Anda di halaman 1dari 32

REFERAT HIPERPLASIA PROSTAT BENIGNA

Oleh : Dahvia Nursriyanti NIM : 1102008320 Pembimbing : Dr. Yudi Amiarno, SpU
Kepaniteraan Bagian Ilmu Bedah RSUD Psr. Rebo Periode 7 Juli 2012 15 Sept 2012

Pendahuluan
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli buli dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa 20 gram. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) sering pada pria yang telah lanjut usia. 50% laki-laki usia > 55 tahun, dan 80% usia 75 tahun Faktor resiko : usia, riwayat keluarga, ras, etnis, dan faktor hormonal. tindakan yaitu secara konservatif (non operatif) berat yaitu operasi.

Definisi
Hiperplasia prostat benigna adalah pembesaran kelenjar prostat yang bukan merupakan keganasan dan dapat mengurangi aliran urin dari vesika urinaria. Hiperplasia prostat benigna merupakan proses proliferasi seluler kelenjar prostat yang berhubungan dengan proliferasi berlebihan epithelial dan stromal, ketidakseimbangan kematian alami dari sel tersebut (apoptosis) atau keduanya. (Jurnal Emedicine 2010)

ANATOMI KELENJAR PROSTAT

Kelenjar prostat adalah organ padat yang mengelilingi urethra antara vesica urinaria dan diaphragma urogenitale

Prostat adalah sebuah kelenjar seukuran kacang kenari (walnut) yang merupakan bagian dari alat kelamin pria. Berat normal pada orang dewasa 20 gram.
1. Posterior: letak dorsal dari urethra dan kaudal terhadap kedua duktus ejaculatorius. merupakan bagian yang teraba saat rectal examination (inferior-ejaculatory duct, posterioruretra) Lateral : terletak pada sisi kiri dan kanan urethra, bagian utama dari prostat (lateral-uretra) Medial : terletak antara urethra dan kedua duktus ejakulatori Anterior/isthmus : terletak ventral dari urethra, bagian ini bersifar fibromuskular dan mengandung sedikit jaringan kelenjar, mungkin juga sama sekali tidak.

2. 3. 4.

Lobus
Lobul medial Lobul lateral (2 lobus) Lobus anterior Lobus posterior Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterios, lobus posterior akan menjadi satu dan disebut lobus medius saja. BPH sering terjadi pada lobus lateralis dan lobus medialis karena mengandung banyak jaringan kelenjar.

epidemiologi
Pada usia lanjut beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna. Keadaaan ini dialami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan 80% pria yang berusia 80 tahun. Pembesaran kelenjar prostat mengakibatkan terganggunya aliran urin sehingga menimbulkan gangguan miksi.

etiologi
Teori Dihidrotestosteron Ketidakseimbangan Antara Estrogen testosteron Interaksi stroma-epitel Berkurangnya kematian sel prostat Teori sel stem

Teori DHT
NADPH

Enzim 5 reduktase

DHT + RA

Kompleks DHT-RA

Stimulasi pertumbuhan prostat

Growth factor

Ketidakseimbangan estrogen-testosteron

Berkurangnya kematian sel prostat

patofisiologi
Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, retensi pada leher vesika urinaria dan daerah prostat akan meningkat, otot detrusor menebal dan meregang sehingga timbul sakulasi (terbentuk kantung namun masih ada otot untuk berkontraksi) atau divertikel (terbentuk kantung namun sudah tidak ada lagi otot), dan mudah terangsang. Kandung kemih mudah berkontraksi walaupun jumlah urin masih sedikit, sehingga frekuensi berkemih akan bertambah. Fase ini disebut fase kompensasi.

Bila berlanjut maka otot detrusor akan lelah dan tidak dapat berkontraksi sehingga terjadi retensio urin sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin di dalam kandung kemih, dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi. Fase ini adalah fase dekompensasi.

Gejala Klinis

obstruktif

iritatif

warna kuning: dilakukan oleh tenaga kesehatan umum dan spesialis urologi, warna merah: dilakukan oleh spesialis urologi

diagnosis
Pemeriksaan fisik anamnesis

KELUHAN + SUDAH BERAPA LAMA RPD pada sal.urogenitalia Riwayat kesehatan umum dan fungsi seksual Obat-obatan Tingkat kebugaran

Inspeksi, palpasi, perkusi Colok dubur : ukuran, konsistensi , simetris, nodul

Pemeriksaan penunjang

urinalisis PSA Test Faal ginjal IPSS Catatan harian miksi USG (TURS) Uroflometri Volume residual urin

Colok dubur
Konsistensi kenyal Lobus kanan dan kiri simetris Tidak ada nodul

Syarat : buli-buli kosong / dikosongkan Tujuan : 1. menentukan konsistensi prostat

2. Menentukan besar prostat - akurasi rendah - perlu pengalaman - faktor subyektif pemeriksa - dapat membesar intravesikal 3. Menentukan sistem syaraf unit vesikouretra - tonus sfingter ani :tdk terasa longgar pada jari

Rectal Grading
Stage 0 : prostat teraba < 1cm, berat < 10 gram Stage 1 : prostat teraba 1 2 cm, berat 10 -25 gram Stage 2 : prostat teraba 2 -3 cm, berat 25- 60 gram Stage 3 : prostat teraba 3- 4 cm, berat 60 100 gram Stage 4 : prostat teraba >4 cm, berat >100 gram

Derajat berat hipertropi prostat brdasarkan gambaran klinis

International Prostate Symptom Score (IPSS)

penatalaksanaan
observasi Watchful waiting medikamentosa Antagonis adrenergik Inhibitor reduktase-5 Fitoterapi pembedahan Prostatektomi terbuka ENDOUROLOGI : TURP, TUIP (Transurethral incision of the prostate), TULP (transurethral ultrasound- guided laser-induced prostatectomy), Elektrovaporasi Invasi minimal TUMT (Transurethral microwave thermotherapy ) HIFU ( High-Intensity Focused Ultrasound) Stent uretra TUNA (Transurethral needle ablation) ILC (Interstitial Laser Coagulation)

TURP (Trans Urethral Resection of the Prostate)

Inkontinensia paradoks Batu kandung kemih Hematuria Sistitis Pielonefritis Retensi urin akut / kronik Refluks vesiko-ureter Hidroureter Hidronefrosis Gagal ginjal

prognosis
Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker prostat. Menurut penelitian, kanker prostat merupakan kanker pembunuh nomer 2 pada pria setelah kanker paru

Daftar pustaka
Sjamjuhidayat & De Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. 2005. 782-6 Reksoprodjo, Soelarto. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah FKUI. Jakarta: Binarupa Aksara Deters, Levi A. 2011. Benign Prostatic Hypertrophy Differential Diagnoses. Diakses melalui: http://emedicine.medscape.com/article/437359-differential pada 15 July 2012 Samsuhidajat, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC, 2003. Purnomo. 2007. Dasar-Dasar Urologi, Edisi Kedua. Jakarta: CV.Sagung Seto. Kumar, Cotran, Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins, Ed.7 Vol 2. Jakarta: EGC

SEMOGA BERMANFAAT