Anda di halaman 1dari 17

Journal Reading

Effectiveness of Intralesional
Triamcinolone in the Treatment of
Keloids in Children

FARIDA FIDIYANINGRUM (1102011099)


PEMBIMBING: DR. UMI RINASARI, MARS, SP.KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. I RADEN SAID SUKANTO
PERIODE 24 APRIL 29 MEI 2017
KELOID
DEFINISI KELOID
Keloid merupakan suatu tumor jinak jaringan fibrosa padat yang berkembang dari
respon abnormal terhadap penyembuhan cedera kulit, dimana terjadi pertumbuhan
berlebihan kolagen yang meluas keluar dari batas luka atau inflamasi.

ETIOLOGI
Etiologi keloid tidak diketahui tetapi sejumlah faktor pencetus misalnya operasi, tato,
gigitan, vaksinasi, trauma tumpul, luka bakar dan luka tindik pada daun telinga.
Terdapat peran growth factor pada pembentukan keloid,yaitu peningkatan kadar TGF
beta.
EPIDEMIOLOGI
Keloid lebih sering dijumpai pada ras Afrika, Amerika Latin dan Asia.
Secara umum risiko untuk terjadi keloid pada ras dengan kulit lebih
gelap 15 kali lebih tinggi dibanding ras kulit putih. Etiologi keloid tidak
diketahui tetapi sejumlah faktor pencetus misalnya operasi, tato,
gigitan, vaksinasi, trauma tumpul, luka bakar dan luka tindik pada daun
telinga. Terdapat peran growth factor pada pembentukan keloid,yaitu
peningkatan kadar Transforming Growth Factor (TGF-).
MANIFESTASI
Manifestasi klinis keloid berupa plak atau nodul kenyal, berwarna merah atau
merah muda (sering disertai telangiektasis), biasanya gatal dan nyeri, yang tidak
dapat pulih secara spontan dan ukurannya makin lebar seiring dengan waktu.
Injeksi Kortikosteroid Intralesi
Injeksi Kortikosteroid Intralesi merupakan metoda penanganan keloid yang paling
banyak dilakukan karena mudah dikerjakan, dapat diterima dengan baik dan efektif
mengurangi gejala.
Mekanisme kerja yang mungkin didapat dari KIL ini adalah inhibisi pertumbuhan
fibroblas keloid, degenerasi fibroblas, dan downregulation dari ekspresi gen
kolagen pada keloid.
Injeksi Kortikosteroid Intralesi menyebabkan keloid jadi mendatar, lebih lunak dan
meringankan gejala nyeri dan gatal.
LATAR BELAKANG

triamcinolone acetonide intralesi adalah steroid yang paling sering digunakan untuk
pengobatan keloid, namun penggunaannya pada anak-anak belum banyak diteliti.
Jurnal ini bertujuan untuk mempelajari efektifitas penggunaan steroid traimcinolone
acetonide intralesi pada anak-anak sebagai terapi tunggal
Tujuan kedua dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah lokasi, etiologi
serta lamanya bekas luka merupakan faktor yang menentukan keberhasilan atau
kegagalan dalam pengobatan
METODE

Penelitian ini dilakukan pada anak usia 1 sampai 14 tahun.


Saat sesi terapi, diberikan tramcinolone acetonide intralesi tanpa anestesi
lokal, menggunakan jarum ukuran 23 Fr dengan dosis 0,5 mL/cm 3 pada lesi
(20 mg/cm3, dengan dosis maksimal 40 mg per sesi).
Selanjutnya akan dievaluasi tiap 1 minggu atau 1 bulan sekali, dan evaluasi
secara radiologis tiap 3 bulan, untuk mengetahui efek samping serta
perubahan pada keloid
HASIL
Rata-rata pemberian suntikan untuk keloid 2 kali (1-5 kali). Dosis rata-rata
yang diberikan setiap sesi penyuntikan adalah 16mg (4-40mg). Dan dosis
rata-rata yang dibutuhkan hingga terapi selesai adalah 32 mg (4-80mg).
Pada analisis tubuh yang terdapat keloid, terjadi penurunan luas sekitar 88%
pada daerah lengan, 81% pada dada, 82% pada bahu, dan 72% pada area
aurikuler.
Terjadi penurunan volume keloid sebanyak 69% akibat varicella, 76% pada
vaksinasi, dan 88% pada trauma atau luka bekas pembedahan.
Tidak ada korelasi antara waktu dimulainya pengobatan dengan respon
(persentase pengurangan) volume keloid.
Pre-treatment : 0.26.3 cm3
Post-treatment : 0.01.53 cm3
Efek samping yang timbul pada
penyuntikan triamcinolone acetonide
intralesi yakni adanya deposit lemak dan
telangiektasis

Satu kasus keloid gagal dalam pengobatan


dikarenakan tidak ada nya repson
pengobatan, meskipun sudah mendapatkan
5 kali suntikan
DISKUSI

Penggunaan steroid intralesi atau topikal adalah salah satu


praktik pengobatan keloid yang paling luas. Tingkat
keberhasilannya telah dilaporkan berkisar antara 50% sampai
100%, dengan tingkat kekambuhan 9% sampai 50%.
Efek samping lokal meliputi penipisan dan atrofi pada kulit dan
jaringan subkutan, telangiektasia, timbunan lemak, dan
hipopigmentasi. Kejadian efek samping yang diamati pada
penelitian ini sebesar 20,8%.
KESIMPULAN
Triamcinolone acetonide intralesi pada keloid sangat efektif pada anak-anak,
tanpa terapi tambahan lainnya.
Penurunan rata-rata volume lesi adalah 84,6% dan 96% tidak mengalami
kekambuhan selama 18-53 bulan setelah terapi.
Komplikasi ringan terjadi sebanyak 21% yakni terjadi hipopigmentasi, atrofi
kulit dan telengiektasis.
Respon terapi yang baik terjadi pada kasus luka bekas operasi, daripada keloid
yang disebabkan varicella atau vaksinasi, namun perbedaan ini tidak
signifikan.
Keloid pada telinga memiliki respon yang buruk daripada lengan, dada, dan
lokasi lainnya, namun perbedaan ini tidak signifikan. Ukuran sample yang kecil
bisa saja mempengaruhi hasil dari terapi.
Durasi munculnya keloid sebelum memulai pengobatan tidak berpengaruh
pada hasil pengobatan