Anda di halaman 1dari 35

Toksikologi & Logam

Berat
FARMAKOLOGI II

Disusun Oleh :
1.
2.
3.

Ratih Ayu Juliana


(PO.71.39.0.14.028)
Rindy Triana (PO.71.39.0.14.030)
Setiani Febri Astuti (PO.71.39.0.14.032)

Kelompok :4.B
Dosen Pembimbing :
Drs. Sonlimar Mangunsong, Apt,M.Kes.

Your Topic Goes Here


Your subtopics go here

A.Toksikolo
gi

1. Pendahulu
an

Toksikologi merupakan ilmu yang lebih tua dari


Farmakologi. Disiplin ini mempelajari sifat-sifat racun
zat kimia terhadap makhluk hidup dan lingkungan.
Sintesis zat kimia yang diperkirakan berjumlah
1000 per tahun, menyebabkan toksikologi tidak hanya
meliputi sifat-sifat racun, tetapi juga mempelajari
keamanan setiap zat kimia yang dapat masuk ke
dalam tubuh, termasuk di dalamnya adalah obat,
peptisida, polutan lingkungan, toksin alami, serta zat
aditif makanan. Zat-zat kimia itu disebut xenobiotik
(xeno=asing). Setiap zat kimia baru harus diteliti sifatsifat toksiknya sebelum diperbolehkan penggunaannya
secara luas.

Merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk


membedakan antara zat yang toksik dan non toksik.
Setiap zat kimia pada dasarnya bersifat racun dan
setiap keracunan ditentukan oleh dosis dan cara
pemberian. Paracelcus mungkin adalah orang pertama
yang menyadari bahwa toksisitas merupakan hal yang
realtif. Yang tidak bergantung pada sifat toksik suatu
zat. Paracelcus mengatakan, bahwa dosis menentukan
apakah suatu zat kimia adalah racun (dosis sola facit
vevenum). Sekarang dikenal banyak faktor yang
menentukan apakah suatu zat kimia bersifat racun,
namun dosis tetap merupakan faktor utama.

2. Toksikologi
Eksperimental

a) Uji Farmakokinetik
Karakteristik absorpsi penting untuk
diketahui; zat kimia dengan sifat
koefisien partisi yang tinggi serta derajat
ionisasi yang rendah akan mudah
diserap melalui dinding sel. Sebaliknya
alkaloid dan gugus molekul yang
berionisasi baik akan sukar diabsorpsi.
Banyak
sekali
faktor
yang
mempengaruhi absorpsi ini, sehingga
akan
mempengaruhi
dosis
dan
toksisitasnya.
Setelah diabsorpsi semua zat akan

Setiap obat akan dianggap oleh


tubuh sebagai suatu bahan asing,
sehingga tubuh merombaknya menjadi
bentuk yang dapat diekskresi (lebih
larut dalam air, lebih polar). Metabolit
yang terbentuk, biasanya tidak aktif lagi
dan toksisitas biasanya berkurang,
walaupun kadang-kadang dapat terjadi
sebaliknya, sehingga mungkin metabolit
lebih toksik misalnya; prontosil menjadi
sulfa, fenasetin menjadi parasetamol
dan paratoin menjadi paraokson.

Alat ekskresi terpenting ialah hati


dan ginjal. Ekskresi obat dapat terjadi
dalam bentuk asalnya maupun
bentuk
metabolit.
Pengetahuan
mengenai
ini
penting
dalam
toksikologi karena pada keracunan,
usaha untuk meningkatkan diuresis
hanya dapat bermanfaat bila obat
yang
bersangkutan
dikeluarkan
melalui urin dalam bentuk aktif dan
bukan
dalam
bentuk
metabolit

b) Uji Farmakodinamik
Sebelum suatu obat dapat digunakan untuk
indikasi tertentu, harus diketahui dahulu efek apa
yang terjadi terhadap semua organ dalam tubuh yang
sehat.
Jarang terdapat suatu obat yang hanya memiliki
satu jenis efek; hampir semua obat mempunyai efek
tambahan dan mampu mempengaruhi fungsi berbagai
macam alat dalam tubuh. Efek yang menonjol,
biasanya merupakan pegangan dalam menentukan
penggunaannya,
sedangkan
perubahan
lain
merupakan efek samping yang bahkan dapat bersifat
toksik. Seringkali sifat toksik suatu obat merupakan
lanjutan dari efek farmakodinamik atau efek
terapinya.

c) Uji Toksikologi
Sebelum percobaan toksikologi dilakukan
sebaiknya telah ada data mengenai identifikasi,
sifat obat dan rencana penggunaannya. Beberapa
segi percobaan yang dapat dilakukan adalah
sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Hewan Coba
Toksisitas Akut
Toksisitas Jangka Lama
Mekanisme Terjadinya Toksisitas Obat

Hewan Coba. Respon percobaan hewan coba


terhadap uji toksisitas sangat berbeda, tetapi hewan
coba yang lazim digunakan ialah salah satu strain tikus
putih. Kadang-kadang digunakan mencit dan satu dua
spesies yang lebih besar seperti anjing, babi atau kera.
Tikus putih yang digunakan biasanya yang
berumur 2-3 bulan dengan berat badan 180-200 gram.
Tikus ini harus diaklimatisasi dalam laboratorium dan
harus semuanya sehat. Untuk ini ada yang
menggunakan Specific Pathogen Free (SPF) atau
Caesarean Orginated Barrier Sustained Animals
(COBS) sehingga terjamin kesehatannya.

Toksisitas Akut. Percobaan ini meliputi Single Dose


Experiments yang divaluasi 3-14 hari sesudahnya,
tergantung dari gejala yang ditimbulkan. Batas dosis
harus dipilih sedemikian rupa sehingga dapat
memperoleh suatu kurva dosis respons yang dapat
berwujud respons bertahap (misalnya mengukur
lamanya waktu tidur) atau suatu respons kuantal
(misalnya mati). Biasanya digunakan 4-6 kelompok
terdiri dari sedikitnya 4 ekor tikus.

Toksisitas Jangka Lama.


Percobaan jenis ini
mencakup pemberian obat secara berulang selama 1-3
bulan (percobaan subakut), 3-6 bulan (percobaan
kronik) atau seumur hewan (lifelong studies).
Memperpanjang percobaan kronik untuk lebih dari 6
bulan tidak akan bermanfaat, kecuali untuk percobaan
karsinogenisitas.
Berlainan dengan percobaan toksisitas akut yang
mengutamakan mencari efek toksik, maksud utama
percobaan toksisitas kronik ialah menguji keamanan
obat. Menafsirkan keamanan obat (atau zat kimia)
untuk manusia dapat dilakukan melalui serangkaian
percobaan toksisitas terhadap hewan.

Mekanisme Terjadinya Toksisitas Obat. Berbagai


mekanisme dapat mendasari toksisitas obat. Biasanya
reaksi toksik merupakan kelanjutan dari efek
farmakodinamik. Karena itu, gejala toksik merupakan
efek farmakodinamik yang berlebihan.
Kelainan yang disebabkan oleh reaksi antigenantibodi bermanifestasi sebagai reaksi alergi. Gugus
kimia tersebut dapat menimbulkan reaksi toksik yang
sama. Ketidakmurnian dalam sediaan hormon seperti
insulin dapat menyebabkan reaksi toksik.
Kerusakan jaringan tubuh misalnya hati dan ginjal
dapat mengganggu secara tidak langsung dan
memudahkan terjadinya toksisitas.

d) Nilai Prediktif Eksperimen


Hewan
Ada empat kombinasi kemungkinan jika
hasil penelitian toksikologi atau farmakologi
pada hewan kemudian dibandingkan
dengan hasil klinis pada manusia, yaitu:
a.
b.
c.
d.

Hasil positif yang benar


Hasil negatif yang benar
Hasil positif palsu
Hasil negatif yang palsu

Hasil positif yang benar. Pada kemungkinan ini, eksperimen


hewan benar telah meramalkan efeknya pada manusia.
Kelainan yang tadinya ditemukan pada hewan coba, kemudian
terbukti juga pada manusia.
Hasil negatif yang benar. Keadaan ini paling sering dijumpai:
hasil yang negatif pada hewan juga negatif pada manusia.
Hasil positif palsu. Banyak obat yang dalam eksperimen
hewan atau in vitro, memperlihatkan efek farmakologi ternyata
tidak menunjukkan efek terapi pada manusia, atau hasilnya
sangat mengecewakan.
Hasil negatif yang palsu. Hasil ini merupakan hasil yang
paling dikhawatirkan dalam toksikologi, karena eksperimen
tidak mampu meramalkan efek samping atau sifat toksik yang
terjadi pada manusia.

3. Keracunan

Klasifikasi
Keracunan

1. Menurut Cara Terjadinya

Self Poisoning. Pada keadaan ini pasien makan obat dengan


dosis berlebihan tetapi dengan pengetahuan bahwa dosis ini
tidak akan membahayakan. Jadi pasien tidak bermaksud bunuh
diri, biasanya hanya untuk menarik perhatian lingkungannya.
Attempted Suicide. Dalam hal ini, pasien memang bermaksud
bunuh diri, tetapi bisa berakhir dengan kematian atau pasien
sembuh kembali bila ia salah tafsir tentang dosis yang
dimakannya.
Accidental Poisoning. Ini jelas merupakan kecelakaan, tanpa
faktor kesengajaan sama sekali.
Homicidal Poisoning. Keracunan ini akibat tindakan kriminal
yaitu seseorang dengan sengaja meracuni orang lain.

2. Menurut Mula Waktu Terjadinya Keracunan


Diagnosis keracunan kronik sulit dibuat, karena
gejalanya timbul perlahan dan lama sesudah pajanan.
Gejala juga dapat timbul secara akut setelah pemajanan
berkali-kali dalam dosis yang relatif kecil. Suatu ciri khas
ialah bahwa zat penyebab diekskersi lebih lama 24 jam,
waktu paruhnya panjang, sehingga terjadi akumulasi.
Juga mungkin terjadi suatu manifestasi kronik pada
organ oleh zat kimia yang mempunyai waktu paruh
pendek, namun toksisitasnya terhadap organ bersifat
kumulatif. Salah satu contoh ialah nekrosis papila ginjal
yang terjadi karena makan analgesik bertahun-tahun.

B. Logam Berat &


Antagonis

1. Pendahuluan

Manusia senantiasa terpejan (exposed) logam


berat dalam lingkungan hidupnya. Di lingkungan
yang kadar logam beratnya cukup tinggi,
kontaminasi dalam makanan dan air dapat
menyebabkan keracunan. Logam yang terlepas
dari alat makan-minum dan alat masak juga dapat
menimbulkan
keracunan
tanpa
disadari.
Pembakaran batu bara yang mengandung logam
berat, tambahan Pb tetraetil pada bensin, dan
peningkatan penggunaan logam dalam industri
menjadi sumber pencemaran lingkungan dan
penyebab utama keracunan logam berat.

Logam berat tidak mengalami metabolisme, tetapi


berada dalam tubuh dan menyebabkan efek toksik
dengan cara bergabung dengan suatu atau beberapa
gugus ligan yang esensial bagi fungsi fisiologis
normal. Ligan ialah suatu molekul yang mengikat
molekul lain yang umumnya lebih besar. Ligan
memberi atau menerima elektron untuk membentuk
ikatan kovalen, biasanya dengan logam. Antagonis
logam berat, suatu kelator (chelating agent) khusus
dirancang untuk berkompetisi dengan ligan terhadap
logam berat, sehingga meningkatkan ekskresi logam
dan mencegah atau menghilangkan efek toksiknya.

2. Logam Berat

Timbal
Timbal (Pb, timah hitam) terdapat dimana-mana
dalam lingkungan, karena terdapat di alam dan digunakan
dalam industri.
Makanan dan minuman yang bersifat asam, seperti air
tomat, air buah, minuman kola, air apel dan asinan dapat
melarutkan Pb yang terdapat pada lapisan mangkuk dan
panci.
Pada kasus keracunan Pb seringkali tidak dapat
didiagnosis karena gejala keracunannya yang tidak
spesifik. Misalnya, gejala ensefalopati Pb menyerupai
gejala berbagai keadaan degeneratif SSP.

Merkuri
Merkuri (Hg) merupakan obat penting selama
berabad-abad, yaitu sebagai diuretik, antibakteri,
antiseptik, salep kulit, dan laksan.
Ada tiga bentuk utama Hg yang harus dibedakan yaitu
uap Hg (unsur Hg), garam Hg, dan Hg organik. Unsur Hg
ialah Hg anorganik yang paling mudah menguap. Pejanan
manusia terhadap uap Hg sudah lama dikenal dan
sebagian besar disebabkan oleh jenis pekerjaan
seseorang. Pejanan kronis Hg dalam udara ialah akibat
kontaminasi yang tidak sengaja dalam ruangan
berventilasi buruk, misalnya dalam laboratorium
penelitian.

Pejanan akut terhadap uap merkuri bisa menyebabkan


gejala dalam beberapa jam berupa rasa lemah, menggigil,
rasa logam, mual, muntah, diare, batuk dan sesak nafas.
Toksisitas paru bisa berkembang menjadi pneumonia
interstisial disertai gangguan fungsi paru berat.
Pengukuran kadar merkuri dalam darah harus
dilakukan secepat mungkin setelah adanya keracunan
logam tersebut. Dalam kasus keracunan uap unsur
merkuri, tindakan teraputiknya mencakup: segera
mengakhiri pejanan dan memberi perhatian khusus
terhadap fungsi paru. Bantuan napas mungkin diperlukan
secara akut.

Arsen
Arsen (As) digunakan lebih dari 2400 tahun yang lampau di
Yunani dan Roma sebagai racun dan untuk pengobatan.
Arsen bisa menyebabkan kerusakan pembuluh kapiler ginjal,
tubuli dan glomeruli. Secara akut, As bersifat vesikan
(menimbulkan
vesikel)
mengakibatkan
nekrosis
dan
pengelupasan kulit.
Gejala awal keracunan As akut ialah rasa tidak enak dalam
perut, bibir rasa terbakar, penyempitan tenggorokan dan susah
menelan, disusul oleh nyeri lambung hebat, muntah proyektil
dan diare berat.
Pengobatan keracunan As kronis dapat dengan pemberian
dimerkaprol dan penisilamin, tetapi penisilamin per-oral saja
biasanya sudah cukup.

Arsen (As) digunakan lebih dari 2400 tahun yang


lampau di Yunani dan Roma sebagai racun dan untuk
pengobatan.
Arsen bisa menyebabkan kerusakan pembuluh kapiler
ginjal, tubuli dan glomeruli. Secara akut, As bersifat
vesikan (menimbulkan vesikel) mengakibatkan nekrosis
dan pengelupasan kulit.
Gejala awal keracunan As akut ialah rasa tidak enak
dalam perut, bibir rasa terbakar, penyempitan
tenggorokan dan susah menelan, disusul oleh nyeri
lambung hebat, muntah proyektil dan diare berat.

3. Antagonis Logam Berat

Kalsium Dinatrium EDETAT


Asam
etilendiamintetraasetat
(EDTA),
garam
natriumnya (natirum edetat, Na2EDTA) dan sejumlah
derivatnya banyak digunakan selama bertahun-tahun
sebagai reagen dalam industri dalam laboratorium karena
kemampuannya mengikat logam divalen dan trivalen.
Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa Na 2EDTA
menyebabkan tetani hipokalsemia. Namun demikian, dalam
penelitian lebih lanjut didapatkan bahwa kelat kalsium
dinatrium edetat (CaNa2EDTA) yang relatif nontoksik
dapat dimanfaatkan untuk pengobatan keracunan logam
yang afinitasnya terhadap Na2EDTA lebih tinggi daripada
Ca2+.

Dimerkaprol
Dimerkaprol, oleh British antilewisite disebut dengan
BAL. BAL berupa cairan bening, tanpa warna, kental dan
berminyak dengan bau tajam tidak sedap yang merupakan
sifat khas senyawa merkaptan. Zat ini larut dalam air, juga
dalam minyal sayur, alkohol, dan berbagai pelarut organik
lainnya.
Gejala keracunan BAL antara lain: perubahan tekanan
darah; mual dan muntah; sakit kepala; rasa terbakar pada
bibir, mulut dan kerongkongan; rasa tercekik pada
kerongkongan; sakit dada atau lengan; konjungtivitas,
lakrimasi, rinore dan hipersalivasi; tangan terasa tertusuktusuk; berkeringat terutama pada tangan dan dahi; dan sakit
perut.

Terima Kasih!!!