Anda di halaman 1dari 26

MORBUS HANSEN

Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNUD/RSUP Sanglah


PENDAHULUAN

Penyakit infeksi kronik disebabkan


oleh infeksi Mycobacterium leprae
yang intraseluler obligat
Sinonim: Hansen disease,
Hanseniasis, Lepra, Kusta
EPIDEMIOLOGI
Terdapat dimana-mana, terutama di Asia, Afrika,
Amerika Latin, daerah tropis dan subtropis, serta
masyarakat sosial ekonomi rendah
Menyerang semua umur
Anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa
Frekuensi tertinggi umur 25-35 tahun
Diduga penularan melalui kontak langsung antar
kulit yang lama dan erat, dan secara inhalasi
EPIDEMIOLOGI
WHO Weekly Epidemiological Record 2015:
Tahun 2014 ditemui adanya 213.889 kasus
baru dari 121 negara di seluruh dunia. 72%
diantaranya berasal dari Asia Tenggara
Brazil, India, dan Indonesia merupakan negara
dengan jumlah kasus baru terbanyak pada
tahun 2014.

Indonesia: Pada tahun 2012 terdapat 17.980


kasus baru, dimana jumlah kasus baru pada
anak <15 tahun adalah sebanyak 1959 kasus.
ETIOLOGI
Kuman Mycobacterium leprae, ordo
Actinomycetalis

Ditemukan oleh G.A HANSEN tahun 1874 di


Norwegia

Basil tahan asam (BTA), ukuran 1-8 x 0,2-0,5


mikron, bersifat obligat intraseluler, Gram positif
PATOGENESIS
Tipe yang akan
terjadi
tergantung dari
derajat sistem
imunitas
selular (Cellular
Mediated
Immunity):
- C.M.I Tinggi
tuberkuloid
- C.M.I
Rendah
lepromatosa
KLASIFIKASI
Menurut Ridley dan Jopling (1966)
a. Tuberkuloid tuberkuloid (TT)
b. Borderline tuberkuloid ( BT)
c. Borderline borderline (BB)
d. Borderline lepromatosa (BL)
e. Lepromatosa lepra (LL)

Menurut WHO: (1981)


a. Pausi Basiler (PB)
-TT dan BT BTA (-)
b. Multi Basiler (MB)
- BB,BL,LL BTA (+)
Gejala Klinis

negatif
Gejala Klinis
PB MB
Lesi kulit 1-5 lesi > 5 lesi
(makula datar, Makula Makula eritema
papul yang Hipopigmentasi dengan
meninggi, nodus) dengan permukaan halus
permukaan berkilat
kering bersisik Distribusi lebih
Distribusi tidak simetris
simetris Hilangnya sensasi
Hilangnya kurang jelas
sensasi jelas Tes BTA (+)
Tes BTA (-) Tes Lepromin (-)
Tes Lepromin (+)
Kerusakan Saraf Hanya satu Banyak cabang
(menyebabkan cabang saraf saraf
hilangnya
sensasi/kelemahan
otot yang
dipersarafi oleh
saraf yang terkena)
PEMERIKSAAN KLINIS
Inspeksi: perhatikan semua kelainan kulit di
seluruh tubuh (makula, nodul, jaringan parut,
kulit keriput, penebalan kulit, kehilangan
rambut)

Pemeriksaan sensibilitas pada lesi kulit

Pemeriksaan saraf tepi dan fungsinya (n.


Auricularis magnus, n. ulnaris, n. radialis, n.
medianus, n. peroneus, dan n. tibialis
posterior)

Pemeriksaan fungsi saraf otonom (tes


Gunawan), dengan pensil tinta
DIAGNOSA
Tanda Kardinal :
1. Lesi kulit hipopigmen atau eritematous
2. Gangguan fungsi saraf motorik,
sensorik, autonom
3. Penebalan saraf tepi
4. BTA + pada slit skin smear

Diagnosis Lepra dibuat bila ditemukan 2


dari 3 kardinal I atau adanya tanda yang
ke-4 saja
DIAGNOSA BANDING

Tipe I (makula hipopigmentasi): tinea versikolor,


vitiligo, ptiriasis rosea

Tipe TT (makula eritematosa dengan pinggir


meninggi): tinea korporis, psoriasis

Tipe BT,BB,BL (infiltrat merah tak berbatas tegas):


selulitis, erisipelas, psoriasis

Tipe LL (bentuk nodul): SLE, erupsi obat


PENATALAKSANAAN
Regimen pengobatan MDT (Multi Drug Therapy) di
Indonesia sesuai rekomendasi WHO (1995):

Tipe PB
Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa:
1. Rifampisin 600 mg/bln
2. DDS tablet 100 mg/hari
Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan,
setelah minum 6 dosis RFT (Release From
Treatment), namun WHO (1995) Completion of
Treatment Cure
PENATALAKSANAAN
Regimen pengobatan MDT (Multi Drug Therapy) di
Indonesia sesuai rekomendasi WHO (1995):

Tipe MB (Pengobatan dalam 12 paket dalam


12-18 bln)
Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa:
1. Rifampisin 600 mg/bln
2. Lamprene 300 mg/bln dilanjutkan 50 mg/hari
3. DDS 100 mg/hari
Pengobatan MDT terbaru
Metode ROM (PPK SMF Kulit 2016)
Tipe PB : dosis tunggal Rifampisin 600 mg, Ofloksasin 400 mg,
Minosiklin 100 mg
Tipe MB: tiap bulan dalam 24 bulan
Metode COM:
Clofazimin 50 mg/hari
Ofloksasin 400 mg/hari Selama 6 bulan
Minosiklin 100 mg/hari
dilanjutkan dengan
Clofazimin 50 mg/hari + Ofloksasin 400 mg/hari
atau
Clofazimin 50 mg/hari + Minosiklin 100 mg/hari

Selama 18 bulan
REAKSI KUSTA
Reaksi kusta/lepra: episode akut pada
perjalanan kronis penyakit kusta
Jenis reaksi:
Reaksi Tipe I hipersensitivitas tipe iv
Reaksi Tipe II hipersensitivitas tipe
iii
Reaksi tipe I ( Reaksi reversal, reaksi upgrading,
reaksi borderline)
Reaksi hipersensitivitas tipe lambat
Pasien tipe borderline karena meningkatnya
kekebalan selular secara cepat
Pergeseran tipe kusta ke arah PB
Gejala klinis: perubahan lesi kulit, neuritis,
dan/atau gangguan keadaan umum
Reaksi tipe II (reaksi eritema nodosum leprosum)
Pada pasien tipe MB
Reaksi humoral dimana basil kusta utuh/tidak
menjadi antigen
Reaksi kompleks imun mengendap di kulit
berbentuk nodul (eritema nodosum leprosum),
mata (iridosiklitis), sendi (artritis), dan saraf
(neuritis)
Disertai gejala konstitusi (demam, konstitusi)
Reaksi Lepra
Lesi ENL
Penatalaksanaan Reaksi Kusta
Reaksi kusta ringan:
Istirahat/imobilisasi
Asam mefenamat 3x500 mg

Reaksi kusta berat


Kortikosteroid dapat dimulai antara30-
80 mg prednisone/hari dan dapat
diturunkan 5-10mg/2 minggu
Asam mefenamat 3x500 mg
TERIMA KASIH