Anda di halaman 1dari 14

TEKNIK PENGUJIAN UMUR BATANG BAWAH

TERHADAP KEBERHASILAN DAN PERTUMBUHAN RAMBUTAN


HASIL OKULASI

Farihul Ihsan dan Sukarmin


AGROTEKNOLOGI REGULER B

Di presentasikan oleh:

Mayu Arya Rianda C1012141001


Atika Kurniawati C1012141035
Tri Indah Lestari C1012141005
Iin Pratiwi C1012141014
M. Nur Pajri C1012141036
Irfan Setia Hadi C1012141003
Rusdiyanto C1012161033
PENDAHULUAN

Rambutan (Nephelium lappaceum) merupakan tanaman buah hortikultural berupa pohon dengan
famili Sapindacaeae.
Perbanyakan vegetatif pada rambutan (Nephelium lappaceum Linn) dapat dilakukan dengan
AGROTEKNOLOGI REGULER B

berbagai cara, antara lain cangkok, okulasi, setek, sambung pucuk, dan penyusuan.
Sutarto et al. (1994) melaporkan tingkat keberhasilan okulasi rambutan dengan menggunakan
batang bawah varietas Sinyonya umur 8 bulan hanya 59,01%.
Di Indonesia yang menjadi sentra penanaman rambutan adalah di Jawa khususnya yang sangat
besar produksi buah rambutan antara lain di Bekasi, Kuningan, Malang, Probolinggo, Lumajang
dan di Garut.
METODOLOGI Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP) Aripan, Balai Penelitian
Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat, mulai bulan Juni sampai
BAHAN & METODE September 2010.

Bahan :
AGROTEKNOLOGI REGULER B

Batang bawah rambutan varietas Sinyonya Metode :


Entres dari pohon induk varietas Binjai. Percobaan menggunakan dua
Tali plastic perlakuan umur batang bawah rambutan,
Pupuk NPK yaitu 5 bulan (A) dan 9 bulan (B).
Pupuk kandang Setiap perlakuan diulang tiga kali dan
Pestisida masing-masing unit terdiri atas 15 tanaman
Pisau okulasi, dan alat tulis. sehingga total ada 90 tanaman.
1. Persentase okulasi jadi, diamati pada tiga minggu setelah okulasi
METODOLOGI
bersamaan dengan pembukaan tali pengikat okulasi. Persentase okulasi jadi
VARIABEL PENELITIAN dihitung dengan rumus sebagai berikut:

jumlah tanaman hidup = Persentase okulasi jadi


x 100%
AGROTEKNOLOGI REGULER B

jumlah tanaman yang diokulasi.


2. Saat pecah tunas, diamati setiap hari hingga seluruh tanaman yang
diokulasi mengalami pecah tunas.
3. Panjang tunas, diamati dengan cara mengukur panjang tunas okulasi dari
pangkal tunas hingga titik tumbuh.
4. Jumlah daun,
PELAKSANAAN
PENELITIAN

Penyiapan Batang Bawah

Batang bawah rambutan varietas Sinyonya (Gambar 1)


AGROTEKNOLOGI REGULER B

diperbanyak dengan biji. Biji disemai dalam bak persemaian pada


5 dan 9 bulan sebelum pelaksanaan okulasi.
Biji yang tumbuh dipindah ke dalam polibag ukuran 18 cm x 25 cm,
dengan media campuran tanah dan pupuk kandang (perbandingan 1:1).
Agar pertumbuhannya optimal, dilakukan pemeliharaan tanaman yang meliputi penyiraman serta
pengendalian hama, penyakit, dan gulma.
PELAKSANAAN
PENELITIAN
Penyiapan Pohon Induk

Entres diambil dari pohon induk rambutan Binjai


umur 17 tahun yang ada di KP Aripan. Pemeliharaan
pohon induk meliputi penyiangan gulma di bawah
AGROTEKNOLOGI REGULER B

kanopi tanaman, pembuangan benalu dan cabang


yang mati, serta pemupukan. Hal ini bertujuan untuk
menumbuhkan cabang-cabang vegetatif yang akan
digunakan sebagai entres untuk okulasi. Entres
dipilih yang tidak terlalu tua atau tidak terlalu muda,
kondisi pucuk dalam keadaan dorman, mata tunas
bernas dan sehat, serta tidak terserang hama penyakit.
PELAKSANAAN
PENELITIAN

Cara Okulasi
AGROTEKNOLOGI REGULER B

Gambar 2. Pelaksanaan okulasi pada


tanaman rambutan; (a) pembuangan
daun batang bawah di bawah sayatan,
(b) penyayatan kulit batang bawah, (c)
pemotongan tiga perempat lidah
sayatan
PELAKSANAAN
PENELITIAN

Cara Okulasi
AGROTEKNOLOGI REGULER B

Gambar 2. (d) bidang sayatan siap


ditempel, (e) penyayatan entres,
(f) pembuangan kayu pada sayatan
entres,
PELAKSANAAN
PENELITIAN 7. Tanaman yang telah diokulasi
diletakkan di tempat yang terlindung
Cara Okulasi dari hujan.

8. Setelah okulasi berumur 3 minggu,


ikatan dibuka. Okulasi yang berhasil
ditandai dengan mata entres tetap
AGROTEKNOLOGI REGULER B

hijau, segar, tidak kering atau tidak


patah, dan mata tunas tumbuh.

Gambar 2. (g) penempelan entres 9. Batang bawah dipatahkan 5-10 cm


di atas bidang okulasi. Pematahan
pada batang bawah, (h) pengikatan hanya separuh batang sehingga tidak
bidang okulasi, (i) bibit yang telah putus, kemudian patahan dirundukkan
diokulasi, KP Aripan, Solok, 2010 ke samping.
PELAKSANAAN
PENELITIAN
Pemeliharaan tanaman yang telah diokulasi meliputi :
Pemeliharaan Penyiraman. Penyiraman dilakukan hanya pada media tanam.
Pemangkasan
Penyiangan gulma. Tunas-tunas yang muncul selain pada bidang okulasi
AGROTEKNOLOGI REGULER B

dibuang dan gulma yang tumbuh dicabut.


Pengendalian hama penyakit.. Hama dan penyakit dikendalikan dengan
pestisida atau secara manual dengan tangan untuk hama yang dapat
ditangkap.
HASIL
DAN
PEMBAHASAN
AGROTEKNOLOGI REGULER B

Persentase okulasi jadi tertinggi (88,8%) diperoleh pada batang bawah umur 5 bulan (perlakuan A)
Terendah (68,8%) pada batang bawah umur 9 bulan (perlakuan B).
Tingginya keberhasilan okulasi, pada perlakuan A didukung oleh ukuran batang bawah yang relatif
sama dengan entres sehingga memudahkan pelaksanaan okulasi, selain batang bawah berumur relatif
muda.
Sukarmin (2010) menyatakan, luka sayatan pada batang bawah yang berumur relatif muda lebih
cepat sembuh dan menyatu dengan entres dibanding yang isinya lebih tua.
HASIL
DAN
PEMBAHASAN

Hasil pengamatan saat pecah tunas menunjukkan bahwa perlakuan A


lebih cepat mengalami pecah tunas (46 hari setelah okulasi) dibanding
AGROTEKNOLOGI REGULER B

perlakuan B (57 hari setelah okulasi) (Tabel 1).


Hal ini diduga karena sayatan pada perlakuan A lebih cepat menyatu
dengan entres sehingga saat pecah tunas juga lebih cepat. Pada pengamatan
panjang tunas dan jumlah daun, perlakuan A menghasilkan tunas yang lebih
panjang dan daun yang lebih banyak, masing masing 17,41 cm dan 5 helai,
dibanding perlakuan B, masing masing 10,25 cm dan 3 helai. Pada
umumnya, semakin tinggi tunas yang ditumbuhi semakin banyak jumlah
daun yang dihasilkan.
KESIMPULAN

Penggunaan batang bawah umur 5 bulan lebih baik daripada yang


berumur 9 bulan pada okulasi rambutan varietas Sinyonya.
Penggunaan batang bawah umur 5 bulan menghasilkan persentase
AGROTEKNOLOGI REGULER B

okulasi jadi 88,8%, saat pecah tunas 46 hari setelah okulasi, panjang
tunas 17,41 cm, dan jumlah daun 5 helai.
Bila menggunakan batang bawah umur 9 bulan, persentase okulasi jadi
68,8%, pecah tunas 57 hari setelah okulasi, panjang tunas 10,25 cm, dan
jumlah 3 helai.
Benih rambutan hasil perbanyakan dengan okulasi dapat dimanfaatkan
sebagai bahan percobaan berikutnya.
TERIMA KASIH
AGROTEKNOLOGI REGULER B