Anda di halaman 1dari 6

KULIAH MINGGU KE VIII.

TOPIK : Peraturan (Tata bangun) pada masyarakat lokal.

Tujuan Instruksional Umum (TIU):


Mahasiswa Program Studi Arsitektur semester 6 dapat
menggunakan prinsip-prinsip aturan lokal dalam menyusun
Persyaratan Umum (C3)
Tujuan Instruksional Khusus (TIK):
Mahasiswa dapat memahami peran peraturan masyarakat lokal
dalam mengtur masalah pembangunan karya Arsitektur (C2)

Mahasiwa dapat menerapkan peraturan lokal baik ke dalam


rancangan yang dibuat maupun ke dalam penyusunan
Persyaratan Umum sebagai salah satu acuan pelaksanaan
pembangunan konstruksi dari rancangan tersebut (C3)

ASPEK INFORMAL.
Hampir semua Tata Bangun masyarakat tradisional meripakan Aspek informal juga harus dipertimbangkan
dala membuat Peraturan mengenai Tata Bangun. Aspek ini pada dasarnya meliputi :

KEPERCAYAAN.

Ciri-cirinya adalah : berakar pada kebudayaan, sikap hidup dan


kepercayaan/agama masyarakat setempat; cenderung bersifat
tradisional/turun temurun dan dogmatis; sangsi terhadap
pelanggarannya bersifat magis dan psykologis.
Aspek ini juga harus mendapat perhatian yang serius dalam menyusun
Persyaratan Umum untuk suatu proyek yang berlokasi pada
lingkungan tertentu, kerena jika tidak dipertimbangkan, hal ini justru
dapat menggagalkan suatu proyek (property), karana masyarakat di
sekitar proyek tersebut merasa dilecehkan atau dihina.
Dalam kasus seperti ini Perancang harus membuat suatu aturan yang
disusun dalam suatu Persyaratan Umum, mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan kepercayaan masyarakat di lingkungan proyek yang
akan dibangun. Misalnya dalam prosesi retual pelaksanaan
pembangnan, dan sebagainya.

SAMBUNGAN

SAMBUNGAN
NORMA.

Berakar pada tradisi yang ada mengenai prilaku kehidupan


untuk memcapai ketentraman dan kedamaian bersama dalam
suatu lingkungan. Norma mempunyai arah pencapaian
keseimbangan vertikal dan horizontal, artinya ada tatanan yang
mengatur secara kesepakatan yang tidak tertulis, namun
sangat ditaati oleh masyarakat.
Perancang harus melihat kondisi ini sebagai suatu potensi
untuk melancarkan pembangunan dari karya Arsitektur yang
dirancang, dengan mengadopsinya kedalam butir-butir aturan
dalam Persyaratan Umum. Misalnya, dalam pengaturan
mengenai ketenaga kerjaan, barak pekerja, pemakaian jalan
desa, atau pemakaian fasilitas lain yang ada kaitannya dengan
lingkungan setempat. Bahkan Arsitek dan Pemilik harus rela
untuk mengurangi tinggi bangunannya atau memperjauh jarak
bangunannya, apabila didekat lokasi propertinya terdapat
fasilitas persembahyangan (Pura) atau yang sejenisnya.

SAMBUNGAN

SAMBUNGAN
Adat.

Mungkin hal ini hanya dapat ditemui pada masyarakat Bali atau
masyarakat-masyarakat yang masih tradisional lainnya.
Untuk masyarakat Hindhu Bali, adat mempunyai peran penting
dalam pembangunan suatu property, karena segala sesuatu
yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Hindhu Bali
sudah diatur sedemikian rupa, sehingga pembangunan suatu
property setidaknya harus memperhatikan kaidah-kaidah yang
ada. Bentuk-bentuk Tatanan Arsitektur yang ada jangan sampai
dirusak oleh munculnya karya Arsitek yang tidak menghiraukan
lingkungan. Tatanan adat yang merupakan konsep penataan
lingkungan setempat hendaknya dijadikan pertimbangan bagi
Arsitek dalam mengambil keputusan