Anda di halaman 1dari 34

RESUSITASI JANTUNG PARU

SITTI RAHMAH, S.Ked


10542 0109 09

PEMBIMBING
dr. Hisbullah, Sp. An. KIC.
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
BAGIAN ILMU ANASTESI DAN MANAJEMEN NYERI
FAKULTAS KEDOKTERAN
Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau
Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) adalah
prosedur kegawatdaruratan medis yang
ditujukan untuk serangan jantung dan pada
henti napas.
1. Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support)
Airway Control
Breathing Support
Circulation Support
Recorvery Position
2. Bantuan Hidup Lanjut (advanced life support )
3. Bantuan Hidup Jangka Panjang (Prolonge life
support )
Tindakan kepala tengadah ( head tilt)
Tindakan ini dilakukan jika tidak
ada trauma pada leher. Satu
tangan penolong mendorong
dahi ke bawah agar kepala
tengadah
Tindakan dagu diangkat (chin lift)
Jari jemari satu tangan
diletekkan dibawah rahang,
yang kemudian secara hati-hati
diangkat keatas untuk
membawa dagu kearah depan.
Ibu jari dapat juga diletakkan
dibelakang gigi seri (incisor)
bawah dan secara bersamaan
dagu dengan hati-hati diangkat.
Maneuver chin-lift tidak boleh
menyebabkan hiperekstensi
leher.
Pada pasien
dengan trauma leher,
rahang bawah diangkat
di dorong kedepan pada
sendinya tanpa
menggerakkan kepala-
leher.
1. Look : Lihat apakah ada
gerakan dada (gerakan
bernapas), apakah
gerakan tersebut simetris.
2. Listen (mendengar bunyi
nafas) : Dengarkan
apakah ada suara nafas
normal, dan apakah ada
suara nafas tambahan
yang abnormal (bisa
timbul karena ada
hambatan sebagian).
3. Feel : Rasakan dengan
pipi pemeriksa apakah
ada hawa napas dari
korban.
1. Snoring : suara seperti
ngorok, kondisi ini menandakan
adanya kebuntuan jalan napas
bagian atas oleh benda padat,
jika terdengar suara ini maka
lakukanlah pengecekan langsung
dengan cara cross-finger untuk
membuka mulut (menggunakan
2 jari, yaitu ibu jari dan jari
telunjuk tangan yang digunakan
untuk chin lift tadi, ibu jari
mendorong rahang atas ke atas,
telunjuk menekan rahang
bawah ke bawah). Lihatlah
apakah ada benda yang
menyangkut di tenggorokan
korban (ex: gigi palsu dll).
Pindahkan benda tersebut.
Gambar : Cross Finger
2. Gargling : suara seperti
berkumur, kondisi ini terjadi
karena ada kebuntuan
yang disebabkan oleh cairan
(ex: darah), maka lakukanlah
cross-finger (seperti di atas),
lalu lakukanlah finger-sweep
(sesuai namanya,
menggunakan 2 jari yang
sudah dibalut dengan kain
untuk menyapu rongga
mulut dari cairan-cairan).
3. Crowing : suara dengan nada
tinggi, biasanya disebakan karena
pembengkakan (edema) pada
trakea, untuk pertolongan pertama
tetap lakukan maneuver head tilt
and chin lift atau jaw thrust saja.
Jika suara napas tidak terdengar
karena ada hambatan total pada
jalan napas, maka dapat dilakukan :
-Back Blow sebanyak 5 kali, yaitu
dengan memukul menggunakan
Gambar : Heimlich Maneuver telapak tangan daerah diantara
tulang scapula di punggung.
-Heimlich Maneuver, dengan cara
memposisikan diri seperti gambar,
lalu menarik tangan ke arah
belakang atas.
-Chest Thrust, dilakukan pada ibu
hamil, bayi atau obesitas dengan
cara memposisikan diri seperti
gambar lalu mendorong tangan
kearah dalam atas.
Gambar : Chest Thrust
NAPAS BUATAN TANPA ALAT

Penolong menarik napas


dalam, kemudian bibir penolong
ditempelkan ke bibir pasien yang
terbuka dengan erat supaya tidak
bocor dan udara ekspirasi
dihembuskan ke mulut pasien
sambil menutup kedua lubang
hidung pasien dengan cara
memencetnya
Udara ekspirasi
penolong dihembuskan
ke hidung pasien sambil
menutup mulut pasien.
Tindakan ini dilakukan
jika mulut pasien sulit
dibuka (trismus) atau
pada trauma maksilo-
fasial.
Mulut-ke-stoma
trakeostomi, dilakukan
dari mulut-ke-toma
atau lubang trakeostomi
pada pasien pasca
bedah laringektomi.
Nilai sirkulasi darah korban
dengan menilai denyut arteri besar
(arteri karotis, arteri femoralis).
1. Apabila terdapat denyut nadi
maka berikan pernapasan
buatan 2 kali.
2. Apabila tidak terdapat denyut
nadi maka lakukan kompresi
dada sebanyak 30 kali.
3. Posisi kompresi dada, dimulai
dari melokasi proc. Xyphoideus,
dan tarik garis ke cranial 2 jari
diatas proc. Xyphoideus, dan
lakukan kompresi pada tempat
tersebut.
Kemudian berikan 2 kali napas
buatan dan teruskan kompresi dada
sebanyak 30 kali. Ulangi siklus ini
sebanyak 5 kali. Kemudian cek nadi
dan napas korban, apabila:
-Tidak ada napas dan tidak ada nadi
: teruskan RJP sampai bantuan
datang
- Terdapat nadi tetapi tidak ada

Gambar : Posisi Pijatan Jantung napas: mulai lakukan pernapasan


buatan
-Terdapat nadi dan napas: korban
membaik.
Bayi dan anak : Untuk anak
kecil hanya dipakai satu tangan, untuk
bayi hanya dipakai ujung telunjuk dan
jari tengah. Ventrikel bayi dan anak kecil
terletak lebih tinggi dalam rongga dada,
jadi tekanan harus dilakukan di bagian
tengah tulang dada.
Tekanan : Pada bayi 1 2 cm,
pada tulang dada, anak kecil 2 4 cm.
Jumlah kompresi : antara 80 100
kali/menit dengan napas buatan secepat
mungkin tiap 5 kali kompresi. Penarikan
kepala bayi dan anak ke belakang akan
mengangkat punggungnya. Jadi bila
melakukan kompresi maka punggung si
anak harus diganjal dengan tangan,
sedang tangan yang lain melakukan
kompresi jantung.
Recorvery position dilakukan
setelah pasien ROSC (Return of
Spontaneus Circulation).
Tangan pasien yang
berada pada posisi
penolong diluruskan
ke atas.
Tangan lainnya
disilangkan dileher
pasien dengan telapak
tangan pada pipi
pasien.
Kaki pada sisi
yang berlawanan
dengan penolong
ditekuk.
Tangan kiri di bawah dagu
(mencegah posisi telungkup)
dan tangan kanan di bawah
belakang untuk mencegah posisi
telentang.
Ditujukan untuk memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan
diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti jantung.
Setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan,
sedapat mungkin dilakukan intubasi trakeal, maka resusitasi diteruskan
dengan :
Drug and fluid intravenous infusion (pemberian
cairan dan obat-obatan melalui infus intravena)
Electrocardioscopy (cardiography)
Fibrilation Treatment (terapi fibrilasi/defibrilasi)
1. Adrenalin 0,5-1,0 mg dosis untuk dewasa, 10
mg/kg pada anak-anak. Pemberian dapat dilakukan
secara intravena (IV), intratrakeal melalui pipa
endotrakeal ( 1ml adrenalin 1 diencerkan dengan
9 ml akuades steril) atau intrakardia. Pemberian
secara intrakardia hanya dilakukan oleh tenaga
yang terlatih dan saat ini sudah tidak dianjurkan
lagi. Setiap 5 menit diulang dengan dosis sama
sampai timbul denyut jantung spontan atau mati
jantung
2. Bila setelah 3 kali pemberian adrenalin tidak ada
sirkulasi spontan, pikirkan pemberian natrium
bikarbonat intravena dengan dosis awal 1 mEq/kg
BB (bila henti jantung lebih dari 2 menit) dapat
diulang tiap 10 menit dengan dosis 0,5 mEq/kg
sampai timbul denyut jantung spontan atau mati
jantung. Hati-hati pada pemberian pada anak-anak
dan bayi.
Monitoring EKG dilakukan untuk
melihat bentuk henti jantung apakah
asistol ventrikular, fibrilasi ventrikular
atau kompleks aneh yang lain seperti
disosiasi elektromekanis.
Langkah ini merupakan cara
mengatasi fibrilasi. Bila mulanya henti
jantung disaksikan dengan EKG, lakukan
precordial thumb. Bila tidak berhasil,
lakukan defibrilasi eksternal dengan
syok listrik dan obat-obatan.
Bantuan hidup jangka panjang merupakan pengelolaan
intensif pasca resusitasi termasuk resusitasi otak. Jenis
pengelolaan yang diperlukan pasien tergantung sepenuhnya
pada hasil resusitasi. Yang termasuk bantuan hidup jangka
panjang adalah GHI RJPO yaitu :
Gauging

Human Mentation

Intensive Care
Langkah ini dilakukan untuk
menentukan dan memberi terapi
penyebab henti jantung dan menilai
tindakan selanjutnya, apakah
penderita dapat diselamatkan atau
tidak
Mentasi manusia diharapkan
dapat dipulihkan dengan tindakan
resusitasi otak yang baru. Tindakan-
tindakan ini meliputi penggunaan agen
vasoaktif untuk memelihara tekanan
darah sisitemik yang normal,
penggunaan steroid untuk mengurangi
sembab otak, dan penggunaan diuretik
untuk menurunkan tekanan
intrakranial.
Langkah ini merupakan
pengelolaan intensif berorientasi otak
pada penderita dengan kegagalan organ
multipel pascaresusitasi.
Dalam keadaan darurat, resusitasi dapat diakhiri bila ada
salah satu dari berikut ini :
Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif
Upaya resusitasi telah diambil alih oleh orang lain yang
bertanggung jawab meneruskan resusitasi (bila ada dokter)
Seorang dokter mengambil alih tanggung jawab (bila ada dokter
sebelummnya)
Penolong terlalu kelelahan sehingga tidak sanggup meneruskan
resusitasi
Pasien dinyatakan mati.
Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien
berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan
atau hampir dapat dipastikan bahwa fungsi cerebral tak akan pulih (yaitu
sesudah 30-60 menit terbukti tak ada nadi pada normotermia tanpa
resusitasi jantung paru)
Tidak ada aktivitas listrik jantung (asistol) selama paling sedikit 30 menit
walaupun dilakukan upaya resusitasi jantung paru dan terapi obat yang
optimal menandakan mati jantung
Resusitasi jantung paru dilakukan untuk membebaskan jalan napas
dengan tetap memperhatikan kontrol servikal. Tindakan resusitasi
merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya
untuk menyelamatkan hidup. Tindakan resusitasi ini dimulai dengan
penilaian secara tepat dan kesadaran penderita kemudian di lanjutkan
dengan pemberian bantuan hidup dasar yang bertujuan untuk oksigenasi
darurat antara lain :
Airway Management ( pemeliharaan jalan napas ) adalah tindakan yang dilakukan untuk
membebaskan jalan napas dengan tetap memperhatikan kontrol servikal.
Untuk menilai pemeriksaan jalan napas, terdapat 3 tahapan yaitu :
L = Look atau Lihat gerakan nafas atau pengembangan dada, adanya retraksi sela
iga, warna mukosa/kulit dan kesadaran
L = Listen/Dengar aliran udara pernafasan
F = Feel/Rasakan adanya aliran udara pernafasan dengan menggunakan pipi penolong
Kompresi dilakukan terlebih dahulu dalam kasus yang terdapat henti pernafasan atau
henti jantung karena setiap detik yang tidak dilakukan kompresi merugikan sirkulasi
darah dan mengurangkan angka keselamatan korban.
Prosedur RJP terbaru adalah kompresi dada 30 kali dengan 2 kali napas
buatan.