Anda di halaman 1dari 5

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Perkembangan Hewan dengan judul Pemberian Obat Pada Hewan Uji disusun oleh : Nama NIM Kelas/kelompok : HASAN :101414025 : A/

Telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten dan Koordinator asisten, maka dinyatakan diterima.

Makassar, Koordinator Asisten

November 2011 Asisten

(Ariandi) Nim:071404075

(Ariandi) Nim:071404075

Mengetahui Dosen penanggung jawab

Drs. ADNAN, M. S. NIP: 1965 0211 988 031 003

I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang Hewan mencit atau Mus musculus adalah tikus rumah biasa termasuk ke dalam ordo rodentia dan family Muridae. Mencit dewasa biasa memiliki berat antara 25-40 gram dan mempunyai berbagai macam warna. Farmakologi merupakan sifat dari mekanisme kerja obat pada sistem tubuh termasuk menentukan toksisitasnya. Untuk mencapai efek farmakologis seperti yang di inginkan, obat dapat diberikan dengan berbagai cara. Diantaranya melalui oral, subkutan, intra muskular, dan intra peritonel. Masing-masing cara pemberian ini memiliki keuntungan dan manfaat tertentu. Suatu senyawa atau obat mungkin efektif jika diberikan melalui cara lain. Perbedaan ini salah satunya dapat disebabkan oleh adanya perbedaan dalam hal kecepatan absorpsi dan berbagai cara pemberian tersebut, yang selanjutnyaakan berpengaruh terhadap efek atau aktivitas farmakologinya. Obat sebaiknya dapat mencapai reseptor kerja yang diinginkan setelah diberikan secara intravena dan diedarkan di dalam darah langsung dengan harapan dapat menimbulkan efek yang relatif lebih cepat dan bermanfaat. Dalam praktikum ini, luminal digunakan sebagai sampel obat agar cepat diketahui efek farmakologi yang dihasilakan berdasarkan perbedaan cara pemberian obat. B. Tujuan praktikum Mahasiswa dapat mengetahui cara pemberin obat pada hewan percobaan (mencit) dengan baik dan benar dengan cara intra muscular, intra peritoneal, subkutan dan per oral.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Hewan mencit atau Musmusculus adalah tikus rumah biasa termasuk ke dalam ordo rodentia dan family Muridae. Mencit dewasa biasa memiliki berat antara 25-40 gram dan mempunyai berbagai macam warna. Mayoritas mencit laboratorium adalah strain albino yang mempunyai bulu putih dan merah muda (Tim pengajar, 2011). Mencit merupakan hewan yang tidak mempunyai kelenjar keringat, jantung terdiri atas empat ruang dengan dinding atrium yang tipis dan dinding ventrikel yang lebih tebal percobaan dalam menangani hewan yang akam di uji cenderung memiliki karateristik yang berbeda, seperti mencit penakut dan fotofobik, cenderung sembunyi dan berkumpul dengan sesama, mudah ditangani, lebih aktif pada malam hari, aktivitas terganggu dengan adanya manusia, (Tim pengajar, 2011). Farmakologi merupakan sifat dari mekanisme kerja obat pada sistem tubuh termasuk menentukan toksisitasnya, untuk mencapai efek Farmakologis seperti yang diinginkan, obat dapat diberikan dengan berbagai cara. . Diantaranya melalui oral, subkutan, intra muskular, dan intra peritonel. Masing-masing cara pemberian ini memiliki keuntungan dan manfaat tertentu. Suatu senyawa atau obat mungkin efektif jika diberikan melalui cara lain. Perbedaan ini salah satunya dapat disebabkan oleh adanya perbedaan dalam hal kecepatan absorpsi dan berbagai cara pemberian tersebut, yang selanjutnyaakan berpengaruh terhadap efek atau aktivitas farmakologinya (Anonim, 2011). Di dalam suatu dosis yang dipakai untuk penggunaan suatu obat harus sesuai dengan data mengenai penggunaan dosis secara kuantitatif, dikarenakan bila obat itu ddiaplikasikan kepada manusia dilakukan perbandingan luas permukaan tubuh. Rute pemberian obat, dapat diberikan secara peroral, subkutan, intramuscular, intravena, dan intraperitonial. Rute peroral dapat diberikan dengan mencampurkan obat bersama makanan. Rute subkutan paling mudah dilakukan pada mencit. Rute pemberian obat secara intravena haruslah dalam keadaan mencit tidak dapat bergerak. Cara intraperitonial hampir sama dengan cara IM, suntikan dilakukan di daerah abdomen diantara cartilage xiphoidea dan symphysis pubis (Mangkoewidjojo, 1998). Subkutan lebih cepat dari pada sediaan suspensi, determinan dari kecepatan absorpsi ialah total luas permukaan dimana terjadi penyebaran, menyebabkan konstriksi pembuluh

darah lokal sehingga difusi obat bertahan , obat dapat dipercepat dengan menambahkan hyaluronidase,suatu enzim yang memecah mukopolisakarida rari matriks jaringan ( joenoes,2002). III. METODE PRAKTIKUM A. Waktu Hari/tanggal : Jumat, 11 November 2011 Waktu :Pukul 09.00-11.00 WITA Tempat :Laboratorium Biologi lantai III bagian Barat FMIPA UNM B. Alat dan bahan: Alat: 1. Kandang mencit. 2. Gagave/sonde/feeding tube. 3. Syringe. 4. Jarum suntik (spoid). Bahan: 1. Mencit. 2. Alkohol 70%. 3. Makanan hewan dan aquabidest. 4. Kapas. C. Prosedur Kerja 1. Cara memegang hewan percobaan sehingga siap diberi sediaan uji Ujung ekor mencit diangkat dengan tangan kanan, letakkan pada suatu tempat yang permukaannya tidak licin (misal rem kawat pada penutup kadang), sehingga bila ditarik mencit akan mencergkrram lalu kulit pada bagian tengkuk mencit dijepit dengan telunjuk dn ibu jari tangan kiri sedangkan ekornya tetap dipegang dengan tangan kanan kemudian tubuh mencit dibalikkan sehingga permukaan perut menghadap ke kita dan ekor dijepit di antara jari manis dan kelingking kiri. 2. Cara memberikan obat pada hewan percobaan Oral Pemberian secara oral pada mencit dilakukan dengan alat suntik yang dilengkapi jarum oral atau sonde oral (berujung tumpul). Cairan obat digunakan dengan menggunakan sonde oral, sonde oral ditempelkan pada langit-langit mulut atas mencit kemudian masukkan perlahan-lahan sampai ke esophagus dan cairan obat dimasukkan. Sebelum memasukkan sonde oral, posisi kepala mencit adalah menegadah dan mulutnya terbuka sedikit, sehingga sonde oral akan masuk secara lurus ke dalam tubuh mencit. Subkutan Penyuntikkan dilakukan di bawah kulit pada daerah tengkuk dicubit di antara jempol dan telunjuk. Bersihkan area kulit yang akan disuntik dengan alkohol 70%. Masukkan obat dengan menggunakan alat suntik 1 ml secara paralel dari arah depan menembus kulit. Diusahakan dilakukan dengan kepala mencit. Pemberian obat ini berhasil jika jarum suntik telah melewati kulit dan pada saat alat suntik ditekan, cairan yang berada di dalamnya dengan cepat masuk ke daerah bawah kulit. Intra muscular Pemberian obat pada paha dengan menyuntik diawali dengan menenangkan mencit agar tidak stress. Kemudian menyiapkan alat suntik dan menangkap mencit dengan hatihati dan memegang dengan keras agar tidak lepas saat disuntik. menyuntik mencit dengan kemiringan 450 dimana bagian suntik yang runcing diletakkan sebelah bawah. Setelah selesai mencitnya perlahan-lahan dilepaskan agar tidak stress.

Intra peritoneal Mencit dipegang dengan cara di atas, pada penyuntikan posisi kepala lebih rendah dari abdomen. Jarum disuntikkan dengan sudut sekitar 45 dari abdomen pada daerah yang sedikit menepi dari garis tengah, agar jarum suntik tidak terkena kandung kemih dan tidak terlalu tinggi sipaya tidak terkena penyuntikan pada hati. III.PEMBAHASAN Percobaan ini mempelajari tentang pemberian obat pada mencit. Mencit di pilih sebagai hewan uji karena karena proses metabolisme dalam tubuhnya berlangsung cepat sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai objek pengamatan. Pemberian obat pada hewan uji yaitu pertama melalui oral, sub kutan, intramuscular dan intra peritonial. Pemberian obat uji pada oral ( pemberian obat melalui mulut masuk kesaluran intestinal) digunakan jarum injeksi yang berujung tumpul agar tidak membahayakan bagi hewan uji. Diusahakan pada saat peyuntikan mencit tidak dalam keadaan sters karna bila dalam keadaan sters dapat menggigit tangan. Kedua dengan cara subkutan dengan menyuntikkan obat melalui tengkuk hewan uji tepatnya injeksi dilakukan dibawah kulit. Ketiga dengan cara intramuscular dengan menyuntikkan obat melalui paha hewan uji dengan perlahan-lahan sambil di elus-elus agar mencit tersebut tidak stres. Ke empat dengan cara intra peritonial dengan menyuntikkan obat melalui bagian perut tanpa mengenai organ (ditandai dengan tidak ada darah yang keluar) di letakkan dengan perlahan-lahan sambil di elus-elus agar mencit tidak stres. IV.PENUTUP A. Kesimpulan Dengan cara oral ( pemberian obat melalui mulut masuk kesaluran intestinal) digunakan jarum injeksi yang berujung tumpul agar tidak membahayakan bagi hewan uji. Kedua dengan cara subkutan dengan menyuntikkan obat melalui tengkuk hewan uji tepatnya injeksi dilakukan dibawah kulit. Ketiga dengan cara intramuscular dengan menyuntikkan obat melalui paha hewan uji dengan perlahan-lahan sambil di elus-elus agar mencit tersebut tidak stres. Ke empat dengan cara intra peritonial dengan menyuntikkan obat melalui bagian perut tanpa mengenai organ (ditandai dengan tidak ada darah yang keluar) di letakkan dengan perlahan-lahan sambil di elus-elus agar mencit tidak stres. B. Saran 1. Diharapkan kepada teman-teman hati- hati jika memegang hewan mencit. 2. Dalam melakukan pengamatan sebaiknya para praktikan lebih teliti mengamati mencit. 3. Untuk laboratorium ada baiknya jika dibuatkan khusus tempat pemeliharaan hewanhewan yang akan dipraktikumkan seperti mencit. 4. Sebaiknya asisten selalu mendampingi pada saat melakukan pengamatan pada mencit.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.1995, farmakope Indonesia edisi, IV, Depkes RI: Jakarta. Joenoes, Z. N., 2002, Ars Prescribendi jilid 3, Airlangga Universitas press: Surabaya. Tim pengajar, 2011. Penuntun praktikum biologi. Jurusan biologi FMIPA UNM: Makassar.