Anda di halaman 1dari 60

Jayapura, Mei 2014

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA


PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN BERBASIS
5 (LIMA) WILAYAH ADAT UNTUK MENDORONG
PERCEPATAN PEMBANGUNAN KABUPATEN
TERTINGGAL DI PROVINSI PAPUA



TAPI
KONDISI RIIL YANG TERJADI SAMPAI SAAT INI (2014), PAPUA MASIH
TERBELENGGU DENGAN 6 K :
KEMISKINAN
KETERBELAKANGAN
KETERISOLASIAN
KEBODOHAN
KETIDAKADILAN
KETERTINGGALAN
POTENSI SUMBERDAYA ALAM
SANGAT KAYA DAN KAYA AKAN
KEANEKARAGAMAN HAYATI
FLORA 25.000 JENIS, MAMALIA
164 JENIS, REPTIL/AMFIBI 329
JENIS, BURUNG 650 JENIS, IKAN
AIR TAWAR 250 JENIS, IKAN
LAUT 1200 JENIS, SERANGGA
150 JENIS
PENDUDUKNYA HIDUP MISKIN
DAN DAERAHNYA MASIH
TERTINGGAL

DARI 29 KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI
PAPUA, 27 KABUPATEN TERMASUK DALAM
KRITERIA KABUPATEN TERTINGGAL
Persentase Pekerja Menurut
Lapangan Usaha, 2010
4
KONDISI OBJEKTIF 1:
Struktur ekonomi Papua didominasi oleh sektor
pertambangan, tapi tenaga kerja yang terserap sedikit
Sumber : SP2010
Trend Tingkat Pengangguran
Terbuka Papua.
Tingkat Pendidikan Pekerja
KONDISI OBJEKTIF 3:
Tingkat Pengangguran Terbuka cenderung menurun
tetapi banyak yang bekerja pada sektor informal (a.l pekerja tidak
dibayar) dengan tingkat pendidikan rendah
KONDISI OBJEKTIF 4:
IPM meningkat tetapi masih urutan 33, dan Kinerjanya cenderung
melambat
Perkembangan IPM Papua dan Indonesia,
1999-2011

PERSOALAN
KESENJANGAN
PAPUA DGN
KEMAHALAN
TERTINGGI (6 K)


1
2
3
4
5
MEWUJUDKAN SUASANA AMAN, TENTRAM DAN NYAMAN
TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK, BERSIH DAN BERWIBAWA
SERTA PENGUATAN OTONOMI KHUSUS
KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA PAPUA YANG SEHAT, BERPRESTASI
DAN BERAHLAK MULIA
PENINGKATAN TARAF EKONOMI MASYARAKAT YANG BERBASIS
POTENSI LOKAL
PERCEPATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN KONEKTIVITAS
DAERAH
PAPUA BANGKIT, MANDIRI DAN SEJAHTERA
EFISIENSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
DASAR UNTUK MEMECAHKAN TINGKAT
KEMAHALAN HARGA DAN KESENJANGAN
ANTAR WILAYAH
PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN
LOKAL BERNILAI TAMBAH TINGGI DI 5
KAWASAN ADAT YANG TERINTEGRASI
LANGSUNG DENGAN KEBUTUHAN
INFRASTRUKTUR DASAR DAN
PENGEMBANGAN KAPASITAS SDM MLL
PENGUASAAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR YANG
PALING EFISIENSI UNTUK MEMBUKA PINTU
MASUK KE KAWASAN PEGUNUNGAN TENGAH
(ENAROTALI DAN SUMOHAI) DIMULAI DARI
TIMIKA
PEMBANGUNAN JARINGAN MODA
TRANSPORTASI KERETA API MERUPAKAN
MODA TRANSPORTASI YANG PALING TEPAT
DAN SANGAT EFISIEN DGN KONDISI LUAS
WILAYAH DI PROVINSI PAPUA



PETA SUPPLY BARANG UNTUK
SOLUSI KEMAHALAN HARGA DI
KAWASAN PEGUNUNGAN
TENGAH MODA KERETA API
PERCEPATAN PEMBANGUNAN KAWASAN
BERBASIS SKALA COMMUNITY/MASYARAKAT
YANG DIFOKUSKAN KABUPATEN/DISTRIK/
KAMPUNG TERTINGGAL MELALUI KEBIJAKAN
KEMENTERIAN DAERAH TERTINGGAL
PERCEPATAN PEMBANGUNAN KAWASAN
BERBASIS KOMODITAS UNGGULAN INVESTASI
SKALA BESAR MELALUI PENDEKATAN MP3EI
(MENKO PEREKONOMIAN)

1. MENGEMBANGKAN KOMODITAS UNGGULAN RAKYAT SESUAI POTENSI
LOKAL DI KABUPATEN/DISTRIK/KAMPUNG TRTM PADA KAW TERTINGGAL
2. PENGEMBANGAN NILAI TAMBAH TINGGI DAN PRODUK DERIVATIF
MELALUI POLA HOME INDUSTRI;
3. PENGEMBANGAN KAPASITAS SDM MELALUI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI
TEPAT GUNA YANG MENGHASILKAN NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING
TERHADAP PRODUK UNGGULAN;
4. PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR DASAR DAN PENDUKUNG;
5. PENDAMPINGAN, KEBERPIHAKAN DAN PENGECUALIAN BAGI MASYARAKAT
6. PENYIAPAN DANA MODAL KERJA/JAMINAN KREDIT DAN DANA
TALANGAN PEMBELIAN HASIL OLEH PEMERINTAH ATAU POLA BAPAK
ANGKAT BUMD/BUMN


PENGEMBANGAN SISTEM TANAM, PETIK, OLAH, DAN JUAL
KEMENTAN
KEMEN KP
KEMENHUT

KEMENNEG
PDT (KOORD)
KEMEN UKM-KOP
KEMEN-INDUSTRI PEM PROV DAN KAB
PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS
KOMODITAS WILAYAH ADAT
(DEVELOPMENT BASED COMMODITY CULTUR
AREA)
Potensi
lahan padi
48,3 ribu
Ha (2011)
Kawasan Komoditas Unggulan
Merauke Kawasan MIFEE (PADI 28.000 ha);
PERIKANAN (140.000 ton),
Minyak Kayu Putih, KELAPA,
Peternakan Sapi (32.435 ekor)
Boven Digul KARET (1.318 Ha)
Asmat PERIKANAN (5.899 ton), SAGU
Mappi KARET (2.997 Ha)
Mimika KEPITING, SAGU, PERIKANAN
LUAS KESESUAIAN LAHAN
KARET : 2.225.781 HA DAN
PALAGUNG 1,2 JT HA
Danau
Tigi
(Deyai)
Puncak Evert
(Puncak)
Kawasan Komoditas Unggulan
Puncak Jaya BUAH MERAH, KOPI (334 Ha), KARET (334
Ha)
Dogiyai KOPI, UBI JALAR
Nabire JERUK, TERNAK BABI
Intan Jaya GAHARU, UBI JALAR
Paniai KOPI(1.245 HA), UBI JALAR
LUAS KESESUAIAN LAHAN
KOPI : 488.610 HA
Kawasan Komoditas Unggulan
Keerom KELAPA SAWIT, KAKAO
Jayapura
(Kab/Kota)
KAKAO(13.342), DAN
PARIWISATA
Sarmi KELAPA DALAM (361 Ha)
Mamberamo
Raya
SAGU (60.000 HA), PISANG
LUAS KESESUAIAN LAHAN
KAKAO : 4.814.572 HA
Kawasan Komoditas Unggulan
Peg. Bintang KOPI (434 Ha), UBI JALAR(13,332 HA)
Jayawijaya KOPI 2.825 Ha), UBI JALAR (138.754), BUAH
MERAH, TERNAK BABI
Lanny Jaya BUAH MERAH, KOPI (1.070 Ha), SARANG
SEMUT
Yahukimo KOPI (581 HA), UBI JALAR(81,891
HA00000), BUAH MERAH
Tolikara KOPI (246 Ha), BUAH MERAH
Yalimo GAHARU, BUAH MERAH
Nduga KOPI (306 HA), BUAH MERAH
BUAH MERAH
Kawasan Komoditas Unggulan
Biak Numfor Kelapa Dalam (3.623 ha), Perikanan
laut, rumput laut
Kep. Yapen Coklat (1.971 ha), Perikanan (6.618
ton), rumput laut
Waropen Kelapa dalam (4.766 Ha), SAGU
Supiori Perikanan (4.667 ton), Rumput Laut
KESESUAIAN LAHAN KAKAO :
4.814.572 HA
Strategi Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal

Pilar pertama, meningkatkan kemandirian masyarakat dan daerah tertinggal,
dilakukan melalui kebijakan: (1) pengembangan ekonomi lokal, (2) pemberdayaan
masyarakat, (3) penyediaan prasarana dan sarana lokal/perdesaan, dan (4)
peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah, dunia usaha, dan
masyarakat;
Pilar kedua, mengoptimalkan pemanfaatan potensi wilayah, dilakukan melalui
kebijakan: (1) penyediaan informasi potensi wilayah, (2) pemanfatan teknologi tepat
guna, (3) peningkatan investasi dan kegiatan produksi, (4) pemberdayaan dunia
usaha dan UMKM, dan (5) pengembangan kawasan produksi/perdesaan;
Pilar ketiga, memperkuat integrasi ekonomi antara daerah tertinggal dan
maju, dilakukan melalui kebijakan: (1) pengembangan jaringan ekonomi antar wilayah,
(2) pengembangan jaringan prasarana antar wilayah, dan (3) pengembangan pusat-
pusat pertumbuhan ekonomi daerah.
Pilar keempat, meningkatkan penanganan pengembangan daerah khusus yang
memiliki karakteristik keterisolasian , dilakukan melalui kebijakan : (1)
pembukaan keterisolasian daerah (pedalaman, pesisir, dan pulau kecil terpencil), (2)
penanganan komunitas adat terasing, dan (3) pembangunan daerah perbatasan dan
pulau-pulau kecil terluar.
SALAH SATU SAMPEL PROSPEK
PENGEMBANGAN KOMODITAS WILAYAH
ADAT (BUAH MERAH)
Desain Konseptual Pengembangan Buah
Merah
BPPP 16 April 2014 26
Perkebunan
Buah merah
Lebah Trigona sp.
Propolis
Madu
Pollen
Kuantitas dan
kualitas produk
Fruit set maksimal = 80% (peningkatan rata-rata 30%)
Peningkatan kualitas kandungan senyawa pada buah

Potensi Tingkat Produksi : 50 -200
kotak pemeliharaan lebah per ha.
Untuk tingkat produksi : 50 kotak / ha :
30 kg propolis mentah/bulan
@ Rp 300.000 per kg Rp 9.000.000
30 kg propolis setara dgn 5-10 liter
ekstrak 50% , harga ekstrak 50%
Rp 2.5 juta/liter Rp 12.500.000 Rp
25.000.000/ ha/ bulan
50 liter / bulan @Rp 250.000 per liter
Rp 12.500.000/ ha/ bulan
30 kg / 3 bulan @Rp 60.000 per kg
Rp 1.800.000/ ha/ 3bulan
Keuntungan yang diperoleh produksi tahun pertama :
(Rp 8,478,000,000,-) (Rp 3,539,600,000,-) =
(Rp 4,938,400,000,-)
APA BILA KITA MENGEMBANGKAN = 100.000 Ha, MAKA :
- 100.000 Ha x Rp 4.938,400,000,= Rp 49,384,000,000,000,-
- DALAM 1 TAHUN BUAH MERAH PANEN 2 KALI MAKA :
* Rp 49,384,000,000,000,- X 2 = Rp 98.768.000.000.000,-
- JIKA SETIAP Ha DIKERJAKAN OLEH 4 TENAGA KERJA, MAKA
- JUMLAH TENAGA KERJA DALAM 10.000 Ha = 400.000 JIWA, MAKA :
- PENDAPATAN MEREKA DALAM 1 TAHUN :
* Rp 98.768.000.000.000,-/400.000/12 bln = Rp 20.576.667,-/ORG/BLN

DATA ORANG ASLI PAPUA YANG BEKERJA DI PERTANIAN = 89% DARI JUMLAH
TENAGA KERJA SAP (1.337.064 JIWA), MAKA DARI PENGEMBANGAN BUAH
MERAH DAPAT MENYERAP 400.000 ORANG ATAU 33,64%

SINKRONISASI PENGEMBANGAN
KOMODITAS LOKAL DENGAN KEBIJAKAN
PEMERINTAH PUSAT
STRUKTUR ORGANISASI
TIM KOORDINASI NASIONAL
Ketua : Deputi BKPM
Sekretaris : Deputi Meneg UKM-Kop
Anggota : Unsur Terkait

TIM FASILITASI PROPINSI
Ketua : Badan Penanaman Modal Provinsi
Sekretaris : Dinas UKM/Koperasi
Anggota : Unsur Terkait.
PELAKSANA
PROYEK
KABUPATEN
TENAGA
PENDAMPING
KKMB/BDS

KELOMPOK
USAHA
KAB
KEC/DESA
PROP
PUSAT
TIM PELAKSANA KABUPATEN
Ketua : Badan Penanaman Modal
Kabupaten.
Sekretaris : Dinas UKM/Koperasi
Anggota : Unsur Terkait.
KELOMPOK
USAHA
KELOMPOK
USAHA
Bank
Kawasan Produksi
LKM
TIM
Manajemen
Pengembangan
Ekonomi Lokal
(PEL)
Pengaturan:
Iklim investasi
Insentif perpajakan
Lokasi usaha
Stabilitas harga
Penyiapan lahan
Pemanfaatan SDA
Pembinaan:
Promosi & fasilitasi investasi
Dunia usaha & UKM
Produktivitas SDM
Inovasi produksi & teknologi
Kualitas produk
Distribusi & pemasaran
Kewirausahaan
Jaringan usaha ekonomi
Kemitraan usaha

Pelayanan:
Penyediaan permodalan
Penanaman modal
Perijinan usaha
Tempat usaha/penyiapan lahan
Input produksi
Akses pemasaraan
Pendampingan usaha
Penyediaan prasarana
& sarana

KONSEP PENGEMBANGAN INVESTASI RAKYAT

(a) Pengembangan investasi berbasis rakyat yang diusulkan oleh
kelompok usaha masyarakat setempat (lokal) dengan skala usaha
yang cukup besar;
(b) Pemerintah Daerah menyediakan tenaga pelayanan pengembangan
usaha (BDS) untuk menyiapkan rencana investasi yang
mempertimbangkan: (i) pemilihan produk atau komoditi yang
memiliki peluang atau permintaan pasar (domestik dan ekspor) yang
besar, (ii) penggunaan teknologi produksi yang tepat guna, (iii)
memiliki perjanjian dengan perusahaan penerima produk (off taker),
(iv) merupakan bagian dari industri kluster.
(c) Pemerintah Daerah mengadakan kerjasama dengan perbankan untuk
memberikan fasilitas kredit usaha rakyat atau kredit umum, serta
meminta bantuan konsultan keuangan mitra bank (KKMB) untuk
mengurus permintaan kredit dan persetujuan kredit .
(d) Kelompok usaha masyarakat menunjuk manager usaha setelah
melakukan uji kompetensi dan memberikan sebagian saham sebagai
insentif.

PRASYARAT SUKSES

1. Adanya peran pemerintah daerah
2. Adanya kesiapan dunia usaha dan kelompok usaha
3. Adanya kepastian pemasaran produk
4. Adanya lahan usaha
5. Adanya dana investasi
6. Adanya sistem manajemen produksi, pengolahan, dan
pemasaran
7. Adanya tenaga konsultan pendamping

Investasi Rakyat
Kawasan Produksi
DELIVARY POHON INDUSTRI DARI
PENGEMBAGAN KOMODITAS WILAYAH
ADAT
Pohon Industri Pengolahan Ikan
Pohon Industri Pengolahan Kelapa
1) Sistem Integrasi Tanaman-Ternak Bebas Limbah (SITT-
BL)/Zero Waste;
2) Pengembangan Mekanisasi Pertanian dari Hulu-Hilir;
3) Berorientasi Nilai Tambah/Value Added (Agro Industri untuk
pengembangan derivatif komoditas unggulan tersebut)
4) Pendekatan pengembangan wilayah terintegrasi dengan
infrastruktur pendukung (Jalan, Jembatan, Irigasi,
Pelabuhan/bandara, Pemukiman, Telekomunikasi, Listrik,
Depo BBM, Sekolah SMK/Diploma, Rumah Sakit, RPH,
Terminal Agribisnis serta Infrastruktur Dasar Pertanian).
5) Infrastruktur dasar dan pembuatan model demplot sebagai
show windows dibiayai oleh APBN/D. Selanjutnya
dikembangkan melalui investasi swasta (BUMN/D, Investor
Swasta Nasional/Lokal).
Identifikasi Potensi Komoditas Unggulan masing-masing Kawasan
Wilayah Pembangunan berdasarkan adat;
Penyusunan Master Plan/Grand Design, DED, Rencana Aksi dan
Pembiayaan Pengembangan Kawasan;
Pembentukan Team Sosialisi dan Implementasi Kegiatan
Pengembangan Kawasan di Tingkat Pusat dan Provinsi;
Pembentukan Badan Pengelola di Masing-Masing Kawasan
Pengembangan;
Koordinasi dan Sosialisasi Konsep kepada Pemerintah dan
Masyarakat/Publik di Masing-Masing Kawasan;
Penetapan Master Plan/Grand Design sebagai Produk Hukum Daerah
(Perdasi)
Sosialisasi Perdasi kepada pemerintah kabupaten dan masyarakat;
Pembuatan pilot project/Sistem Model untuk dijadikan show
windows di masing-masing Kawasan;
Replikasi Sistem Model dan Pembagian tugas/tanggungjawab
antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota,
serta Pemerintah Pusat dan Swasta/Investor;
Mobilisasi Sumberdaya untuk mewujudkan Master Plan
Kawasan Pengembangan;
Pembangunan Lembaga Riset dan Pengembangan IPTEK
(Pembiayaan utk 2% dari Nilai PDRB);
Pembangunan Lembaga Standarisasi dan Laboratorium
Kendali Mutu
Monitoring dan Evaluasi Tahunan dan Lima Tahunan
Pelaporan;




Input Kegiatan (selama 5 tahun) untuk menarik kredit usaha rakyat
atau kredit umum (investasi):
1. Fasilitasi dalam penyiapan lahan, pengembangan
kawasan produksi, dan pengembangan investasi rakyat;
2. Fasiitasi peningkatan peran dunia usaha untuk melakukan
kerjasama investasi atau perbankan dalam menyediakan
kredit usaha rakyat (KUR) atau kredit umum (KU);
3. Fasilitasi penyediaan dana jaminan kredit usaha rakyat (KUR)
dan kredit umum (KU).
4. Penyediaan bantuan manajemen:
(i) penyiapan rencana bisnis/investasi,
(ii) penyiapan lahan dan kelompok usaha,
(iii) pelayanan pengembangan usaha (BDS),
(iv) pelayanan keuangan mitra bank (KKMB),
(v) pengelolaan kawasan produksi.

INPUT KEGIATAN
SEA FOOD CLUSTER INDUSTRY
Cold Storage
Containerized
Blok Ice Plant
Water Treatment Plant
Sewage Treatment
Plant
Sewage
Cluster Industry for Seafood Product
Export
Fresh
Processed
Value Added
Finish Product
Healthy & Affordable
Electricity Power Plant
E
l
e
c
t
r
i
c
i
t
y

Domestic
Coconut shell/
Wood chip
INDRA 2 - Collector
Floating Port
Biogas
DUKUNGAN INFRASTRUKTUR DALAM
PENGEMBANGAN KOMODITAS
UNGGULAN
Belum
Terkoneksi
Pembangunan
Jaringan Rel Kereta
Api Lintas Selatan ke
Pegunungan Tengah
& Lintas Utara
KEBUTUHAN PEMBIYAAN INFRASTRUKTUR
Sumber: Analisis ITB
No. Sektor Kebutuhan Investasi (Rp. Milyar)
1 Transportasi 46.520,63
2 Air Bersih 24.455,09
3 Energi 5.729,07
4 Telekomunikasi 1.753,38
Total Investasi 78.458,17
Kebutuhan investasi infrastruktur di Provinsi Papua Tahun 2010-
2025 kurang lebih sebesar Rp. 78,5 triliun atau kurang lebih
sebesar Rp. 5,5 Triliun per tahun.
WIL. ADAT MAMTA : KABUPATEN JAYAPURA DGN
KOMODITAS UNGGULAN KAKAO
WIL. ADAT SAERERI : KABUPATEN BIAK DGN
KOMODITAS ANDALAN RUMPUT
LAUT/PERIKANAN BUDIDAYA
WIL. ADAT MEEPAGO : MIMIKA DGN KOMODITAS
UNGGULAN KEPITING DAN SAGU
WIL. ADAT LAPAGO : MAMBERAMO TENGAH DGN
KOMODITAS UNGGULAN BUAH MERAH\
WIL. ADAT ANIM HA : MERAUKE DENGAN
KOMODITAS UNGGULAN MINYAK KAYU PUTIH
DAN KELAPA DALAM
PETERNAKAN BABI DI KAW. PEG. TENGAH
PENINGKATAN MODAL UMKM
PENINGKATAN INDUSTRI SAGU RAKYAT
PEMBANGUNAN PABRIK SEMEN DI TIMIKA
PENYEDIAAN SUMBER ENERGI PLTMH DAN
PLTS
PENYEDIAAN PLTU JAYAPURA DAN TIMIKA
PENDIRIAN SEKOLAH PENDIDIKA KEGURUAN

PEMBANGUNAN JALAN TRANS PAPUA (Rp 50
TRILYUN)
PENINGKATAN JALAN KUMBE-OKABA-NAKIAS
(152 KM) NILAI Rp 760 MILYARD
PENINGKATAN JALAN TIMIKA-NABIRE (407,7
KM BERNILAI 631 MILYARD;
PELABUHAN SERUI 567 MILYARD;
PENINGKATAN JALAN MERAUKE-MUTING (204
KM) NILAI Rp 388 MILAYARD
PEMBANGUNAN PELABUHAN SAMUDERA
PERIKANAN DI MERAUKE Rp 300 MILYARD

PEMBANGUNAN JALAN OKABA-WAMBI NILAI
285 MILYARD;
PEMBANGUNAN JARINGAN TRANSMISI LISTRIK
DI PAPUA NILAI 238 MILYARD;
PELABUHAN BADE NILAI 237 MILYARD
PEMBANGUNAN PELABUHAN DI DEPAPRE NILAI
200 MILYARD
OPTIMALISASI DAN EKSTENSIFIKASI LAHAN
PERTANIAN BERNILAI 186 MILYARD
PEBUHAN SARMI NILAI 169 MILYARD;
PENGADAAN PERALATAN ALSINTAN NILAI 161
MILYARD
PELABUHAN NABIRE NILAI 160 MILYARD;
PELABUHAN AGATS NILAI 159 MILYARD
PENINGKATAN JALAN HABEMA-YAGURU (110
KM) NILAI 106 MILYARD;
PEMBANGUNAN DERMAGA CARGO DI
MERAUKE NILAI 100 MILYARD
PEMBANGUNAN INDUSTRI PENGOLAHAN
PUPUK DAN BIOGAS NILAI 75 MILYAR

PEMBANGUNAN SEKTOR PENDUKUNG
PENDIDIKAN NILAI 72 MILYARD
PENYEDIAAN MODAL PEMBERDAYAAN DAN
PENGEMBANGAN INVESTASI RAKYAT NILAI 69
MILYARD;
PENGEMBANGAN VILLAGE BREEDING CENTER
NILAI 60 MILYARD;
PEMBANGUNAN SPAM DAN IPA DI TIMIKA NILAI
80 MILYARD
PEMBANGUNAN TERMINAL AGRIBISNIS DAN
PELABUHAN EKSPOR DI SERAPUH DAN WOGIKEL
NIILAI 33 MILYARD
PENGADAAN RANGKA JEMBATAN KALI KOLOY,
KALI HEWA, DAN RAWA INGGUN NILAI 30
MILYARD;
PERPANJANGAN BANDARA MOPAH MERAUKE
NILAI 25 MILYARD;
PEMBANGUNAN SPAM DAN IPA KOTA NABIRE
NILAI 3 MILYARD;
PEMBANGUNAN FASILITAS PELABUHAN
POUMAKO NILAI 250 MILYARD

PEMBANGUNAN YANG DILAKUKAN SELAMA 50 TAHUN DI PROVINSI
PAPUA MENIMBULKAN DAMPAK KESENJANGAN ANTAR WILAYAH
DAN TINGKAT KEMISKINAN MASIH TINGGI (31%);
POTENSI SDA PAPUA YANG TELAH DIEKSPLOITASI TERNYATA BELUM
MEMBERIKAN KONTRIBUSI LANGSUNG BAGI PENURUNAN
KEMISKINAN ORANG ASLI PAPUA SECARA SIGNIFICAN;
PERLU ADANYA PERUBAHAN STRATEGI DAN KEBIJAKAN DALAM
MEMBANGUN TANAH PAPUA MELALUI PENGEMBANGAN NILAI
TAMBAH KOMODITAS UNGGULAN LOKAL YANG TELAH MENGAKAR
PADA MASYARAKAT DAN PENDEKATAN INTEGRASI DGN
PEMBANGUNAN INFRASTRUTUR DAN PENGEMBANGAN KAPASITAS
SDM
PEMERINTAH PERLU KONSISTENSI DALAM IMPLEMENTASI
PEMBIAYAAN TERHADAP KONSEP PERENCANAAN DAN REGULASI
YANG TELAH DIHASILKAN DALAM RANGKA PERCEPATAN
PEMBANGUNAN PAPUA
PERLU ADANYA KOLABORASI ANTAR STAKEHOLDERS PUSAT DAN
DAERAH DALAM MENDORONG PEMBANGUNAN DI PROVINSI PAPUA




60