Anda di halaman 1dari 16

Dosen: Elka Yuslinda, M.si.

, Apt,

Pengantar Farmakologi
LD 50 dan ED
50


Letal Dosis 50 (LD50)

LD 50 adalah dosis yang dapat


menimbulkan kematian 50% individu
atau hewan percobaan.
tujuan LD

50

Untuk menetapkan potensial toksisitas


akut
untuk mengetahui keamanan suatu zat.

Menurut Farmakope Indonesia


Syaratnya :
Menggunakan seri dosis dan
pengenceran kelipatan tetap.
Jumlah hewan percoban atau jumlah
biakan jaringan harus sama
Dosis diatur sedemikian rupa
sehingga memberikan efek dari 0%
sampai 100%.

Perhitungannya:
Rumus :
LD50 dihitung dengan rumus:

m = a - b ( Pi - 0,5 )
Keterangan:
m = Log LD59
a = Logaritma dosis terendah yang masih
menyebabkan jumlah kematian 100 % tiap
kelompok.
b = Beda logaritma dosis yang berurutan.
Pi = Jumlah hewan yang mati menerima dosis
(dibagi dengan jumlah hewan seluruhnya yang
menerima dosis).

perhitungan lainnya:
Metode Reed-Muench
Dengan menggunakan metoda ini didapat data
interpolasi linier untuk tujuan mendapat LD 50
dan standard error (SE).
Gejala klinis yang tampak pada hewan
percobaan sewaktu perlakuan diantaranya
peningkatan aktifitas, peningkatan bernafas,
tampak meregangkan badan dan beristirahat di
sudut kandang. Pada akhirnya hewan tersebut
mulai menutup mata dan terlihat tenang.

Metoda Kurva (miller dan Tainter)


Untuk menghitung penentuan LD50
tersebut dapat juga digunakan
metoda kurva yaitu: Menggunakan
kertas log probit yang didesain
berdasarkan
perhitungan
dosis
respon garis vertikel (nilai probit dan
persentase respon dan log), garis
horizontal
(log
dosis
yang
digunakan).

Tabel kategori ketoksikan


Kategori

LD50

Supertoksik

5 mg/kg atau kurang

Amat sangat toksik

5-50 mg/kg

Sangat toksik

50-500 mg/kg

Toksik sedang

0,5-5 g/kg

Toksik ringan

5-15/kg

Praktis tidak toksik

>15 g/kg

Pengujian toksikologi:
Uji Toksisitas akut
Dilakukan dengan cara memberikan zat pada hewan
uji dalam dosis tunggal yang bertujuan menentukan
nilai LD 50 dalam waktu 24 jam. Batas dosis
pemberian sedian uji harus diuji sedemikian rupa.
Peningkatan dosis harus dipilih dengan log-interval
atau antilog-interval, batas dosis ini diharapkan
dapat menimbulkan respons pada 10-90% dari
hewan coba. Perhitungan ED50 atau LD50 didasarkan
atas perhitungan statistic.

KbrO3

Letalitas (angka kematian/jumlah uji)


Kontrol
Glutationa
Sistein*
Dietil maleat

(mg/Kg)
300

(garam faali) (800 mg/kg)


8/8
8/8

(400 mg/kg)
-

(0,7 ml/kg)
-

170

5/8

0/8

0/8

100

5/8

0/8

0/8

30

0/8

8/8

Uji Toksisitas sub kronis


Dilakukan dengan pemberian suatu senyawa pada
hewan uji secara berulang dengan dosis tunggal
atau dosis ganda dalam waktu 3-4 bulan.

4. Uji ketoksikan spesifik


Ialah uji toksikologi yang dirancang untuk
mengevaluasi secara rinci efek yang khas sesuatu
senyawa pada aneka ragam jenis hewan uji (uji
potensiasi, kekarsinogetikan, kemutagenikan,
keteratogenikan, reproduksi, kulit dan mata, dan
perilaku).
Uji Toksisitas sub akut
Toksisitas yang terjadi setelah beberapa hari
pemakaian obat dengan dosis tunggal atau dosis
ganda, lama pengujian 1 minggu sampai 2 bulan.
Uji Toksisitas kronis
Uji toksisitas yang dilakukan dalam jangka waktu satu
tahun atau lebih setelah pemberian obat secara
berulang.

Uji toksisitas tertunda


Setelah pemberian toksikan jumlah hewan
yang mati dan waktu kematian hewan harus
diamati serta gejala toksik yang menyertai
seperti perubahan prilaku, gerakan menjilat,
menggaruk, tremor, menggeliat, mara
meredup, dan pernafasan.

Hewan yang masih hidup dilakukan


pemeriksaan selama 14 hari terhadap : berat
badan, konsumsi makanan, berat feses,
konsumsi air minum, volume urin dan rasio
berat organ (hati, ginjal dan jantung).

Efektif Dosis (ED 50)

dosis efektif adalah dosis


median yang menghasilkan
efek yang diinginkan dari
suatu obat .

Untuk perhitungan ED50 :


m = a - b ( Pi - 0,5 )
Keterangan:
M = Log ED50
a = Logaritma dosis terendah yang masih
memberikan perlindungan 100% pada
kelompok hewan percobaan
b = Beda logaritma dosis yang berurutan.
pi = Jumlah hewan yang masih hidup yang
menerima dosis i dibagi dengan jumlah
hewan percobaan seluruhnnya yng
menerima dosis i

contohnya:
Enceran

Jumlah Hewan

Hewan yang

Hewan yang

Serum

Percobaan

Mati

Hidup

Pi

Tiap kelompok
1 : 4 (10-0.6)

1 : 6 (10-1,2)

1 : 64 (10-1,8)

0,7

1 : 256 (10-2,4)

0,17

1 : 10241 (10-3)

= a - b ( Pi - 0,5 )
Pi = 1 + 0,7 + 0,17 =
1,87

M = - 1.2 0,6 (1,87 0,5) = -2,022


Log ED50 = - 2,022
ED50 = 10-2,022

Contoh hubungan Dosis dengan Respon dapat


dilihat antara Aflotoksin (antitumor) dan Botulinum
(toksin):
Aflatoksin B1

Dosis (ppb)

Respons (tumor)

Toksin botulinum

Dosis (pg)

Respons

Dosis (pg)

Respons

34

(kematian)
11/30

0/18

(kematian)
0/10

2/22

0/10

37

10/30

1/22

10

0/30

40

16/30

15

4/21

15

0/30

45

26/30

50

20/25

20

0/30

50

26/30

100

28/28

24

0/30

55

17/30

Disini kita akan mengukur


INDEKS TERAPI yakni perbandingan antara kedua dosis
(LD50:ED50) tersebut, yang merupakan suatu ukuran keamanan
obat. Semakin besar indeks terapi, semakin aman
penggunaan obat tersebut. Tetapi, hendaknya diperhatikan
bahwa indeks terapi ini tidak dengan begitu saja karena harus
dikorelasikan kepada pemakain manusia ke hewan percobaan.