Anda di halaman 1dari 25

Kehamilan Ektopik

Terganggu
Sekar P.A
012116517
Definisi

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar


lokasi normal endometrium. Blastokis normalnya akan
berimplantasi pada endometrium kavum uteri. Bila
blastokis tidak berimplantasi pada tempat tersebut,
maka disebut kehamilan ektopik. Kehamilan Ektopik
tergangu (KET) merupakan kehamilan ektopik yang
disertai dengan gejala akut abdomen, dengan trias
gambaran klasik yaitu amenore, nyeri abdomen akut
dan perdarahan pervaginam. Implantasi hasil konsepsi
dapat terjadi pada tuba fallopii, ovarium, dan kavum
abdomen atau pada uterus namun dengan posisi yang
abnormal (kornu, serviks).
Epidemiologi
Angka kejadian kehamilan ektopik dari tahun ke tahun
cenderung meningkat. Angka kejadian kehamilan ektopik
per 1000 kehamilan yang dilaporkan di Amerika Serikat
meningkat empat kali lipat dari tahun 1970 sampai tahun
1992. Pada tahun 1992 di Amerika Serikat angka
kejadian kehamilan ektopik hampir 2% dari seluruh
kehamilan. Yang penting, kehamilan ektopik
menyebabkan 10% kematian yang berhubungan dengan
kehamilan. Sedangkan di Indonesia, laporan dari Rumah
Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, angka kejadian
kehamilan ektopik pada tahun 1987 ialah 153 diantara
4007 persalinan atau 1 diantara 26 persalinan.
Etiologi
Faktor-faktor mekanis yang mencegah atau menghambat perjalanan ovum
yang telah dibuahi ke kavum uteri.
Salpingitis, khususnya endosalpingitis, yang menyebabkan aglutinasi lipatan
arboresen mukosa tuba dengan penyempitan lumen atau pembentukan
kantong-kantong buntu. Berkurangnya siliasi mukosa tuba akibat infeksi
dapat turut menyebabkan implantasi zigot dalam tuba fallopi. Pada laporan
klasik Westrom, wanita dengan riwayat salpingitis (yang dikonfirmasi dengan
laparoskopi) mempunyai risiko 4 kali lipat untuk menderita kehamilan
ektopik. Bukti infeksi Klamidia (antibodi dalam sirkulasi) berhubungan
dengan peningkatan 2 kali lipat risiko kehamilan ektopik.
Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus atau infeksi masa nifas,
apendisitis ataupun endometriosis, yang menyebabkan tertekuknya tuba
dan penyempitan lumennya.
Kelainan pertumbuhan tuba, khususnya divertikulum, ostium assesorius dan
hipoplasia. Kelainan semacam ini sangat jarang terjadi.
Kehamilan ektopik sebelumnya, dan sesudah sekali mengalami kehamilan
ektopik, insiden kehamilan ektopik berikutnya akan menjadi 7 hingga 15
persen. Meningkatnya risiko ini kemungkinan disebabkan oleh salpingitis
yang terjadi sebelumnya.
Pembedahan sebelumnya pada tuba, entah dilakukan untuk memperbaiki patensi tuba
atau kadang-kadang dilakukan pada kegagalan sterilisasi. Wanita yang pernah
mengalami pembedahan tuba mempunyai risiko kehamilan ektopik yang lebih tinggi.
Wanita dengan kehamilan ektopik yang dilakukan pembedahan konservatif mempunyai
risiko 10 kali lipat untuk mengalami kehamilan ektopik berikutnya.
Abortus induksi yang dilakukan lebih dari satu kali akan memperbesar risiko terjadinya
kehamilan ektopik. Risiko ini tidak berubah setelah satu kali menjalani abortus induksi,
namun akan menjadi dua kali lipat setelah menjalani abortus induksi sebanyak dua kali
atau lebih, kenaikan risiko ini kemungkinan akibat peningkatan insiden salpingitis.
Tumor yang mengubah bentuk tuba, seperti mioma uteri dan adanya benjolan pada
adneksa.
Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim yang digalakkan akhir-akhir ini telah
meningkatkan insiden kehamilan ektopik. Tapi harus diingat bahwa penggunaan IUD
modern seperti Copper T tidak meningkatkan risiko kehamilan ektopik dan malahan
merupakan proteksi terhadap kehamilan. Studi yang lebih besar yang dilakukan oleh
WHO menyatakan bahwa pengguna IUD memiliki risiko kurang dari 50 % untuk
mengalami kehamilan ektopik dibandingkan dengan yang tidak menggunakan
kontrasepsi. Tetapi apabila pemakai IUD menjadi hamil maka kehamilannya
kemungkinan besar merupakan kehamilan ektopik. Sekitar 3-4 % kehamilan pada
pemakai IUD adalah ektopik.

Faktor-faktor fungsional yang memperlambat perjalanan ovum
yang telah dibuahi ke dalam kavum uteri

Migrasi eksternal ovum mungkin bukan faktor yang penting kecuali pada kasus-kasus
perkembangan duktus mulleri yang abnormal, sehingga terjadi hemiuterus dengan kornu uterina
rudimenter dan tidak berhubungan. Risiko terjadinya kehamilan ektopik dapat pula sedikit
meningkat pada wanita dengan satu oviduk kalau saja dia mengalami ovulasi dari ovarium sisi
kontra lateralnya. Kelambatan pengangkutan ovum yang telah dibuahi lewat saluran tuba atau
oviduk akibat migrasi eksternal akan meningkatkan sifat-sifat invasif blastokis sementara masih
berada di dalam oviduk. Peristiwa ini mungkin bukan faktor yang penting dalam proses terjadinya
kehamilan ektopik pada manusia.
Refluks menstrual pernah dikemukakan sebagai penyebab terjadinya kehamilan ektopik.
Kelambatan fertilisasi ovum dengan perdarahan menstruasi pada waktu sebagaimana biasanya,
secara teoritis dapat mencegah masuknya ovum ke dalam uterus atau menyebabkan ovum tersebut
berbalik ke dalam tuba. Bukti yang mendukung fenomena ini tidak banyak.
Berubahnya motilitas tuba dapat terjadi mengikuti perubahan pada kadar estrogen dan progesteron
dalam serum. Perubahan jumlah dan afinitas reseptor adrenergik dalam otot polos uterus serta tuba
fallopi kemungkinan benar menjadi penyebabnya. Segi praktisnya tampak pada peningkatan insiden
kehamilan ektopik yang dilaporkan setelah penggunaan preparat kontrasepsi oral yang hanya
mengandung progestin. Juga dilaporkan peningkatan insiden kehamilan ektopik sebesar 4 hingga 13
persen di antara para wanita yang pernah mendapatkan preparat dietilstilbestrol (DES) intrauteri.
Kejadian ini mungkin lebih disebabkan oleh berubahnya motilitas tuba daripada oleh abnormalitas
strukturnya.
Peningkatan daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang telah dibuahi. Unsur- unsur
ektopik endometrium dapat meningkatkan implantasi dalam tuba. Meskipun para pengamat pernah
patofisiologi
Dibawah pengaruh hormon estrogen daan progesteron dari
korpus luteum graviditatis dan tropoblas uterus menjadi besar
dan lembek, endometrium dapat berubah pula menjadi desidua.
Dapat ditemukan perubahan-perubahan pada endometrium
yang disebut Fenomena Arias-Stella. Sel epitel membesar
dengan intinya hipertropik, hiperkromatik, lobuler, dan
berbentuk tidak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang
atau berbusa, dan kadang-kadang ditemukan mitosis.
Perubahan tersebut hanya ditemukan pada sebagian kehamilan
ektopik.1
Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami
degenerasi dan kemudian dikeluarkan berkeping-keping, tetapi
kadang-kadang dilepaskan secara utuh. Perdarahan yang
dijumpai pada KET berasal dari uterus dan disebabkan oleh
pelepasan desidua yang degeneratif.1
Manifestasi klinis

Perdarahan pervaginam
Amenore
Nyeri perut bagian bawah.
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Hb dan jumlah sel


darah merah
Perhitungan leukosit
Tes kehamilan
Ultrasonografi (USG)
Diagnosis
Diagnosis KET ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang 1-8
Anamnesis
Pada anamnesis biasanya didapatkan trias KET klasik yaitu: amenorea, nyeri perut yang biasanya bersifat unilateral
serta perdarahan pervaginam. Gejala tak spesifik lainnya seperti perasaan enek, muntah dan rasa tegang pada
payudara serta kadang-kadang gangguan defekasi.
Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda syok : tekanan darah menurun (sistolik < 90 mmHg), nadi cepat dan lemah (> 110 kali permenit),
pucat, berkeringat dingin, kulit yang lembab, nafas cepat (> 30 kali permenit), cemas, kesadaran berkurang atau
tidak sadar.
Gejala akut abdomen : perut tegang pada bagian bawah, nyeri tekan, nyeri ketok dan nyeri lepas dari dinding perut.
Pemeriksaan ginekologi: biasanya didapatkan servik teraba lunak, nyeri tekan dan nyeri goyang, korpus uteri normal
atau sedikit membesar, kadang-kadang sulit diketahui karena nyeri abdomen yang hebat, kavum Douglas menonjol
oleh karena terisi darah.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Kadar Hb, jumlah sel darah merah dan leukosit, tes kehamilan
USG
Kombinasi USG dengan pemeriksaan kuantitatif -hCG
Kuldosintesis
Kuretase uterus
Laparoskopi
Laparotomi
Diagnosis Banding
Diagnosis banding kehamilan ektopik
terganggu ialah infeksi pelvis, abortus
iminens, kista folikel, korpus luteum
yang pecah, kista ovarium dengan
putaran tangkai, serta apendisitis.
Peritonitis. Penyakit-penyakit ini
dapat memberikan gambaran klinis
yang hampir sama dengan KET.
Penatalaksanaan
Prinsip umum penatalaksanaan kehamilan ektopik terganggu ialah
1,2,4,5,6,8:

Segera dibawa ke rumah sakit


Transfusi darah dan pemberian cairan untuk mengoreksi anemia dan
hipovolemia.
Operasi segera dilakukan setelah diagnosis ditegakkan. Jenis operasi
yang dikerjakan antara lain berupa salpingektomi yang dilakukan
pada kehamilan tuba dan oovorektomi atau salpingoovorektomi pada
kehamilan di kornu. Pada kehamilan di kornu jika pasien berumur >35
tahun sebaiknya dilakukan histerektomi, bila masih muda sebaiknya
dilakukan fundektomi. Pada kehamilan abdominal, bila kantong
gestasi dan plasenta mudah diangkat sebaiknya diangkat saja tetapi
bila besar dan susah diangkat maka anak dilahirkan dan tali pusat
dipotong dekat plasenta, plasenta ditinggalkan dan dinding perut
ditutup.
PENATALAKSANAAN
Pertama dilakukan tindakan perbaikan keadaan umum dengan mengatasi
kondisi pre syok. Pada pasien diberikan infus RL 28 tetes/menit sampai
kondisi syok teratasi, dengan terus dilakukannya monitoring tanda-tanda
vital. Kemudian seharusnya dilakukan cek Hb serial setiap 2 jam untuk
memantau apakah terdapat penurunan Hb. Apabila Hb < 9 gr/dL maka
dilakukan tranfusi PRC. Namun karena kondisi emergency dan Setelah
mendapat persetujuan dari keluarga dilakukan tindakan laparatomi untuk
menghentikan perdarahan yang terjadi oleh karena ruptur tuba. Tindakan
laparatomi yang dilakukan bersifat sebagai alat diagnostik sekaligus
terapeutik. Saat abdomen dibuka terdapat darah kurang lebih sebanyak
2500 cc, hal ini membuktikan adanya perdarahan yang terkumpul di
rongga abdomen. Setelah ditelusuri didapatkan ruptur tuba pars ismika
kanan. Setelah tuba diklem, dilakukan salfingektomi sinistra.
Setelah mendapatkan perawatan selama 4 hari kondisi pasien membaik
dan pasien diijinkan untuk pulang.
Resume
IDENTITAS
Nama : Ika Nur Istiani
Umur : 25 tahun
Alamat : genuksari rt 4/3 semarang
Ruang kamar : Nisa 2
No. CM : 1295759
MRS : 9 Mei 2017
Anamnesis

Keluhan Utama : keluar darah


Pasien datang ke igd dengan keluhan nyeri perut sejak 2 hari
yang lalu serta keluar flek flek sedikit-sedikit, berwarna
kecoklatan, dan keluar terus menerus. Nyeri dirasakan di seluruh
perut bagian bawah, mendadak, dirasakan seperti tertusuk dan
terjadi terus menerus hingga pasien masuk rumah sakit. Nyeri
tidak menghilang meskipun pasien mengganti posisi tubuhnya
dan mengakibatkan pasien tidak dapat beraktivitas. Keluhan
nyeri seperti ini belum pernah dirasakan sebelumnya oleh pasien.
pasien juga mengeluh merasa sangat lemas sejak kemarin.
Kepala dirasakan sedikit pusing dan pandangan kadang-kadang
berkunang-kunang. Keluhan mual-mual ringan tanpa disertai
muntah juga dirasakan sejak awal kehamilannya, keluhan ini
terutama dirasakan di pagi hari. Tidak ada keluhan BAK dan BAB.
Riwayat pingsan, panas badan disangkal .
Riwayat obs : G2POA1
G1 : ab dilakukan curretage
G2 : HAMIL SEKARANG
HPHT: 20 3 2017
Uk : 7 minggu
Riwayat Menstruasi
Menarche : 14 tahun
Siklus haid : 28 hari
Lama : 5 hari
ANC : Bidan, USG (-)
PPT (+)
Riwayat kontrasepsi: -
Riwayat pernikahan : 1 kali, selama 2 tahun
Riwayat penyakit sebelumnya :
Hipertensi sebelumnya (-)
Diabetes mellitus (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Asma (-)
Riwayat keputihan (-)
Riwayat operasi :-
PEMERIKSAAN FISIK
Status Present :
Kondisi Umum : Lemah
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 101x/menit
Respirasi : 22 x/menit
Temperatur rektal: 36 oC
Status General :
Mata : Anemia +/+ , ikterus -/-
THT : Kesan tenang
Thoraks : Cor : S1S2 tunggal, regular, murmur (-)
Po : Ves +/+, rh -/-, wh -/-
Abdomen : ~ Status ginekologi
Ekstremitas : Dingin, lembab (+) , odem (-)
Status Ginekologi :
Abdomen : Fut ttb, distensi (+), BU (+) N, nyeri (+)
Defance musculare (+)
Tanda cairan bebas (+) Shifting dullness (+)
Nyeri tekan (+)
Vagina (Insp) : Flx (+), fl (-), P (-), livide (+)
(VT) : Po : Flx (+), fl (-), P (-), nyeri goyang (+)
CU : AF b/c > N
AP : massa -/-, nyeri +/+
CD : menonjol, nyeri +

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah Lengkap : Hematologi


Hb : 8,0 g/dL
Hematokrit : 32,7%
Leukosit : 9,84 /uL
Trombosit : 299 ribu /uL
APTT/PTTK : 25 detik
PPT : 8.5 detik

Tes Kehamilan: PPT (+)

Ultrasonografi (USG):
GS intrauterin (-)
Tanda cairan bebas (+) di cavum abdomen
Kesan: Kehamilan ektopik terganggu

DIAGNOSIS BANDING
Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
Abortus imminens

DIAGNOSIS KERJA
G2P0A1 uk 7- + Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)

PENATALAKSANAAN
Terapi.infus RL 28 tetes/menit
pro Laparatomi cito
Cefotaxim 2 g IV
Persiapan darah
Monitoring : Keluhan
Vital Sign
Durante operasi (7 Mei 2017) :
Follow up post laparotomi
Tensi : 100/60 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Respirasi : 22 x/menit
Pdx : post op
Tx : Cefotaxim 2 x 1 g
Metronidazole 2x1
Mx : Obs. 2 jam pasca laparotomi


DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo S , Wiknjosastro H. Kehamilan Ektopik. Dalam Ilmu Kebidanan; Jakarta; Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2002; 323-334
Wiknjosastro,H. Kehamilan Ektopik. Dalam Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta; Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo,
2000; 198-204
Delfi L. Kehamilan Ektopik. Sinopsis Obstetri; jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1998; 226-37
Cunningham FG, gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, haulth JC, Wenstrom KD. Ectopic Pregnancy. In: William Obstetrics, 21thed;
USA; Mc graw hill; 2001; pp 883-910
Lipscomb GH. Ectopic Pregnancy. Obstetric and Gynecology Principles for Practice.In: Ling FW,Duff P editor. International
edition;USA. Mc Graw Hill; 2001;pp 1134-1147
Speroff L, Glass RH, Kase NG. Ectopic Pregnancy In Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility,
6thed.Philadelphia.Lippincot William & Wilkins, 1999,pp 1149-1164
Chapin DS. Kehamilan Ektopik. Dalam: Friedman EA, Acker DB, Scachs BP. Seri Diagnosis dan Penatalaksanaan Obstetri.
Jakarta; Binarupa Aksara; 2000. Hal 54-56.
Berek JS. Ectopic Gestasion. In Novaks Gynecology. 13thed.Philadelphia Lippincot Williams & Wilkins, 2002, pp510-534
Beck WW, Jr. Ectopic Pregnancy. In: Obstetrics and Gynecology 4ed. William & Wilkins the Science of Review. New York. 1996;
315-320
Pearson J, Rooyen JV. Ectopic Pregnancy. In: Bandowski BJ, Hearne AE, Lambrou BJC, For HE, Wallase EE editor. The Jhons
Hopkins Manual Of Gynecology and Obstetric; 2nd ed. Philadelphia. Lippincott William & Wilkins; 2002;pp 305-13.
Braun, RD. Surgical Management of Ectopic Pregnancy. Available in : http://www.emedicine.com/med/topic3316.htm. Last
Update : 26 Januari 2007. Accessed : 1 April 2010.
Ectopic Pregnancy. A Guide for Patients. American Society For Reproductive Medicine.1996.