Anda di halaman 1dari 32

Asthma Bronkiale

M. Luthfi
Definisi

Inflamasi kronik saluran nafas


Hiperreaktifitas bronkhus terhadap berbagai
rangsangan
Penyempitan saluran nafas difus
Derajat penyempitan bervariasi
Membaik spontan atau dengan pengobatan
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
PREVALENSI, MORBIDITAS DAN MORTALITAS

Mengenai 300 juta orang

Prevalensi : 1%-18% dari seluruh populasi

Diperkirakan 250.000 kasus kematian karena asma di


seluruh dunia

Di Asia tenggara prevalensi cukup besar, angka yang


terendah terdapat di Indonesia dan Vietnam dan yang
tertinggi di Thailand, Filipina dan Singapura
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Genetic Environmental
Predisposition Exposure

e.g pollution, allergens

Airway
Inflammation

Airway
Airflow
Hyperresponsiveness
obstruction

Asthma
Symptoms
SYM/015/Jun08-Jun09/TEP
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Inflammatory and Bronchoconstriction Events of the Early Phase of
an Acute Asthmatic Response to Allergen Exposure
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
DIAGNOSIS

Anamnesa
Diagnosis klinis asma :
gejala sesak napas, napas berbunyi mengi, dada terasa
berat, batuk-batuk

Gejala ini muncul setelah terpapar alergen, variabilitas


gejala berdasarkan musim, dan riwayat keluarga
menderita asma atau penyakit atopik lainnya.
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Pemeriksaan Fisik

wheezing pada auskultasi


penurunan kesadaran
sianosis
takikardia
retraksi suprasternal maupun intercostal.
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Pemeriksaan Penunjang

Spirometri
Diagnosa asma ditegakkan bila :
FEV1 meningkat > 15% (200cc) setelah
pemberian short acting 2 agonis (salbutamol
400 g dengan MDI atau + spacer atau 2,5 mg
dengan nebulizer)
FEV1 meningkat > 15% setelah diberi steroid
tablet (prednison 30 mg per hari selama 14 hari)
FEV1 menurun setelah 6 menit berolah raga
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Pemeriksaan responsivitas saluran napas
Menilai respon saluran napas terhadap faktor
pencetus (trigger) seperti metacholine, histamin,
manitol. Diagnosa asma dipertimbangkan bila
FEV1 turun >20%.

Pemeriksaan marker non invasif inflamasi saluran


napas
Pada sputum ditemukan eosinofil dan neutrofil
inflamasi

Pemeriksaan status alergi


Dengan skin test atau pemeriksaan IgE serum
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
DIAGNOSIS BANDING

Sindroma hiperventilasi dan serangan panik


Obstruksi saluran napas atas, dan inhalasi
benda asing
Disfungsi pita suara
Obstruksi saluran napas bentuk lain seperti
COPD
Non respiratory (left ventricular failure)
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Global INitiative for Asthma 2006
The Classification of Asthma
2003 2006
By Severity By Level of Control

Intermittent Controlled
Mild Persistent Partly Controlled
Moderate Persistent Uncontrolled
Severe Persistent

The 2003s classification is now recommended only for research


SYM/020/Apr09-Apr10/LY

purposes

http://www.ginasthma.com
GINA Definition of Asthma Control

Asthma Classification
Characteristics CONTROLLED PARTLY CONTROLLED UNCONTROLLED

None (2 or less / More than


Daytime symptoms
week) twice / week

Limitations of
None Any
activities 3 or more
features of
Nocturnal symptoms /
awakening None Any partly controlled
asthma present
Need for rescue / None (2 or less / More than in any week
reliever treatment week) twice / week

< 80% predicted or


Lung function
SYM/020/Apr09-Apr10/LY

Normal personal best (if known)


(PEF or FEV1) on any day

Exacerbation None Once/more per year One in any week

GINA 2006
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Objective use of ACT
1. ACT is a scored tool which allows numerical targets to be set.
Simple to complete 5 questions with a 5 point rating scale
(max: 25)

19 or less = Uncontrolled asthma


20-24 = Well controlled
25 = Total Control

2. Improves patient / physician communication.


Clear and concise questions that engage patients in a more
open, candid discussion
SYM/020/Apr09-Apr10/LY

3. Validated using spirometry and specialist assessment


MANAJEMEN DAN PREVENSI ASMA

Tujuan dari manajemen asma adalah :


Tercapainya dan dipertahankannya kontrol
dari asma
Mempertahankan aktifitas normal termasuk
olahraga
Mempertahankan fungsi paru sampai
mendekati normal
Mencegah eksaserbasi asma
Menghindari efek samping dari obat-obat
asma
Mencegah kematian karena asma
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Evolusi Terapi Asma
ICS treatment Adding
introduced LAA to ICS therapy
Large use of 1972 Kips et al, AJRCCM 2000
Pauwels et al, NEJM 1997
short-acting
Greening et al, Lancet 1992 Fix
2-agonists
combination
1975
ICS+LABA

Fear of
1980 short-acting
2-agonists

1985
2000
SYM/020/Apr09-Apr10/LY

1990 1995
SYM/016/Dec08-Dec09/AY

Bronchospasm Inflammation Remodelling


TERAPI

obat yang dipakai setiap hari dalam jangka


panjang untuk mempertahankan clinical
Controller control dari asma melalui efek antiinflamasi
dari obat-obatan tersebut

glukokortikosteroid sistemik maupun inhalasi,


Leukotriene modifier,
LABA inhalasi+ glukokortikosteroid inhalasi,
Sustained release Theophylline
SYM/020/Apr09-Apr10/LY

Anti IgE
Glukokortikosteroid inhalasi

- terapi antiinflamasi yang paling efektif


- menurunkan gejala asma
- meningkatkan fungsi paru
- menurunkan hiperesponsivitas saluran napas
- mengontrol inflamasi saluran napas
- menurunkan frekuensi dan eksaserbasi
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Leukotrien modifiers

Termasuk cysteinyl leukotriene 1 (CysLT1)


reseptor antagonis (montelukast, pranlukast, dan
zafirlukast) dan 5-lipoxygenase inhibitor (zileuton).
efek bronkodilator lemah dan variabel
menurunkan gejala asma
meningkatkan fungsi paru
menurunkan inflamasi dan eksaserbasi asma.
terapi alternatif untuk mild persistent asma
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Long acting beta 2 agonis inhalasi

- Formoterol dan Salmeterol


- Sebaiknya tidak dipakai sebagai obat tunggal
- Sangat baik bila dikombinasikan dengan
glukokortikosteroid inhalasi
- Terapi kombinasi ini dianjurkan bila
glukokortikosteroid inhalasi dengan dosis
medium gagal untuk mengontrol asma
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
TERAPI

obat yang dipakai untuk


Reliever menghilangkan secara cepat
bronkokonstriksi

beta 2 agonis rapid acting


Antikolinergik inhalasi
Short acting theophylline
SYM/020/Apr09-Apr10/LY

Short acting oral beta 2 agonis.


Glukokortikosteroid sistemik
- eksaserbasi akut
- mencegah progresivitas
- Efek sistemik hanya 4-6 jam
- Diberkan prednisolon 40-60 mg selama
5-10 hari

Antikolinergik
Seperti ipratropium bromide dan oxitropium
bromide
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
Theophylline
pada eksaserbasi asma masih
kontroversial

Short acting oral beta 2 agonis


diberikan pada pasien yang tidak
dapat memakai terapi inhalasi
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
REDUCE
LEVEL OF CONTROL TREATMENT OF ACTION

maintain and find lowest


controlled
controlling step

consider stepping up to
partly controlled gain control

INCREASE
uncontrolled step up until controlled

exacerbation treat as exacerbation

REDUCE INCREASE

TREATMENT STEPS
SYM/015/Jun08-Jun09/TEP

STEP STEP STEP STEP STEP


1 2 3 4 5
Management Approach Based on Control

Reduce Treatment Steps Increase

step 1 step 2 step 3 step 4 step 5


Asthma education
Enviromental control
As needed
As needed rapid acting 2-agonist
rapid acting 2-
agonist
Select one Select one Add one or Add one or both
more
low-dose ICS low-dose ICS + medium or oral steroid
LABA high-dose ICS + (lowest dose)
controller LABA
options leukotriene medium or leukotriene anti IgE
high-dose ICS
modifier modifier treatment
Low-dose ICS + sustained
SYM/020/Apr09-Apr10/LY

leukotriene released
mod. theophyline
Low-dose ICS +
s.r. theophyline
THANK YOU
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
SYM/020/Apr09-Apr10/LY
SYM/020/Apr09-Apr10/LY