Anda di halaman 1dari 20

Asma adalah gangguan jalan nafas reaktif kronis

termasuk obstruksi jalan nafas episodik dan


obstruksi jalan nafas reversible akibat bronkospasme,
peningkatan sekresi mucus, dan edema mukosa
(kapita selekta penyakit, 2002).
Asma adalah sebuah penyakit radang kronik pada
saluran pernafasan dimana banyak sel-sel dan
elemennya berperan.
Pada individu tertentu, peradangan menyebabkan
beberapa kondisi seperti wheezing, sulit bernafas,
retraksi dinding dada, dan batuk sering terutama di
malam hari, pagi hari, atau ketika melakukan
aktifitas. Beberapa gejala ini dihubungkan dengan
penyakit yang menetap tetapi obstruksi saluran
pernafasan dan sering reversible secara spontan atau
dengan perawatan (Michele Geiger, Bronsky Donna
J.W; 2008)
Asma dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu :
Asma alergik (Ekstrinsik)
Merupakan suatu bentuk asma dengan allergen
seperti bulu binatang, debu, ketombe. Bentuk asma
ini biasanya di mulai dari kanak kanak.
Idiopatik atau nonalergik asma (Intrinsic)
Tidak berhubungan secara langsung dengan allergen
spesifik, saluran nafas atas, aktifitas, emosi/stress
dan polusi lingkungan akan mencetuskan serangan.
Bentuk asma ini biasanya di mulai ketika dewasa >
35 tahun.
Asma Campuran
Merupakan bentuk asma yang paling sering. Di
karakteristikan dengan bentuk ke dua jenis asma
alergik dan ideopatik atau nonalergik (Soemantri,
2009
Zat allergen
Adalah zat-zat tertentu yang bila diisap atau dimakan dapat
menimbulkan serangan asma misalnya debu rumah, tengau debu
rumah( dermatophagoides pteronissynus), spora, jamur, bulu
kucing, bulu binatang , beberapa makanan laut, dan sebagainya.
Infeksi saluran pernapasan ( respiratorik )
Infeksi saluaran pernapasan terutama disebabkan oleh virus.
Virus influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang
paling sering menimbulkan asma. Diperkirakan, dua pertiga
penderita asma dewasa serangan asmanya ditimbulkan oleh
infeksi saluaran pernapasan. (sundaru 1991)
Olahraga / kegiatan jasmani yang berat.
Sebagin penderita asma akan mendapatkan serangan asma bila
melakukan olaharaga atau aktivitas fisik yang berlebihan. Lari
cepat dan bersepeda adalah dua jenis kegiatan paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena kegiatan
jasmani ( exercise induced asma -EIA) terjadi setelah olahraga
atau aktivitas fisik yang cukup berat dan jarang serangan timbul
beberapa jam setelah olahraga.
Perubahan suhu udara (udara dingin, panas, kabut)
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi Asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor
pemicu terjadinya serangan Asma. Kadang kadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau.
Polusi udara
Klien asma sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabrik /
kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakaran dan
oksida fotokemikal, serta bau yang tajam.
Memiliki kecenderungan alergi obat-obatan
Beberapa klien denga asma sensitif atau alergi terhadap obat tertentu
seperti penisilin, salisilat beta bloker, kodein,dan sebainya.
Riwayat keluarga (factor genetic) Orang tua menderita asma
Lingkungan pekerajan
Lingkungan kerja merupakan factor pencetus yang menyumbang 2- 15%
klien dengan asma.( sundaru,1991 ). Mempunyai hubungan langsung
dengan sebab terjadinya serangan Asma. Hal ini berkaitan dengan
dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan,
industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada
waktu libur atau cuti.
Emosi dan stres
Stres atau gangguan emosi dapat menjadi
pencetus serangan Asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan Asma yang sudah
ada. Disamping gejala Asma yang timbul
harus segera diobati penderita Asma yang
mengalami stres atau gangguan emosi perlu
diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi
maka gejala belum bisa diobati.
Serangan tiba-tiba yang diawali dengan
batuk-batuk dan sesak nafas
Wheezing
Ekspirasi lebih panjang
Kontraksi otot-otot bantu pernapasan
Hypoksemia dan sianosis
Keletihan
Suatu serangan asma timbul karena seseorang yang atopi terpapar dengan
allergen yang ada di lingkungan dan membentuk immunoglobulin (Ig) E,
allergen yang masuk akan ditangkap oleh makrofag yang bekerja sebagai
antigen presenting sel (APC), allergen tersebut dipresentasikan ke sel Th. Sel
Th memberikan signal kepada sel B dengan dilepaskannya interlukin 2 (IL-2)
untuk berproliferasi menjadi sel plasma dan membentuk IgE.
IgE yang terbentuk akan diikat oleh mastosit yang ada dalam jaringan dan
basofil yang ada dalam sirkulasi. Bila proses ini terjadi pada seseorang, maka
orang itu sudah disensitisasi atau baru menjadi rentan. Jika terpapar 2 kali
atau lebih dengan allergen yang sama allergen tersebut akan diikat oleh IgE
yang sudah ada dalam permukaan mastosit dan basofil. Ikatan ini akan
menimbulkan influk Ca++ ke dalam sel dan perubahan di dalam sel yang
menurunkan kadar cAMP.
Penurunan kadar cAMP menimbulkan degranulasi sel, dan melepaskan
mediator-mediator kimia yang meliputi histamine, slow releasing suptance
of anaphylaksis (SRS-A), eosinofilik chomotetik faktor of anaphylacsis (ECF-
A), dan lain-lain. Mediator tersebut menyebabkan timbulnya tiga reaksi
utama yaitu: kontraksi otot-otot polos baik saluran nafas yang besar
ataupun yang kecil yang akan menimbulkan bronkospasme, peningkatan
permeabilitas kapiler yang berperan dalam terjadinya edema mukosa yang
menambah semakin menyempitnya saluran nafas. Peningkatan sekresi
kelenjar mukosa dan peningkatan produksi mucus. Tiga reaksi tersebut
menimbulkan gangguan ventilasi, distribusi ventilasi yang tidak merata
dengan sirkulasi darah paru dan gangguan difusi gas ditingkat alveoli,
akibatnya akan terjadi hipoksemia, hiperkapnea dan asidosis pada tahap
yang sangat lanjut.
Berbagai komplikasi menurut Mansjoer (2008) yang mungkin timbul adalah :
Pneumothoraks
Pneumothoraks adalah keadaan adanya udara di dalam rongga pleura yang dicurigai bila terdapat benturan atau
tusukan dada. Keadaan ini dapat menyebabkan kolaps paru yang lebih lanjut lagi dapat menyebabkan kegagalan
napas.
Pneumomediastinum
Pneumomediastinum dari bahasa Yunani pneuma udara, juga dikenal sebagai emfisema mediastinum adalah suatu
kondisi dimana udara hadir di mediastinum. Pertama dijelaskan pada 1819 oleh Rene Laennec, kondisi ini dapat
disebabkan oleh trauma fisik atau situasi lain yang mengarah ke udara keluar dari paru-paru, saluran udara atau usus
ke dalam rongga dada.
Atelektasis
Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun
bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal.
Aspergilosis
Aspergilosis merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh jamur dan tersifat oleh adanya gangguan
pernapasan yang berat. Penyakit ini juga dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lainnya, misalnya pada otak dan
mata. Istilah Aspergilosis dipakai untuk menunjukkan adanya infeksi Aspergillus sp.
Gagal napas
Gagal napas dapat tejadi bila pertukaran oksigen terhadap karbodioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju
konsumsi oksigen dan pembentukan karbondioksida dalam sel-sel tubuh.
Bronkhitis
Bronkhitis atau radang paru-paru adalah kondisi di mana lapisan bagian dalam dari saluran pernapasan di paru-paru
yang kecil (bronkhiolis) mengalami bengkak. Selain bengkak juga terjadi peningkatan produksi lendir (dahak).
Akibatnya penderita merasa perlu batuk berulang-ulang dalam upaya mengeluarkan lendir yang berlebihan, atau
merasa sulit bernapas karena sebagian saluran udara menjadi sempit oleh adanya lendir.
Fraktur iga
1. Analisa Gas Darah ( AGD / astrup ).
Hanya dilakukan pada serangan asma berat karna terdapt hipoksia, hiperkapnea, dan
asidosis respiratorik.
2. Sputum
Pewarnaan gram penting untuk melihat adanya bakteri, cara tersebut kemudian diikuti
kultur dan uji resistensi terhadap beberapa antibiotik.
3. Sel eosinofil
Sel eosinofil pada klien dengan status asma dapat mencapai 1000 1500 / mm3 .
sedangkan hitung eosinofil normal antara 100 200/mm3 .Perbaikan fungsi paru disertai
penurunan hitung jenis sel eosinofil menunjukan pengobatan telah tepat.
4. Pemerikasaan darah rutin dan kimia
Jumlah sel leukosit yang lebih dari 15.000/ mm3 terjadi karena adanya infeksi. SGOT dan
SGPT meningkat disebabkan kerusakan hati akibat hipoksia atau hiperkapnea.
5. Pengukuran fungsi paru ( Spirometri )
Menilai derajat obstruksi pada asma, kapasitas vital mungkin belum menurun, tapi bila
serangan asma makin berat FVC akan turun karena sebagian udara yang harus dikeluarkan
terjebak dalam paru-paru.
6. Tes provokasi bonkus
Tes ini dilakukan pada spirometri internal.penurunan FEV sebesar 20 % atau lebih setelah tes
provokasi dan denyut jantung 80 90% dari maksimum dianggap bermakna bila
menimbulkan penurunan PEFR 10% atau lebih.
7. Pemerikasaan kulit
Untuk menunjukan adanya antibody IgE hipersensitif yang spesifik dalam tubuh.
8. Pemeriksan radiologi
Hasil pemeriksan radiologi dari klien dengan asma biasanya normal, tetapi prosedur ini tetap
dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya proses patologi di paru atau
komplikasi asma seperti pneumatoraks, pneumomediastinum, atelektasis, dan lain lain
1. Farmakologi
Menurut Long(1996). Terapi awal, yaitu : Memberikan oksigenpernasal
a. Antagonis beta 2 adrenergik (salbutamol mg atau fenetoral 2,5 mg atau terbutalin 10 mg).
Inhalasi nebulisasi dan pemberian yang dapat diulang setiap 20 menit sampai 1 jam.
Pemberian antagonis beta 2 adrenergik dapat secara subcutan atau intravena dengan dosis
salbutamol 0,25 mg dalam larutan dekstrose 5%
b. Aminophilin intravena 5-6 mg per kg, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam
sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis.
c. Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg intravena jika tidak ada respon segera atau dalam
serangan sangat berat25
d. Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk didalamnya golongan beta
adrenergik dan anti kolinergik.

2. Pengobatan secara sederhana atau non farmakologis


Menurut doenges (2000) penatalaksanaan nonfarmakologis asma yaitu:
a. Fisioterapi dada dan batuk efektif membantu pasien untuk mengeluarkan sputum dengan
baik
b. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik
c. Berikan posisi tidur yang nyaman (semi fowler)
d. Anjurkan untuk minum air hangat 1500-2000 ml per hari
e. Usaha agar pasien mandi air hangat setiap hari
f. Hindarkan pasien dari faktor pencetus.
1. PENGKAJIAN
a. Identitas
b. Keluhan utama
Biasanya klien merasa sesak saat beraktivitas dan napasnya pendek
c. Riwayat penyakit sekarang
Biasanya klien datang dengan keluhan napas pendek, napsu makan menurun, RR
24x/menit, TD 110/70 mmhg. N 80x/menit, T 36,50C terdengar suara nafas
Wheezing.
d. Riwaya penyakit dahulu
Biasnya klien mengatakan mempunyai riwayat Asma sejak umur 5 tahun
e. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada riwayat penyakit keluarga.
f. Pola fungsi kesehatan
Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pola aktifitas dan latihan
Pola nutrisi dan metabolik
Pola eliminasi
Pola istirahat dan tidur
Pola kognitif persepsi
g. Pola sensori visual
- Test tajam tumpul: dapat membedakan antara tajam dan tumpul
- Test panas dingin : dapat membedakan antara panas dan dingin
h. Pola toleransi dan koping terhadap stress
Apabila pasien ada masalah selalu dibicarakan dengan keluarganya.
i. Persepsi diri / konsep diri
Klien mengatakan pasrah dengan penyakit yang dideritanya.Klien berharap
dapat sembuh dan dapat menjalankan aktifitasnya dengan normal.
j. Pola seksual dan reproduksi
Pasien berjenis kelamin pria dan sudah menikah mempunyai 2 anak.
k. Pola nilai dan keyakinan
- Sebelum sakit klien selalu menjalankan kewajibannya sebagai umat
muslim (shalat 5 waktu). Klien kurang mengetahui akan penyakitnya namun
klien percaya bahwa penyakitnya dapat disembuhkan.
- Selama sakit klien melaksanakan shalat 3 4 waktu dan sering berdoa
a. Keadaan umum : Lemah
b. Kesadaran : composmentis
c. Vital sign : TD :110/70 mmHg, Nadi 80 kali/menit, Suhu 36,5C, RR 32 x/menit
d.Antropometri : TB 155 cm, BB 43 kg

e. Kepala
- Muka : Sianonis (-), konjunctiva anemis, ukuran pupil kanan/kiri: 3 mm/
3 mm, rangsang cahaya pupil kanan/ kiri: +/+
- Hidung : bersih, napas cuping hidung (+)
- Telinga : simetris, bersih, serumen (-)
- Leher : pembesaran kelenjar toiroid (-)
f. Dada : simetris(+), retraksi dinding dada(+), otot bantu (+), wheezing(+)
g. Punggung : bersih
h. Abdomen : datar (+), tidak kembung, bunyi abdomen timpani, peristaltik usus 8
x/menit
i. Ekstremitas : tidak ada edema
j. Genetalia : Bersih tidak ada kelainan dibuktikan tidak terpasang kateter
k. Rectum dan anus : Klien mengatakan tidak ada hemoroid
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan keletihan otot
pernapasan
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan Oksigen
a. Pola pemeliharaan kesehatan
Gejala Asma dapat membatasi manusia untuk berperilaku hidup normal
sehingga pasien dengan Asma harus mengubah gaya hidupnya sesuai kondisi
yang memungkinkan tidak terjadi serangan Asma
2. Pola nutrisi dan metabolik
Perlu dikaji tentang status nutrisi pasien meliputi, jumlah, frekuensi, dan
kesulitan-kesulitan dalam memenuhi kebutuhnnya. Serta pada pasien sesak,
potensial sekali terjadinya kekurangan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi, hal
ini karena dispnea saat makan, laju metabolism serta ansietas yang dialami
pasien.
Pola eliminasi
Perlu dikaji tentang kebiasaan BAB dan BAK mencakup warna, bentuk,
konsistensi, frekuensi, jumlah serta kesulitan dalam pola eliminasi.
4. Pola aktifitas dan latihan
Perlu dikaji tentang aktifitas keseharian pasien, seperti olahraga, bekerja, dan
aktifitas lainnya. Aktifitas fisik dapat terjadi faktor pencetus terjadinya Asma.
5. Pola istirahat dan tidur
Perlu dikaji tentang bagaiman tidur dan istirahat pasien meliputi berapa lama
pasien tidur dan istirahat. Serta berapa besar akibat kelelahan yang dialami
pasien. Adanya wheezing dan sesak dapat mempengaruhi pola tidur dan
istirahat pasien.
6. Pola persepsi sensori dan kognitif
Kelainan pada pola persepsi dan kognitif akan mempengaruhi konsep diri pasien
dan akhirnya mempengaruhi jumlah stresor yang dialami pasien sehingga
kemungkinan terjadi serangan Asma yang berulang pun akan semakin tinggi.
7. Pola hubungan dengan orang lain
Gejala Asma sangat membatasi pasien untuk menjalankan kehidupannya secara normal.
Pasien perlu menyesuaikan kondisinya berhubungan dengan orang lain.
8. Pola reproduksi dan seksual
Reproduksi seksual merupakan kebutuhan dasar manusia, bila kebutuhan ini tidak terpenuhi
akan terjadi masalah dalam kehidupan pasien. Masalah ini akan menjadi stresor yang akan
meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan Asma.
9. Pola persepsi diri dan konsep diri
Perlu dikaji tentang pasien terhadap penyakitnya.Persepsi yang salah dapat menghambat
respon kooperatif pada diri pasien. Cara memandang diri yang salah juga akan menjadi
stresor dalam kehidupan pasien.
10. Pola mekanisme dan koping
Stres dan ketegangan emosional merupakan faktor instrinsik pencetus serangan Asma maka
prlu dikaji penyebab terjadinya stress. Frekuensi dan pengaruh terhadap kehidupan pasien
serta cara penanggulangan terhadap stresor.
11. Pola nilai kepercayaan dan spiritual
Kedekatan pasien pada sesuatu yang diyakini di dunia dipercayai dapat meningkatkan
kekuatan jiwa pasien.Keyakinan pasien terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta pendekatan diri
pada-Nya merupakan metode penanggulangan stres yang konstruktif (Perry, 2005 & Asmadi
2008).
12. Pemeriksaan penunjang
Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan
dengan peningkatan produksi sekret
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan
dengan bronkospasme
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
gangguan suplai oksigen
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan
dengan tidak adekuatnya pertahanan utama atau
imunitas Cemas berhubungan dengan kurangnya
tingkat pengetahuan Gangguan pola tidur
berhubungan dengan batuk yang berlebih
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan fisik
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea
3. Intervensi keperawatan
TERIMAKASIH