahantar

[m]

Sesuai dengan gaya total yang dihasilkan, maka perbedaan tegangan V antara

dua kawat penghantar adalah:

perbedaan tegangan V antara dua kawat penghantar adalah: di mana: r : jari-jari kawat pengahantar [m]

di mana:

r : jari-jari kawat pengahantar

[m]

Universitas Sumatera Utara

Karena 2H >> r maka

Karena 2H >> r maka . Tegangan pada pertengahan kawat penghantar (G–G) atau tegangan antara konduktor

. Tegangan pada pertengahan kawat

penghantar (G–G) atau tegangan antara konduktor dengan tanah adalah V g = V/2.

Oleh karena itu:

dengan tanah adalah V g = V/2. Oleh karena itu: Maka besar kapasitansi antara kawat penghantar

Maka besar kapasitansi antara kawat penghantar dengan tanah dapat dihitung

sebagai berikut:

penghantar dengan tanah dapat dihitung sebagai berikut: Reaktansi antara kawat penghantar dengan tanah dapat

Reaktansi antara kawat penghantar dengan tanah dapat dihitung sebagai berikut:

penghantar dengan tanah dapat dihitung sebagai berikut: di mana: X C : reaktansi antar kawat penghantar

di mana:

X C : reaktansi antar kawat penghantar dengan tanah [Ω]

f

: frekuensi

[Hz]

Maka besar impedansi antara kawat penghantar dengan tanah pada transmisi

udara adalah:

[Hz] Maka besar impedansi antara kawat penghantar dengan tanah pada transmisi udara adalah: Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

#1 #1 #2 a 12 #2 : Kawat tanah ke-1 : Kawat tanah ke-2 R
#1
#1
#2
a 12
#2
: Kawat tanah ke-1
: Kawat tanah ke-2
R
: Kawat fasa R
a 1R
a 2R’
a RR’
R
R’
2H 1
2H R
2H R’
Bidang Referensi
I 2R
I 1R
I 12

Gambar 2.3 Perhitungan faktor kopling (K f ) pada transmisi udara ganda

Sesuai dengan Persamaan 2.13 maka untuk transmisi udara seperti yang di

tunjukkan pada Gambar 2.3, faktor koplingnya (K f ) dapat dihitung sebagai berikut:

Impedansi bersama antara kawat tanah dengan kawat fasa (Z 1R )

bersama antara kawat tanah dengan kawat fasa (Z 1 R ) di mana: Z 1 R

di mana:

Z 1R = Z m : impedansi bersama kawat tanah-kawat fasa [Ω]

I 1R

a 1R

: jarak kawat tanah ke bayang-bayang kwt fasa

[m]

: jarak kawat fasa ke kawat fasa

[m]

Impedansi sendiri kawat tanah (Z 11 )

fasa [m]  Impedansi sendiri kawat tanah (Z 1 1 ) di mana: Z 1 1

di mana: Z 11 = Z g

: impedansi kawat tanah

[Ω]

2H 1

: jarak kawat tanah ke bayang-bayang kawat tanah [m]

r g

: jari-jari kawat tanah

[m]

Universitas Sumatera Utara

Maka besar faktor kopling (factor coupling atau K f ) adalah:

faktor kopling ( factor coupling atau K f ) adalah: II.3.4 Impedansi Surja ( Surge Impedance

II.3.4 Impedansi Surja (Surge Impedance) pada Transmisi Hantaran Udara

Impedansi surja yang diperhitungkan pada bagian ini adalah impedansi surja

kawat tanah (Z g ) dan impedansi surja petir (Z s ). Adapun impedansi surja kawat tanah

dapat

dihitung

berdasarkan

Persamaan

2.15

yaitu:

,
,

sedangkan impedansi surja petir (Z s ) merupakan akar dari perbandingan induktansi

dengan kapasitansi yang terjadi pada kawat tanah, dalam hal ini petir menyambar

menara atau kawat tanah transmisi udara. Adapun besar imedansi surja petir (Z s )

dapat dihitung sebagai berikut:

Induktansi dua kawat penghantar

Besar induktansi adalah perbandingan antara fluks gandeng dengan arus

yang mengalir dan dapat dihitung sebagai berikut:

G 2r 2r -I I H 2H
G
2r
2r
-I
I
H
2H

G

ø e ø e ø e

Gambar 2.4 Perhitungan fluks gandeng antara dua kawat penghantar

Universitas Sumatera Utara

Seperti yang ditunjukkan Gambar 2.4, dua kawat penghantar yang identik

masing-masing dilalui arus sebesar I dan –I, kawat penghantar pembawa arus –I

merupakan bayangan kawat penghantar yang membawa arus I. Dimana jarak dari

pusat konduktor pertama ke pusat konduktor ke dua adalah 2H.

Kawat penghantar yang mengalirkan arus I (kawat 1) dari titik tengah kawat

sejauh sembarang titik (misalkan x) akan menghasilkan fluks ø e yang berada antara

kedua kawat penghantar yaitu dari r ke 2H-r yang disebut fluks diluar kawat 1(fluks

eksternal). Fluks eksternal akan menghasilkan fluks sejauh x yaitu sebesar:

eksternal akan menghasilkan fluks sejauh x yaitu sebesar: di mana: ψ 1 1 μ μ 0

di mana:

ψ 11

μ

μ

0

r

: fluks akibat arus pada kawat penghantar 1

[Wb/m]

: permeabilitas ruang hampa (4π x 10 -7 H/m)

: permeabilitas relatif, untuk udara μ r = 1,0004 1 [H/m]

μ : permeabilitas total

r = μ/μ 0 )

r : jari-jari kawat penghantar

[m]

x : jarak tak hingga dari pusat kawat penghantar

[m]

I : kuat arus yang mengalir pada kawat penghantar

[A]

Berdasarkan dampak arus pada konduktor 2. Aturan Flemming menyatakan

fluks mempunyai arah sama yang dihasilkan arus pada konduktor 1. Besar fluks

gandeng dari arus konduktor 1 pada konduktor 2 adalah:

fluks gandeng dari arus konduktor 1 pada konduktor 2 adalah: di mana: ψ 1 2 :

di mana:

ψ 12

: fluks gandeng karena pengaruh arus pada kawat penghantar

pertama.

Universitas Sumatera Utara

Oleh karena itu fluks total yang terjadi karena arus I yang mengalir pada kawat

penghantar pertama adalah:

arus I yang mengalir pada kawat penghantar pertama adalah: Karena 2H >> r, maka fluks total

Karena 2H >> r, maka fluks total yang dihasilkan oleh kedua konduktor adalah:

fluks total yang dihasilkan oleh kedua konduktor adalah: Sehingga besar induktansi pada pertengahan kedua kawat

Sehingga besar induktansi pada pertengahan kedua kawat penghantar (G–G)

adalah:

pada pertengahan kedua kawat penghantar (G–G) adalah: Maka impedansi surja yang terjadi dapat dihitung sebagai

Maka impedansi surja yang terjadi dapat dihitung sebagai berikut:

impedansi surja yang terjadi dapat dihitung sebagai berikut: II.4 Perhitungan Perkiraan Jumlah Gangguan pada Transmisi
impedansi surja yang terjadi dapat dihitung sebagai berikut: II.4 Perhitungan Perkiraan Jumlah Gangguan pada Transmisi

II.4 Perhitungan Perkiraan Jumlah Gangguan pada Transmisi

Hantaran Udara

Sistem

proteksi

transmisi

hantaran

udara

dengan

kawat

tanah

akan

dinyatakan baik, jika jumlah perkiraan gangguan yang terjadi pada transmisi tersebut

kurang dari satu kali gangguan dalam satu tahun dan demikian untuk sebaliknya.

Adapun langkah – langkah perhitungan perkiraan jumlah gangguan yang terjadi

pada suatu transmisi hantaran udara akibat sambaran petir adalah sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

1. Mengetahui jumlah sambaran yang mengenai transmisi selama satu tahun, hal

ini berdasarkan Persamaan 2.3 dan Persamaan 2.4. Dimana jumlah sambaran

ini dipengaruhi oleh isokreaunic level (I kl ), tinggi menara (h t ), tinggi kawat

tanah pada pertengahan gawang (h g ) serta jarak antara kawat tanah jika kawat

tanah yang dipergunakan lebih dari satu (s g ). Besar gangguan yang terjadi pada

menara atau dekat menara diperkirakan 60% dari jumlah sambaran yang

mengenai transmisi (N s ).

Z S

jumlah sambaran yang mengenai transmisi (N s ). Z S I S n g Z g

I S

n

g

Z

g

Z g

R tf R tf

Gambar 2.5 Besar impedansi sambaran petir yang mengenai menara

2. Sambaran yang mengenai menara seperti yang ditunjukkan Gambar 2.5 akan

menghasilkan tegangan pada menara, yang besarnya dipengaruhi oleh: 1).

tahanan kaki menara (R tf ) 2). impedansi surja kawat tanah (Z g ) (dihitung

berdasarkan Persamaan 2.16) dan 3). impedansi surja petir (Z s ) dihitung

berdasarkan Persamaan 2.23. Serta jumlah kawat tanah (n g ) yang dipergunakan

pada transmisi, juga mempengaruhi terhadap tegangan antara puncak menara

dengan tanah. Dengan mengabaikan impedansi menara, maka besar tegangan

yang terjadi antara puncak menara dengan tanah adalah:

di mana:

V t : tegangan antara puncak menara dengan tanah

[kA]

I s : arus puncak petir

[kA]

n g : jumlah kawat tanah yang dipergunakan

3. Menghitung tegangan yang terjadi pada isolator yang dipengaruhi faktor

kopling atau K f dihitung berdasarkan Persamaan 2.17, maka besar tegangan

pada isolator dapat dihitung sebagai berikut:

besar tegangan pada isolator dapat dihitung sebagai berikut: di mana:V i : tegangan pada isolator [kV]

di mana:V i : tegangan pada isolator

[kV]

E m : tegangan maksimum isolator pada keadaan transmisi normal [kV]

4. Menghitung tegangan lewat denyar isolator

Untuk isolator standar (146 x 254 mm) satu keping (disc) rata-rata pada 2μs

50% nilai tegangan lewat denyar (flashover) adalah 125 kV pada keadaan

udara kering dan 80 kV pada keadaan udara basah. Sehingga semakin banyak

keping isolator yang dipergunakan maka tegangan lewat denyar isolator itu

akan semakin besar juga dan perlindungan terhadap sambaran petir transmisi

juga akan semakin baik.

5. Menghitung besar arus surja yang akan menyebabkan terjadinya lewat denyar

(flashover) pada isolator. Adapun perhitungan besar arus surja berdasarkan

pada Persamaan 2.23 dan Persamaan 2.24.

6. Menghitung probabilitas arus petir. Adapun besar probabilitas arus petir dapat

dihitung melalui Persamaan 2.25 dan Grafik 2.1. Penggunaan Grafik 2.1 hanya

jika besar arus petir sama atau lebih besar dari 78,33 kA (I s 78,33 kA).

Sedangkan penggunaan Persamaan 2.25, jika arus petir (I s ) kurang dari 78,33

kA (I s < 78,33 kA).

Universitas Sumatera Utara

p i : probabilitas arus petir Grafik 2.1 Probabilitas dari peristiwa arus sambaran petir 7.

p i : probabilitas arus petir

p i : probabilitas arus petir Grafik 2.1 Probabilitas dari peristiwa arus sambaran petir 7. Menghitung

Grafik 2.1 Probabilitas dari peristiwa arus sambaran petir

7. Menghitung jumlah gangguan yang terjadi pada transmisi, dimana sambaran

mengenai menara atau kawat tanah transmisi dekat menara. Jumlah gangguan

ini dapat dihitung sebagai berikut:

menara. Jumlah gangguan ini dapat dihitung sebagai berikut: di mana: p i : probabilitas arus puncak

di mana:

p i : probabilitas arus puncak dari arus surja

p t : bagian gangguan yang mengenai menara atau dekat menara [0,6]

N s : jumlah sambaran yang mengenai menara atau dekat menara

[sambaran/100km-tahun]

Universitas Sumatera Utara