Anda di halaman 1dari 31

PRESENTASI

KASUS
ONIKOMIKOSIS
LUKLUK PURBANINGRUM
20070310087

KASUS

IDENTITAS
PASIEN

Nama: An. Anggun Verawati


Usia

: 4 tahun

Jenis kelamin : Perempuan


Alamat : Bulu ds. Dadap Ayam, kec.
Suruh, dt Semarang
No. CM : 12-13-231828
Tanggal periksa : 12 November 2012

ANAMNESA (aloanamnesis)
Keluhan Utama : Kuku tumbuh tidak rapi
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang bersama ibunya ke poli kulit dan kelamin RSUD salatiga dengan
keluhan kuku tumbuh tidak rapi dan berwarna kusam kehitaman pada kuku jari
tangan dan jari kaki sejak kecil. Kuku yang kusam dan hitam berada pada kuku
ibu jari, telunjuk, tengah dan manis tangan kanan, kuku ibu jari dan telunjuk
tangan kiri, ibu jari kaki kanan, ibu jari dan jari manis kaki kiri. Kuku terasa tebal
dan susah untuk dipotong. Ibu pasien mengaku pasien mengeluh gatal. Pasien
sudah pernah pengobatan di puskesmas akan tetapi belum mendapat
perbaikan.
Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat alergi disangkal
Riwayat penyakit keluarga : Riwayat serupa dengan pasien disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
Kesan umum :
Sadar, composmentis, kuku terlihat
kusam dan tidak rapi
Predileksi :
Manus Dx : kuku digiti I,II,III,IV
Manus Sn : kuku digiti I dan II
Pedis Dx

: kuku digiti I

Pedis Sn

: kuku digiti I dan V

UKK
kuku menjadi rusak dan rapuh serta suram warnannya, permukaan
kuku menebal, dibawah kuku tampak detritus yang mengandung
elemen-elemen jamur. Kuku yang rusak dimulai dari distal.

DIFERENTIAL DIAGNOSIS
Onikomikosis subunguan distal
Pada onikomikosis yang disebabkan dermatofita, yakni tinea unguium, gambaran
tersering adalah distrofi dan debris pada kuku subungual distal
kandida sering didahului oleh paronikia atau peradangan jaringan sekeliling kuku
yang kronik akibat pekerjaan basah atau iritasi kronik

Psoriasis kuku
nail pitting
tanda onikolisis berupa tetesan minyak
warna coklat kemerahan yang tidak ada pada onikomikosis
keterlibatan jari pada kedua tangan Dapat membedakannya dari onikomikosis.

Liken planus
area lunula lebih terangkat dibandingkan bagian distal.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada kasus ini belum dilakukan,


disarankan
untuk
dilakukan
pemeriksaan kerokan kuku dengan
KOH 40 % untuk mempermudah lisis
keratin
sehingga
bisa
diketahui
penyebabnya. Zat pewarna tambahan
misalnya tinta Parker blue-black atau
pewarnaan PAS akan mempermudah
visualisasi jamur. Dapat pula dilakukan
biakan untuk menemukan elemen
jamur dengan media agar Sabouraud.

DIAGNOSIS

Onikomikosis

TERAPI (POLI)
Formyco tablet (2 x tablet) siang
dan malam
Castellamins paint (2 kali / hari)

TINJAUAN
PUSTAKA

ANATOMI
Kuku adalah bagian terminal lapisan tanduk yang menebal
Bagian kuku terdiri dari :

Matriks kuku : merupakan pembentuk jaringan kuku yang baru

Dinding kuku (Nail Wall) : merupakan lipatan-lipatan kulit yang


menutupi bagian pinggir dan atas

Dasar kuku (Nail Bed) : merupakan bagian kulit yang ditutupi


kuku

Alur kuku (Nail Grove) : merupakan celah antar dinding dan


dasar kuku

Akar kuku (Nail Root) : merupakan bagian proksimal kuku

Lempeng kuku (Nail Plate) : merupakan bagian tengah kuku


yang dikelilingi dinding kuku

Lunula : merupakan bagian lempeng kuku yang berwarna putih


didekat akar kuku berbentuk bulan sabit, sering tertutup oleh
kulit

Eponikium (Kutikula) : merupakan dinding kuku bagian


proksimal, kulit arinya menutupi bagian permukaan lempeng
kuku

Hiponikium : merupakan dasar kuku, kulit ari dibawahnya yang


bebas (Free edge) menebal.

DEFINISI

Onikomikosis adalah infeksi jamur pada lempeng kuku, yang dapat disebabkan oleh
dermatofita, kandida, dan jamur lain.

EPIDEMIOLOGI

Insiden onikomikosis telah dilaporkan 2-13% di multicenter North America. Sebuah


survei di Kanada menunjukkan prevalensi 6,5% onikomikosis.
Onikomikosis mempengaruhi setengah dari semua gangguan kuku, dan onikomikosis
adalah penyakit kuku yang paling umum pada orang dewasa.
Insiden onikomikosis semakin meningkat, karena faktor-faktor seperti diabetes,
imunosupresi, dan peningkatan umur
Penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa adalah 30 kali lebih mungkin untuk
memiliki onikomikosis daripada anak-anak.

ETIOLOGI

Dermatophita
Dermatofita adalah jamur yang paling sering menyebabkan onikomikosis di negara

negara barat beriklim.


Dermatofita terbagi dalam 3 genus, yaitu Microsporon, Epidermophyton dan
Trichophyton.
Trichophyton rubrum menyebabkan sekitar 70% kasus dan Trichophyton
mentagrophytes 20% dari semua kasus
Non dermatophita
Fusarium spesies, Scopulariopsis brevicaulis, Aspergillus spesies) menjadi lebih
umum di seluruh dunia, jumlahnya hingga 15% dari kasus di beberapa negara.
Candida
Onikomikosis akibat Candida jarang
Moulds
aspergillus

JENIS ONIKOMIKOSIS

ONIKOMIKOSIS SUBUNGUAL DISTAL (OSD)


bentuk yang paling umum dari tinea
unguium, biasanya disebabkan oleh
Trichophyton rubrum.
Jamur menyerang dasar kuku di bawah
lempeng kuku melalui hiponikium dan
bergerak ke arah proksimal.
menunjukkan hiperkeratosis subungual dan
onikolisis, yang biasanya berwarna kuningputih.

Onikomikosis superfisial putih (OSPT)/


Leukonikia Trikofita
Disebabkan oleh invasi jamur ke lapisan
superfisial lempeng kuku yang membentuk
"pulau-pulau putih" di lempeng.
Terjadi bila jamur menginvasi langsung lapisan
superfisial lempeng kuku.
Kuku menjadi kasar dan runtuh dengan mudah.
Jumlahnya hanya 10 % dari kasus onikomikosis.
Penyebab tersering adalah T. mentagrophytes.

Onikomikosis subungual proksimal (OSP)


Infeksi dimulai dari lipatan kuku proksimal
melalui kutikula dan masuk ke kuku yang
baru terbentuk, selanjutnya bergerak ke
arah distal.
Muncul daerah leukonikia di lempeng kuku
proksimal yang bergerak distal dengan
pertumbuhan kuku.
Ini adalah bentuk umum tinea unguium
pada orang sehat tapi ditemukan lebih
banyak pada pasien immunocompromised.

Onikomikosis kandida (OK)


Dapat terjadi pada pasien
immunocompromised, dan pada orang
dengan kandidiasis mukokutan kronis.

PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Penyebab pasti ditentukan dengan dengan pemeriksaan
kerokan kuku dengan KOH 40 % untuk mempermudah lisis
keratin. Positif jika ditemukan spora, hifa ataupun miselium.
Zat pewarna tambahan misalnya tinta Parker blue-black atau
pewarnaan PAS akan mempermudah visualisasi jamur.
Dapat pula dilakukan biakan untuk menemukan elemen jamur
dengan media agar Sabouraud.

Diferential Diagnosis
distrofi
ONIKOMIKOSIS

PENATALAKSANAAN
TERAPI TOPIKAL
krim dan solusio sulit untuk penetrasi ke dalam kuku, sehingga tidak efektif untuk
pengobatan onikomikosis. Obat topikal formulasi khusus dapat meningkatkan penetrasi
obat ke dalam kuku, yaitu :
Bifonazol-urea :
kombinasi derivat azol, yaitu bifonazol 1 % dengan urea 40 % dalam bentuk salep.
Urea untuk melisiskan kuku yang rusak sehingga penetrasi obat jamur meningkat.
Namun dapat terjadi iritasi kulit di sekitar kuku oleh karena urea.
Amorolfine :
merupakan derivat morfolin yang bersifat fungisidal. Digunakan dalam bentuk cat
kuku konsentrasi 5 %.
Ciclopiroxolamin 8 %:
suatu derivat piridon dengan spectrum anti jamur luas, juga digunakan dalam
bentuk cat kuku.
salep whitfield
Kompres asam salisilat 5%, asam benzoat 10%, dan resorsinol 5% dalam siritus

Terapi bedah
Terapi Sistemik
Itrakonazol 200 mg/hari selama 3-4
bulan, atau 400 mg per hari selama
seminggu tiap bulan selama 3-4 bulan, baik
untuk penyebab dermatofita maupun
kandida.
Griseofulvin; dosis anak 15-20 mg.kg
BB/hari. Dosis dewasa 500-1000 mg
selama 2-4 minggu

bedah scalpel
Tindakan
bedah
dapat
dipertimbangkan bila kelainan hanya 1-2
kuku, bila ada kontraindikasi terhadap
obat sistemik, dan pada keadaan
pathogen resisten terhadap obat.
kombinasi obat antijamur topical atau
sistemik.
Sebagai
alternative
lain
adalah
pengangkatan (avulsi) kuku dengan
bedah kimia menggunakan formulasi
urea 20-40%.

PROGNOSIS
Meskipun diterapi dengan obat dosis optimal, 1 di antara 5
kasus onikomikosis ternyata tidak memberi respon baik.
Penyebab kegagalan diduga adalah diagnosis yang tidak
akurat, salah identifikasi penyebab, adanya penyakit yang
lain. Pada beberapa kasus, karakteristik kuku tertentu, yaitu
pertumbuhan lambat serta sangat tebal juga merupakan
penyulit, selain faktor predisposisi terutama keadaan
immunocompromised.

Berdasarkan anamnesis keluhan kuku tangan dan kaki


suram dan tumbuh tidak rapi sejak usia masih kecil,
muncul secara tiba-tiba dan berwal dari ujung kuku dan
menyebar kea rah pangkal. Pada pasien ini belum
ditemukan faktor pencetus yang jelas. Riwayat
trauma disangkal, hanya saja pasien sering bermain air.
Tidak didapatkan keluhan yang sama di keluarga.
Onikomikosis jarang terjadi pada anak-anak.
Penyakit ini biasanya menyerang orang dewasa.
Berdasarkan angka kejadiannya orang dewasa lebih
banyak terkena 30 kali lebih sering dari pada anak-anak.

Pada pemeriksaan fisik terlihat kuku rusak dan rapuh serta


suram warnanya, permukaan kuku menebal, dibawah kuku
tampak detritus yang mengandung elemen-elemen jamur.
Kerusakan kuku diawali dari bagian distal. Pada sebagian kuku
ditemukan kerusakan kuku bagian distal dan beberapa diantaranya
juga terdapat keseluruhan kuku yang suram dan menghitam.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien diduga
mengalami onikomikosis subungual distal dimana jenis ini
merupakan jenis tersering dari onikomikosis yang ditandai
hyperkeratosis subungual dan onikolisis, selain warna kuku
kekuningan atau suram, bentuk ini umumnya disebabkan oleh
tricophyton rubrum atau tricophyton mentagrophytes. Jamur
menyerang bantalan kuku dibawah lempeng kuku melalui hiponikium
dan bergerak kearah proksimal.

Untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan


kerokan kuku dengan KOH 40% untuk mempermudah lisis keratin. Positif jika ditemukan
spora, hifa ataupun misellium.
Zat pewarna tambahan misalnya tinta parker blue-black atau pewarnaan PAS akan
mempermudah visualisasi jamur.
Dapat pula dilakukan biakan untuk menemulan elemen jamur dengan media agar sabouraud.

Terapi

Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah formyco 200 mg 2 kali tablet dan
Castellanis paint. Formyco merupakan preparat ketokonazol yang berfungsi
sebagai anti jamur. Sedangkan Castellanis paint atau carbol fuchsin paint
memiliki aktifitas anti jamur dan anti bakterial. Castellanis paint mengandung
fuchsin, boric acid, phenol, resorcinol, acetone, alcohol dan air.

Kandungan dan manfaat


castellanis paint
Fuchsin
sebagai anesthesia local, bactericidal
(gram positif) dan fungisidal. Fuchsin juga
dilaporkan bekerja untuk menstimulasi granulasi
dan epitelisasi.
Boric acid ditujukan sebagai antiseptic.
Phenol
dengan
konsentrasi
rendah
dapat
menghambat akhiran saraf, selain itu juga dapat
sebagai antipruritus.
Resorchinol merupakan komponen yang penting
dari castellanis paint dimana sebagai antipruritus,
keratolitik, antimitotik dan anti aczematous.
Sedangkan acetone sebagai komponen pendingin
dan pembersih.

Edukasi
Edukasi pada pasien harus diberikan baik cara penggunaan
obat
maupun faktor-faktor
yang
sekiranya
dapat
mencetuskan atau menyebabkan keluhan kambuh. Edukasi
pasien pada kasus ini adalah untuk selalu menjaga kebersihan
diri dengan tujuan untuk membatasi kemungkinan kambuh, kuku
harus tetap pendek, tangan harus dikeringkan setelah mandi.
Perlu dijelaskan juga bahwa proses penyembuhan penyakit yang
diderita anaknya membutuhkan waktu yang lama sehingga
orang tua pasien harus tlaten mengikuti petunjuk dokter dengan
meminumkan obat formyco 2 kali tablet per hari dan
mengecat kuku dengan castellanis paint 2 kali sehari.

KESIMPULAN
Pada pasien ini dapat didiagnosis onikomikosis subungual
distal dimana onikomikosis merupakan suatu istilah yang
merujuk pada semua kelompok infeksi jamur yang
mengenai kuku, baik itu merupakan infeksi primer ataupun
infeksi sekunder yang mengenai kuku yang sudah terinfeksi
ataupun mengalami trauma sebelumnya. Onikomikosis
subungual distal merukana salah satu jenis onikomikosis
tersering dimana kerusakan diawali dari bagian distal kuku
menyebar menuju kearah proksimal.
Penatalaksanaan kasus ini adalah menghilangkan faktor
predisposisi yang memudahkan terjadinya penyakit, Terapi
dengan obat anti-jamur yang sesuai dengan penyebab dan
keadaan patologi kuku dan selalu menjaga kebersihan diri
dengan tujuan untuk membatasi kemungkinan kambuh.

DAFTAR PUSTAKA
1. Siregar. 2005. Tinea Unguium (Onikomikosis) dalam
atlas berwarna saripati Penyakit Kulit Ed 2, Hal 2829. EGC. Jakarta
2. Budimulja Unandar. 2005. Mikosis dalamIlmu
Penyakit Kulit dan Kelamin Ed 4, hal 93-94. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta
3. Antonella Tosti. Onychomycosis. eMedicine Journal.
http://emedicine.medscape.com/article/1105828.
4. Manish K. 2003. Castellanis Paint. Indian Journal of
Deramtology, Venereology and Leprology. Diakses
dari
http://www.accessmylibrary.com/article-1G1-1156966
99/castellani-paint-dispensing-pearl.html