Anda di halaman 1dari 18

Appendiksitis

KELOMPOK V
IBNU RIZKY PRATAMA
MISTIANA
MOHAMAD FAQIH NORHUDA
NOVI SAFITRI
RESTU ANDANI H

DEFINISI  Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermivormis. (Mansjoer. NEXT . Arief. dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan.dkk. 2007).

Apendisitis adalah kondisi dimana infeksi terjadi di umbai cacing. angka kematian cukup tinggi. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan. tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat. . dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur.

ini merupakan penyebab terbanyak.ETIOLOGI Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi yaitu: 1. Adanya faekolit dalam lumen appendiks Adanya benda asing seperti biji-bijian Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya . Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena: Hiperplasia dari folikel limfoid.

Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Tergantung pada bentuk apendiks: Appendik yang terlalu panjang Massa appendiks yang pendek Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks Kelainan katup di pangkal appendiks . Coli dan Streptococcus 3.2.

Apendisitis akut 2. Mukokel Apendiks 6. Apendisitis kronik 4. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis) 3. Tumor Apendiks 7. Apendissitis rekurens 5. Karsinoid Apendiks .KLASIFIKASI 1.

docx .PATHWAY patway.

Nyeri defekasi. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan. 5. mual. Nyeri tekan lepas dijumpai. 3. bila appendiks berada dekat rektal. Nyeri lumbal. 2. bila appendiks melingkar di belakang sekum. 4. Terdapat konstipasi atau diare. 6. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan. muntah dan hilangnya nafsu makan. .Manifestasi Klinik 1.

11. Apabila appendiks sudah ruptur. disertai abdomen terjadi akibat ileus paralitik. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi.LANJUTAN 7. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis 9. nyeri menjadi menyebar. 8. . jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter. Nyeri kemih. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks. 10.

Teraba massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Massa ini mulamula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum .KOMPLIKASI 1.

50C. . Perforasi Merupakan pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. tampak toksik. panas lebih dari 38. baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis. Perforasi.2. dan leukositosis terutamapolymorphonuclear (PMN). tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit. nyeri tekan seluruh perut. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit.

Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik.3. muntah. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. merupakan komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. syok. Peritononitis Merupakan peradangan peritoneum. dan leukositosis. gangguan sirkulasi. . nyeri abdomen. dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat. dan oligouria. usus meregang. demam.

2. 7. 4. 5. 3.Pemeriksaan Penunjang 1. 6. Laboratorium Radiologi Analisa urin Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin Pemeriksaan barium enema Pemeriksaan foto polos abdomen .

serta pemberian antibiotik sistemik . sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit. Pada penderita Apendisitis perforasi. Penanggulangan konservatif Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik.Penatalaksanaan Medis 1. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi.

Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).2. . Operasi Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi.

3. . Pasca appendektomi diperlukan perawatan intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan besar infeksi intra-abdomen. Pencegahan Tersier Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intra-abdomen. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis atau antibiotik. Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraperitonium.

docx .ASUHAN KEPERAWATAN ASUHAN KEPERAWATAN.

THANKS FOR YOUR ATTENTION  .