Anda di halaman 1dari 16

Tugas

Sejarah
BAB 2
Indonesia Merdeka!

Naufal Majid B
XI-7
Dari rengasdengklok hingga pegangsaan
timur
RENGASDENGKLOK dan Pegangsaan Timur 56 adalah dua tempat
yang sangat erat kaitannya dengan sejarah proklamasi kemerdekaan
RI tanggal 17 Agustus 1945. Di Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945
dilakukan upacara bendera yang kemudian disebut praproklamasi.
Proklamasi baru dilaksanakan esoknya, tanggal 17 Agustus di
Pegangsaan Timur 56.

Sama pentingnya secara historis namun nasib dua tempat itu jauh
berbeda. Bangunan di Pegangsaan Timur 56, tempat kediaman resmi
Bung Karno bersama keluarga, telah lama lenyap, dirobohkan untuk
dibangun gedung baru dinamai Gedung Pola. Sebagai gantinya pada
era Orde Baru dibangun Monumen Proklamasi di sekitar kawasan itu.
Monumen itu berupa taman yang cukup luas dihiasi patung kedua
proklamator.
Di Rengasdengklok, rumah yang halamannya dijadikan
tempat mengibarkan Sang Merah Putih hingga kini masih
ada. Bangunan sederhana milik Djia Ki Siong itu, terletak
di RT 1 RW 9 Kampung Kalijaya Kelurahan
Rengasdengklok Kabupaten Karawang.Rumah itu pada
masa perjuangan dijadikan markas Peta dengan
daidanco Soerjopoetro. Pemiliknya Djia Ki Siong, yang
pernah menyatakan sebagai pengagum Bung Karno,
sudah meninggal.

Pewarisnya tetap menjaga keutuhan dan keaslian rumah


tersebut. Termasuk sebuah meja di tengah ruangan yang
berisi berbagai alat ritual adat Tionghoa. Di sana masih
tertata baik foto besar Bung Karno, di samping foto-foto
keluarga lainnya. Pertanyaan penting tentang makna
Rengasdengklok adalah, bagaimana proses peran
Hari itu pemuda pejuang
dan mahasiswa di asrama
Prapatan 10 melalui radio
gelap mendengar Jepang Mereka antara lain Chaerul Saleh,
menyerah kepada Sekutu. Soekarni, Wikana dan lain-lain menemui
Itu terjadi setelah AS Bung Karno untuk memintanya segera
menjatuhkan bom atom di memproklamasikan RI. Namun permintaan
Hiroshima tanggal 6 yang lebih merupakan paksaan itu
Agustus dan Nagasaki ditolak.
tanggal 9 Agustus. Bung Karno, yang tak mendengar sendiri
penyerahan Jepang itu, mengemukakan
dua alasan: tak mau meninggalkan PPKI
yang akan bersidang tanggal 16 Agustus,
dan menghindari bentrokan dengan
serdadu Jepang yang bersenjata lebih
Para pemuda yang tak puas, esoknya, tanggal 16 dini hari pukul 03.00,
lengkap.
sesudah sahur, karena memang bulan Ramadan, menculik Bung Karno-
Bung Hatta. Keduanya dibawa ke Rengasdengklok dengan tujuan
menjauhkan dari Jepang, guna memproklamasikan kemerdekaan RI.
Rengasdengklok dipilih karena dua alasan. Pertama; tak terlalu jauh
dari Ibu Kota. Kedua; di sana ada markas Peta di bawah daidanco
Soerjopoetro dan Asisten Wedana Soejono Hadipranoto yang
mendukung kemerdekaan. Kemudian terjadilah pengibaran Merah Putih
pada pagi harinya di halaman markas Peta, rumah Djia Ki Siong, yang
2.Perumusan teks proklamasi
Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Maeda. Di rumah Maeda telah
hadir, para anggota PPKI, para pemimpin pemuda, para pemimpin
pergerakan dan beberapa anggota Chuo Sangi In yang ada di Jakarta.
Setelah berbicara sebentar dengan Soekarno, Moh. Hatta, dan
Achmad Soebardjo, maka kemudian Laksamana Maeda minta diri
untuk beristirahat dan mempersilahkan para pemimpin Indonesia
berunding di rumahnya.
Para tokoh nasionalis berkumpul di rumah Maeda untuk merumuskan
teks proklamasi. Kemudian di ruang makan Maeda dirumuskan
naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ketika peristiwa
bersejarah itu berlangsung Maeda tidak hadir, tetapi Miyoshi sebagai
orang kepercayaan Nishimura bersama Sukarni, Sudiro, dan B. M.
Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo
membahas perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Soekarno pertama kali menuliskan kata pernyataan Proklamasi
sebagai judul pada pukul 03.00 WIB. Achmad Soebardjo
menyampaikan kalimat Kami bangsa Indonesia dengan ini
menyatakan kemerdekaan Indonesia. Moh. Hatta menambahkan
kalimat: Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-
lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempoh yang
sesingkat-singkatnya. Soekarno menuliskan: Jakarta, 17 8 05
Pada pukul 04.00 WIB dini hari Soekarno meminta
persetujuan dan tanda tangan kepada semua yang hadir
sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia. Para pemuda menolak
dengan alasan sebagian yang hadir banyak yang menjadi
kolaborator Jepang. Sukarno mengusulkan agar teks
proklamasi cukup ditandatangani dua orang tokoh, yakni
Soekarno dan Moh. Hatta, atas nama bangsa Indonesia. Usul
Sukarni diterima. Dengan beberapa perubahan yang telah
disetujui, maka konsep itu kemudian diserahkan kepada
Sayuti Melik untuk diketik. Perubahan dalam naskah
Proklamasi terdiri dari:
Kata tempoh diubah mendai tempo
Kata-kata "wakil-wakil bangsa
Indonesia" pada bagian akhir naskah
diubah menjadi "atas nama bangsa
Indonesia".
Perubahan penulisan tanggal, yaitu
"Djakarta, 17-8-05" menjadi Djakarta,
hari 17 boelan 8 tahoen 05. Tahun 05
merupakan singkatan dari tahun Jepang
(Sumera), yakni tahun 2605 yang
bertepatan dengan tahun 1945 Masehi.
Pertemuan dini hari itu menghasilkan naskah
Proklamasi. Agar seluruh rakyat Indonesia
mengetahuinya, naskah itu harus disebarluaskan.
Timbullah persoalan tentang cara penyebaran naskah
tersebut ke seluruh Indonesia. Sukarni mengusulkan
agar naskah tersebut dibacakan di Lapangan Ikada,
yang telah dipersiapkan bagi berkumpulnya
masyarakat Jakarta untuk mendengar pembacaan
naskah Proklamasi. Namun, Soekarno tidak setuju
karena lapangan Ikada merupakan tempat umum
yang dapat memancing bentrokan antara rakyat
dengan militer Jepang. Ia sendiri mengusulkan agar
Proklamasi dilakukan di rumahnya di Jalan
Pegangsaan Timur No. 56. Usul tersebut disetujui dan
naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
dibacakannya bersama Hatta di tempat itu pada hari
Jumat tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB.
Pengesahan UUD 1945 dan Pemilihan Presiden
Beserta Wakilnya

PPKI mengadakan sidang untuk pertama kalinya pada


tanggal 18 Agustus 1945. Dan pada sidang tersebut didapat
keputusan bahwa UUD 1945 ditetapkan dan disahkan
menjadi kontitusi Negara Indonesia dan dipilihkan Presiden
Indonesia beser wakilnya beserta wakilnya. Sidang dari PPKI
ini adalah kelanjutan sidang BPUPKI pada tanggal 10-16 juli
1945 yang membahas masalah rancangan undang-undang
dasar. Beberapa perbaikan disepakati oleh sidang, yaitu
rumusan sila pertama pancasila yang sebalumnya
disepakati adalah ketuhanan dan kewajiban menjalankan
syariat-syariat islam bagi pemeliknya,di ubah menjadi
ketuhanan yang maha esa. Selain itu, Bab III, pasal 6,UUD
1945yang sebelumnya menyatakan bahwapresiden ialah
orang Indonesia asli yang beragama islam. Dalam sidang
itu pularancangn undang-undang dasar ditetapkan dan
disahkan menjadi undang-undang dasar Negara yang
kemudian dikenal sebagai undang-undang dasar 1945.
Pada saat membahas bab III rancangan UUD 1945,
Otto iskandardinata mengusulkan agar sekaligus saja
memilih presiden dan wakil presiden. Ia mengusulkan
Soekarno menjadi presiden, dan Moh Hatta sebagai
wakil presiden. Laksana dayung bersambut, usul dari
Otto Iskandardinata langsung diterima secara bulat
dan disambut dengan upacara menyanyikan lagu
Indonesia Raya sebanyak dua kali. Dengan demikian,
kedua proklamator tersebut sejak tanggal 18 Agustus
1945 resmi menjadi presiden dan wakil presiden
Republik Indonesia yang pertama.
Pembentukan Departemen dan Pemerintahan Daerah

Sebagai Negara yang baru merdeka Indonesia belum


mempunyai pemimpin serta pemerintahan yang
berdaulat, oleh sebab itu diadakan sidang PPKI dalam
upaya pembentukan pemerintahan, alat kelengkapan,
serta keamanan negara Indonesia.
Sidang tanggal 18 Agustus1945, menghasilkan
keputusan sebagai berikut:Mengesahkan serta
menetapkan UUD RI yang dikenal dengan nama UUD
1945.Memilih serta menetapkan Sukarno sebagai
Presiden serta Mohammad Hatta sebagai wakil
presiden (secara aklamasi)Pembentukan Komite
Nasional untuk menolong pekerjaan presiden
sebelum terbentuknya MPR serta DPR.
Sidang tanggal 19 Agustus 1945, menetapkan
tentang :Pembagian wilayah Indonesia.
Menetapkan wilayah Indonesia menjadi 8 propinsi
dengan 2 daerah istimewa beserta gubernurnya,
yaitu :
Jawa Barat : Sutardjo Kartohadikusumo
Jawa Tengah : R. Panji Soeroso
Jawa Timur : R.A Soerjo
Kalimantan : Ir. Mohammad Noor
Sulawesi : Dr. Sam Ratulangi
Maluku : Mr. J. LatuharharyS
unda Kecil : Mr. I Gusti Ketut Pudja
Sumatera : Mr. Teuku Moh. Hasan
Dua daerah istimewa yaitu Yogyakarta serta
Surakarta
Pembentukan Dpartemen serta Kementrian.
Pembentukan 12 Departemen serta 4 kementrian
negara untuk menolong presiden.
Departemen Dalam Negeri : Wiranata Kusumah
Departemen Luar Negeri : Ahmad Subardjo
Departemen Kehakiman : Dr. Soepomo
Departemen Keuangan : A.A Maramis
Departemen Kemakmuran : Ir. Surachman
Tjokrodisuryo
Departemen Pengajaran : Ki Hajar Dewantara
Departemen Penerangan : Amir Syarifudin
Departemen Sosial : Iwa Kusumasumantri
Departemen Pertahanan : Supriyadi
Departemen Kesehatan : Boentaran Martoatmodjo
Departemen Perhubungan : Abikusno Tjokrosujoso
Departemen Pekerjaan Umum : Abikusno
Tjokrosujoso
Menteri Negara : Wachid Hasyim
Menteri Negara : R.M Sartono
Menteri Negara : M. Amir
Menteri Negara : R. Otto Iskandardinatas
Sistem Pemerintahan Periode 1945-1949
- Bentuk Negara : Kesatuan
- Bentuk Pemerintahan : Republik-
- Sistem Pemerintahan : Presidensial- Konstitusi : UUD
1945-
- Lama periode : 18 Agustus 1945 27 Desember 1949-
- Presiden dan Wapres : Ir. Soekarno dan Mohammad
Hatta (18 Agustus 1945 - 19 Desember
1948)Syafruddin Prawiranegara (ketua PDRI) (19
Desember 1948 - 13 Juli 1949)
- Pernyataan van Mook untuk tidak berunding dengan
Soekarno adalah salah satu faktor yang memicu
perubahan sistem pemerintahan dari presidensiil
menjadi parlementer. Gelagat ini sudah terbaca oleh
pihak Republik Indonesia, karena itu sehari sebelum
kedatangan Sekutu, tanggal 14 November 1945,
Soekarno sebagai kepala pemerintahan republik diganti
oleh Sutan Sjahrir yang seorang sosialis dianggap
sebagai figur yang tepat untuk dijadikan ujung tombak
diplomatik, bertepatan dengan naik daunnya partai
sosialis di Belanda. Setelah munculnya Maklumat Wakil
Presiden No. X tanggal 16 November 1945, terjadi
pembagian kekuasaan dalam dua badan, yaitu
kekuasaan legislatif dijalankan oleh Komite Nasional
Proses Terbentuknya Partai Politik pada Masa
Revolusi Kemerdekaan

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945


telah memulai babak baru dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan
kemerdekaan dengan aksi fisik maupun diplomatik membawa
dampak dan perkembangan bangsa dalam kurun waktu 1945 hingga
pengakuan kedaulatan di akhir tahun 1949, yang merupakan
kelahiran badan-badan aparatur negara sebagai bagian dari cikal-
bakal lahirnya partai politik di Inonesia.

Setelah Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta dipilih sebagai


Presiden dan Wakil Presiden oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945 dan pada 22 Agustus 1945
PPKI menetapkan Aturan Peralihan UUD 1945 selama UUD 1945
belum dapat dibentuk secara sempurna. PPKI juga menetapkan
berdirinya Komite Nasional Indonesia yang kemudian dikembangkan
menjadi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang menjadi
pembantu Presiden sebelum MPR dan DPR didirikan. KNIP pun
langsung memegang peranan penting setelah terbentuk. Di mana
keanggotaan KNIP diambil dari pemuka masyarakat dari berbagai
Di tengah usaha membentuk badan-badan aparatur negara,
timbul pula hasrat di beberapa kalangan untuk mendobrak
suasana politik otoriter dan represif yang telah berjalan
selama tiga setengah tahun pendudukan Jepang, ke arah
kehidupan yang demokratis yang terjadi dalam beberapa
tahap, yaitu:

a. Atas beberapa prakarsa politisi muda, diusahakan


agar kedudukan KNIP yang tadinya sebagai pembantu
Presiden, menjadi suatu badan yang diberi kekuasaan
legislatif. Untuk itu, pada tanggal 16 Oktober 1945,
Sidang Paripurna KNIP yang diketuai Mr. Kasman
Singodimejo dan dihadiri perwakilan pemerintah,
ditetapkan bahwa sebelum MPR dan DPR terbentuk,
KNIP diberi kewenangan legislatif dan wewenang untuk
turut menatapkan Garis-garus Besar Haluan Negara
serta kebijakan agar dibentuk Badan Pekerja yang terdiri
atas sejumlah anggota KNIP sebagai pelaksana tugas
KNIP terkait situasi yang mendesak saat itu. Keputusan
tersebut dituangkan dalam Maklumat No. X tanggal 16
Oktober 1945 yang ditandatangani Wakil Presiden
Mohammad Hatta.
Sejarah Lahirnya TNI

Pemerintah Indonesia yang baru merdeka dengan sengaja segera


membentuk tentara nasional dengan pertimbangan politik yaitu
pembentukan tentara nasional pada saat itu bakal mengajak
kecurigaaan serta bakal memunculkan pukulan perpaduan
tentara Sekutu serta Jepang. Menurut perdiksi bahwa kekuatan
nasional belum sanggup menghadapi pukulan tersebut. Oleh
sebab itu, pemerintah hanya membentuk Badan Keamanan
Rakyat (BKR), yang bermanfaat sebagai penjaga keamanan
umum pada masing-masing daerah. Badan-badan perjuangan
bernaung dibawah Komite Van Aksi, antara lain Angkatan Pemuda
Indonesia (API), Barisan Rakyat Indonesia (BARA), serta Barisan
Buruh Indonesia (BBI),. Badan-badan perjuangan kemudian
dibentuk diseluruh Indonesia, semacam Barisan Banteng
Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Pemuda Indonesia
Maluku (PIM), Hisbullah Sabilllah, Pemuda Sosialis Indonesia