Anda di halaman 1dari 42

Kemiskinan, Ketimpangan, dan

Pembangunan

Dilema Pembangunan
hubungan
antara
pertumbuhan
ekonomi
(economic
growth),
ketimpangan
(inequality), dan
kemiskinan
(poverty)

SUMBER-SUMBER KETIMPANGAN
Ketidak merataan dalam:
Kepemilikan kekayaan
Labor Income, karena: kemampuan dan keahlian,
intensitas kerja, bidang pekerjaan, dan faktor
lainnya(lingkungan,gizi buruk, tingkat pendidikan,
dsb).
Property Income, karena: life cycle saving,
kewirausahaan (entrepreneurship), warisan dan lainlain.

Kebijakan Mengurangi Kemiskinan dan


Ketimpangan Pendapatan
a) Mengubah distribusi pendapatan fungsional
melalui kebijakan yang ditujukan untuk mengubah
harga relatif faktor. Hal ini terutama dimaksudkan
untuk mengurangi/ menghilangkan distorsi harga
faktor yang merugikan kelompok miskin.
b) Memperbaiki distribusi pendapatan melalui
redistribusi pemilikan aset secara progresif,
yang antara lain dilakukan melalui land reform,
dan pemberian kredit lunak bagi usaha kecil.

Lanjuta
n
c) Mengurangi bagian pendapatan penduduk
golongan atas (kaya) melalui pajak pendapatan
dan pajak kekayaan yang progresif. Dengan
demikian, peningkatan penerimaan negara hasil pajak
itu akan dapat ditujukan pada perbaikan
kesejahteraan kelompok miskin.

d) Meningkatkan bagian pendapatan penduduk


golongan bawah (melarat) melalui pembayaran
transfer secara langsung serta penyediaan
barang dan jasa publik atas tanggungan
pemerintah. Hal ini antara lain dilakukan melalui
pembebasan/keringanan pajak bagi kelompok miskin,
tunjangan atau subsidi pangan, bantuan pelayanan
kesehatan, bantuan pelayanan umum lainnya.
5

Kemisk
inan

Kemiskinan
Kondisi dimana
seseorang tidak
memiliki cukup
pendapatan,
utamanya untuk
membeli barangbarang kebutuhan
dasar seperti makan,
minum, pakaian,
papan dsb.
Menurut kriteria Bank
Dunia penghasilan
minimal per hari $2.
7

Kondisi Kemiskinan
Selalu menjadi momok bagi perekonomian
dunia, termasuk Indonesia
Dulu hampir semua penduduk Indonesia
hidup miskin (share poverty), sedangkan
sekarang kemiskinan terjadi di tengah
masyarakat modern dan berkelimpahan
(affluent society)

Kemiskinan di Indonesia
Tingkat kemiskinan mutlak menurun
drastis dalam dua dasawarsa sebelum
krisis ekonomi 1997;
Jumlah penduduk miskin pada 1976 mencapai
54,2 juta jiwa (40,1 %),
menurun menjadi 40,6 juta jiwa (26,9 %) pada
tahun 1981,
35 juta jiwa (21,64 %) pada tahun 1984,
27,2 juta jiwa (15,1 %) pada tahun 1990, dan
22,5 juta jiwa (11,3) pada 1996.

Data kemiskinan di
indonesia

Jumlah & persentase


penduduk miskin

The Vicious Circle of Poverty

SIKLUS KEMISKINAN (POVERTY LIFECYC

Indikator Kemiskinan
Terdapat beberapa indikator
kemiskinan yang biasa digunakan,
yaitu indikator:
Kemiskinan
Kemiskinan
Kemiskinan
Kemiskinan

relatif
absolut
kultural, dan
struktural

Kemiskinan Relatif
Seseorang dikatakan berada dalam kelompok
kemiskinan relatif, jika pendapatannya
berada di bawah pendapatan di sekitarnya,
atau dalam kelompok masyarakat tersebut,
ia berada di lapisan paling bawah.
Bisa jadi meskipun pendapatannya cukup
untuk memenuhi kebutuhan pokok, namun
karena dibanding masyarakat di sekitarnya,
pendapatannya dinilai rendah, ia termasuk
miskin.
Amerika Serikat menggunakan indikator
kemiskinan semacam ini.

Kemiskinan Absolut
Dilihat dari kemampuan pendapatan
untuk memenuhi kebutuhan pokok
(sandang,
pangan,
pemukiman,
pendidikan dan kesehatan).
Jika pendapatan seseorang di bawah
pendapatan minimal untuk memenuhi
kebutuhan pokok, maka ia disebut
miskin.
Indonesia
menggunakan
indikator
kemiskinan jenis ini.

Kemiskinan Kultural
Dikaitkan dengan budaya
masyarakat yang
menerima kemiskinan
yang terjadi pada dirinya,
bahkan tidak merespons
usaha-usaha pihak lain
yang membantunya keluar
dari kemiskinan tersebut.

Kemiskinan Struktural
Kemiskinan yang disebabkan struktur
dan sistem ekonomi yang timpang dan
tidak berpihak pada si miskin, sehingga
memunculkan masalah-masalah
struktural ekonomi yang makin
meminggirkan peranan orang miskin.

Beberapa
Pengertian
Kemiskinan

Garis Kemiskinan (Poverty


Line)
Badan Pusat Statistik (BPS) mengukur garis
kemiskinan dengan pendekatan konsumsi
sejalan dengan pendekatan Bank Dunia.
Garis kemiskinan tersebut diukur dari
kemampuan membeli bahan makanan
ekuivalen dengan 2100 kalori per kapita
per hari dan biaya untuk memperoleh
kebutuhan minimal akan barang/jasa,
pakaian, perumahan, kesehatan,
transportasi, dan pendidikan.

Garis Kemiskinan VV.


Bhanoji Rao
Rao menghitung garis kemiskinan
dengan memperhitungkan
kebutuhan kalori per hari minimum
yang diperlukan seseorang untuk
hidup layak sebagai dasar, kemudian
diambah lagi dengan keperluan
untuk kehidupan dasar yang sifatnya
sosial, misalnya untuk pemeliharaan
kesehatan, sekolah, dsb.

Indikator Kemiskinan Prof


Sayoga
Dibedakan antara daerah perkotaan
dan pedesaan.
Garis kemiskinan untuk pedesaan
setara dengan 240 kg beras per
kapita per tahun, sedangkan untuk
perkotaan setara dengan 360 kg
beras per kapita per tahun.
Garis kemiskinan ditetapkan setelah
survei di seluruh Indonesia pada 1973.

Pergeseran Pengertian
Kemiskinan
Pergerseran pengertian kemiskinan
dengan tidak melihat aspek
pendapatan dan konsumsi saja,
tetapi juga melihat masalah
ketergantungan, harga diri,
kontinuitas pendapatan dsb.

Pendapat Lain
Mengartikan kemiskinan dengan melihat
berbagai dimensi:
Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan
konsumsi dasar (sandang, pangan, papan);
Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup
dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi,
air bersih, dan transportasi)
Tidak adanya jaminan masa depan (karena
tidak adanya investasi untuk pendidikan dan
keluarga)
Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat
individual maupun massal.

Lanjutan

Rendahnya kualitas sumber daya manusia


dan keterbatasan sumber daya alam;
Tidak dilibatkan dalam kegiatan sosial
masyarakat;
Tidak adanya akses terhadap lapangan
kerja dan mata pencaharian yang
berkesinambungan;
Ketidakmampuan berusaha karena cacat
fisik maupun mental;
Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan
sosial (anak-anak terlantar, wanita korban
kekerasan rumah tangga, janda miskin,
kelompok marjinal dan terpencil)

Faktor yang menyebabkan terjadinya


kemiskinan secara umum, antara lain:
Mata pencaharian utama di sektor pertanian.
Adanya perekonomian dualistis.
Kurangnya pengolahan sumber daya alam
secara efisien.
Pertumbuhan penduduk yang cepat.
Tingginya angka pengangguran
Kondisi ekonomi yang terbelakang
Tidak adanya inisiatif untuk berusaha
Adanya kelangkaan alat modal
Rendahnya tingkat penguasaan teknologi
Orientasi ekspor barang primer
29

30

Sebab-sebab Struktural
Kemiskinan di Indonesia
Ketidakmampuan mengelola sumber daya
alam secara maksimal;
Kebijakan ekonomi yang tidak
berkomitmen terhadap penanggulangan
kemiskinan dan semata-mata mengejar
pertumbuhan ekonomi (trickle down effect
tidak bekerja)
Kesalahan mendasar dalam asumsi
perekonomian Indonesia adalah pengangguran
dan kemiskinan hanya mungkin diatasi jika
ekonomi tumbuh minimal (misalnya) 6,5 %.

Asusmsi demikian salah, karena:


Yang dapat mengatasi pengangguran dan
kemiskinan adalah pertumbuhan ekonomi yang
melibatkan kegiatan ekonomi rakyat yang
pelakunya adalah masyarakat miskin.
Pengangguran dan kemiskinan adalah dua hal
berbeda. Orang yang menganggur belum tentu
miskin.

Ilustrasi: 1 % pertumbuhan diasumsikan


mampu menampung 200.000-400.000
tenaga kerja baru, maka pertumbuhan 6.5
% hanya mampu mempekerjakan 1,3 juta2,6 juta tenaga kerja dan tidak ada jaminan
bagi penduduk miskin yang mencapai
puluhan juta jiwa.

Dampak ketimpangan dan kemiskinan

Kriminalitas

Konflik
sosial
Pendidika

n
Produktifita
s
Pelayanan
Umum
33

Kebijakan Pemerintah untuk


Menanggulangi Kemiskinan
Masa Kolonial: politik etis balas budi.
Masa Orde Baru: terkait dengan program
pembangunan nasional sejak Repelita I-V.
Program sektoral yang pernah dilaksanakan:
BIMAS, INMAS, dan P4K (Departemen Pertanian),
UPPKS (BKKBN),
KUD dan Koperasi Simpan Pinjam (Departemen
Koperasi),
UED-SP, BKD dan PKK (Departemen Dalam Negeri),
KUBE (Departemen Sosial)
Wajar 9 tahun (Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan) dan
pengembangan Puskesmas (Departemen Kesehatan)

Lanju
tan

Mulai Repelita VI diluncurkan Inpres Desa


Tertinggal (IDT), yang meliputi:

Komponen bantuan langsung sebesar Rp 20


juta/desa sebagai dana bergulir selama 3 tahun;
Bantuan pendampingan pokmas IDT oleh
tenaga pendamping Sarjana Pendamping Purna
Waktu (SP2W);
Bantuan pembangunan sarana/prasarana

Untuk masyarakat miskin di kelurahan


tidak tertinggal diluncurkan program
Takesra/Kukesra.

Lanjutan
Ketika terjadi krisis ekonomi, jumlah penduduk
miskin meningkat tajam karena merupakan
gabungan dari penduduk miskin lama dan penduduk
baru yang bersifat sementara (transient poverty).
Untuk mengatasi masalah ini, dikeluarkan program Jaring
Pengaman Sosial (JPS), yang dibagi dalam empat
kelompok program, yaitu JPS Departemen teknis, JPS
prioritas, JPS sektor-sektor pembangunan dan JPS
monitoring

Kekurangan Program
Tidak ada jenjang program lanjutan
sehingga kelompok yang sukses dalam
tahapan pertama susah
mengembangkan usaha selanjutnya
Terhambatnya laju pertumbuhan
karena sistem pertanggungjawaban
yang saling mengikat
Timing pencairan kredit yang tidak
tepat
Kurangnya integrasi dan koordinasi
program antar instansi

Beberapa Kelemahan dalam Program


Penanggulangan Kemiskinan
1) Masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi
makro daripada pemerataan;
2) Sentralisasi kebijakan daripada desentralisasi;
3) Lebih bersifat karitatif daripada transformatif;
4) Memposisikan masyarakat sebagai objek dan
bukan subjek;
5) Cara pandang tentang penanggulangan
kemiskinan masih berorientasi pada charity
daripada productivity;
6) Asusmsi permasalahan dan solusi kemiskinan
sering dipandang sama daripada pluralistis.

Paradigma Baru Pemberantasan


Kemiskinan di Indonesia
a) Penerbitan undang-undang pemberantasan
kemiskinan sehingga program pengurangan
kemiskinan lebih diprioritaskan oleh
pemerintah dan masyarakat
b) Program pemberantasan harus bersifat
multi-sektor
c) Perencanaan dan pelaksanaan dilakukan
bersama antara masyarakat dan pemerintah
sehingga program sesuai dengan kebutuhan
masyarakat dan potensi aktual masyarakat
dapat lebih tergali.

Lanjutan
d) Masyarakat dijadikan subjek dan
bukan sekedar objek program
e) Pertanggungjawaban program tidak
saja pada pemerintah tetapi juga
pada masyarakat
f) Program yang berkesinambungan
g) Ukuran keberhasilan ditentukan
berdasarkan kemampuan masyarakat
keluar dari belenggu kemiskinan.

Era Pemerintahan sekarang


Program 3 kartu sakti
Pemerataan Ekonomi pembangunan
Distribusi melalui TOL LAUT

End of Session

42