Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS

Ketuban Pecah Dini


OLEH : FINA INA HAMIDAH
PEMBIMBING : DR. RIADY, SP.OG

Stase Obstetri-Ginekologi RSIJ Sukapura


Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Identitas Pasien

Nama Pasien : Ny. R


Nama suami : Tn. J
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 22 September 1989
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kali baru timur 1 RT 02/03, Cilincing,
Jakarta Utara
Suku : Jawa
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : IRT
Tanggal masuk : 03 Agustus 2016, pukul 07.15 WIB
Anamnesis

Keluhan utama :
Pasien mengatakan hamil yang pertama kali usia kehamilan
sekarang 38 minggu, mules-mules dan keluar air dari kemaluan.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke rumah sakit hari Rabu jam 07.15 mengatakan
mules-mules sejak malam hari dan sudah keluar air dan darah
dari kemaluan jam 02.00 WIB. Air yang keluar berwarna jernih
dan bercampur lendir dan darah. Mual dan muntah disangkal.
Anamnesis

Riwayat Perkawinan :
Pernikahan yang pertama, Masih menikah, Lama pernikahan 1 tahun
Riwayat Haid :
Pertama kali usia 14 tahun, Teratur, tidak nyeri haid, Lama 7 hari, Siklus 28
hari, Hari pertama haid terakhir 29 Oktober 2015, Taksiran persalinan 05
Agustus 2016
Riwayat operasi
Pasien menyangkal pernah mengalami operasi
Riwayat Persalinan
1. Hamil ini
Riwayat Penyakit Riwayat Penyakit
Dahulu : Keluarga :
Asma disangkal, Asma disangkal,
Hipertensi Hipertensi
disangkal, DM disangkal, DM
disangkal disangkal
Riwayat
Riwayat Alergi :
Psikososial :
Alergi makanan
Konsumsi jamu-
disangkal, alergi
jamuan disangkal,
obat, dan debu
konsumsi rokok
disangkal
disangkal,
100 / 80 mmHg
Kesadaran :
Composmentis
80 x/menit

20 x/menit Keadaan Umum :


Baik

36,3 C
Dada
Status Generalis Bentuk dan gerak simetris
Vesikuler +/+ , Wheezing -/- , Ronkhi -/-
Kepala, Rambut
BJ I dan II murni regular, Murmur (-), Gallop (-)
Normochepal, Bersih Abdomen
Mata
Cembung, Bising Usus (+)
Konjungtiva tidak anemis, Genitalia
Sklera tidak ikterik
darah (+), lendir (+), fluor albus (-)
Mulut
Ekstremitas
Mukosa bibir lembab, ada
caries gigi Simetris, Odema tidak ada, akral hangat, CRT
<2 dtk.
Leher
Kelenjar tiroid dan KGB tidak
membesar
Status Obstetri
Pemeriksaan luar
Inspeksi
Cembung (+), Linea Nigra (+), Striae Gravidarum (+)
Leopold I : TFU 32 cm, teraba bagian besar lunak (bokong)
Leopold II : Teraba bagian keras memanjang disebelah kanan (punggung) dan
teraba bagian bagian kecil (ekstremitas) disebelah kiri.
Leopold III: Teraba bagian terbawah janin, teraba bagian bulat besar dan keras
(kepala)
Leopold IV: divergen.
Denyut Jantung janin: 143x/menit

Pemeriksaan dalam
Tes lakmus (+)
Pemeriksaan penunjang
USG : air fluid index (AFI) 5 cm
Diagnosa

Ibu : G1P0A0 Gravida 37-38 minggu dengan KPD


Bayi : Janin tunggal hidup intra uterin presentase kepala.
Planning

Rencana Diagnosis
Observasi kesejahteraan janin dan kualitas kontraksi uterus dengan
CTG
Observasi ada atau tidaknya tanda-tanda infeksi pada ibu atau janin,
dengan TTV dan pemeriksaan hematologi
Rencana Terapi dan Tindakan
Antibiotik (Ceftriaxon).
Prick Tes untuk antibiotik
Pasang Infus, Dauer Catheter
Pembedahan Sectio Cesarea
Pemeriksaan Penunjang

No Jenis pemeriksaan Nilai hasil Nilai normal Satuan


1 Hemoglobin 12,5 11,3-15,5 g/dl

2 Hematokrit 37,6 36,0-46,0 %


3 Leukosit 9.500 4,3-10,4 103/L
4 Trombosit 352.000 132.000-402.000 10s/L

5 Bleeding time 2 1-3 Menit

6 Clothing time 4 2-6 Menit


Laporan pembedahan

Dokter Ahli Bedah : dr. Riady, Sp.OG


Diagnosa Pra Bedah : G1P0A0 Gravida 37-38 Minggu dengan KPD 5 Jam
Diagnosa Pasca Bedah: P1A0 Post SC aterm + KPD 5 Jam
Tanggal Pembedahan: 3 Agustus 2016 Jam 09.00
Lama Pembedahan : 1 Jam
Klasifikasi : Emergency, Mayor
Uraian Pembedahan
Dilakukan insisi semilunar pada segmen
rahim.
Pasien posisi terlentang
Insisi diperluas secara tumpul kearah dua sisi.
Dilakukan sipnal anestesi, kemudian
Kemudian kepala bayi dikeluarkan terlebih
dilakukan asepsis pada daerah operasi
dahulu, badan dan kaki.
dengan povidone iodine, lalu tutup daerah
Lahir bayi laki-laki, BB: 3120 gr, PB: 49 cm
sekitarnya dengan duk steril.
Lahirkan placenta secara manual, lalu
Lakukan insisi PF annesteil (transversal) 12
lakukan observasi dinding rahim.
cm diatas simfisis pubis.
Rongga rahim dibersihkan dengan kassa
Insisi diperdalam sampai fascia.
steril.
Fascia dibuka secara transversal.
Dilakukan jahit pada uterus kemudian kontrol
Dilakukan retraksi fascia ke bawah dan
perdarahan.
keatas.
Dilakukan bilas pada cavum abdomen dengan
Indetifikasi peritoneum parsial.
Nacl 0,9%.
Peritoneum dibuka.
Dilakukan jahit dinding abdomen lapis demi
Dibuat bladder pada plica vesica urinaria.
lapis hingga tertutup.
Dipaparkan segment bawah rahim.
Operasi Selesai
Tanggal Catatan Perkembangan Tatalaksana

10 Agust 2016 S : Pasien mengeluh nyeri diluka bekas operasi, masih ada Ceftriaxone 1 gr, Observasi,
darah yang keluar dari vagina, mual, muntah disangkal perdarahan, Observasi TTV, Pronalges
O : Ku : Sakit ringan
Supp
Kes : Composmentis
TD : 100/70 mmHg
R : 20 x/mnt
N : 78 x/mnt
S : 36,7 C
Mata : Anemis (-), ikterik (-)
Leher : Pem. KGB (-), pem. Tiroid (-)
Thorax : Cor : BJ I,II regular
Pulmo : vesikuler (+)
Mammae : simetris, putting menonjol, ASI (+)
Abdomen : BU (+),
Genitalia: Darah (+), lendir (-), fluor albus (-)
Ekstrimitas: Hangat (+), CRT <2dtk (+), edema (-)
Otonom : Flatus (+), BAK (+), BAB (-)
A : P1A0 + KPD Post SC hari ke 1
Tanggal Catatan Perkembangan Tatalaksana

11 Agust 2016 S : Pasien mengeluhkan nyeri diluka bekas operasi sedikit, Ceftriaxone 1 gr, Off DC, Off Infus,
masih ada darah yang keluar dari vagina, mual muntah tidak ada, Pronalges Supp.
BAB (-), BAK (+) dan flatus (+).
O : Ku : Sakit ringan
Kes : Composmentis
TD : 120/80 mmHg
R : 20 x/mnt
N : 80 x/mnt
S : 36,5 C
Mata : Anemis (-), ikterik (-)
Leher : Pem. KGB (-), pem. Tiroid (-)
Thorax : Cor : BJ I,II regular
Pulmo : vesikuler (+)
Mammae : simetris, putting menonjol, ASI (+)
Abdomen : BU (+)
Genitalia: Darah (+), lendir (-), fluor albus (-)
Ekstrimitas: Hangat (+), CRT <2dtk (+), edema (-)
Otonom : Flatus (+), BAK (+), BAB (-)
A : P1A0 + KPD Post SC hari ke 2
KETUBAN PECAH DINI
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi

Ketuban pecah dini (KPD) atau premature rupture of


membrane adalah robeknya selaput korioamnion pada
kehamilan sebelum persalinan berlangsung.

Berdasarkan waktu kejadianya, maka KPD dibedakan


menjadi:
Preterm premature rupture of membrane
Umur kehamilan < 37 minggu
premature rupture of membrane
Epidemiologi

Insidensi 8 10 % dari kehamilan aterm. PPROM 1% dari


kehamilan
Pada kehamilan yang cukup bulan sekitar 95 % persalinan
akan terjadi dalam waktu 24 jam. pada kehamilan preterm
sekitar 34 % semua kelahiran prematur.
KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan
kehamilan kurang bulan
Pengelolaan KPD pada kehamilan < 37 minggu bertujuan
untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya
prematuritas dan Respiratory Distress Syndrom (RDS).
Etiologi

Infeksi

Trauma

Inkompeten servik

Kelainan letak
Peningkatan tekanan intra
uterin
Pasca senggama
Diagnosis

Keluar cairan dari vagina, Cairan berbau khas


Anamnesi His belum ada atau belum teratur, Belum ada pengeluaran lendir dan

s darah

Periksa tanda-tanda vital ; lihat ada tidak nya kemungkinan


PF terjadi infeksi

Tampak keluar cairan dari vagina


Inspeks Warna cairan
i Tes Lakmus
Penanganan Konservatif

Perawatan di rumah sakit


Berikan antibiotik (ampisilin 4x500 mg atau eritromisin dan
metronidazol 2x500 mg selama 7 hari).
Jika umur kehamilan <32-34 minggu, dirawat selama air ketuban
masih keluar.
Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi,
beri kotrikosteroid, observasi tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan
janin. Terminasi pada kehamilan 37 minggu.
Lanjutan

Jika usia kehamilan 32-37 minggu sudah inpartu, beri


tokolitik, kortikosteroid dan induksi setelah 24 jam.

Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri


antibiotik dan lakukan induksi, nilai tanda2 infeksi (suhu,
leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin). Dosis
kortikosteroid betametason dosis tunggal 12 mg IM/IV /24
jam selama 2 hari atau deksametason 5 mg/6 jam selama
24 jam.
Penanganan Aktif

Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin,


bila gagal seksio sesaria. Bila ada tanda-tanda infeksi
berikan antiobiotik dan persalinan diakhiri.
Jika usia kehamilan < 37 minggu ada tanda-tanda
infeksi beri antibiotik ampisilin 2 gr IV/6 jam plus
gentamisin 5 mg/kgBB IV/24 jam kemudian terminasi
kehamilan.
Komplikasi

Infeksi janin-ibu
Persalinan prematur
Hipoksia karena kompresi tali pusat
Deformitas janin
Prognosis

Tergantung pada usia kandungan, keadaan ibu dan


bayi serta adanya infeksi atau tidak. Pada usia
kehamilan lebih muda, midtrimester (13-26 minggu)
memiliki prognosis yang buruk.
Apabila KPD terjadi setelah usia masuk ke dalam
aterm maka prognosis lebih baik terutama bila tidak
terdapatnya infeksi
Daftar Pustaka

Prawirohardjo. S. Ilmu Kebidanan. Ed. III, Jakarta : Yayasan


Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008.

Prawirohardjo. S. Buku Panduan Praktis Pelayanan


Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2006.

Premature Rupture of The Membranes.


http//www.eMedicine.com.
TERIMA KASIH