Anda di halaman 1dari 29

MANAJEMEN KASUS ORTHOPEDI

SINDY PUSPITA MIKAWATI 11711126


SUZAN AYU OCTAVIA PARAMITA 10711226
NAUFAL MUBARAK 11711147
Identitas

Nama : Tn. P
Jeniskelamin : Laki-laki
Umur : 35 tahun
Alamat : Sangkanayu 03/01,
Purbalingga
Agama : Islam
Pekerjaan : Buruh serabutan
Mondok di bangsal : Dahlia
Tanggal masuk : 11 Maret 2016
Nomor RM : 637009
Anamnesis
KU: Nyeri pada tungkai atas kanan
RPS
Pasien datang dengan keluhan nyeri tungkai atas kanan.
Keluhan disertai nyeri dan bengkak. Pada tanggal 10 Maret 2016
jam 10.00 WIB pasien sedang berjalan menuju kerumah saudara
melewati sungai yang berada didekat rumahnya di daerah
Balekering. Untuk mempercepat perjalanan pasien harus
melewati sungai tersebut. Tanpa berfikir panjang pasien langsung
loncat menuju seberang sungai tetapi loncatannya tidak sampai
seberang dan pasien terjatuh kebawah dengan ketinggian 3 meter.
Posisi jatuh tengkurap diatas pondasi. Saat kejadian pasien sadar,
langsung tidak bisa berjalan dan tidak ada luka.Setelah kejadian
pasien dibawa pulang kerumah. Saat berada di rumah pasien
merasa kaki kanan semakin bengkak dan sulit untuk digerakkan.
Kemudian pasien pergi ke RSUD dr. R. GoetengTaroenadibrata
Purbalingga.
RPD
2 tahun yang lalu pasien pernah mengalami kecelakaan
di kampung di sekitar rumahnya. Pasien ditabrak motor dari arah
depan saat berada di jalan tanjakan dan berbelok dengan
kecepatan tinggi kira-kira 80 km/jam. Saat kejadian pasien tidak
sadar tetapi menurut saksi pasien terpental sekitar 10 meter.
Setelah kejadian pasien dibawa ke RS Margono dan tidak
sadarkan diri selama 3 hari. Pasien dirawat di RS Margono
selama 15 hari dengan kaki kanan di pasang gips. 1,5 bulan
setelah pulang dari rumah sakit gips dilepas sendiri oleh pasien
dan tidak pernah control atau periksa ke dokter lagi sampai
sekarang.

RPK
Keluhanserupa (-), HT (-), DM (-)
Anamnesis Sistem

Sistem Saraf : pusing (-), kejang (-),


demam (-)
Sistem Respirasi : Sesak nafas (-), batuk (-)
Sistem Kardiovaskuler : nyeri dada (-), berdebar-debar(-)
Sistem Digestive : Mual (-), muntah (-), diare (-),
nyeri epigastrium (-)
Sistem Urogenital : BAK (+) N, warna kuning (+)
Sistem Integumentum : kulit pucat (-) gatal (-)
Pemeriksaan Fisik

Status Generalis
Kondisi Umum : Tampak Kesakitan
Kesadaran : Compos Mentis
Status Gizi : Cukup
Tanda vital
Tekanan darah : 120/80mmHg
Nadi : 82 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36 0C
Cephal : Normochepal
MATA : KONJUNGTIVA ANEMIS (-/-), SUBKONJUNGTIVA BLEEDING
(+/-)
Thorax : Tampak simetris, Bentuk dada normal
Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis (+)
Perkusi : batas-batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : S1-S2 reguler, Bising (-)
Pulmo
Inspeksi : Retraksi dada (-), Ketertinggalan gerak (-)
Palpasi : vocal fremitus lapang paru kiri dan kanan simetris
Perkusi : sonor pada lapang paru kiri dan kanan
Auskultasi : lapang paru kiri dan kanan vesikuler, rhonki dan
wheezing tidak ada
Abdomen :
Inspeksi : benjolan (-), lebih rendah dari dinding dada
Auskultasi : Peristaltik (+)
Perkusi : Timpani semua lapang
Palpasi : nyeri tekan (-), hepar dan limpa tidak teraba

Extremitas :
Look : tampak bagian femur bengkak (+), deformitas (+)
Feel : nyeri tekan (+), teraba hangat (+)
Move : keterbatasan gerak aktif dan pasif (+), nyeri jika digerakkan (+)
Pemeriksaan laboratorium
Rontgen Pre-op

Hasil Rontgen
Tampak adanya fraktur femur proksimal dextra
Aposisi dan aligmen jelek
Rontgen Post-op

Hasil Rontgen
Tampak malunion fraktur femur proximal dextra
Aposisi dan aligmen jelek
DIAGNOSIS :
Pre Op: Fraktur tertutup komplit oblik 1/3 proximal femurdextra displace
Post Op: Malunion fraktur femur dextra post orif H+6

Tindakan/ Terapi
Rencana operatif
- Dilakukan pemeriksaan darah rutin untuk persiapan operrasi
- Skeletal traksi
Di bangsal
- Terapi medikamentosa
- Inj. Cefazolin 2x1 gram
- Inj. Ketorolac 2x30 mg
- Inj. Ranitidin 2x50 mg
- Non-medikamentosa
- Traksi dengan beban 2,5 kg
- Edukasi untuk latihan pergerakkan daerah yang dilakukan ORIF
DEFINISI FRAKTUR

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang,


tulang rawan, baik yang bersifat total maupun
sebagian, yang biasanya disebabkan oleh trauma
atau tenaga fisik yang ditentukan jenis dan luasnya
trauma.
Os femur

Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi


dengan acetabulum bagian dari femur, terdiri dari :
kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan
batang, bagian terjauh dari femur berakhir pada kedua
kondilas.
Kepala femur masuk acetabulum. Sendi panggul
dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot.
Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia. Sumber
utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari
pembuluh darah dari batang femur meluas menuju
daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.
Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu :
Fraktur Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam
tulang sendi, panggul dan Melalui kepala femur
(capital fraktur)
Hanya di bawah kepala femur
Melalui leher dari femur
Fraktur Ekstrakapsuler;
Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur
yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah
intertrokhanter.
Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih
dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.
Penyebab fraktur : trauma
1. Trauma langsung,
2. Trauma tak langsung,
Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh
trauma minimal atau tanpa trauma berupa yang
disebabkan oleh suatu proses yaitu :
1. Osteogenesis Imperfekta
2. Osteoporosis
Gambaran klinis

Bagian paha yang patah lebih pendek dan lebih besar


dibanding dengan normal serta fragmen distal dalam
posisi eksorotasi dan aduksi.
Selain itu, adapun tanda dan gejalanya adalah :
Nyeri hebat di tempat fraktur
Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah
Rotasi luar dari kaki lebih pendek
Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti :
fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada
fraktur terbuka, deformitas.
Komplikasi

Perdarahan, dapat menimbulkan kolaps kardiovaskuler.


Infeksi, terutama jika luka terkontaminasi dan
debridemen tidak memadai.
Non-union, lazim terjadi pada fraktur pertengahan
batang femur, trauma kecepatan tinggi dan fraktur
dengan interposisi jaringan lunak di antara fragmen.
Fraktur yang tidak menyatu memerlukan bone
grafting dan fiksasi interna.
Malunion, disebabkan oleh abduktor dan aduktor yang
bekerja tanpa aksi antagonis pada fragmen atas untuk
abduktor dan fragmen distal untuk aduktor. Deformitas
harus diakibatkan oleh kombinasi gaya ini.
Manajemen fraktur

Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi,


fraktur dapat diimobilisasi dengan salah satu dan
empat cara berikut ini:
1) Traksi.
2) Fiksasi interna.
3) Fiksasi eksterna.
4) Cast bracing
Definisi

Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat


lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang
dan otot. Tujuan traksi adalah untuk menangani fraktur,
dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki
deformitas dan mempercepat penyembuhan (Apley&
Solomon, 2013).
manual
Skin
traksi
traksi
mekanik
Skeletal
traksi
Skin Traksi
Skin traksi digunakan untuk penanganan patah tulang
pada pasien anak dan dewasa yang membutuhkan kekuatan
tarikan sedang, dengan beban tidak lebih dari limakilogram
serta lama pemasangan tidak lebih dari 3-4 minggu
1. Traksi Buck
Ektensi buck (unilateral/bilateral) adalah bentuk traksi kulit
dimana tarikan diberikan pada satu bidang bila hanya imobilisasi
parsial atau temporer yang diinginkan.Traksi buck digunakan untuk
memberikan rasa nyaman setelah cidera pinggul sebelum dilakukan
fiksasi dengan intervensi bedah.
2. . Traksi Russell
Traksi Russel dapat digunakan pada fraktur plato tibia, menyokong
lututyang fleksi pada penggantung dan memberikan gaya tarik horizontal
melalui pita traksi balutan elastis ketungkai bawah.Baik untuk fraktur
femur pada anak-anak lebih dari 2 tahun (Salter, 2008).
3. Traksi Dunlop
Traksi Dunlop adalah traksi pada ektermitas atas. Traksi ini
digunakan untuk fraktur supracondyler atau trancondyler anak yang
sulit dilakukan reposisi manual atau dikhawatirkan ada gangguan
sirkulasi saat siku difleksikan. Traksi pada ujung tangan dengan bebas 5
kg dan melalui sling diatas siku pada tempat fraktur (Salter, 2008).
4. Traksi kulit Bryant
Traksi ini sering digunakan untuk merawat anakusia 1-3 tahun
yang mengalami fraktur femur. Traksi Bryant sebaiknya tidak dilakukan
pada anak-anak yang berat badannya lebih dari 30 kg apabila batas ini
dilampaui maka kulit dapat mengalami gangguan sirkulasi (Salter,
2008).
Skeletal Traksi

Traksi langsung pada tulang dengan menggunakan pins, wires,


screw untuk menciptakan kekutan tarikan besar (9-14 kilogram) serta
waktu yang lebih dari empat minggu, serta memiliki tujuan tarikan ke
arah longitudinal serta mengontrol rotasi dari fragmen tulang.
Menurut Rasjad (2012), jenis traksi pada tulang sebagai berikut :

- Traksi tulang dengan menggunakan kerangkadariBohler Braun


pada fraktur orang dewasa
- Thomas splint dengan pegangan lutut atau alat traksi dari Pearson
- Traksi tulang pada olekranon, pada fraktur humerus
- Traksi yang digunakan pada tulang tengkorak misalnya Gardner
Well Skull Calipers, Crutchfield cranial tong
Menurut Rasjad (2012), indikasi penggunaan traksi pada tulang
adalah :
- Apabila diperlukan traksi yang lebih beratdari 5 kg
- Traksi pada anak-anak yang lebih besar
- Pada fraktur yang bersifat tidak stabil, oblik atau komunitif
- Fraktur-fraktur tertentu pada daerah sendi
- Fraktur terbuka dengan luka yang sangat jelek dimana fiksasi
eksterna tidak dapat dilakukan
- Dipergunakan sebagai traksi langsung pada traksi yang sangat
berat misalnya dislokasi panggul yang lama sebagai persiapan
terapi definitive
Komplikasi Traksi

1. Iritasi kulit
2. Atrofi otot
3. Demineralisasi tulang
4. Infeksi dan Paresesaraf