LAPORAN KASUS Bronkopneumonia

Angelina Monica S., S.Ked 201020401011133

Pneumonia
infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru dimana asinus terisi dengan cairan radang, dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam interstitium. Secara klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit), bahan kimia, radiasi, aspirasi, obat-obatan dan lain-lain

Klasifikasi Pneumonia
• Berdasarkan klinis dan epidemiologis: – Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia). – Pneumonia nosokomial, (hospital-acquired pneumonia/nosocomial pneumonia). – Pneumonia aspirasi. – Pneumonia pada penderita immunocompromised. • Berdasarkan bakteri penyebab: – Pneumonia bakteri/tipikal – Pneumonia virus. – Pneumonia jamur

• Berdasarkan predileksi infeksi: – Pneumonia lobaris – Bronkopneumonia (Pneumonia lobularis), – Pneumonia interstisial.

Bronkopneumonia
• Pneumonia yang ditandai bercak-bercak infeksi pada berbagai tempat di paru. • Bisa kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau bakteri dan sering terjadi pada bayi atau orang tua. • Inflamasi paru-paru biasanya dimulai di bronkiolus terminalis. • Bronkiolus terminalis tersumbat (eksudat mukopurulen)  bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang bersebelahan. • Penyakit ini seringnya bersifat sekunder, mengikuti infeksi dari saluran nafas atas, demam pada infeksi spesifik dan penyakit yang melemahkan sistem pertahanan tubuh. • Pada bayi dan orang-orang yang lemah, Pneumonia dapat muncul sebagai infeksi primer.

Etiologi
• Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spectrum etiologi, gambaran klinis, dan strategi pengobatan. • Spektrum mikroorganisme penyebab pada neonatus dan bayi kecil berbeda dengan anak yang lebih besar.

USIA

ETIOLOGI YANG SERING

ETIOLOGI YANG JARANG

Lahir – 20 hari

• BAKTERI: BAKTERI: E. colli, Streptococcus group B, Bakteri anaerob Listeria monocytogenes Streptococcus group D Haemophillus influenza Streptococcus pneumonia Ureaplasma urealyticum VIRUS: CMV, HSV

3 minggu – 3 bulan

BAKTERI BAKTERI Chlamydia trachomatis, Bordetella pertussis, Streptococcus pneumonia Haemophillus influenzae tipe B, Moraxella catharalis, VIRUS Virus Adeno, Virus Staphylococcus aureus, Influenza, Virus Parainfluenza Ureaplasma urealyticum, 1, 2, 3, Respitatory Syncytical Virus VIRUS: CMV

USIA

ETIOLOGI YANG SERING
BAKTERI: Chlamydia pneumoniae Mycoplasma pneumoniae Streptococcus pneumoniae VIRUS Virus Adeno Virus Influenza Virus Parainfluenza Virus Rino Respiratory Synncytial virus BAKTERI: Chlamydia pneumoniae Mycoplasma pneumoniae Streptococcus pneumoniae

ETIOLOGI YANG JARANG
BAKTERI: Haemophillus influenzae tipe B Moraxella catharalis Neisseria meningitides Staphylococcus aureus VIRUS Virus Varisela-Zoster

4 bulan – 5 tahun

5 tahun - remaja

BAKTERI: Haemophillus influenza Legionella sp Staphylococcus aureus

VIRUS: Virus Adeno Virus Epstein-Barr Virus Influenza Virus Parainfluenza Virus Rino Respiratory Syncytial Virus Virus Varisela-Zoster

Saluran Pernafasan Atas

Bakteri Stafilokokus aureus Bakteri Haemofilus influezae
Infeksi Saluran Pernafasan Bawah

Kuman berlebih di bronkus Proses peradangan Akumulasi sekret di bronkus

Kuman terbawa di saluran pencernaan

Infeksi saluran pencernaan Peningkatan flora normal dalam usus

Dilatasi pembuluh darah Eksudat plasma masuk alveoli Gangguan difusi dalam plasma Gangguan pertukaran gas

Peningkatan suhu

Edema antara kaplier dan alveoli Iritasi PMN eritrosit pecah Edema paru

Septikimia

Bersihan jalan nafas tidak efektif

Mukus bronkus meningkat Bau mulut tidak sedap

Peningkatan peristaltik usus

Peningkatan metabolisme Evaporasi meningkat

Malabsorbrsi

Pengerasan dinding paru Penurunan compliance paru Suplai O2 menurun

Anoreksia Intake kurang

Diare

Gangguan keseimbangan cairan dan eletrolit

Nutrisi kurang dari kebutuhan Hiperventilasi Dispneu Retraksi dada / nafas cuping hidung

Hipoksia Metabolisme anaeraob meningkat Akumulasi asam laktat

Patofisiologi Bronkopneumoni

Fatigue Gangguan pola nafas Intoleransi aktivitas

Manifestasi Klinis
• Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada beratringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut: – Gejala infeksi umum: • demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah atau diare; kadangkadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner. – Gejala gangguan respiratori • batuk, sesak nafas, retraksi dada, takipnea, napas cuping hidung, air hunger, meintih, dan sianosis

• Pada balita dan anak yang lebih besar menunjukkan keluhan yang meliputi – demam, menggigil, batuk, sakit kepala, Anoreksia, kadang-kadang keluhan gastrointestinal seperti muntah dan diare. • Secara klinis ditemukan gejala respiratori: – takipnea, retraksi subkosta (chest indrawing), napas cuping hidung, ronki, dan sianosis.

• Penyakit ini sering ditemukan bersamaan dengan konjungtivitis, otitis media, faringitis, dan laringitis. • Anak lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. • Ronki hanya ditemukan bila ada infiltrate alveolar. • Retraksi dan takipnea merupakan tanda klinis pneumonia yang bermakna.

Pemeriksaan Penunjang
• Darah perifer lengkap – Leukositosis (15.000-40.000/mm3 ), dengan predominan PMN. – Leukopenia  prognosis buruk. – Leukositosis hebat (> 30.000/mm3) hampir selalu menunjukan adanya infeksi bakteri, sering ditemukan pada keadaan bakteriemi, dan resiko terjadi komplikasi lebih tinggi. – Kadang terdapat anemia ringan dan LED meningkat. – tidak dapat membedakan antara infeksi virus dan bakteri secara pasti. • C reaktif protein – Suatu protein fase akut yang disintesis oleh hepatosit. Sebagai respon infeksi atau inflamasi jaringan.

• Uji serologis – Deteksi antigen dan antibodi pada infeksi bakteri tipik mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang rendah. Tetapi diagnosis infeksi Streptokokus grup A dapat dikonfirmasi dengan peningkatan titer antibodi seperti antistreptolisin O, streptotozim. • Pemeriksaan mikrobiologis – Tidak rutin dilakukan • Foto toraks – Posisi AP. Gambaran difus merata pada kedua paru berupa bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru, disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.

Diagnosis Banding
• • • • • • Pneumonia lobaris Bronkiolitis Aspirasi benda asing Ada riwayat tersedak Atelektasis Tuberkulosis

Penatalaksanaan
• Terapi oksigen dengan kanul nasal atau sungkup. Observasi 4 jam sekali, termasuk pemeriksan saturasi oksigen. • Diberikan cairan intravena dan dilakukan penyeimbangan cairan secara ketat. • Antipiretik dan analgetik • Nebulizer dengan 2 agonis atau NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki mucocilliary clearance. • Pemberiaan Antibiotik: Amoksisilin – Alternatifnya adalah co-amoxiclav,ceflacor, eritromisin dan azitromisin.

Antibiotik Penisilin G

Ampisilin Kloramfenikol Ceftriaxone

Cefuroxime

Clindamycin

Dosis 50.000 unit/kgBB/x Dosis tunggal maksimal 4.000.000 unit 100 mg/ kgBB/hari 100 mg/ kgBB/hari 50mg/ kgBB/x Dosis tunggal maksimal 2 gram 50mg/ kgBB/x Dosis tunggal maksimal 2 gram 10mg/ kgBB/x Dosis tunggal maksimal 1,2 gram

Frekuensi Tiap 4 jam

Keterangan S. pneumonia

Tiap 6 jam Tiap 6 jam 1x/ hari

S. pneumonia, H. Influenza
S. pneumonia, H. Influenza Grup A Streptococcus, S.aureus, S. Pneumonia (alternatif untuk anak alergi beta lactam, lebih jarang menimbulkan plebitis pada eritromisin) S. pneumonia, Chlamydia pneumonia, Mycoplasma pneumonia.

Tiap 8 jam

Tiap 6 jam

Eritromisin

10mg/ kgBB/x Dosis tunggal maksimal 1 gram

Tiap 6 jam

Pencegahan
• Imunisasi terhadap Hib, pneumococcus, campak, dan pertusis adalah cara yang paling efektif untuk mencegah pneumonia. • Nutrisi yang adekuat adalah kunci memperbaiki pertahanan tubuh anak, mulai dari ASI eksklusif untuk enam bulan pertama kehidupan. • Memperbaiki faktor lingkungan seperti menjaga kebersihan pada rumah yang padat.

Komplikasi
• Atelektasis – pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru, merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau reflex batuk hilang. • Empisema – suatu keadaan di mana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura yang terdapat di suatu tempat atau seluruh rongga pleura. • Abses paru – pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang. • Infeksi sistemik. • Endokarditis • Meningitis.

Prognosis
• Secara umum, prognosisnya adalah baik.

LAPORAN KASUS

IDENTITAS
• • • • • • • Nama Jenis Kelamin Usia Alamat Tgl MRS Jam MRS No. RM : An. Ibnu Sina : Laki-laki : 3 tahun 2 bulan : Bandar Ngalim : 4 April 2012 : 21.00 WIB : 246341

ANAMNESIS
• Keluhan Utama: Sesak • Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien panas sejak 3 hari, panas terus-terusan, sudah diberi contrexin dan sanmol drop, panas turun, kemudian naik lagi. Pasien batuk sejak 3 hari grok-grok, dahak (+) tidak bisa keluar, keluar jika muntah. Pilek sejak 3 hari, ingus kental. Sesak baru tadi pagi, sesak terutama terlihat setelah batuk. Muntah (+) sejak 2 hari yang didahului batuk, muntah ±3 kali/hari, muntah cairan berwarna putih disertai dahak dan makanan. Pasien tidak mau makan, tetapi banyak minum air putih. BAK normal seperti biasa. BAB 1x tadi pagi, seperti biasa.

• Riwayat Penyakit Dahulu: – Pasien belum pernah sakit seperti ini sebelumnya

• Riwayat Penyakit Keluarga: – Bapak alergi debu, adik pasien sedang sakit batuk
• Riwayat Sosial: • Pasien mempunyai tetangga yang sedang sakit TBC dan masih dalam pengobatan. Tetangga tersebut sering bermain dengan pasien.

• Riwayat Kelahiran: – Anak lahir ditolong oleh bidan di RSUD Gambiran. Umur kehamilan 3839 minggu. Anak lahir spontan langsung menangis, dengan berat badan lahir 3000 gram dan panjang badan 45 cm. Bayi tidak tampak kebiruan dan kuning. • Riwayat Imunisasi: – Bayi mendapat imunisasi di puskesmas. Anak dirawat dirumah, dalam keadaan sehat tidak ada kelainan bawaan dan tidak kuning. Riwayat imunisasi hingga saat ini BCG, Polio I/II/III, DPT I/II/III, Hepatitis B. Ibu di imunisasi TT (+) di puskesmas (sebelum menikah 1x).

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum • Keadaan Sakit : tampak sesak • Kesadaran : Compos mentis • Tanda vital : Nadi 120x/mnt , Pernapasan 70x/mnt , Suhu 38,9°C • BB 12 kg, status gizi -2SD s/d 2SD= BB Normal Kepala & Leher • Mata : Anemis (-), Ikterus (-), mata cowong (-) • Telinga : Sekret (-) • Hidung : Sekret (+), perdarahan (-), nafas cuping hidung (-) • Mulut : pucat (-), sianosis (-), mukosa bibir & mulut basah, faring hiperemis (-), lidah kotor (-) • Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), pergeseran trakhea (-)

Thorax: Bentuk Normal, Payudara Normal a. Paru – Inspeksi : Diam simetris ; pergerakan simetris ; retraksi subcostal (+) – Palpasi : Pergerakan simetris ; Fremitus raba sama kanan-kiri – Perkusi : Suara ketok sonor – Auskultasi : suara napas abnormal wheezing -/-; ronchi +/+ b. Jantung – Pembesaran: tidak ada – Auskultasi: S1 S2 tunggal, bising tidak ada

Abdomen • Meteorismus (-) , Ascites (-) , fenomena papan catur (-) , Hepar tidak teraba , Lien tidak teraba , Bising usus meningkat Inguinal, Genitalia, Anus • Tidak ada kelainan, akral hangat Ekstremitas • Tidak ada kelainan Tulang belakang • Normal

Problem List
• • • • • • Cough produktif (+) Dyspnea (+) Febris (+) Vomit (+) Retraksi subcostal (+) Rhonki (+)

• Initial diagnosis : – Bronkopneumonia • Diagnosis Banding : – Tuberculosis

Parameter Kontak TB

0 Tidak jelas

1

Uji Tuberkulin

negatif

Berat badan/ keadaan gizi Demam yg tdk diketahui penyebabnya Batuk kronik Pembesaran kelenjar limfe kolli, aksila, inguinal Pembengkakan tulang/sendi lutut, falang Foto toraks

2 3 Laporan keluarga (BTA negatif atau tdk BTA (+) jelas Postif (≥ 10mm, atau ≥5 mm pada keadaan imunosupresi BB/TB <90% Klinis gizi buruk atau atau BB/TB <70% atau BB/U<80% BB/U<60% ≥ 2 minggu -

≥ 3 minggu ≥ 1 cm jumlah > 1, tidak nyeri Ada panggul, pembengkaka n Normal/kel Gambaran ainan tdk sugestif TB* jelas

-

Planning
Diagnosis : • Darah Lengkap • Urin Lengkap • Foto Thorax • Uji Tuberkulin Terapi:
• • • • • Infus N2 15 tpm makro Pemasangan O2 nasal 2L/menit Nebulizer 2 agonis / NaCl Inj Ceftriaxon 2x300 mg Paracetamol 4x0,6 cc (saat pasien panas) • Ambroksol 2x1/2 cth • Pseudoefedrin 3x1/4 cth

• Monitoring : • Inspeksi keadaan umum anak • Observasi sesak • Vital sign (RR, HR, T, inspeksi & auskultasi paru)

• Edukasi : • Hindari asap rokok, hindari polusi udara • Jaga kebersihan lingkungan • Hindari kontak penderita batuk dengan tidak dekatdekat dengan pasien batuk, terutama dengan penderita TBC. • Informasi kepada keluarga tentang penyakit anak dan prognosisnya

Hasil Laboratorium
• • • • • WBC = 6,7 103 /uL RBC = 4,48 103 /uL HGB = 10.9 g/dL HCT = 32,9 % PLT = 286 103 /uL

FOLLOW UP
TGL 05-04-2012 S Panas (+). Sesak (+) Batuk (+), grokgrok, dahak warna hijau. Pilek (+). Sariawan (+) BAB belum. BAK dbn. Ma: tidak mau Mi: biasa. O KU : Baik Kesadaran : CM Tax 37˚C RR: 46 x/mnt N : 100x/mnt a/i/c/d : -/-/-/+ K/L: mata cowong (-), Thorax : simetris, sonor, rh+/+, wh-/-, retraksi epigastrial (+), retraksi interkostal (+) Cor : S1S2 tunggal Abd. : BU (+) N, supel, timpani Ekst: dbn A Bronchopneumonia        P Infus N2 15 tpm makro Pemasangan O2 nasal 2L/menit Nebulizer 2 agonis / NaCl Inj Ceftriaxon 2x300 mg Paracetamol 4x0,6 cc (saat pasien panas) Ambroksol 2x1/2 cth Pseudoefedrin 3x1/4 cth

06-042012

Panas (-). Sesak (+) Batuk (+), grokgrok, dahak warna hijau. Pilek (+). Sariawan (+) BAB dbn. BAK dbn. Ma: tidak mau Mi: biasa.

07-042012

Panas (-). Sesak (+) kadang Batuk (+) jarang Dahak (-). Pilek (-). Sariawan (+) BAB dbn. BAK dbn. Ma: tidak mau Mi: biasa.

KU : Baik Kesadaran : CM Tax 37˚C RR: 46 x/mnt N : 100 x/mnt a/i/c/d : -/-/-/K/L: mata cowong (-) Thorax : simetris, sonor, rh+/+, wh-/-, retraksi epigastrial (+), retraksi interkostal (-) Cor : S1S2 tunggal Abd. : BU (+) N, supel, Ekst: dbn KU : Baik Kesadaran : CM Tax 36˚C RR: 45 x/mnt N : 94 x/mnt a/i/c/d : -/-/-/K/L: mata cowong (-) Thorax : simetris, sonor, rh+/+, wh-/Cor : S1S2 tunggal Abd. : BU (+) N, supel, Ekst: dbn

Bronchopneum onia

      

Infus N2 15 tpm makro Pemasangan O2 nasal 2L/menit Nebulizer 2 agonis / NaCl Inj Ceftriaxon 2x300 mg Paracetamol 4x0,6 cc (saat pasien panas) Ambroksol 2x1/2 cth Pseudoefedrin 3x1/4 cth

Bronchopneumo  nia       

Infus N2 15 tpm makro Pemasangan O2 nasal 2L/menit Nebulizer 2 agonis / NaCl Inj Ceftriaxon 2x300 mg Paracetamol 4x0,6 cc (saat pasien panas) Ambroksol 2x1/2 cth Pseudoefedrin 3x1/4 cth Enystin

08-04-2012

Panas (-). Sesak (-) Batuk (-) Pilek (-). Sariawan (-) BAB dbn BAK dbn. Ma: sedikit Mi: biasa.

KU : Baik Kesadaran : CM Tax 37˚C RR: 36 x/mnt N : 110x/mnt a/i/c/d : -/-/-/K/L: mata cowong (-) Thorax : simetris, sonor, rh-/-, wh-/Cor : S1S2 tunggal Abd. : BU (+) N, supel, Ekst: dbn

Bronchopneumonia


    

09-042012

Panas (-). Sesak (-) Batuk (-) Pilek (-). Sariawan (-) BAB dbn. BAK dbn. Ma: sedikit Mi: biasa.

KU : Baik Kesadaran : CM Tax 36˚C RR: 50 x/mnt N : 110x/mnt a/i/c/d : -/-/-/K/L: mata cowong (-) Thorax : simetris, sonor, rh-/-, wh/Cor : S1S2 tunggal Abd. : BU (+) N, supel, Ekst: dbn

Bronchopneumonia       

Infus N2 15 tpm makro Pemasangan O2 nasal 2L/menit Nebulizer 2 agonis / NaCl Inj Ceftriaxon 2x300 mg Paracetamol 4x0,6 cc (saat pasien panas) Ambroksol 2x1/2 cth Pseudoefedrin 3x1/4 cth

Cefadroxil Dextamin Heptasan Cobazym Rhinofed Ferlyn drop 1x0,8 cc KRS

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful