Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Bangsa Indonesia yang telah merdeka selama 67 tahun nyatanya belum dapat melepaskan diri dari jeratan kemiskinan. Kemiskinan seolah menjadi pokok permasalahan yang mendarah daging di setiap generasi hingga seolah-olah menjadi kondisi yang biasa-biasa saja di negara ini dan tidak menjadi suatu urgensi untuk segera ditangani. Selama bertahun-tahun sejak kemerdekaanya, Bangsa ini telah berjuang untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi, salah satunya adalah kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi menimbulkan banyak fenomena sosial yang terjadi di bangsa ini. Kemiskinan menimbulkan banyak akibat dalam kehidupan bermasyarakat, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Peningkatan jumlah kriminalitas Terjadi kesenjangan sosial Penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat Terhambatnya perkembangan negara Tingginya jumlah pengangguran Banyaknya kaum terlantar terutama anak-anak

Menurut data PMKS dan jumlah cukup banyak diantaranya terbesar keluarga fakir miskin 84.287 orang, wanita rawan sosial ekonomi 7.537 orang, anak terlantar 6.643 anak, balita

terlantar 360, anak nakal 239, anak jalanan 4.821, lanjut usia terlantar 2.575, tubdak kekerasan 86 orang, penyandang cacat fisik 3.999, pengemis 4.126 dan tuna susila 511.1 Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 1998 memperlihatkan bahwa anak jalanan secara nasional berjumlah sekitar 2,8 juta anak. Dua tahun kemudian, tahun 2000, angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 5,4%, sehingga jumlahnya menjadi 3,1 juta anak. Pada tahun yang sama, anak yang tergolong rawan menjadi anak jalanan berjumlah 10,3 juta anak atau 17, 6% dari populasi anak di Indonesia, yaitu 58,7 juta anak (Soewignyo, 2002). Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas hidup dan masa depan anak-anak sangat memperihatinkan, padahal mereka adalah aset, investasi SDM dan sekaligus tumpuan masa depan bangsa. Jika kondisi dan kualitas hidup anak kita memprihatinkan, berarti masa depan bangsa dan negara juga kurang menggembirakan. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, sebagian dari anak bangsa kita mengalami lost generation (generasi yang hilang).2 Ada juga yang menemukan fakta komposisi masyarakat yang terlantar umumnya terdiri dari anak-anak dan lansia. Pada tahun 2006 terdapat 78,96 juta anak di bawah usia 18 tahun, 35,5% dari total seluruh penduduk Indonesia. Sebanyak 40% atau 33,16 juta diantaranya tinggal di perkotaan dan 45,8 juta sisanya tinggal di perdesaan. Sebagian besar anak-anak ini berasal dari keluarga miskin dan tertinggal, yang tidak mempunyai kemampuan untuk memberdayakan dirinya, sehingga rentan terhadap kekerasan, eksploitasi, ketimpangan gender, perdagangan anak

1 2

http://jabar.tribunnews.com/2012/05/07/tahun-ini-ditargetkan-bebas-anak-jalanan http://harjasaputra.wordpress.com/2007/04/09/masalah-anak-jalanan-1/

dan lain-lain. Menurut laporan Depsos pada tahun 2004, sebanyak 3.308.642 anak termasuk ke dalam kategori anak terlantar.3 Data ini sangat berbanding terbalik dengan kehidupan kaum glamor di kota-kota besar yang penuh hingar bingar dan berlimpah kedudukan. Pembangunan fasilitas-fasilitas mewah yang seolah jauh dari jangkauan kaum menengah kebawah dan seolah mengintimidasi keberadaan mereka. Orang-orang kaya yang seharusnya bisa memberdayakan dan menggerakkan semangat hidup mereka justru makin tenggelam dalam sikap hipokrit, pongah, dan kehilangan kepekaan terhadap nasib sesama. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas hidup dan masa depan anak-anak sangat memperihatinkan, padahal mereka adalah aset, investasi Sumber Daya Manusia dan sekaligus tumpuan masa depan bangsa. Jika kondisi dan kualitas hidup anak kita memprihatinkan, berarti masa depan bangsa dan negara juga kurang menggembirakan. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, sebagian dari anak bangsa kita mengalami lost generation (generasi yang hilang). Dalam kenyataan di masyarakat pada umumnya, kemiskinan sangat sulit untuk ditanggulangi, meskipun bisa masih sangat rumit untuk menemukan titik jalannya. Dalam dewasa ini peranan pemerintah sangat dibutuhkan. Salah satu peranan dari Pemerintah adalah dicanangkan Hari Anak Nasional yaitu tanggal 23 Juli. Dari momentum itu seharusnya dapat dijadikan bahan refleksi terhadap silang-sengkarutnya dunia anak.

http://berita-lampung.blogspot.com/2010/07/data-jumlah-anak-jalanan-di-indonesia.html http://anakindonesiamerdeka.blogspot.com/2011/01/............................................................

B. Identifikasi Masalah Setelah ditinjau lebih dalam, maka yang menjadi permasalahan dari latar belakang yang kami buat diatas adalah : 1. Apa yang menjadi factor penyebab munculnya fenomena anak jalanan ? 2. Bagaimana upaya pemerintah dalam menanggulangi fenomena anak jalanan? 3. Bagaimana keberadaan anak jalanan dalam tatanan masyarakat? C. Maksud dan Tujuan Dengan dibuatnya makalah ini penulis mengingkan para pembaca untuk dapat mengetahui apa yang dijelaskan penilis tentang : 1. Untuk mengetahui tentang factor apa saja yang menyebabkan timbulnya fenomena anak jalanan. 2. Untuk mengetahui upaya apa saja yang telah dilakukan pemerintah tentang anak jalanan ini. 3. Untuk mengetahui keberadaan anak jalanan dalam masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Anak Pengertian anak dalam konteks manusia dapat disamakan dengan keturunan manusia. Jika dalam konteks yang lebih luas, anak adalah mahluk hidup yang diberikan Tuhan kepada manusia melalui hasil pernikahan guna meneruskan kehidupan selanjutnya. Pengertian anak menurut pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang dimaksud anak menurut undang undang tersebut adalah seseorang yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan.4 Menurut kamus bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan anak adalah manusia yang masih kecil, jadi masih sangat luas batasannya karena tidak mencantumkan umur maksimal sebelum anak tersebut dianggap dewasa dan mampun bertanggung jawab di muka hukum. Akan tetapi apabila kita mendefenisikannya berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia, makan akan dijumpai pluralism mengenai batasan umur seorang anak dapat dikatakan anak. Belum lagi apabila dikaji secara sosiologis, akan dijumpai perbedaan persepsi antara masyarakat pedesaan, ukuran yang digunakan untuk menyebut seseorang itu masih anak atau sudah dewasa adalah terletak pada status sudah menikah atau belum. Pengertian anak ditinjau secara sosial adalah makhluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal. Menurut John
4

http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2170479-pengertian-anak/

Locke dalam Gunarsa, 1986 anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan rangsangan yang berasal dari lingkungan. Pengertian anak juga mencakup masa anak itu exist (ada). Hal ini untuk menghindari keracunan mengenai pengertian anak dalam hubungannya dengan orang tua dan pengertian anak itu sendiri setelah menjadi orang tua. Kasiram mengatakan anak adalah makhluk yang sedang dalam taraf perkembangan yang mempunyai perasaan, pikiran, kehendak sendiri, yang kesemuannya itu merupakan totalitas psikis dan sifat sifat serta yang berlainan pada tiap tiap fase perkembangannya. Anak merupakan mahkluk sosial, yang membutuhkan pemeliharaan, kasih saying dan tempat bagi perkembangannya, anak juga mempunyai perasaan, pikiran, kehendak tersendiri yang kesemuanya itu merupakan totalitas psikis dan sifat sifat serta struktur yang berlainan pada tiap tiap fase perkembangan pada masa kanak kanak.5

B. Anak Jalanan 1. Pengertian Anak Jalanan Anak jalanan adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak anak yang mempunyai kegiatan ekonomi dijalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Tapi hingga kini belum ada pengertian anak jalanan yang dapat dijadikan acuan bagi semua pihak. Ditegah ketiadaan pengertian unutk anak jalanan, dapat ditemui adanya pengelompokan anak jalanan berdasar hubungan mereka dengan keluarga. Pada mulanya ada 2 katergori anak jalanan yaitu, children on the street dan children of the street. Namun pada perkembangannya ada penambahan kategori, yaitu children of the street atau sering disebut juga children from families of the street.
5

http://www.duniapsikologi.com/pengertian-anak-sebagai-makhluk-sosial/

Pengertian untuk children on the street adalah anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak anak yang tinggal bersama orangtuannya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal dijalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga engan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin. Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktu di jalanan yang berkala dari keluarga yang hidup atai tinggalnya juga dijalanan.6

2. Ciri ciri anak jalanan Anak jalanan memiliki cirri khas baik secara psikologisnya maupun kreatifitasnya, hal ini diperjelas oleh Saparinah Sadli yang diungkapkan oleh Sudarsono sebagai berikut:

http://rifkinuur.blogspot.com/2010/03/pengertian-anak-jalanan.html

a. Anak anak ini mudah tersinggung persaannya b. Anak anak ini mudah putus asa dan cepat murung, kemudian nekat tanpa dapat dipengaruhi secara mudah oleh orang lain yang ingin membantunya. c. Tidak berbeda dengan anak anak yang lainnya yang selalu menginginkan kasih sayang. d. Anak ini biasanya tidak mau bertatap muka dalam arti bila mereka diajak bicara, mereka tidak mau melihat orang lain secara terbuka. e. Sesuai dengan taraf perkembangannya yang masih kanak kanak mereka sangatlah labil, tetapi keadaan ini sulit berubah meskipun mereka telah diberi pengaruh yang positif. f. Mereka memiliki suatu keterrampilan, namun keterampilan ini tidak selalu Ciri cirri anak jalanan secara global, dilihat dari psikisnya mereka mempunyai temperamen yang tinggi, mudah tersinggung, sulit untuk diajak berkomunikasi, keadaannya masih sangat labil, suka berdiam diri, melamun, sedangkan dilihat dari fisiknya mereka biasanya berpakaian dan berpenampilan yang kumuh karena kurangnya memperhatikan penampilan sehingga nilai nilai keluhuran tidak dihiraukan.7

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2179548-pengertian-anak-jalanan/

C. Dasar Hukum Perlindungan Anak Jalanan Menurut Pasal 20 UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dikatakan bahwa Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. Hal ini sesuai sebagaimana dalam UUD 1945 pasal 34(1) yang merupakan peraturan paling fundamental dalam perlindungan anak jalanan yang berisi fakir, miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara. Begitupun dalam UU no 39 tahun 1999 Pasal 52 (1) Setiap anak berhak atas perlindungan oleh orang tua, keluarga, Masyarakat, dan negara. Dalam ayat (2) Hak anak adalah hak asasi manusia dan untuk kepentingannya hak anak itu diakui dan dilindungi oleh hukum bahkan sejak dalam kandungan.

BAB III PEMBAHASAN

Anak jalanan, agaknya masih menjadi salah satu problem klasik negara-negara berkembang, termasuk di negara kita. Kehadiran mereka di sudut-sudut kota yang pengap dan kumuh bisa jadi sangat erat kaitannya dengan jeratan kemiskinan yang menelikung orang tuanya. Masih jutaan keluarga di negeri ini yang hidup di bawah standar kelayakan. Untuk menyambung hidup, mereka dengan sengaja mempekerjakan anak-anak untuk berkompetisi di tengah pertarungan masyarakat urban yang terkesan liar dan kejam. Para orang tua tersebut sama sekali tidak memperhatikan akan pentingnya masalah pendidikan bagi anak anaknya. Disamping itu juga mereka sama sekali tidak memikirkan dampak yang akan dialami oleh si anak baik itu dampak psikologis ataupun dampak secara langsung yang datang dari masyarakat sekitar mereka. Karena sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masyrakat di Negara kita ini selalu memandang rendah bagi siapa saja yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Dan karena hal ini jugalah, yang akhirnya membuat si anak tersebut menjadi malas untuk bergaul atau malas untuk berbuat sesuatu, karena mereka sudah di cap oleh masyarakat bahwa mereka hanya anak yang tidak sekolah dan tidak berpendidikan. Dan karena hal itulah yang membuat dan mendorong si anak tersebut menjadi bekerja di jalannan, entah sebagai pengemis ataupun sebagai pengamen jalanan. Disamping itu juga segala bantuk upaya pemerintah nampaknya tidak terlalalu berfungsi secara maksimal dikarena kurangnya dukunga dari masyarakat sekitar, karena keadaan masyarakat kita sekarang ini sngat berbeda, yakni banyak masyarakat kita yang tidak mau untuk ikut campur dengan hal hal yang berbau masalah social misalnya seperti masalah anak jalanan ini.
10

3.1 Faktor Faktor Penyebab Munculnya Fenomena Anak Jalanan Munculnya fenomena anak jalanan di dalam masyarakat itu karena beberapa hal, baik karena masalah interen dari diri si anak tersebut dan juga masalah eksteren yang berasal dari masyrakat sekitar mereka. Namun selama ini banyak orang orang yang hanya menganggap bahwa munculny anak jalanan yang banyak bekerja di jalanan adalah karena factor kemiskinan. Namun bukan hanya kemiskinan saja yanag dapat menimbulkan gejala fonomena anak jalanan, tetapai juga karena ada beberapa hala lagi yakni diantaranya : 1. Tingkat Mikro (Immediate causes) yakni factor yang berhubangan dengan si anak dan keluarganya. 2. Tingkat Messo (Underlying causese) yakni factor yang berada di dalam masyrakat. 3. Tingkat Makro (Basic causes) yakni factor yang berhubungan masalah struktur makro. Pada tingkat mikro factor yang dapat di identifikasi dari keluarga dan anak yang berkaitan tetapi juga dapat berdiri sendiri yaitu adalah: 1. Lari dari keluarga, di suruh bekerja, baik karena masih bersekolah ataupun sudah putus, berpetualangan, atau di jak teman. 2. Sebab dari orangtua adalah terlentar, orang tua tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, ditolak orang tua, salah asuhan dirumah, kesulitan berhubungan dengan keluarga, atau tidak dapat bertemu dengan orang tua karena terlalu sibuk, terpisah dari orangtua, sikap sikap yang salah terhadap anak, keterbatasan dalam merawat anak yang mengakibatkan anak mengalami factor psikologis, fisik, dan mental. Pada tingkat messo (masyarakat) masalah yang dapat di identifikasi adalah meliputi sebagai berikut:

11

1. Pada masyarakat miskin, anak anak adalah asset untuk untuk meningkatkan kebutuhan keluarga sehari hari, anak anak diajarkan untuk bekerja sehingga mereka dari sekolahnya dikeluarkan. 2. Pada masyarakat lain urbanisasi, merupakan menjadi suatu kebiasaan yang lain, dan anak anak mengikuti kebiasaan tersebut. 3. Penolakan masyarakat dan anggapan masyarakat bahwa anak jalanan adalah criminal. Pada tingkat makro (struktur masyarakat) sebab masalah yang dapat di identifikasi adalah sebagai berikut: 1. Ekonomi, adalah dengan adanya peluang kerja informal yang tidak terlalu memerlukan bidang keahlian, mereka harus lama dijalanan dan meninggalkan bangku sekolah, ketimpangan desa dan kota yang mendorong urbanisasi. 2. Pendidikan, biaya sekolah yang tinggi, perlakuan guru yang diskriminatif, dan ketentuan teknis dan administrative, dan birokratis, yang menghalangi kesempatan belajar. 3. Belum beragamnya unsur unsur pemerintah memandang anak jalanan antara sebagai kelompok yang memerlukan perawatan dan pendekatan yang menganggap anak jalanan sebagai trouble maker atau pembuat masalah. Atau dengan kata lain, factor factor lain yang menjadi alsan terpisahnya anak dengan orang tua adalah sebagai berikut: 1. Factor pendorong a. Keadaaan ekonomi keluarga yang semakin didperparang dengan besarnya kebutuhan yang harus ditanggung oleh kepala keluarga, sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehingga pada akhirnya menyuruh anak anak mereka untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

12

b. Ketidakserasian dengan keluarga sehingga anak tidak betah tinggal di dalam rumah atau lari dari rumah. c. Adanya kekerasan atau perlakuan yang salah dari orang tua sehingga anak lari dari rumah. d. Kesulitan hidup dikampung sehingga anak melakukan urbanisasi mengikuti orang dewasa untuk mencari kerja. 2. Factor Penarik a. Kehidupan jalanan yang menjajikan dimana anak mudah untuk mendapatkan uang sehingga anak dapat bergaul dengan bebas. b. Diajak teman. c. Adanya peluang disektor informal yang tidak perlu untuk membutuhkan modal dan keterampilan. Disamping factor factor diatas, lingkungan komunitas juga sebagai penyebab bagi timbulnya gejala anak jalanan terutama yang erat kaitannya dengan fungsi stabilitas social dalam lingkungan itu sendiri. Ada dua fungsi utama dalam stabilitas komunitas, yaitu pemeliharaan tata nilai dan pendistribusian kesejahtraan dalam kalangan komunitas yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan pemeliharaan tata nilai yaitu misalnya dalam masyrakat alangkah baiknya jika seorang tetangga mau untuk menegor atau menasehati apabila mereka membuat kesalahan dan juga mau menasehati bahwa hidup atau berkeliaran di jalanan itu kurang baik bagi mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan pendistribusian kesejahtraan yaitu misalnya masih banyak tetangga yang acuh tak acuh terhadap tetangga nya yang kurang mampu atau sedang berda diambang kemiskinan. Dan juga kita juga kurang dalam memberikan keamanan atau perlindungan bagi anak yang terlantar atau yang kurang beruntung.

13

Kemudian juga terdapat beberapa factor yang saling berkaitan atau berhubungan antar satu dan yang lain, yang dapat menyebabkan anak turun kejalan, yakni diantaranya: 1. Meningkatnya masalah gejala keluarga, misalnya seperti: a. Kemiskinan b. Pengangguran c. Perceraian d. Kawin muda e. Kekerasan dalam rumah tangga. 2. Penggusuran dan pemindahan keluarga miskin dari tanah mereka dengan alasan demi pembangunan, mereka semakin tidak berdya dengan kebijakan pemerintah yang menguntungkan bagi segelintir orang. 3. Adanya migrasi dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih layak, hal itu terjadi karena adanya perbedaan kesenjangan pembangunan di desa dan di kota. 4. Melemahnya keluarga besar dimana keluarga besar sudah tidah mampu lagi untuk memberikan bantuan bagi keluarga inti, yang diakibatkan karena adanya kesenjangan social dan kesenjangan ekonomi. 5. Adanya kesenjangan dalam sitem jarring pemngaman social, sehingga jarring pengaman tidak ada ketika keluarga dan juga anak sedang membutuhkan bantuan. 6. Pembangunan yang telah dilakukan oleh pemerintah banyak menghapus lahan lahan kosong yang mana itu merupakan tempat bermain bagi anak anak. 7. Meningkatnya angka anak putus sekolah karena alas an ekonomi, sehingga mendorong anak anak untuk mencari pekerjaan dan jalanan dijadikan temapat bagi mereka untuk mendapatkan atau mencari uang.

14

8. Adanya kesenjangan komunikasi antar orang tua dan anak sehingga menyebabkan anak lebih ingin mencari kebebasan. 3.2 Upaya Penanggulangan Pemerintah Terhadap Fenomena Anak Jalanan Permaslahan yang banyak dialami oleh anak jalanan misalnya seperti pengeksploitasian anak, kekerasan baik itu yang bersifat psikis, fisik atau pun secara sexsual, sudah merupakan bagian dari permasalahn yang memebelit Negara ini. Pemerintah juga bukannya tidak mau turun tangan untuk mengatasi permasalahn anak jalanan ini. Pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mengurangi permaslah tentang anak jalanan ini dengan berbagai macam cara dan solusi. Kebijakan kebijakan yang sudah diambil oleh pemerintah yaitu diantaranya dengan melakukan assessment yang dibantu oleh berbagai lapisan masyarakat dan juga turut serta melibatkan lembaga kepolisian dan juga dinas social, Hal itu bertujuan untuk mengurangi populasi anak jalanan. Assessment yang dilakukan itu biasanya berupa pendataan anak jalanan, melakukan wawancara dengan cara yang persuasive, menarik anak jalanan yang terpaksa bekerja dijalan, melakukan pemberdayaan keluarga secara efektif dikalangan keluarga miskin,dan melakukan penegakan hukum terhdap anak jalanan. Kebijakan kebijakan lain yang juga sudah dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan menyiapkan sejumlah anggaran yang khusus diperuntukan untuk masalah anak jalanan. Anggaran tersebut digunakan untuk membangun panti panti social, rumah singgah, dan segala aspek yang berhubungan anak jalanan. Langkah strategis juga sudah dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan melakukan perlindungan bagi anak jalanan, yakni dengan cara melakukan kerjasama dengan institusi institusi social seperti Save The Children.

15

Kerjasama

tersebut

meliputi

pemulangan,

pemulihan

dan

reinteregasi

korban

pengeksploitasian anak. Kesepakatan yang lainnya yaitu antara pihak departemen social dan kepolisian republic Indonesia tentang perlindungan rehabilitasi anak yang dihadapkan dengan hokum. Departemen social juga mengadakan berbagai rapat koordinasi nasional tentang perlindungan anak jalanan. Rapat perlindungan anak jalanan ini dihadiri oleh berbagai erwakilan dari pemerintah dan LSM serta lembaga internasional dibidang anak, ditambah dengan dinas social dari masing masing daerah di Indonesia. Kemudian juga dengan membangun rumah rumah singgah untuk tempat tinggal sementara dari anak jalanan tersebut, jika meraka takut untuk kembali kerumah atau ke orang tua mereka. Di rumah singga h ini mereka diajarkan berbagai macam keterampilan, yang kelak akan dapat digunakan mereka untum mendapatkan pekerjaan sehingga dapat berkompetisi di dunia luar. Namun, cara ini masih kurang efektif pada kenyataan nya. Karena keberadaan rumah singgah biasanya hanya sebagai tempat berkumpul mereka saja. Kemudian juga dapat digunakan cara seperti penyaluran hobi. Misalnya itu sepertia, aktivitas anak jalanan di lapangan seperti menyanyi, mengamen atau menjual cinderamata tertentu. Bagi mereka yang terbiasa menyanyi dapat diberikan pendidikan mengenai cara bernyayi yang baik, agar jadinya suatu saat mereka dapat menjadi penyayi terkenak atau dapa bekerja menyanyi ditemoat yang lebih layak seprti di Caf atau di restoran. Kemudian bagi mereka yang hobi mengamen dapat didik untuk menjadi pemusik yang handal dan dapat merikan karya yang bagus bagi orang lain. Hobi merupakan kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang yang bertujuan untuk memenuhi keinginan dan mendapatkan kesenangan. Maka dari itu, pemberdayaan anak jalanan berbasis hobi sangat tepat selepas mereka

16

menjalankan aktivitasnya seharian dijalanan. Rumah singgah yang selama ini hanya menjadi tempat berkumpul anak jalanan harus dirubah menjadi shelter untuk pengembangan potensi diri anak jalanan seperti kegiatan kesenian, keolahragaan, keterampilan menjahit, menyulam dan sebagainya. Lalu kemudian pemerintah dapat juga melakukan upaya seperti Angel Enterprenership Program, yaitu merupakan suatu wadah untuk menampung para anak jalanan. Wadah tersebut berupa sekolah yang dibuat dengan tujuan untuk memfasilitasi meraka dengan memberikan pendidikan dan pelatihan yang dapat mengasah keterampilan mereka agar mampu untuk memanfaat hal hal yang ada di lingkungan sekitar mereka. Dan lalu dengan adanya pelatihan dan pedidikan sehingga medorong mereka untuk mampu berwirausaha. Adapaun langkah yang dilakukan yaitu dengan melakukan pendekatan dengan ank gelandangan dan keluarganya agar mereka memiliki kepercayaan untuk mau di didik di Angel Eunterprinership Program. Namun dalam langkah ini memerlukan penganan yang sangat khusus karena untuk mendapatkan kepercayaan dari mereka itu bukanlah suatu hal mudah. Untuk itu sangat diperlukan bantuan dari lembaga lembaga yang berkompeten dibidangnya seperti seorang psikolog anak dan LSM yang berhubungan dengan anak. Lalau langkah berikutnya adalah dengan memberikan motivasi agar mereka mempunyai keyakinan bahwa mereka juga memiliki kemampuan dan potensi yang sama dengan anak anak yang lainnya. 3.3 Anak Jalanan dan Masyarakat Keberadaaan anak ank jalanan di masyarakat sekitar sungguh tidak dapat di elakkan. Hal itu karena, keadaan dalam masyarakat itu sendiri yang menciptakan anak jalanan tersebut. Di dalam masyarakat, anak jalanan seolah tidak mendapatkan tempat yang sebagaimana mestinya. Mereka selalu di acuhkan, di olok olok, dan bahkan selalu dipandang sebelah mata.

17

Masyarakat masih menganggap bahwa anak jalanan itu adalah anak pinggiran , yang tidak tahu apa apa serta tidak mempunyai pendidikan. Karena sudah terlanjur mendapat julukan seperti itu dari masyarakat, maka mendorong anak jalanan tersebut untuk berbuat sesuatu yang menurutnya itu perbuatan yang pantas ia lakukan sebagai anak jalanan. Malah, di beberapa tempat ada oknum masyarakat yang bahkan menggunanakan keadaan anak jalanan yang kurang beruntung tersebut untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Buktinya saja, masih banyak kegiatan pengeksploitasian anak, seperti, banyak anak jalanan yang disuruh mengamen, mengemis, atau bahkan disuruh untuk melakukan perbuatan asusila. Jadi, jika ingin ada penyelesaian masalah khususnya masalah anak jalanan, pemerintah harus mau untuk bekerja sama dengan masyrakat, dan lembaga lembaga social baik yang bersal dari pemerintah ataupun dari pihak swasta. Hal itu agar permasalahan anak jalanan tidak berlarut larut.

18

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Masalah anak jalanan ini tak kunjung dapat diselesaikan secara maksimal oleh pemerintah dengan bantuan dari masyarakat. Karena selama ini baik pemerintah maupun dari masyarakat membantu hanya setengah setengah, sehingga fenomena anak jalanan bukannya berkurang, tetapi malah semakin menjamur dimana mana. Haruslah ada keselarasan sikap baik dari pemerintah maupun dari masyarakat, jika masalah ini ingin dapat terselesaikan dengan baik dan cepat. Kemudaian juga, pemerintah harus mampu untuk menciptakan suatu lapangan kerja atau paling tidak dapat membuat suatu wadah bagi anak anak yang kurang beruntung. Sehingga mereka dapat menyalurkan kreatifitasnya. Dan pada akhirnya factor factor yang mendukung timbulnya fenomena anak jalanan, semakin ditekan dan berangsur angsur hilang , sehingga fenomena anak jalanan akan hilang.

19

DAFTAR PUSTAKA

http://dwiwidiastuti.blogspot.com/2010/anak dan penagggulangannya.html http://wordpress.com/masalah anak jalanan di indonesia.org http://www.google.co.id/2301-ki-fh-97.html

20