Anda di halaman 1dari 38

Pemeriksaan Fisik pada

Anak
PENDAHULUAN
• Pendekatan:
sikap bersahabat, berbicara
dengan suara yang tidak terlalu
keras & perlahan
• Cuci tangan dan pastikan telapak
tangan pemeriksa cukup hangat
saat melakukan pemeriksaan
• Intinya: perlakukan anak sebagai
individu yang memiliki perasaan
dan sensibilitas
Observasi
• Walaupun anak tidak / belum
dapat berkomunikasi, informasi
dapat diperoleh dengan cara
melakukan observasi
• sejak anak tersebut masuk ke
dalam ruang periksa & catat
semua hasil observasi di dalam
rekam medik
• Intinya: pada anak, informasi
melalui observasi penting
Observasi
Posisi

• Pemeriksaan dapat dilakukan saat


anak dipangku atau digendong
• Ada beberapa pemeriksaan yang
harus dilakukan dengan posisi
tidur
• Mengurangi rasa takut,
pemeriksaan dapat dilakukan dari
belakang tubuh si anak
Buka Baju
• Baju dibuka secara bertahap untuk
mencegah kedinginan atau
perasaan malu pada anak yang
lebih besar
• Minta orangtua yang membukakan
baju dan memasukkan
termometer di bawah ketiak
anaknya
• Tetap hargai anak yang tidak mau
membuka bajunya
Pemeriksaan
• Mulai pemeriksaan dari bagian
tubuh yang paling kecil
kemungkinannya untuk terasa
sakit / tidak nyaman
• Pemeriksaan telinga dan
tenggorokan dilakukan paling
akhir
• Upayakan agar pemeriksa sudah
mempunyai alur pemeriksaan
yang baku yang dapat diterapkan
pada setiap anak yang diperiksa
Pemeriksaan yang
“Menyakitkan”
• Sampaikan kepada anak:
- apa yang akan dilakukan
dan bagaimana anak tersebut
dapat membantu
- bahwa pemeriksaan ini perlu
untuk dilakukan
- bahwa pemeriksaan akan
dilakukan secepat mungkin
dan diupayakan tidak sakit
• Jangan berbohong
Keadaan Umum
1. Kesan keadaan sakit
2. Kesadaran
3. Kesan status gizi
1. Kesan keadaan sakit
• Lebih banyak tetanus
neonatorum
bersifat subyektif
• Perhatikan ekspresi wajah
(fasies)
fasies kolerika
• Perhatikan posisi dan aktivitas
anak
risus sardonikus
Pilek
Sindrom Pierre-Robbin
Usus buntu
sesak napas

sindrom Down
2. Kesadaran
edema anasarka retraksi

• Dinilai saat anak bangun


gembira, tenang,
koperatif, ketakutan,
• Tentukan tingkat kesadaran
agresif, hiperaktif,
gaduh gelisah,
anak: komposmentis, apatik,
murung, cengeng somnolen, sopor, koma,
delirium
sesak napas, • Pada tahap ini, perhatikan
napas cuping hidung,
rektraksi, pula status mental, perilaku
sianosis, ikterus,
edema anasarka
anak, kelainan yang segera
tampak, tangisan
lemak
subkutan <
3. Kesan status gizi
marasmus
• Perhatikan proporsi atau
postur tubuh, adakah kelainan
yang menyebabkan proporsi
tubuh berubah
akondroplasia • Lakukan cubit tebal jaringan
lemak subkutan dan keadaan obesitas

hidrosefalus otot pada alat gerak


atropi otot
• Cari tanda defisiensi nutrien
• Timbang BB, ukur TB, LLA
PEMERIKSAAN
NEUROLOGIS
KEJANG
• KLONIK/ TONIK
• FOKAL/ UMUM
• LAMA KEJANG
• FREKUENSI
• INTERVAL
• K.U. SAAT KEJANG/ PASCA IKTAL
• DEMAM ?
TREMOR
• YAITU GERAKAN HALUS YANG KONSTAN
• TIMBULNYA  ISIRAHAT : EKSTTRAPIRAMIDAL
• AKTIFITAS: SEREBELM
• COONTOH :
BAYI : HIPOGLIKEMIA, HIPOKALSEMIA
ANAK : HIPERTIROID, HIPO/ HIPERTERMIA
“TWITCHING”
• YAITU GERAKAN SPASMODIK YANG SINGKAT
• CONTOH : OTOT YANG LELAH, RASA SAKIT
SETEMPAT, PSIKIS
KOREA
• YAITU GERAKAN INVOLUNTER KASAR TANPA
TUJUAN, GERAKAN CEPAT TER- SENTAK2
TIDAK TERATUR TIDAK TERKOORDINASI.
• BERHUBUNGAN DENGAN TONUS OTOT
MENURUN
ATETOSIS
• YAITU GERAKAN KASAR TIDAK BERIRAMA,
LAMBAT, ME-LIUK2
• BERHUBUNGAN DENGAN TONUS OTOT
MENINGKAT
PARESIS/ PARALISIS
• PARESIS : KELUMPUHAN OTOT YANG TIDAK
SEMPURNA
• PARALISIS : KELUMPUHAN OTOT YANG
SEMPURNA
• FLASID  LOWER MOTOR NEURON (LMN)
CONTOH: POLIO, MIASTEMIA
• SPASTIK  UMN
TANDA RANGSANG MENINGEAL
• 1. KAKU KUDUK
• 2. BRUDZINKI I
• 3. BRUDZINKI II
• 4. KERNIG
PEMERIKSAAN SARAF OTAK
• NERVUS I : PENCIUMAN
• NERVUS II : PENGLIHATAN
 PADA USIA 5-6 THN
. NERVUS III, IV, VI : GERAKAN KEDUA MATA
 UJI AKOMODASI, REFLEKS CAHAYA
CONTOH : PTOSIS, STRABISMUS, DIPLOPIA
• NERVUS V : UJI SENSASI
• NERVUS VII : TERSENJUM, MERINGIS,BERSIUL
• NERVUS VIII : PENDENGARAN,
KESEIMBANGAN
• NERVUS IX : REFLEKS MUNTAH DAN SENSASI
PENGECAP HILANG, DEVIASI UVULA KESISI
YANG NORMAL
• NERVUS X :
– GG. MOTORIK : AFONIA, DISFONIA, DISFAGIA
– GG. SENSORIK : NYERI, PARESTESIA
– GG. VEGETATIF
SISTEM PERNAFASAN
• 1. INSPEKSI
• 2. PALPASI
• 3. PERKUSI
• 4.AUSKULTASI
1.INSPEKSI:
a. Laju pernafasan
a. Laju
b. Irama
c. Kedalaman
d. Tipe / pola
Umur Rentang Rata-rata waktu tidur
(x/mnt) (x/mnt)

Neonatus 30-60 35
1 bulan – 1 tahun 30-60 30
1 tahun – 2 tahun 25-60 25
3 tahun – 4 tahun 20-30 20
5 tahun – 9 tahun 15-30 18
>10 tahun 15-30 15
b. Irama
a. Laju
b. Irama • Biot – irama tidak teratur (ensefalitis,
c. Kedalaman poliomielitis)
d. Tipe / pola
• Cheyne-Stokes – cepat & dalam,
diikuti periode pernapasan yang
lambat & dangkal, serta akhirnya
periode apne beberapa saat (Normal
pada bayi baru lahir, hilang setelah berumur beberapa minggu.
Patologis pada depresi SSP)

• Kussmaul – cepat & dalam (asidosis


metabolik)
c.Kedalaman
a.
b.
Laju
Irama
• Eupne – pernapasan dengan
c.
d.
Kedalaman
Tipe / pola
kedalaman normal
• Hiperpne – pernapasan dalam
(anoksia, asidosis, kelainan SSP)

• Hipopne – pernapasan dangkal


(gangguan SSP)

• Takipne – pernapasan cepat (penyakit


paru, gagal jantung)

• Bradipne – pernapasan lambat


(gangguan pusat pernapasan, TIK meningkat, pengaruh sedatif,
alkalosis, keracunan)
kedalaman ….
a.
b.
Laju
Irama
• Eupne – pernapasan dengan
c.
d.
Kedalaman
Tipe / pola
kedalaman normal
• Hiperpne – pernapasan dalam
(anoksia, asidosis, kelainan SSP)

• Hipopne – pernapasan dangkal


(gangguan SSP)

• Takipne – pernapasan cepat (penyakit


paru, gagal jantung)

• Bradipne – pernapasan lambat


(gangguan pusat pernapasan, TIK meningkat, pengaruh sedatif,
alkalosis, keracunan)
kedalaman……..
a.
b.
Laju
Irama • Dispne – kesulitan bernapas (napas
cuping hidung, retraksi subkostal, interkostal, atau suprasternal,
c. Kedalaman
sianosis, & takipne – pada latihan fisis, ketakutan, nyeri, anemia,
d. Tipe / pola gagal jantung)

• Distres pada inspirasi – obstruksi


tinggi
• Distres pada ekspirasi – obstruksi
rendah
• Ortopne – kesulitan bernapas
saat berbaring, berkurang saat
duduk / berdiri (asma, gagal jantung, edema paru,
epiglotis, croup, fibrosis kistik)
a. Laju
b.
c.
Irama
Kedalaman kedalaman……
d. Tipe / pola
d. Tipe/ pola
a. Laju
b. Irama
c. Kedalaman • Bayi, abdominal / diafragmatik
d. Tipe / pola
• Jika torakal, artinya bayi / anak
kecil tersebut ada kelainan paru,
kecuali bila perut anak sangat
kembung
• Anak besar, torakal
• Anak umur 7-8 tahun,
torakoabdominal
PALPASI
• 1. SIMETRI / ASIMETRI TORAKS,
KELAINAN TASBIH (ROSARY),
BENJOLAN, NYERI, KEL.LIMFE
• 2. FREMITUUS SUARA
• 3. KREPITASI SUBKUTIS
PERKUSI
• 1. LANGSUNG : MENGETUK LANGSUNG KE
DINDING DADA
• 2. TIDAK LANGSUNG : MELETAKKAN 1 JARI
PADA DINDING DADA DAN MENGETUK
DENGAN UJUNG JARI LAINNYA
 SUARA NORMAL SONOR
 ABNORMAL REDUP/ PEKAK
HIPERSONOR, TIMPANI
AUSKULTASI
• DILAKUKAN  SELURUH DADA, PUNGGUNG
DAN AKSILA
• MENILAI SUARA DASAR & SUARA TAMBAHAN
SUARA DASAR : VESIKULER – NORMAL
BRONKIAL
 SUARA TAMBAHAN : RONKI BASAH/ KERING
MENGI, KREPITASI, SUARA
GESEKAN PLEURA
PEMERIKSAAN
NEFROLOGI
Pemeriksaan Fisik
• Keadaan umum
• Tanda vital: kesadaran, tensi nadi, suhu,
pernafasan
• Antropometri: BB, TB, LK, LLA
• Kepala: kelainan bentuk
• Mata:
– Palpebra: edema
– Konjungtiva: pucat
• THT: infeksi farings dan tonsil
• Muka: butterfly rash
• Toraks: kelainan tulang: rikets
• Paru
• Jantung
• Abdomen:
– Membuncit
– Massa
– Asites
– Ballotemen
– Nyeri ketok sudut kosto-vertabrae
• Ekstremitas
– Edema
– Kelainan tulang
• Kulit: infeksi kulit
• Genitalia: edema, fimosis, hipo/epispadia,
sinekie vagina
• Tulang belakang: spina bifida
• Refleks: fisiologis dan patologis
• Pemeriksaan neurologis
– Saraf kranialis
– Tanda rangsang meningeal
– Paresis/paralisis