Anda di halaman 1dari 32

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIZAR, MATARAM

SEMESTER V, TA 2013/2014
MODUL PENELITIAN KESEHATAN
KULIAH RUANG LINGKUP EPIDEMIOLOGI
DOSEN : dr. INDRADJID, MS.
WAKTU : JANUARI 2014
EPIDEMIOLOGI DASAR
A. ORIENTASI : (Kaitan antara Ilmu Kedokteran Dasar, Ilmu Kedokteran Klinik
dan Ilmu Kesehatan Masyarakat)
B. KONSEP TERJADINYA PENYAKIT
C. PERJALANAN ALAMIAH PENYAKIT
D. TAHAP-TAHAP PENCEGAHAN PENYAKIT

A. KAITAN ANTARA TIGA KELOMPOK ILMU KEDOKTERAN / KESEHATAN


MASYARAKAT
ILMU KEDOKTERAN DASAR, misalnya: biologi, anatomi, fisiologi, histologi,
mikrobiologi, patologi anatomi, farmakologi, parasitologi, dll.
ILMU KEDOKTERAN KLINIS, misalnya: interna, pediatri, obstetri, ginekologi, bedah, dll.
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT, misalnya: pendidikan kesehatan masyarakat, gizi,
epidemiologi, administrasi kesehatan, dll.
Nama lain: Public Health, Population Medicine, Community Medicine, Social
Medicine, Preventive Medicine
Pengetahuan tentang kesehatan dan penyakit pada manusia
sebenarnya sumbangan dari berbagai macam disiplin ilmu
tetapi umumnya dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar
seperti diatas. Ketiga kelompok ilmu tersebut tidak berdiri
sendiri-sendiri, tetapi saling terkait / menunjang. Untuk
menegakkan diagnosa penyakit, Ilmu Kedokteran Klinis
memerlukan bantuan Ilmu Kedokteran Dasar (anatomi,
histologi, biokimia, fisiologi, parasitologi, dll) juga memerlukan
bantuan Ilmu Kesehatan Masyarakat tentang distribusi
penyakit di masyarakat, golongan umur yang lebih banyak
terkena, cara penularan, dll.

Sebagai contoh tentang penyakit TBC :


Cara penularan, bagaimana perjalanan penyakit
Bagaimana distribusi di masyarakat atau population at
risknya.
Faktor-faktor host apa saja yang berperan
Faktor-faktor linkungsn yang mempengaruhi
Angka kesakitan (prevalen, insiden) morbidity rate
Angka kematian (mortality rate)
Bagaimana rencana penanggulangannya :
Berapa orang yang akan diobati
Jenis dan jumlah obat yang diperlukan
Biaya yang diperlukan
Berapa teknisi laboratorium yang perlu dilatih
Berapa tempat tidur dirumah sakit yang
diperlukan, dll
SEJARAH EPIDEMIOLOGI
TONGGAK I : PENYAKIT DAN FAKTOR LINGKUNGAN
- Hipocrates 400 th SM (BC) Bukunya : On Air, Waters and Places
TONGGAK II : PENGHITUNGAN KEJADIAN PENYAKIT DI MASYARAKAT
- John Graunt (1662) bukunya : Natural and Political Observations Upon the Bills
of Mortality
Di London Jumlah penduduk, kelahiran, kematian, jenis kelamin, umur, tempat
tinggal, musim, dll tonggak kuantifikasi dan pemakaian statistik di kesehatan.
TONGGAK III : NATURAL EXPERIMENTS
Kejadian wabah penyakit muntah-berak di London dari tgl 8 Juli 26 Agustus 1854
- John Snow : melakukan analisis data kematian karena wabah muntaber itu
kesimpulan disebabkan oleh air minum tercemar dan bukan karena udara buruk/
polusi udara?
TONGGAK IV : EKSPERIMEN YANG SESUNGGUHNYA (STUDI INTERVENSI)
- Lind (1747) pemberian jeruk segar kepada ABK untuk pencegahan gusi
berdarah/ scurvy. Vit. C baru diketahui tahun 1928 (200 tahun kemudian)
- Jenner (1796) pencegahan penyakit cacar dengan Vaksin
- Goldberger (1915) pembuktian penyakit Pellagra karena kekurangan Niacin
- Fletcher (1905) eksperimen secara acak pemberian beras yang ditumbuk halus
dengan beras yang tidak ditumbuk halus hasil dibandingkan terbukti kurang
Vit B1 pada beras yang ditumbuk halus.
DEFINISI-DEFINISI EPIDEMIOLOGI
1. HIRSCH (1883) distribusi penyakit pada manusia, menurut waktu,
tempat dan hubungan dengan faktor eksternal
2. FORST (1927) fenomena penyakit infeksi atau perjalanan alamiah
penyakit infeksi
3. PLUNKEST & GORDON (1960) pengamatan penyakit pada masyarakat
serta interaksi antara manusia dan lingkungannya, dengan mempelajari
keadaan sehat dan sakit dari interaksi tersebut
4. MORIS (1964) studi tentang kesehatan dan penyakit-penyakit di
masyarakat
5. MAC MAHON, PUGH, IBSEN (1960)
ilmu yang pelajari distribusi penyakit atau kejadian lainnya di
masyarakat serta faktor-faktor yang mempengaruhi untuk mencari
cara penanggulangannya.
a. PERSON/WHO PLACE/WHERE TIME/WHEN EPID. DESKRIPTIF
b. WHY & WHO EPID. ANALITIK (faktor-faktor yang mempengaruhi
distribusi penyakit).
PEMAKAIAN EPIDEMIOLOGI
EPID = Alat petugas public health untuk :
1. Mengetahui angka insiden atau prevalensi kejadian penyakit meningkat
atau menurun
2. Mendiagnosa masalah kesehatan masyarakat
menghitung ratio, proporsi, insiden, prevalen didapat angka morbiditas
dan mortalitas berdasarkan person, place, time (Epid. Deskriptif)
bandingkan dengan EKG bagi klinisi.
3. Mempelajari perjalanan alamiah suatu penyakit
4. Memperkirakan resiko terkena penyakit ataupun survival rate
5. Mengetahui kebutuhan/needs dan efektifitas pelayanan kesehatan
dipakai dalam manajemen perencanaan & evaluasi
6. Mengetahui penyebab / etiologi suatu penyakit
- John Snow data epidemiologi muntaber air minum tercemar/ v.
cholera
- Data epidemiologi AIDS California/USA pada gay lebih tinggi
penularan melalui hubungan sexual pemeriksaan sperma penderita
AIDS akhirnya th 1980 teridentifikasi Human Immuno Defisiensi Virus
(HIV) Epidemiologi Analitik.
B. KONSEP TERJADINYA PENYAKIT
MODEL-MODEL INTERAKSI HOST-AGENT-ENVIRONMENT
1. MODEL SEGITIGA :
Environment
Model segitiga ini populer dengan sebutan Segitiga Epidemiologi
(The Epidemiologic Triangle)
Konsep terjadinya penyakit menurut model segitiga disebut
Konsep Ekologi
Host Agent

Agen secara tersendiri tidaklah cukup menimbulkan suatu penyakit. Karena masih
diperlukan suatu kondisi yang cocok buat agen, lingkungan maupun host.
Perubahan keseimbangan antara host, lingkungan dan agen.
Untuk memahami, mempelajari, menganalisa atau memperkirakan gambaran
suatu penyakit, perlu menganalisa kondisi/perubahan pada masing-masing
komponen. Perubahan pada suatu komponen akan menciptakan keseimbangan
baru yang dapat menurunkan atau meningkatkan frekuensi suatu penyakit di
masyarakat.
Jadi penyakit akan terjadi bila ada ketidakseimbangan diantara ketiga
komponen. Sebagai contoh, untuk penanggulangan penyakit malaria,
perlu sekali dipahami bahwa ada spesies nyamuk anopheles yang suka
bertelur pada air tergenang yang dapat sinar matahari langsung, ketika
pohon yang menaungi rawa-rawa ditebang habis oleh penduduk, maka
populasi nyamuk anopheles akan cepat meningkat dan wabah penyakit
malaria akan terjadi.
2. MODEL RODA (WHEEL MODELS)
Dengan teori segitiga, seringkali sulit dipisahkan secara
tegas antara faktor host dan lingkungan. Untuk beberapa
penyakit tertentu interaksi ini jelas terlihat, tetapi adapula
yang samar-samar.
Misalnya penyakit jantung koroner, kanker, penyakit jiwa,
hipertensi, dll; maka agennya tidak dapat dipisahkan secara
jelas dengan lingkungan.
Pada Wheel Models ini agen tidak lagi kelihatan secara jelas. Faktor host
disebut faktor intrinsik, dan faktor lingkungan disebut faktor ekstrinsik
(termasuk didalamnya agen).
Host (manusia) merupakan pusat dari roda dengan faktor genetik sebagai
intinya, dan host dikelilingi faktor lingkungan (biologis, fisik dan sosial).
Contoh :
1. Pada penyakit keturunan (hereditier), maka faktor genetik menempati
porsi relatif besar
2. Pada penyakit campak (morbili), faktor genetik kurang begitu penting,
tetapi tingkat imunitas dan lingkungan biologis memegang peranan yang
penting.
Faktor Lingkungan (Ekstrinsik), lazimnya dikelompokkan menjadi lingkungan
biologis, lingkungan fisik dan lingkungan sosial
Yang termasuk LINGKUNGAN BIOLOGIS, misalnya: mikroorganisme penyebab
penyakit, reservoir dimana kuman hidup dan berkembang biak. Vektor, yaitu
binatang yang menularkan penyakit (nyamuk, lalat, keong, dll)
Yang termasuk LINGKUNGAN FISIK, misalnya: cahaya, radiasi, tekanan
atmosfer, panas,kelembaban air, bahan kimia, dll. Sebagian sudah bisa
dikendalikan seperti teknik pembersihan air, teknik pengelolaan sampah,
pengatur suhu, tetapi masih banyak yang belum terkendali, misalnya polusi
udara, gempa, badai, dll.
Termasuk dalam kelompok LINGKUNGAN SOSIAL, ialah sosial budaya, sosial
psikologis, sosial ekonomi, sosial politik, dll.
Contoh : sistem pengawasan terhadap peraturan kesehatan, tabu/pantangan
terhadap makanan tertentu, perilaku hidup bersih dan sehat.
3. MODEL SARANG LABA-LABA (WEB MODELS)
Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Mac Mahon (1968), bahwa suatu
kejadian tidak pernah disebabkan oleh suatu penyebab tunggal (single
isolated cause), namun merupakan hasil rangkaian penyebab yang saling
berkaitan sehingga merupakan jaringan (web).
Mac Mahon menerangkan model ini dalam bukunya Epidemiology, Principles
and Methods, memakai contoh Icterus yang disebabkan oleh virus hepatitis
yang ditularkan lewat jarum suntik. Pada model tersebut diterangkan adanya
suatu kejadian antara penemuan pengobatan penyakiy syphilis dan timbulnya
wabah hepatitis karena virus. Pada waktu itu baru saja ditemukan cara
pengobatan syphilis dengan obat preparat arsen yang harus disuntikkan intra-
vena (pada waktu itu obat penisilin belum ditemukan). Terjadilah pengobatan
secara besar-besaran dengan obat tersebut. Pada saat itu epidemiologi
hepatitis belum dipahami. Faktor-faktor lain yang besar peranannya adalah
keadaan ekonomi para penderita yang umumnya rendah, pelayanan
kesehatan belum baik, jarum dan alat suntik dipakai berkali-kali tanpa
dibersihkan dan disterilkan, karakteristik virus hepatitis yang ditularkan lewat
suntikan, kekebalan para penderita yang semuanya berkaitan satu sama
lainnya.
Jadi merupakan suatu rantai yang menghasilkan suatu efek akhir berupa
wabah hepatitis/ icterus. Mac Mohan kemudian menyimpulkan bahwa
virusnya tidak bisa dikatakan sebagai penyebab tunggal (single factor).
Manfaat untuk : penanggulangan dan pencegahan
4. MODEL H.L. BUIM :
Empat faktor yang berperan untuk terjadinya penyakit atau derajat kesehatan
masyarakat

GENETIK PERILAKU

PENYAKIT ATAU
DERAJAT KESEHATAN

PELAYANAN LINGKUNGAN
KESEHATAN

Pada Wheel Model dan Web Model, faktor perilaku, lingkungan dan pelayanan kesehatan
tidak dapat dipisahkan tetapi tercakup dalam komponen lingkungan, sedangkan model
Blum, faktor perilaku dan faktor pelayanan kesehatan (kemampuan dan kemauan
pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan masyarakat) dipisahkan menjadi faktor
tersendiri.
DEPKES mengadopsi model Blum sebagai acuan penyusunan Sistem Kesehatan nasional
(SKN) karena lebih mudah dipakai sebagai pedoman untuk menyusun program-programnya.
C. PERJALANAN ALAMIAH PENYAKIT
(NATURAL HISTORY OF DISEASE)
Selain untuk mencegah dan menanggulangi penyakit, pemahaman terhadap
perjalanan alamiah penyakit juga amat penting ketika menghitung morbility rate.
Kesulitan sering muncul ketika menentukan mana penduduk yang sakit dan mana
penduduk yang tidak sakit, terutama pada penyakit menahun (kronis). Untuk itu
badan Kesehatan Sedunia (WHO) pada tahun 1948 menetapkan
batasan/pedoman tentang sehat :
Health is a state of complete physical, mental and social well being and not
merely the absence of disease of infirmity.
Menurut batasan ini, pengertian sakit adalah sangat luas, bukan hanya cacat fisik
saja tetapi juga mental dan sosial.
Secara umum, perjalanan alamiah penyakit pada manusia ada empat tahapan:
1. Fase Suseptibel
2. Fase Presimtomatis
3. Fase Klinik
4. fase Ketidakmampuan (Fase Akhir)
Penyakit-penyakit tertentu tidak jelas fase presimtomatisnya, misalnya pada
kecelakaan lalu lintas.
1. FASE SUSEPTIBEL
Penyakit belum terjadi, tetapi sudah muncul beberapa faktor yang
memudahkan timbulnya penyakit, misalnya: kelelahan, kadar kolesterol darah
meningkat, merokok, perilaku seksual salah, dll.
Faktor-faktor ini disebut faktor resiko (Risk Factor).
Pada fase ini, faktor host, agen dan lingkungan berinteraksi satu sama lain dan
bila keseimbangannya terganggu akan menghasilkan Stimulus.
2. FASE PRESIMTOMATIS (MASA INKUBASI)
Pada fase ini penyakit sudah terjadi tetapi secara klinis belum tampak. Sudah
terjadi perubahan patologis, tetapi masih belum cukup untuk menimbulkan
gejala klinis, misalnya, perubahan aterosklerostik pada pembuluh darah
koroner sebelum gejala klinis penyakit jantung koronernya tampak. Pada fase
ini seseorang sudah disebut sakit, tetapi untuk mengetahuinya diperlukan
alat-alat diagnostik yang canggih terutama penyakit-penyakit non-infeksi.
Pada penyakit infeksi, terutama yang disebabkan oleh virus, cara
mengetahuinya relatif lebih mudah yaitu dengan memeriksa ada tidaknya
antibodi, sebab tubuh manusia hampir selalu membentuk antibodi bila ada
kuman/benda asing/antigen yang masuk kedalam tubuh.
3. FASE KLINIS
Pada fase ini sudah ada perubahan patologi dan fungsional, sehingga
nampak gejala (sudah melewati horizon klinis). Pada beberapa penyakit,
fase klinis dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan dasar, atas dasar :
- Gejala-gejalanya - Lokalisasi, penyebaran
- Simtom - Morfologi atau tipe sel
- Fungsi - Pengobatan/Therapy
Tujuan pengelompokan ada dua, yaitu :
1. Untuk kepentingan penanggulangan/pengobatan penyakitnya, dimana
pada satu fase akan berbeda dengan fase lain (kanker leher rahim
stadium 0 akan berbeda dengan stadium 1 atau 2)
2. Untuk penelitian epidemiologi
Dalam penelitian epidemiologi, rate yang paling tepat untuk dipakai
adalah angka spesifik (Spesific Rate), yaitu angka dimana pembilang
dan penyebutnya telah dipilah-pilah agar menjadi
seragam/homogen/spesifik.
CONTOH-CONTOH PENGELOMPOKAN PADA FASE KLINIS
Contoh 1 : Pengelompokan berdasarkan lokalisasi
Kanker Stadium 1 = Masih terlokalisir
Kanker Stadium 2 = Metastase/menyebar lokal
Kanker Stadium 3 = Metastase jauh
CONTOH 2 : Berdasarkan aktifitas penderita (fungsi) pada penyakit jantung
Tingkat 1 : Dengan aktifitas fisik apapun, tidak ada rasa tidak enak
Tingkat 2 : Ada rasa sedikit kurang enak pada aktifitas sehari-hari, tetapi
dengan istirahat, biasa saja.
Tingkat 3 : Ada rasa kurang enak walaupun aktifitas fisik minimal, dalam
keadaan istirahat masih enak.
Tingkat 4 : Dalam keadaan istirahat pun menyebabkan rasa tidak enak.
CONTOH 3 : Berdasarkan terapi / pengobatan pada penderita (fungsi) pada
penyakit jantung
Tingkat 1 : Semua aktifitas tidak dibatasi.
Tingkat 2 : Aktifitas sehari-hari tidak dibatasi
Tingkat 3 : Aktifitas fisik sehari-hari perlu dibatasi, tetapi tidak mutlak.
Tingkat 4 : Aktifitas sehari-hari harus betul-betul dibatasi (mutlak).
Tingkat 5 : Total istirahat ditempat tidur.

Perlu diingat bahwa klasifikasi terapi tidak selalu paralel dengan klasifikasi
fungsional, misalnya penderita yang baru saja mendapat serangan jantung
atau karditis reumatika yang aktif, bisa tidak mempunyai gejala fisik, tetapi
total bedrest (tingkat 5).
Pengelompokkan seperti contoh diatas sangat penting dalam penelitian
epidemiologi, karena akan dapat mengurangi variabilitas dan menghasilkan
suatu sub-grup yang lebih homogen sehingga akan diperoleh suatu angka dari
kejadian yang spesifik.
4. FASE KETIDAKMAMPUAN = FASE AKHIR
Beberapa penyakit akan sembuh dengan baik melalui pengobatan ataupun
akan sembuh secara spontan tanpa obat (self limiting). Sejumlah penyakit
lainnya akan meninggalkan cacat, baik dalam waktu singkat ataupun
dalam waktu yang lama, sehingga menyebabkan kemampuan penderita
menjadi berkurang, mulai dari yang ringan sampai yang berat atau
menetap.
Contoh : penyakit campak (morbili) atau penyakit virus lainnya,
sebagian besar penderita bisa sembuh dengan sendirinya
(self limiting), dan hanya sebagian kecil penderita morbili
diikuti oleh kelainan neurologis yang menetap (cacat).
Secara umum definisi ketidakmampuan (disability) :
Sesuatu keterbatasan aktifitas seseorang termasuk aspek psikososialnya.
Penekanan adalah pada kehilangan fungsi tubuh dan bukan pada kelainan
antomisnya. Banyak orang yang tangannya hanya satu, tetapi dengan satu
tangan tersebut masih bisa berfungsi seperti halnya orang normal dengan
dua tangan.
D. TAHAP-TAHAP PENCEGAHAN PENYAKIT = LEVEL OF
PREVENTION
Pengertian pencegahan (prevention) dalam arti luas adalah :
a) Menghidarkan terjadinya penyakit
b)Menghambat atau memperlambat perjalanan suatu
penyakit yang sudah terjadi pada seseorang.

Pada umumnya kita kenal 3 (tiga) tahap pencegahan :


1) Pencegahan primer
2) Pencegahan sekunder
3) Pencegahan tersier
Tahap pencegahan ini sangat erat kaitannya dengan
perjalanan alamiah penyakit.
1) PENCEGAHAN PRIMER = PRIMER PREVENTION
Yaitu semua usaha pencegahan yang dilakukan pada fase
peka/suseptibel. Termasuk didalamnya :
1. Promosi Kesehatan (Health Promotion)
2. Proteksi Spesifik (specific Protection)

Promosi Kesehatan bisa diterapkan secara umum untuk semua jenis


penyakit pada waktu yang paling awal, kampanye/penyuluhan kesehatan
tentang makanan bergizi, menu seimbang, konsultasi perkawinan, sex
education, lingkungan yang bersih dan sehat, dll.

Pencegahan Spesifik hanya ditunjukkan untuk penyakit-penyakit tertentu,


misalnya program imunisasi, masker untuk pekerja tertentu, kondom
dilokalisasi WTS, dll.
2) PENCEGAHAN SEKUNDER = SECONDARY PREVENTION
Meliputi : - diagnosa dini (early diagnosis)
- pengobatan tepat (prompt treatment)
Sebagai usaha pencegahan sekunder dilakukan pada fase presimtomatis
(dibawah horison klinis) yakni dengan melakukan deteksi terhadap
perubahan patologis sedini mungkin (early diagnosis), misalnya melalui
program screening. Pencegahan sekunder dapat juga dilakukan pada fase
klinis, tetapi orang yang sakit tidak menyadari dirinya sakit, misalnya
pencarian penderita malaria dari rumah kerumah dengan jalan memeriksa
darah orang-orang yang sedang menderita panas. Bila ternyata positif, maka
langsung diberikan obat malaria (prompt treatment).
contoh-contoh usaha pencegahn sekunder :
Program penimbangan rutin anak balita diposyandu untuk deteksi
dini gizi kurang dilanjutkan program PMT.
Program pemeriksaan ibu hamil secara berkala untuk deteksi dini
penyakit-penyakit yang berkaitan dengan kehamilan.
Pemeriksaan pap-smear bagi wanita umur diatas 35 tahun untuk
deteksi dini kanker serviks uteri.
Dan lain-lain program screening.
3) PENCEGAHAN TERSIER = TERTIARY PREVENTION
Pada keadaan ini, penyakit sudah terjadi dan bahkan dapat meninggalkan
cacat meliputi :
a) Semua usaha untuk membatasi ketidakmampuan (disability limitation)
b)Rehabilitasi (Rehabilitation)

a) Contoh-contoh disability limitation


Melakukan fisioterapi pada anggota tubuh yang sakit untuk
menghindari terjadinya kontraktu sendi pada penderita polio.
Memberikan pengobatan edequat pada penderita TBC paru untuk
menghindari terjadinya komplikasi (kerusakan paru).

b) Rehabilitation
adalah usaha-usaha untuk memungkinkan seseorang yang cacat
akibat penyakit atau kecelakaan, agar mereka dapat hidup
menjalankan fungsi-fungsi seperti layaknya orang normal di
masyarakat.
APLIKASI EPIDEMIOLOGI
EPIDEMIOLOGI
Mempelajari masalah kesehatan pada
Kelompok manusia

Frekwensi Penyebaran Faktor 2 pengaruh


Kegiatan pokok Pengelompokan : Disusun langkah2 :
-Menemukan - -Rumuskan
masalah Ciri2manusia(who) Hipotesa
kesehatan -Tempat (where) -Uji hipotesa
-Mengukur - Waktu (when) -Tarik kesimpulan
masalah sebab akibat
kesehatan

EPID. EPID. ANALITIK


DISKRIPTIF
PENELITIAN EPID- PENELITIAN EPID-ANALITIK
DESKRIFTIF 1.Juga menjelaskan mengapa
1.Hanya menjelaskan keadaan (why) suatu masalah
suatau masalah kesehatan kesehatan timbul dimasyarakat
(who,where,when) 2.Pemgumpulan,pengolahan,
2.Pengumpulan,pengolahan, penyajian dan interpretasi
penyajian dan interpretasi data data dilakukan terhadap dua
hanya pada satu kelompok kelompok masyarakat (klp
masyarakat saja terpapar dan klp kontrol )
3.Tidak bertjua untuk 3.Bertujuan membuktikan
memuktikan hipotesa suatu hipotesa (sebab-akibat)
PENEMUAN MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT
Masalah kesehatan meliputi :
- frekwensi atau jumlah masalah kesehatan
- Penyebaran masalah kesehatan (who.where,when)

melalui upaya pengumpulan,pengolahan,penyajian dan interpretasi data

Data yang sempurna :


-reliable,comprehensive,up to date.

SUMBER DATA
1. Catatan dan laporan peristiwa kehidupan (vital record/vital satistik
adm pemerintahan)
2. Catatan dan laporan penyakit sarana kesehatan
3. Catatan dan laporan instansi khusus(perusahaan asuransi,kepolisian dll)
4. Hasil sensus penduduk
5. Hasil survey khusus
a. Survey insiden penyakit
b. Survey prevalen penyakit
6. Penjaringan kasus (screening)
7. Pencarian kasus (case finding)
a. Active case finding
b. Pasive case finding
8. Survailen (surveillance)
Pengamatan terhadap suatu masalah kesehatan yang dilakukan secara
terus menerus terutama keadaan wabah
a. Active surveillance
b. Pasive surveillance
PENERAPAN EPIDEMIOLOGI
A. Disease Surveillance
Monitoring terhadap pola kejadian penyakit dalam populasi disebut
surveillance pengumpulan data.
Pemanfaatan data surveillance :
1. Membantu identifikasi wabah penyakit.
2. Sebagai pedoman dengan memperkirakan kelompok populasi yang
paling banyak terserang,juga penyebab yang paling mungkin.
3. Dapat digunakan menyusun strategi pengawasan/penanggulangan
atau pecegahan penyebaran penyakit.
4. Dapat untuk mengukur dampak dari suatu upaya pencegahan dan
penanggulangan.
5. Sebagai informasi yang dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan
pelayanan kesehatan.
. Searching for Causes
- Sumber informasi diperoleh dari interview,penelaahan laporan dan
dari pemeriksaan laboratorium.
- Dicari hubungan dari data yang diperoleh dengan kejadian penyakit :
- Apakah hanya kejadian kebetulan (coincidence)
- Apakah non- causal linkages
- Apakah cause and effect relationship

RISK FACTORS
melalui : - Case control study
- Cohort - study
C.Diagnostic testing
- Bertujuan memperoleh bukti objectif ada atau tidak adanya penyakit
pada fase asymptomatic dari perjalanan alamiah penyakit. Test ini
disebut Screening.
- Beberapa terminologi dalam diagnostic testing :
- False positive - Specificity
- False negative - Sensitivity
- Contoh:
- A test with a very low percentage of false positive results is
said to have HIGH SPECIFICITY
- A test with a very low percentage of false negative results is
said as having HIGH SENSITIVITY.
D.Determining the Natural history of a disease
- Beberapa cara yang digunakan :
- Case fatality
- Survival time and median survival time
F.TESTING NEW TREATMENTS
- Semua jenis obat baru/prosedur pengobatan baru harus melaluitest
pengujian dan membuktikan efektifitasnya sebelum di ijinkan untuk
dipergunakan untuk pelayanan klinik.
- Pendekatan standart yang digunakan untuk menilai efektivitas
pengobatan adalah : RANDOMIZED CONTROLLED CLINICAL TRIAL.
REFERENSI :
1. Azwar, Azrul (1994) : Pengantar Epidemiologi- Edisi Revisi. Binarupa
Aksara, Jakarta.
2. Foltin, J.et.al (2001) : Medical Epidemiology Third Edition. The Mc Graw
Hill Companies, Inc, USA
3. Wirawan, D. N (2005) : Epidemiologi Dasar- Handout - 1. Bagian IKK IKP,
F.K. Udayana, Denpasar.