Anda di halaman 1dari 38

1.

2.
3.
4.
5.

FARMAKOTERAPI

SCHIZOPHRENI
A
KELOMPOK 2:

Alifah Nurul Khusnah6. Nelvira Dara Shandy


Apriko Jauwahir
7. Novi Arini
8. Rafika ramadhani
Bella Ayu Pertiwi
9. Sandriyana
Intan Mia Mastika
10. Refni Yenti
Lia Okta Maudy
11. Ummi Habibah

DEFINISI
schizophre
nia

Schizein
(terpisah/pec
ah)

Phrenia
(jiwa)

Dengan demikian seseorang yang


menderita skizofrenia adalah seseorang
yang mengalami keretakan jiwa atau
keretakan kepribadian ( hawari, 2003).

Atau dapat juga dikatakan


gangguan psikis yang
ditandai oleh
penyimpangan realitas,
penarikan diri dari interaksi
social, disorganisasi
persepsi, pikiran, dan
kognisi.
Skizofrenia
gangguan terhadap fungsi otak
yang timbul akibat
ketidakseimbangan dopamin
dan juga disebabkan oleh
tekanan yang dialami oleh
individu.

Tipe paranoid
ada delusi dan halusinasi, tetapi tidak ada
gangguan pemeriksaan, perilaku yang tidak
teratur , dan respon yang datar

Tipe disorganized
gangguan berpikir dan perasaan yang datar
terjadi bersama-sama

Klasifikasi
skizifrenia

Tipe katatonik
individu mungkin hampir tidak bergerak atau
menunjukan kegelisahan, atau gerakan yang
tidak ada tujuannya

Tipe
undifferentiated
ada gejala pisikotik namun tidak memenuhi
kriteria untuk jenis paranoid, disorganized , atau
katatonik

Tipe residual
gejala positif terjadi pada intensitas rendah saja

EPIDEMIOLOGI
1. Prevalensi penderita seumur hidup didunia sekitar
0,2 2%
2. Mula terjadi biasanya pada mulai remaja atau awal
dewasa, jarang terjadi pada sebelum remaja atau
setelah umur 40 tahun
.

Pada laki laki umumnya lebih awal (15 24 tahun)

.Pada perempuan (25 35 tahun)


3. Sedikit lebih sering terjadi pada laki-laki dari pada
perempuan, meskipun secara umum seimbang
4. Prevalensinya 8 kali lebih besar pada tingkat ekonomi
rendah dibanding tinggi

Patofisiologi
1. Melibatkan dopaminergik dan serotonergik
Dalam hipotesis dopamin, dinyatakan
bahwa skizofrenia dipengaruhi oleh
a. aktifitas dopamin pada jalur mesolimbik dan
mesokrotis syaraf dopamin
b. Hiperaktivitas dopamin pada jalur
mesolombik menyebabkan gejala positif
c. kurangnya aktivitas dopamin pada jalur
mesokortis menyebabkan gejala negatif,
kognitif, dan afektif.

Sistem Dopamin

asal

inervasi

fungsi

Efek Antagonis
Dopamin

Nigrostriatal

Substansia nigra
(daerah A9)

Nukleus caudate
Putamen

Sistem ekstrapiramidal,
gerakan

Gangguan gerakan

Mesolimbik

Midbrain ventral
tegmentum (daerah
A10)

Daerah limbik
(contoh: amygdala,
olfactory, tuberde,
septal, nuclei),
cigulate gyrus

Ingatan, proses stimulus,


tingkah laku yang
bersemangat

Mengurangi gejala
psikosis

Mesokortikal

Midbrain ventral
tegmentum
(daerah A10)

Lobus korteks rontal


dan
Prefrontal

Kognisi, komunikasi, fungsi Mengurangi gejala


sosial, respon terhadap stres psikosis akatisia

tuberoinfundibular

Hipotalamus

Kelenjar pituitari

Mengatur pelepasan
prolaktin

Meningkatkan
konsentrasi prolaktin

Reseptor dopamine yang terlibat adalah reseptor


dopamine-2 (D2), dijumpai peningkatan densitas
reseptor D2 pada jaringan otak pasien skizoprenia

Peningkatan aktivitas sistem dopaminergik pada


sistem mesolimbik akan bertanggungjawab
terhadap gejala positif
Peningkatan aktivitas serotonergik akan
menurunkan aktivitas dopaminergik pada sistem
mesocortis maka bertanggung-jawab terhadap
gejala negatif

ETIOLOGI
1. Faktor biologi (teori somatogenesis)
a. genetic (keturunan)
b. Biochemistry (ketidakseimbangan
kimiawi otak)
c. Neuroanatomy (abnormalitas struktur
otak)
2. Faktor psikis (Teori Psikogenik)
Disebabkan oleh suatu gangguan
fungsional. Dan penyebab utamanya adalah
konflik, stres psikologik

Tanda dan Gejala


Diagnostic and Statistical Manual Of Mental Disorders
Edisi 4 (DSM IV)
Membagi gejala schizophrenia menjadi 2 kategori
berkembang menjadi 3 kategori
Gejala Positif
Delution (khayalan)

Gejala Negatif Gejala Kognitif


Alogia (kehilangan
Gangguan
kemampuan berfikir perhatian
atau berbicara)

Halusinasi

Perasaan atau emosi


menjadi tumpul

Gangguan
ingatan

Perilaku aneh,

Avolition (kehilangan

tidak terorganisir

motifasi)

Bicara tidak teratur,

Anhedonea atau

topik melompat-

asosiality (kurangnya

lompat tidak saling

kemampuan untuk

berhubungan

merasakan kesenangan,
mengisolasi diri dari
kehidupan sosial)

Elusi

Tidak mampu
berkosentrasi

Gangguan
fungsi
melakukan
pekerjaan
tertentu

DIAGNOSIS

Tatalaksana Terapi
1. Tujuan Terapi
mengembaikan fungsi normal pasien
dan mencegah kekambuhan.
2. Sasaran Terapi
a. Pada fase akut mengurangi atau
meghilangkan gejala psikotik dan
meningkatkan fungsi normal pasien
b. fase stabilisasi mengurangi resiko
kekambuhan dan meningkatkan
adaptasi pasien terhadap kehidupan
dalam masyarakat

Terapi fase akut


dilakukan pada saat terjadi episode akut dari
skizoprenia yang melibatkan gejala psikotik
intens seperti halusinasi, delusi, paranoid,
dan gangguan berpikir.
untuk mengendalikan gejala psikotik sehingga
tidak membahayakan terhadap diri sendiri
maupun orang lain.

STRATEGI TERAPI

Terapi stabilisasi
dilakukan setelah gejala psikotik akut telah
dapat dikendalikan. Tujuan pengobatan
dalam fase stabilisasi adalah untuk
mencegah kekambuhan, mengurangi gejala,
dan mengarahkan pasien kedalam tahap
pemulihan yang lebih stabil.
Terapi tahap
pemeliharaan
terapi pemulihan jangka panjang skizofrenia.
Terapi fase pemeliharaan bertujuan untuk
mempertahankan kekambuhan dan
mengontrol gejala

Non Farmakologi
Ada beberapa jenis pendekatan
psikososial untuk skizoprenia, antara lain
adalah
A.Program for Assertive Community
Treatment (PACT),
B. intervensi keluarga,
C. terapi perilaku kognitif (cognitive
behavioural theraph, CBT) dan
D.pelatihan keterampilan social.
E.Terapi elektrokonvulsif
(Electroconvulsive therapy, ECT)

Algoritma Tata Laksana Terapi

Terapi Farmakologi
(Menggunakan obat-obat antipsikotik
untuk memodulasi neurotransmiter
yang terlibat)

CONTOH OBAT

Antipsikotik tipikal
(FGA)
Klorpromazin
Tioridazin
Mesoridazin
Flufenazin
Perfenazin
Thiotixene
Haloperidol
Loxapin
Molindon

Antipsikotik atipikal
(SGA)
Clozapin
Risperidon
Olanzapin
Quetiapin
Ziprasidon
Aripiprazo

PRINSIP TATA LAKSANA TERAPI

FASE AKUT

Tujuan terapi 7 hari pertama : mengurangi agitasi, hostility, agresi,


anxiety
jika seorang pasien terkena serangan psikotik akut, lebih baik
diatasi
dengan meng-imobilisasi pasien dulu dan mengajaknya bicara,
kemudian diberibenzodiazepine untuk penenang dan atau suatu obat
antipsikotik
benzodiazepine (exp: lorazepam 2 mg i.m setiap 30 menit) terbukti
efektif mengurangi agitasi shg mengurangi dosis antipsikotik yang
dibutuhkan mengurangi efek samping
Jika dibutuhkan antipsikosis utk agitasi yang berat obat potensi
tinggi bisa digunakan, exp: haloperidol 2-5 mg IM setiap 60 min
Selanjutnya dapat digunakan antipsikotik lain sesuai algoritma

TERAPI STABILISASI

Terapi minggu ke 2-3 terapi stabilisasi tujuannya:


meningkatkan sosialisasi dan perbaikan kebiasaan(self-care
habits) dan perasaan
Mungkin perlu waktu 6-8 minggu utk mendapat respon
yang
diharapkan, pada pasien kronis mungkin butuh waktu 3-6
bulan
Pengobatan : menggunakan antipsikotik atipikal (if any);
jika
menggunakan obat tipikal: dosis yang ekuivalen dengan
klorpromasin 300-1000 mg dapat digunakan
Terapi tidak bisa menyembuhkan, hanya mengurangi gejala

TERAPI PEMELIHARAAN
Tujuan : mencegah kekambuhan
harus diberikan sedikitnya sampai setahun sejak sembuh dari
episode
akut
bahkan untuk bisa lebih berhasil perlu terapi selama
sedikitnya 5
tahun, kemudian dosis pada diturunkan perlahan-lahan
terapi pemeliharaan dapat diberikan dalam dosis setengah dari
dosis
akut
bagi pasien yang kepatuhannya rendah ada obat yang dibuat
dalam
formulasi depot contoh : flufenazin dekanoat atau haloperidol
dekanoat dapat diberikan setiap 2 -4 minggu sekali secara i.m.

tetapi formulasi depot ini hanya dapat diberikan jika pasien telah
memiliki dosis efektif p.o yang stabil
Recently : Risperidon long acting dg dosis 25-50 mg IM every 2
weeks

Contoh kasus
Seorang pasien datang ke UGD RSJ Tampan
Pekanbaru dibawa oleh keluarganya dengan
nama NN.TRS (23 th), BB 41 kg, TB 160 cm
dengan keluhan sudah satu tahun terakhir tidak
seperti biasanya. NN. TRS sering mengurung diri
dikamar dan terlihat murung, terkadang dia
berteriak bahkan menceritakan hal-hal yang tidak
masuk akal dengan topik yang melompat-lompat.
NN. TRS kerap keluar rumah tanpa pamit kepada
keluarganya. Kecenderungan bunuh diri juga
sering dilakukan tetapi tidak berhasil. Hasil
pemeriksaan laboratorium dan USG diketahui NN.
TRS sedang hamil 8 minggu. Harapan keluarga
kehamilan NN. TRS tetap dipertahankan.

Pemeriksaan fisik :
TD : 90/70 mmHg
N : 18
P : 78
T : 36
Pemeriksaan Laboratorium
KGD : 120 mg/dL
LDL : 100 mg/dL
HDL : 65 mg/dL
Trigilserida : 125 MG/dL
Riwayat Keluarga
Ayah : HT
Ibu : Riwayat Pengobatan :
Risperidon 2 mg 1x1 ; Valisanbe 2 mg 3x1 ; THP
3x1 sejak satu bulan yang lalu.

ANALISA KASUS METODE SOAP

SUBJECTIV

Nama
: Nn. TRS
Umur : 23 th
Tb
: 160 cm
Keluhan :sering mengurung
diri dikamar danterlihat
murung, terkadang dia
berteriak bahkan
menceritakan hal-hal yang
tidak masuk akal dengan
topik yang melompat-lompat.
NN. TRS kerap keluar rumah
tanpa pamit kepada
keluarganya. Kecenderungan
bunuh diri juga sering
dilakukanakan tetapi tidak

OBJECTIV

Pemeriksaan fisik :
TD : 90/70 mmHg
N : 18
P : 78
T : 36

Pemeriksaan
Laboratorium
KGD
: 120 mg/dL
LDL : 100 mg/dL
HDL
: 65 mg/dL
Trigilserida : 125
MG/dL

ASSESMENT

Berdasarkan dari gejala pasien


yaitu sering mengurung diri
dikamar dan terlihat murung,
terkadang berteriak bahkan
menceritakan hal-hal yang tidak
masuk akal dengan topik yang
melompat-lompat. Kerap keluar
rumah tanpa pamit kepada
keluarganya. Kecenderungan
bunuh diri. Trs didiagnosis
terkena serangan akut pertama
skizofrenia.

TERAPI

Terapi non farmakologi pada skizofrenia


dapat dilakukan dengan pendekatan
psikososial dan ECT (electro convulsive
theraphy). Ada beberapa jenis pendekatan
psikososial untuk skizoprenia, antara lain
adalah Program for Assertive Community
Treatment (PACT), intervensi keluarga, terapi
perilaku kognitif (cognitive
behaviouraltheraph, CBT) dan pelatihan
keterampilan social.
PACT adalah semacam program
rehabilitasi yang terdiri dari managemen
kasus dan intervensi aktif oleh satu tim
menggunakan pendekatan yang sangat
terintegrasi. Perawatan diberikan oleh suatu
tim yang bekerja 24 jam sehari, 7 hari
seminggu, dan perawatan sebagian besar
dilakukan dirumah pasien dalam tugas
kehidupan sehari-hari. Intervensi keluarga,
Prinsip nya bahwa anggota keluarga pasien
harus dilibatkan dan terlibat dalam perlakuan
proses kolaboratif sejauh mungkin

TERAPI
FARMAKOLO
ObatGIyang diberikan

risperidone yang merupakan antispikotik


generasi kedua dimana SGA dianjurkan sebagai pengobatan lini pertama
(yaitu, tahap 1, 2, dan 2A) karena lebih rendah kejadian EPS (efek
samping ekstrapiramidal )akut dan tardive dyskinesia, dan beberapa
bukti
efeknya
unggul
pada
gejala
negative
seperti
menyendiri,gangguang perasaan, fikiran yang tidak masuk akal dan
prilaku yang sangat terbatas dan kognitif. Obat golongan ini bekerja
dengan cara memblok secara bersamaan reseptor dopamine(D2) dan
reseptor serotonin(5HT2) . Menurut FDA risperidon termasuk kategori C
pada kehamilan dimana studi pada hewan menunjukkan adanya efek
terhadap janin (menyebabkan kecacatan atau kematian), namun studi
pada manusia belum tersedia. Obat kategori ini boleh diberikan pada
manusia hanya kalau manfaatnya melebihi risikonya pada janin. Jadi
dosis yang digunakan cukup 1 kali sehari 2 mg.
Untuk penggunaan valisanbe ( diazepam ) tidak dianjurkan karena
menurut FDA diazepam termasuk kategori D pada kehamilan yang
dapat menyebabkan teratogen pada bayi. Karena penderita Skizofrenia
memakan obat dalam jangka waktu yang lama, sangat penting untuk
menghindari dan mengatur efek samping yang timbul. Mungkin masalah
terbesar dan tersering bagi penderita yang menggunakan antipsikotik
konvensional gangguan (kekakuan) pergerakan otot-otot yang disebut
juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Untuk mencegahnya

JADI OBAT YANG DIGUNAKAN ADALAH :


1. Risperidon 2 mg 1x1
2. THP 3x1
Tidak digunakannya velisanbe (diazepam)
karena dia merupakan obat kategori D pada
ibu hamil, yang dapat membahayakan janin
dan ibu.

TERIMAKASIH