Anda di halaman 1dari 38

PENDAHULUAN

BESI DAN BAJA ADALAH LOGAM DENGAN PEMAKAIAN LUAS


BENTUK PALING SEDERHANA JARUM, PAKU, KAWAT; BAHAN BANGUNAN BESI
BETON, BESI PROFIL; MESIN MESIN INDUSTRI BERAT MESIN PRESS & STAMPING,
ALAT TRANSPORT, KAPAL, KERETA API DAN MOBIL; ALAT ALAT PERTANIAN
CANGKUL, BAJAK DAN TRAKTOR; PRASARANA TRANSPORT JEMBATAN DAN PIPA
MINYAK ATAU PIPA AIR; MESIN PEMBANGKIT TENAGA MESIN DIESEL, KETEL UAP DAN
TURBIN UAP BAHAN BAKAR HIDROKARBON BAHAN BAKAR NUKLIR.

BESI DAN BAJA TERDIRI DARI DUA UNSUR UTAMA FE DAN C;


BAJA MENGANDUNG UNSUR C ANTARA 0,003% S/D 0,8%
UNSUR TAMBAHAN PADA BAJA. MANGAN (Mn) DARI 0,3% SAMPAI 1,8%.
UNSUR LAINNYA Ti, V, Nb, Mo. >>>> DISEBUT PADUAN MIKRO.
PADUAN LAINNYA ADALAH Cr DAN Ni. BILA Cr MINIMAL 12%, SIFAT BAJA
BERUBAH MENJADI TAHAN KARAT SEHINGGA DISEBUT BAJA TAHAN KARAT.
JUGA DITAMBAHKAN UNSUR Al ATAU Si TUJUAN MENGIKAT O ATAU N TERLARUT

BESI COR MENGANDUNG UNSUR C ANTARA 3% SAMPAI 4%.

PENDAHULUAN
INDUSTRI BESI DAN BAJA DIBAGI DALAM 2 KELOMPOK BESAR:
WROUGHT PRODUCT:
WROUGHT PRODUCT ADALAH PRODUK COR YANG MENGALAMI PROSES LANJUT BERUPA
PENGERJAAN MEKANIS SEPERTI ROLLING, EXTRUSI, FORMING, JOINING (WELDING)

CAST PRODUCT:
CAST PRODUCT ATAU PRODUK COR ADALAH PRODUK YANG DIPEROLEH DENGAN CARA
MENUANGKAN LOGAM CAIR KE DALAM CETAKAN DAN BENTUKNYA DIPEROLEH SESUAI
DENGAN BENTUK CETAKANNYA

PENGOLAHAN BESI KASAR


BAHAN BAKU BLAST FURNACE:
BIJIH BESI DALAM BENTUK BONGKAHAN DAN DISEBUT
LUMP ORE
LUMP ORE DIPECAH SEHINGGA UKURANNYA 12 MM SAMPAI 35
MM
KANDUNGAN BESI DALAM LUMP ORE
HEMATITE (FE2O3) ATAU MAGNETITE (FE3O4) BERKISAR ANTARA 50%
SAMPAI DENGAN 70%.

APABILA KURANG DARI ITU,


BESI OKSIDA DIOLAH DULU MENJADI BENTUK PELLET SEHINGGA
KANDUNGAN BESINYA NAIK.

BATU BARA
DIMASUKKAN KE DALAM COKE OVEN DAN DIPANASKAN
PADA TEMPERATUR 13000C.
SEMUA GAS AKAN MENGUAP DAN BATU BARA INI DISEBUT KOKAS.

BATU KAPUR
UNTUK PROSES DI DALAM DAPUR TINGGI MASIH DALAM
BENTUK CACO3.

PENGOLAHAN BESI KASAR

PENGOLAHAN BESI KASAR


PROSES DI COKE OVEN

PENGOLAHAN BESI KASAR


PROSES PENGOLAHAN BESI DI BLAST FURNACE:

3 BAHAN BAKU UTAMA DI ANGKAT SECARA KONTINU KE ATAS


DAN
DIMASUKKAN KE DALAM DAPUR TINGGI.

UDARA PANAS YANG DIPANASKAN OLEH GAS BEKAS HASIL PROSES, MELALUI
TUYERE MASUK KE BAGIAN BAWAH DAPUR TINGGI SEHINGGA MEMBAKAR
KOKAS

TIMBUL PANAS YANG TINGGI DAN MENGHASILKAN GAS CO.


DI DALAM SHAFT TERJADI REAKSI CO DENGAN BIJIH BESI MELALUI PERSAMAAN:
>4500C 3Fe2O3
>6000C Fe3O4
> 7000C FeO
FeO

+ CO
+ CO
+ CO
+C

2 Fe3O4
3 FeO
Fe
Fe

+ CO2
+ CO2
+ CO2
+ CO

TERJADI DISOSIASI KAPUR:


CaCO3
FeS + CaO

CaO + CO2
+ C CaS

+ FeO

+ CO

PENGOLAHAN BESI KASAR


BESI YANG TELAH MENCAIR JATUH KE DALAM HEARTH.
BESI CAIR (HOT METAL) INI MEMILIKI KANDUNGAN KARBON SAMPAI
MENCAPAI 4%.
MELALUI SALURAN PEMBUANGAN SLAG DITAMPUNG PADA PENAMPUNG.
BESI CAIR DIALIRKAN MELALUI SALURAN LAIN DITAMPUNG KE DALAM
TORPEDO CAR DAN DIANGKUT KE UNIT PENGOLAHAN BAJA
BESI CAIR DITUANGKAN KE DALAM LADLE

PENGOLAHAN BAJA DI BOF


PROSES PENGOLAHAN BESI CAIR SEHINGGA MENJADI BAJA DI BOF
1.
2.
3.

4.

SCRAP DIMASUKKAN KE DALAM BOF


BESI CAIR ATAU HOT METAL DITUANGKAN DARI LADLE
KE DALAM BOF
DITIUPKAN GAS O2

TERJADI PROSES REDUKSI C. >> KANDUNGAN C PADA HOT

METAL MENURUN MENJADI SEKITAR 0,06%.


PANAS MENINGKAT
DIMASUKKAN FLUX UNTUK MENGURANGI

PENGOTOR.
KOTORAN BERBENTUK SLAG

UNSUR

DILAKUKAN PENGAMBILAN SAMPEL

MENGUKUR

KOMPOSISI C AGAR

DAPAT DIKETAHUI

DENGAN TEPAT.

5.

HOT STEEL DIMASUKKAN KEMBALI KE DALAM LADLE

6.

UNTUK PROSES SECONDARY METALLURGY.


DITAMBAHKAN PULA SEJUMLAH PADUAN KE DALAM
LADLE.

SLAG DIBUANG KE DALAM SLAG POT

DIRECT REDUCTION PLANT


REDUKSI LANGSUNG ADALAH PROSES PENGAMBILAN OKSIGEN DARI BIJIH BESI,
(DALAM BENTUK LUMP ORE ATAU PELLET) TANPA MELALUI PENCAIRAN
METODA HyL, COREX DAN MIDREX
TEMPERATUR PROSESNYA JUGA RENDAH, ANTARA 9000C SAMPAI 10000C.
UNIT HyL PROCESS TERDIRI DARI:
1.
REFORMER MENGOLAH GAS ALAM
MENJADI GAS REDUKTOR
CH4 + H2O CO + 3H2
2.

GAS HEATER MENAIKKAN


TEMPERATUR GAS REDUKTOR SAMPAI
MENCAPAI TEMPERATUR PROSES
SAMPAI MENCAPAI 9400C
3.
REAKTOR YANG MENGOLAH BIJIH BESI
BERBENTUK PELLET MENJADI BESI
SPONS (DRI > DIRECT REDUCTION IRON)
DI REAKTOR TERJADI PROSES PENGAMBILAN O :
Fe2O3
+ CO Fe3O4
+ CO2
Fe2O3
+ H2 Fe3O4
+ H 2O
Fe3O4

+ CO FeO

+ CO2

Fe3O4

+ H2 FeO

+ H 2O

FeO

+ CO Fe

+ CO2

FeO

+ H2 Fe

+ H 2O

REAKSI BOUDOUARD
PADA HyL PROCESS DI DALAM
REAKTOR:
1.

2.

DI BAGIAN ATAS REAKTOR


DENGAN KONSENTRASI CO
LEBIH RENDAH TERJADI
REAKSI (3)
DI TENGAH REAKTOR,
TERJADI REAKSI (2) SEHINGGA
DIPEROLEH BESI SPONS (DRI >
DIRECT REDUCTION IRON)

PADA PROSES BLAST FURNACE


1.
2.
3.

GARIS (1) BERLAKU UNTUK PEMBENTUKAN GAS CO DI DALAM BLAST FURNACE


GARIS (3) BERLAKU DI BAGIAN ATAS BLAST FURNACE
GARIS (2) BERLAKU DI BAGIAN BAWAH BLAST FURNACE

PENGOLAHAN BAJA DI EAF


PROSES DI EAF
SKRAP DIMASUKKAN KE DALAM HEARTH

BAGIAN ATAS DAPUR DITUTUP


ELEKTRODA DITURUNKAN SAMPAI
MENDEKATI SKRAP.
LISTRIK DIALIRKAN PADA TAP PALING
RENDAH.
MUNCUL BUNGA API LISTRIK DAN PANAS
TAP DINAIKKAN SETAHAP DEMI SETAHAP.

SELURUH BAJA AKAN MENCAIR BERSAMAAN


WAKTUNYA DENGAN SAAT TAP YANG PALING
TINGGI.
FOAMING SLAG

UNTUK MENGURANGI PANAS YANG TERBUANG KE UDARA MAKA PADA SLAG YANG
TERBENTUK DI PERMUKAAN BAJA DITAMBAHKAN SUATU BAHAN KIMIA TERTENTU
SEHINGGA SLAG BERBENTUK BUSA
PROSES DISEBUT FOAMING SLAG .
ELEKTRODA TERENDAM DI DALAM FOAMING SLAG DENGAN JARAK TERTENTU DARI BAJA
CAIR.

SETELAH SELURUH BAJA MENCAIR

BAJA DARI DAPUR BUSUR LISTRIK DITUANGKAN KE DALAM LADLE UNTUK SELANJUTNYA
MENDAPAT PROSES SECONDARY METALLURGY.

PROSES SEKUNDER
PROSES SEKUNDER (SECONDARY METALLURGY)
PROSES SEKUNDER ADALAH PROSES PEMURNIAN BAJA CAIR
TUJUAN:
PROSES DEOKSIDASI, DESULFURISASI, PENAMBAHAN ALLOY DAN HOMOGENISASI
KOMPOSISI-TEMPERATUR BAJA CAIR DENGAN PENGADUKAN ARGON.
UNTUK MENURUNKAN KARBON (ULTRA LOW C) DAN MENURUNKAN GAS2 TERLARUT SPT
HIDROGEN DAN NITROGEN DILAKUKAN PROSES VACUUM DEGASSING DALAM ALAT RH
ATAU DH
REAKSI DEOKSIDASI : TERJADI PADA SAAT PEMURNIAN BAJA CAIR DI LADLE
BAJA HASIL PELEBURAN DIDAPUR MASIH MENGANDUNG OKSIGEN TERLARUT CUKUP
TINGGI YANG TERGANTUNG TEMPERATUR DAN KANDUNGAN %C. 3 UNSUR YANG UMUM
DIGUNAKAN SBG DEOKSIDATOR : Mn, Si DAN Al
RIMMED STEEL DAN CAPPED STEEL, DEOKSIDASI DENGAN FeMn : [%O] = 100-200 PPM
SEMI KILLED STEEL DEOKSIDASI DENGAN Si-Mn, SI-Mn-Al, Si-Mn-CaAl : [%O] = 15 - 70 PPM.
KILLED STEEL, DEOKSIDASI DENGAN Al : [%O] = 2 - 4 PPM. 3O + 2 Al = Al2O3 (SLAG)
REAKSI DESULFURISASI : DILAKUKAN DI LADLE SETELAH PROSES DEOKSIDASI.
S + CaO (KAPUR) = CaS (TERIKAT DALAM SLAG) + O
S + CaC2 (KARBIDA) = CaS + 2C
MENURUNKAN UNSUR C
DENGAN VACUUM DEGASSING
MENDAPATKAN KEBERSIHAN BAJA
MODIFIKASI INKLUSI OKSIDA DENGAN INJEKSI CaSi WIRE

PROSES SEKUNDER

PROSES CETAK KONTINU


JENIS PENGECORAN :
PENGECORAN KONTINYU (CONTINUOUS CASTING) :

LOGAM CAIR DI COR SECARA KONTINYU MELALUI MESIN CCM.

TIGA JENIS PRODUK CCM : SLAB, BLOOM DAN BILLET


PENGECORAN INGOT :

LOGAM CAIR DITUANG KEDALAM CETAKAN, KEMUDIAN DIBIARKAN


MENDINGIN DAN MEMBEKU.

PROSES CETAK KONTINU


PENGECORAN KONTINYU
LEBIH DARI 80% PRODUKSI BAJA DUNIA DIPRODUKSI MELALUI PROSES PENGECORAN
KONTINYU.
KELEBIHAN PROSES PENGECORAN KONTINYU :

YIELD RELATIF LEBIH TINGGI , LEBIH DARI 95%.

KECEPATAN PRODUKSI TINGGI

KUALITAS PRODUK SOLIDIFIKASI LEBIH HOMOGEN DAN LEBIH KONSISTEN

END LESS CASTING.


BERDASARKAN TEBAL PRODUK , JENIS PENGECORAN SLAB/PELAT DAPAT DIBAGI SBG :

PROSES KONVENSIONAL : TEBAL PRODUK 200 ~ 250 MM.

THIN SLAB CASTING : TEBAL PRODUK 40 ~ 60 MM. (SKALA KOMERSIAL SEJAK TH.
1990-AN)

STRIP CASTING : TEBAL PRODUK 15 ~ 25 MM.

TWIN-DRUM STRIP CASTING : TEBAL PRODUK 2 ~ 5 MM. (SKALA KOMERSIAL DI


NIPPON STEEL PADA TH.1998).

HOT STRIP MILL


HOT STRIP MILL:

BERTUJUAN UNTUK MEMPEROLEH BAJA LEMBARAN PANAS (HOT


ROLLED COIL) DENGAN PROSES ROLLING PADA TEMPERATUR TINGGI

BAHAN DASARNYA ADALAH SLAB

KHUSUS UNTUK BAJA BAJA KUALITAS TINGGI:

MENGHASILKAN BAJA DENGAN SIFAT MEKANIK TERTENTU MELALUI THERMO


MECHANICAL CONTROL PROCESS

HOT STRIP MILL


REHEATING FURNACE

MEMANASKAN PRODUK SAMPAI MENCAPAI FASA AUSTENIT SEHINGGA


BAJA MENJADI LUNAK DAN MUDAH DIROLLING
MELAKUKAN PELARUTAN KARBIDA TERTENTU SEHINGGA

DIPEROLEH KARBIDA YANG TIDAK LARUT DALAM JUMLAH TERTENTU


SEHINGGA DAPAT MEMBATASI PEMBESARAN BUTIR SAAT PEMANASAN DI
REHEATING FURNACE DAN ROLLING DI ROUGHING MILL
KARBIDA/NITRIDA LARUT UNTUK MEMUNGKINKAN TERBENTUK PRESIPITAT
SAAT ROLLING DI ROUGHING DAN FINISHING

ROUGHING MILL

MENENTUKAN TEBAL TRANSFER BAR


MENYIAPKAN BESAR BUTIR AUSTENIT AWAL UNTUK PROSES DI
FINISHING MELALUI

BESAR REDUKSI TERTENTU PER PASS DAN


PENGATURAN PRESIPITAT TIDAK LARUT

MENYIAPKAN TEMPERATUR ENTRY FINISHING

HOT STRIP MILL


FINISHING MILL

MENENTUKAN TEBAL FINAL DENGAN FLATNESS YANG BAIK


MELAKUKAN MANIPULASI PROSES SEHINGGA:

DIPEROLEH BESAR BUTIR ATAU TERTENTU


TERJADI PEMBENTUKAN PRESIPITAT DI BATAS BUTIR, MATRIX ATAU DI
DEFORMATION BAND (UTK PRODUK HOT ROLLED) ATAU
MENJAGA PRESIPITAT TERLARUT TIDAK MENGALAMI PRESIPITASI (UTK
PTODUK DDQ DAN ENAMELED QUALITY)

MENENTUKAN TEMPERATUR EXIT FINISHING TERTENTU

LAMINAR COOLING DAN COILING

MENENTUKAN TEMPERATUR EXIT LAMINAR COOLING UNTUK:

MEMUNGKINKAN TERBENTUK FASA TERTENTU (FERIT ATAU BAINIT)


ATAU MENCEGAH TERBENTUKNYA PRESIPITAT (UNTUK PRODUK DDQ ATAU
ENAMELED QUALITY)

MEMUNGKINKAN TEMPERATUR COILING TERTENTU DALAM WAKTU


CUKUP LAMA AGAR PROSES PRESIPITASI (UNTUK PRODUK HSLA) DAPAT
BERLANGSUNG DENGAN BAIK

TMCP DI HSM

THERMO MECHANICAL CONTROL PROCESS


TMCP DIBUTUHKAN DALAM MENINGKATKAN SIFAT MEKANIK BAJA

AGAR PENINGKATAN SIFAT MEKANIK BAJA TIDAK TERGANTUNG PADA C

C DALAM BAJA HARUS RENDAH

AGAR TIDAK ADA ETAK SAAT PENGELASAN

TMCP DI HSM

THERMO MECHANICAL CONTROL PROCESS


SAAT PROSES DI FINISHING:

BILA PROSES KONVENSIONAL

TERJADI PENGINTIAN BUTIR BARU DI BATAS BUTIR


AUSTENIT
BUTIR FERRIT YANG DIHASILKAN CUKUP BESAR

BILA PROSES DENGAN CARA CONTROLLED


ROLLING

BENTUK AUSTENITE MEMANJANG


TERJADI DEFORMATION BAND PADA BUTIR AUSTENIT
JUMLAH DEFORMATION BAND TERGANTUNG PADA
BESAR DEFORMASI
TERJADI PENGINTIAN BUTIR BARU DI DEFORMATION
BAND DAN BATAS BUTIR AUSTENIT
BUTIR FERRIT HALUS

MAKIN KECIL BUTIR FERRIT SIFAT MEKANIK MAKIN BAIK

TMCP DI HSM

THERMO MECHANICAL CONTROL PROCESS


SAAT PROSES DI FINISHING:

BESAR BUTIR FERRIT JUGA DIPENGARUHI OLEH TEMPERATUR


FINISHING

MAKIN RENDAH TEMPERATUR FINISHING MAKIN KECIL BUTIR FERRIT


AGAR PROSES ROLLING DI FINISHING BERLANGSUNG PADA FASA AUSTENIT WALAU
TEMPERATUR RENDAH TAMBAHKAN NIKEL

MAKIN BANYAK NIKEL, MAKIN TURUN TEMPERATUR Ar3

TMCP DI HSM

THERMO MECHANICAL CONTROL PROCESS


PRESIPITASI DI FINISHING:

SAAT ROLLING DI FINISHING TERJADI PRESIPITASI

TMCP DI HSM

THERMO MECHANICAL CONTROL PROCESS


WAKTU MULAI PROSES PRESIPITASI:

TMCP DI HSM

THERMO MECHANICAL CONTROL PROCESS


PENGARUH PRESIPITASI PADA SIFAT MEKANIK:

PRODUK KHUSUS HRC


LINEPIPE STEEL:
PIPA UNTUK KEPERLUAN INDUSTRI MINYAK MEMILIKI PERSYARATAN KHUSUS
TAHAN TERHADAP SERANGAN H2S (SOUR GAS) DAN CO2

AGAR TAHAN TERHADAP SERANGAN SOUR GAS Mn DAN S HARUS


RENDAH

COLD ROLLING MILL


CONTINUOUS TANDEM COLD MILL

PROSES COLD ROLLING MILL BERTUJUAN MENGHASILKAN PRODUK


DENGAN KETEBALAN ANTARA 3 MM SAMPAI 0,2 MM.
CIRI UTAMA PRODUK COLD ROLLING MILL YANG DISEBUT COLD
ROLLED COIL ATAU CRC ADALAH PERMUKAANNYA SANGAT HALUS
PRODUK CRM
DIKELOMPOKKAN PADA:

COMERCIAL QUALITY
DRAWING QUALITY
DEEP DRAWING QUALITY
EXTRA DEEP DRAWING
QUALITY
TIN MILL BLACK PLATE

COLD ROLLING MILL


CONTINUOUS TANDEM COLD MILL

PROSES ROLLING DINGIN


GAMBAR BERIKUT ADALAH SUATU KOMPLEKS PROSES ROLLING DINGIN

PROSES DILAKUKAN DENGAN MENGGUNAKAN MESIN ROLLING TANDEM 5 STAND

PADA SAAT STRIP MEMASUKI ENTRY ZONE KONDISINYA BERLANGSUNG SANGAT


EKSTRIM. KONDISI INI MEMPENGARUHI :

EMULSI PELUMAS DISEMPROTKAN KE ROLL DAN STRIP


STRIP DITEKAN OLEH ROLL SEHINGGA MENGALAMI DEFORMASI PLASTIS.
AKIBAT PROSES ITU, KETEBALAN STRIP BERUBAH

PEMBENTUKAN LAPISAN LUBRIKAN


PROSES PLATE OUT

KONDISI EKSTRIM TERSEBUT DIPENGARUHI PULA OLEH :

KECEPATAN ROLLING
BAHAN ROLL DAN KEKASARAN ROLL

COLD ROLLING MILL


CONTINUOUS TANDEM COLD MILL
ROLLING LUBRICANT

LUBRIKAN DIBUTUHKAN UNTUK MEMUNGKINKAN PROSES ROLLING BERJALAN BAIK.


PADA JAMAN SEBELUM PERANG DUNIA KEDUA, LUBRIKAN UNTUK PROSES ROLLING ATAU
DIKENAL JUGA DENGAN ROLLING OIL, BERASAL DARI PALM OIL. HAL INI DISEBABKAN PALM
OIL MEMILIKI SIFAT LUBRICITY LEBIH BAIK DARI MINERAL OIL.
KETIDAK ADAAN SUPPLY PALM OIL SELAMA PERANG DUNIA KEDUA MENIMBULKAN USAHA
PEMANFAATAN LEMAK HEWANI SEBAGAI BAHAN ROLLING OIL
PADA MASA SEKARANG LUBRIKAN INI DAPAT BERBENTUK FATTY OIL (BERASAL DARI LEMAK
NABATI ATAU HEWANI) ATAU SYNTHETIC OIL SUMBER MINYAK HEWANI ADALAH LEMAK BABI
ATAU LEMAK SAPI.
ROLLING LUBRICANT DIAPLIKASIKAN DALAM BENTUK NEAT OIL (TANPA DICAMPUR MEDIA
CARRIER SEPERTI AIR) ATAU EMULSI (DICAMPUR DENGAN AIR).
SAAT INI TELAH DIAPLIKASIKAN MINERAL OIL YANG WALAUPUN MEMILIKI LUBRICITY LEBIH
RENDAH DARI PALM OIL TAPI MUDAH DICUCI DAN MUDAH DIUAPKAN SEHINGGA
DIAPLIKASIKAN UNTUK PROSES MILL CLEAN.
DENGAN ADANYA LUBRIKAN INI MAKA, ROLLING FORCE DAPAT DITURUNKAN, FLATNESS
MENJADI LEBIH BAIK, KEAUSAN ROLL BERKURANG DAN MENCEGAH TIMBULNYA RUST PADA
PERMUKAAN STRIP.

NILAI KOEFISIEN GESEK UNTUK STEADY STATE DIPENGARUHI OLEH:

STRIP TEMPERATUR
KEKASARAN PERMUKAN ROLL
KOMPOSISI KIMIA STRIP
VISKOSITAS LUBRIKAN
ROLLING SPEED
PASS REDUCTION

COLD ROLLING MILL


CONTINUOUS TANDEM COLD MILL
LUBRICATING OIL
MINERAL OIL

MINERAL OIL ATAU PETROLEUM OIL BERASAL DARI DALAM BUMI SEHINGGA DISEBUT JUGA
MINYAK BUMI
MINYAK MENTAH DAPAT BERUPA :
PARAFFINIC (CnH2n+2)

NAPHTHENIC (CnH2n)

NAPHTHENIC BERCAMPUR DENGAN SEJUMLAH BESAR SENYAWA AROMATIC, TETAPI DENGAN


SEDIKIT WAX/LILIN

NAPHTHENIC BERSIFAT REAKTIF TERHADAP TEMPERATUR TINGGI SEHINGGA MUDAH


BEROKSIDASI DAN DEGRADASI
PARAFFINIC MENGANDUNG BANYAK WAX/LILIN DENGAN SEDIKIT SENYAWA AROMATIC

PARAFFINIC BERSIFAT KURANG REAKTIF PADA TEMPERATUR TINGGI


LUBRICATING OIL BERASAL DARI PETROLEUM DENGAN ATOM KARBON BERVARIASI ANTARA
20 SAMPAI 70
DI DALAMNYA TERDAPAT PARAFFINE, CYCLOPARAFFINE DAN AROMATIC
PROSES YANG DILAKUKAN SANGAT PANJANG :

MULAI DARI DISTILASI DUA TAHAP (PADA VACUUM TOWER DAN PADA ATMOSFIR
TOWER), DERESINING ATAU DE ASPHALTING, DEWAXING, SOLVENT EXTRACTION,
FINISHING SAMPAI BLENDING DENGAN SEJUMLAH ADDITIVE
LUBRICATING OIL SETELAH PROSES DEWAXING MEMILIKI KEKENTALAN ANTARA SAE 10
SAMPAI SAE 70

COLD ROLLING MILL


CONTINUOUS TANDEM COLD MILL
LUBRICATING OIL
VEGETABLE OIL
BERASAL DARI :

PALM OIL

CASTOR OIL

RAPESEED OIL

COCONUT OIL
UNSUR VEGETABLE OIL TERDIRI DARI DUA KELOMPOK:

LEMAK JENUH BERSIFAT PADAT PADA TEMPERATUR KAMAR

LEMAK TIDAK JENUH BERSIFAT CAIR PADA TEMPERATUR KAMAR


ANIMAL OIL UMUMNYA BERASAL DARI DUA SUMBER:
LARD (LEMAK BABI)
TALLOW (LEMAK SAPI ATAU DOMBA)
UNSUR ANIMAL OIL SAMA DENGAN VEGETABLE OIL,
YANG MEMBEDAKAN ANTARA KEDUANYA ADALAH KOMPOSISINYA

LUBRIKAN
RUMUS KIMIA
FATTY ACID SATURATED
STEARAT
C18H35O2
PALMITAT
C16H32O2
MYRISTAT
C14H28O2
FATTY ACID UNSATURATED
OLEAT
C18H34O2
LINOLEAT
C18H32O2

KOEF GESEK
0.0224
0.0268
0.0403
0.0372
0.0444

COLD ROLLING MILL


CONTINUOUS TANDEM COLD MILL
LUBRICATING OIL
SYNTHETIC OIL
SYNTHETIC OIL BIASANYA TERDIRI DARI SATU JENIS ATAU BEBERAPA JENIS YANG
KOMPOSISINYA DITENTUKAN, DITAMBAH SEJUMLAH ADDITIVES

SYNTHETIC OIL BERBEDA DENGAN NATURAL LUBRICANT YANG KOMPOSISINYA


BERVARIASI TERGANTUNG BAHAN DASARNYA, ASAL BAHAN DASAR TERSEBUT SERTA
KAPAN BAHAN DASAR TERSEBUT DIAMBIL KHUSUSNYA UNTUK VEGETABLE OIL ATAU
ANIMAL OIL

ADDITIVES

EMULSIFIER (SURFACTANT), COUPLER, THICKENER, TACKINESS AGENTS, DETERGENT,


PLASTICIZER, ANTIOXIDANT, ANTIMISTING AGENTS, OILINESS AGENTS, DISPERSANTS, EXTREME
PRESSURE ADDITIVES, PASSIVATOR, ANTIFOAMING AGENTS, ALKALINE RESERVE AGENTS, ODOR
MASKS, CORROSION INHIBITOR, VISCOSITY INDEX IMPROVER, FRICTION MODIFIER

EXTREME PRESSURE ADDITIVES

E.P. ADALAH SATU JENIS PROSES LUBRIKASI DIMANA TERDAPAT SENYAWA ORGANIK E.P. YANG
MENGANDUNG UNSUR P, Cl, S ATAU KOMBINASI DARI UNSUR2 TSB.
E.P DIBAWA OLEH SUATU CARRIER SEPERTI MINYAK. MEKANISMENYA ADALAH:
MEMBENTUK MATERIAL REAKTIF SETELAH BERSENYAWA DENGAN OKSIGEN, AIR, ADITIF LAIN,
ATAU CAIRAN PEMBAWA
PERMUKAAN METAL MENYERAP ADITIF DAN MATERIAL REAKTIF TERSEBUT
MEMBENTUK LAPISAN POLIMER PADA TEMPERATUR DAN TEKANAN TERTENTU
MEMBUANG HASIL REAKSI MELALUI PROSES SLIDING DAN PELARUTAN
MENGULANG PROSES 1 S/D 3. KEBERHASILAN EP TERGANTUNG PADA KEMAMPUAN
PENGULANGAN PROSES 1 S/D 3 TERSEBUT.

COLD ROLLING MILL


CONTINUOUS TANDEM COLD MILL
EMULSI
EMULSI DIGUNAKAN PADA PROSES METAL FORMING EMULSI DAN DIDEFINISIKAN
SEBAGAI CAMPURAN SUATU PARTIKEL LIQUID DI DALAM SUATU LIQUID.

OIL IN WATER EMULSION


WATER IN OIL EMULSION
ROLLING OIL DIAPLIKASIKAN DALAM BENTUK EMULSI DIMANA PARTIKEL OIL
BERADA DI DALAM AIR SECARA EMULSI (OIL IN WATER EMULSION >> O/W
EMULSION).
TUJUAN UNTUK MEMBENTUK EMULSI PADA OIL ADALAH UNTUK MEMUNGKINKAN
DAPAT DITRANSPORTASIKAN DENGAN BAIK SELAIN AGAR BIAYA LUBRIKASI MENJADI
LEBIH MURAH
AIR YANG DIGUNAKAN SEBAGAI CARRIER DIMANFAATKAN SEBAGAI COOLANT

PRILAKU EMULSI

OIL DALAM EMULSI AKAN CENDERUNG UNTUK BERGABUNG (COALESCENT ATAU


FLOCCULATION) MELALUI SUATU GAYA TARIK DARI MASING-MASING PARTIKELNYA.

COLD ROLLING MILL


CONTINUOUS TANDEM COLD MILL

DISEBUT COALESCENT APABILA SETELAH MASING-MASING PARTIKEL BERTEMU


MAKA PARTIKEL KECIL AKAN BERSATU DENGAN PARTIKEL BESAR SEHINGGA
JUMLAH PARTIKEL MENGECIL TETAPI VOLUME MASING-MASING PARTIKEL
MEMBESAR.
SEDANGKAN FLOCCULATION BERLANGSUNG APABILA TERJADI
PENGELOMPOKKAN (CLUSTERING) PARTIKEL MENJADI BEBERAPA KELOMPOK
PARTIKEL.
APABILA DIBIARKAN, MAKA EMULSI MENGALAMI BREAKING

PENGATURAN EMULSI
UNTUK MENGATUR EMULSI DIGUNAKAN SURFACTANT (SURFACEACTIVE AGENT), YANG TERDIRI DARI DUA KOMPONEN

KETIKA DICAMPURKAN KE DALAM EMULSI, SURFACTANT


BERORIENTASI

KOMPONEN BERUNSUR CARBON-HIDROGEN BERSIFAT HYDROPHOBIC


(MEMUSUHI AIR) TETAPI LIPOPHILIC (MENYENANGI OIL)
KOMPONEN BERUNSUR ACID BERSIFAT HYDROPHILIC (MENYENANGI AIR)
TETAPI LIPOPHOBIC (MEMUSUHI OIL)

KOMPONEN CARBON-HYDROGEN MENGHADAP KE OIL


KOMPONEN ACID MENGHADAP KE AIR

AKIBATNYA TEGANGAN PERMUKAAN OIL MENURUN DAN OIL DAPAT


LARUT DI DALAM AIR.

COLD ROLLING MILL


CONTINUOUS TANDEM COLD MILL
STABILITAS EMULSI
STABILITAS EMULSI DIATUR OLEH SURFACTANT

GAMBAR (1) EMULSI BERSIFAT STABIL

GAMBAR (2) EMULSI TIDAK STABIL

SODIUM CETYL SULFATE DAN CHOLESTEROL


SECARA BERSAMAAN MEMBUAT TEGANGAN
PERMUKAAN OIL TURUN SEHINGGA OIL
MENGALAMI EMULSI SEMPURNA
SODIUM CETYL SULFATE BERINTERAKSI DENGAN
OLEYL ALCOHOL SEHINGGA KURANG
MEMPENGARUHI TEGANAN PERMUKAAN OIL YANG
MEMBUAT EMULSI TIDAK STABIL

GAMBAR (3) STABILITAS EMULSI MODERAT

CETYL ALKOHOL BERINTERAKSI DENGAN SODIUM


OLEATE YANG MEMUNGKINKAN DROPLET OIL
MEMBESAR

STABILITAS EMULSI DAPAT DIPENGARUHI OLEH


TEMPERATUR EMULSI.

PADA TEMPERATUR 100- 240C EMULSI STABIL


PADA TEMPERATUR DI ATAS 50 0C EMULSI TIDAK
STABIL

STABILITAS EMULSI JUGA DIPENGARUHI OLEH


HARDNESS AIR

COLD ROLLING MILL


ELECTROLYTIC CLEANING LINE

TERDAPAT KOTORAN PADA COIL SETELAH PROSES ROLLING DI TANDEM :


ROLLING OIL
IRON FINE
APABILA ROLLING OIL DARI BAHAN VEGETABLE OIL
SULIT DIUAPKAN DI BAF
PERLU PROSES PENCUCIAN DENGAN MENGGUNAKAN ECL

COLD ROLLING MILL

HIGH CURRENT DENSITY ELECTROLYTIC CLEANING LINE


PROSES DI ECL MENGGUNAKAN METODA GRID TO GRID CLEANING SYSTEM

COLD ROLLING MILL


CAL, BAF

COLD ROLLING MILL


KUALITAS DAN PROBLEM PRODUK CRM
PROBLEM KUALIAS PRODUK CRM:
CACAT PADA PERMUKAAN