Anda di halaman 1dari 64

PEMBIAYAAN KESEHATAN

Mardiati Nadjib

Maret 2009
KULIAH HARI INI
1. Apa itu pembiayaan kesehatan?
2. Sumber pembiayaan
3. Flow of funds
4. Penggunaan dana
5. National Health Account
6. Isyu-isyu pembiayaan
7. Contoh-contoh
8. Diskusi kelompok
Istilah-istilah

 Biaya (cost, costing)


 Anggaran (alokasi & realisasi)
 Pembiayaan (financing)
 Sumber
 Penggunaan/ pemanfaatan
 Telaah isyu kecukupan/ gap, efisiensi,
equity
 Financial cost vs economic cost
Demarkasi ‘biaya’ dalam pembiayaan
kesehatan (boundary) perlu disepakati:

Semua biaya yang secara eksplisit di


alokasikan untuk meningkatkan atau
mencegah penurunan status kesehatan
masyarakat (Health Canada, 1996).
Semua kegiatan yang mempunyai tujuan
utama/primer untuk mempromosi,
mengembalikan atau menjaga kesehatan
(WHO, 2000)
Definisi pembiayaan
pelayanan kesehatan

 Mobilisasi biaya/dana untuk pelayanan


kesehatan
 Alokasi biaya untuk wilayah dan kelompok
penduduk yang secara khusus untuk
pelayanan kesehatan
 Mekanisme untuk pembayaran pelayanan
kesehatan (Hsaio, W and Liu, Y, 2001)
Contoh berikut ini, apakah termasuk
pembiayaan kesehatan?
 Anggaran Gerakan Sayang Ibu pada Kementrian Peranan
Wanita
 Anggaran pembangunan jalan menuju puskesmas pada
Kimpraswil
 Dana Jamkesda pada Sekretariat Pemerintah Daerah
 Biaya penolong persalinan pada dukun bayi
 Anggaran biaya penyuluhan pada Depdiknas
 Iuran dana JPKM di kabupaten Probolinggo
 Dana keluarga untuk berobat, dari gaji KK
 Iuran untuk fitness
 Biaya penyuluhan pencegahan HIV-AIDS di panti pijat
Fungsi pembiayaan kesehatan
 Revenue collection (taxes, public charges,
sales of natural resources, grants, loans,
private insurance, etc)
 Pooling
 Resources allocation/purchasing
(government agency, social
insurance/sickness fund, private
insurance, employers, individual/hh)
 Service provision (public providers,
private providers)

 Sources: WHO, 2002


Sumber Utama Pembiayaan
Kesehatan

Pemerintah Swasta,
termasuk OOP

Donor/hibah
Sumber Pembiayaan Kesehatan
 Pengeluaran pemerintah termasuk semua
pengeluaran yang terkait pelayanan kesehatan yang:
 Bersumber Pemerintah Pusat dan Lokal pada semua sektor
(Sektor kesehatan dan sektor lainnya, TNI/ POLRI)
 Dibayarkan melalui pajak, atau kontribusi asuransi kesehatan
baik yang dibayarkan oleh pekerja atau pemerintah atau
keduanya yang dianggap sebagai pengeluaran pemerintah dan
kontribusi asuransi sosial(atau Social security funds)
 Pembayaran secara sukarela oleh individu atau
pekerja yang dianggap pengeluaran swasta (OOPs)
 Sumber eksternal merujuk pada bantuan dari
luar/donor yang datang melalui kerjasama program
bilateral atau LSM international
 Swasta/ BUMN yang langsung memberi pelayanan
kesehatan bagi karyawan seperti klinik/ RS atau self-
insured (tetapi tidak double counting dengan
asuransi kesehatan atau OOPs)
Dari mana dan bagaimana uang tersebut
mengalir?

Askeskin
Mekanisme pembiayaan kesehatan
 Pendapatan negara atau pajak
 Kontribusi asuransi sosial
 Premi asuransi swasta
 Pembiayaan masyarakat, seperti dana sehat
 out of pocket payments
Setiap metode:
 Memberikan distribusi dampak pembiayaan dan
keuntungan yang berbeda
 Memberikan pengaruh yang akan mengakses
pelayanan kesehatan
 Proteksi pembiayaan

SOURCE  AGENT  PROVIDER  BENEFICIARY


Pembiayaan Kesehatan
Bersumber Pemerintah

In-kind JPSBK/ Gaji PTT


Dana
(missal PKPSBBM PLN (Dokter &
Pusat DEKON,
/ Askeskin/
TP, DAK vaksin) Bidan)
Jamkesmas

Provinsi APBD Propinsi

Kabupaten/
DAU PAD
Kota
Total Pembiayaan Publik Sektor Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
Menurut Institusi

Institusi Kesehatan Institusi non Kesehatan

1. Dinas Kesehatan 1. Badan Pengelolaan Lingkungan Daerah


2. PEMDA 2. BAPEKO
3. Puskesmas 3. BKKBN
4. Rumah Sakit Pemda 4. Kantor Tata Bangunan & Gedung
5. Sudin Kesehatan Masyarakat 5. PMR
6. Sudin Pelayanan Kesehatan 6. Pemberdayaan Masyarakat Desa
7. SEKDA
8. Sudin Bintal & Kessos
9. Sudin Dikdas
10. Sudin Dikmen / Ti
11. Sudin Kebersihan
12. Sudin Naker & Transmigrasi
13. Sudin Pemuda & OR
Total Pembiayaan Kesehatan Provinsi DKI Jakarta

Menurut Sumber
Institusi Kesehatan:
SUMBER 2003 2004

APBD 1 906.846.231.699 896.575.389.645


APBN 10.377.859.000 10.674.350.000
PKPS-BBM 14.317.430.257 12.651.668.345
97,23 %
BLN 485.397.800 1.058.094.200
SP-ASKES 163.706.600 278.418.000 96,71 %
Jamsostek 53.437.500 48.667.200
WHO - 10.940.400
TOTAL 932.641.313.756 921.662.416.230

Institusi non Kesehatan:


SUMBER 2003 2004

APBD 1 17.175.000.000 27.226.022.000


APBN 486.953.500 129.864.000
TOTAL 17.661.953.500 27.355.886.000
APBD II
2002 383.093.699.115 ASKES &
Fungsional
APBN BLN
2003 429.845.581.799

Sektor non 2002: 45.871,12 / kapita Sektor


Kesehatan DAU: 47,78 % Kesehatan
2002 3% 2003: 56.660,23 / kapita 2002 97 %
2003 3,53 % DAU 55,41 % 2003 96,47%
DIK ‘02: 54,37 % DIK ‘02: 38,47 %
DIP ‘02: 44,25 % RSUD DINKES DIP ‘02: 38,47 %
2002 70,72%
Lain2 ’02: 1,38 % 2002 29,28 % 31.467,09 / kapita Lain2 ’02: 4,24 %
DIK ’03: 54,53 % 2003 70,18% DIK ’03: 58,67 %
2003 29,82 % 38.362,22 / kapita
DIP ’03: 43,27 % DIP ’03: 34,56 %
Lain2 ’03: 2,20 % Lain2 ’03: 6,77 %

Komponen Biaya Komponen Biaya Pengelola/Program

TU
I 2002: 35,99 % I 2002: 8,57 %
2002: 36,73 %
2003: 36,99 % 2003: 10,22 % 2003: 31,78 %
Propinsi:
2002 34,78%
O 2002: 62,51 % O 2002: 89,90 %
2003 31,51% YANKES
2003: 61,50 % 2003: 88,08 % 2002: 21,89 %
2003: 27,54 %

P 2002: 1,49 % P 2002: 1,44 %


Penyuluhan, Kesga, P3,
2003: 1,71 %
2003: 1,51 % KLP HS
2002: 6,60 %
2003: 9,17 %
Kab. Gunung Kidul
Bagaimana bisa memotret pembiayaan
kesehatan seperti itu?
 Menerapkan National/District Health Account
 Pengelompokan menurut kode akun (code
account) sesuai guideline WHO (ICHA =
International Classification for Health Account)
 Idealnya ‘spending’ /expenditure, bukan budget,
kurun waktu setahun
 Financial cost --? Sumber daya apapun dari
sumber manapun yang dikeluarkan, dibeli,
digunakan dalam kurun waktu tahun tsb sesuai
tujuan dan unit analisis (mis total kes di kab/
kota). Bila diterima ‘in-kind’ diterjemahkan ke
nilai rupiah
Agen Pendanaan:

 Lembaga/institusi atau entitas


dalam sistem yang
mengarahkan dana yang
telah disediakan oleh sumber
pendanaan untuk membeli atau
membayar kegiatan yang ada
dalam batasan akun kesehatan

Source: Marrk Wheeler, DHA in


NTB, Guidance notes for District
Team, Nov 2007
AGENT DHA
HF 1 Pemerintah

HF
1.1.
HF Pemerintah Pusat
1.1.1.

HF Dinkes Propinsi
1.1.2

HF Pemerintah Kabupaten
1.1.3

HF 1.1.3.1. Dinkes Kabupaten

HF 1.1.3.2. Non Dinkes Kab

HF Soc Sec Askeskin


1.2. Fund
HF 1.3. Gov Emp Askes PNS,
Insurance Jamsostek
sumber Pendanaan:

 Lembaga/institusi atau
entitas dalam sistem yang
menyediakan dana yang
digunakan oleh agen
pendanaan dalam sistem
tersebut

Source: Marrk Wheeler, DHA in


NTB, Guidance notes for District
Team, Nov 2007
Pendanaan by provider:

 entitas yang menerima


uang/dana sebagai ganti
atau mendukung upaya
menghasilkan kegiatan
dalam batas akun
kesehatan yang telah
disepakati
Source: Marrk Wheeler, DHA in
NTB, Guidance notes for District
Team, Nov 2007
Pendanaan by fungsi:

jenis jenis barang dan pelayanan


yang disediakan dan
kegiatan yang dilakukan
dalam batas-batas health
account dan dikelompokkan
berdasarkan tujuan

Source: Marrk Wheeler, DHA in


NTB, Guidance notes for District
Team, Nov 2007
Resource cost

 Faktor atau input yang digunakan


provider atau agen pembiayaan
(FA) untuk memproduksi pelayanan
(jasa/ barang) yang dikonsumsi
atau aktifitas yang dilaksanakan
oleh sistem kesehatan
Beneficiary (Penerima Manfaat)
 Menurut PHER:
 Beneficiary adalah sekelompok masyarakat
yang menerima manfaat pelayanan kesehatan
(barang/jasa).
 Pengelompokan bisa menurut status
sosioekonomi, geografi (urban/rural), gender,
umur
 Menurut WHO:
 Individu datu kelompok yang menerima
manfaat atau dijamin suatu kebijakan
pembiayaan/ suransi untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan
Kasus 1:
 Simulasi Kasus:  Agen = Dinkes
Dana DAK yang  Sumber = Pusat
dialokasikan dari  Beneficiaries =
pusat ke Dinkes Puskesmas
Kabupaten untuk
renovasi  Komponen biaya =
Puskesmas capital
expenditures
Kasus 2:
 Gaji dokter PTT  Agen = Dinkes
yang dibayar oleh  Sumber = Pusat
Pusat untuk dokter  Beneficiaries =
yang bekerja di Puskesmas
Puskesmas
 Komponen Biaya =
operasional
expense di
Puskesmas
Beberapa pertanyaan Utama

 Apakah belanja untuk kesehatan cukup?


 Apakah terlalu banyak belanja untuk pelayanan
kuratif, dibanding kesehatan masyarakat?
 Apakah belanja terlalu sedikit atau terlalu banyak
untuk gaji, atau obat, atau konstruksi, atau
pemeliharaan?
 Berapa banyak belanja untuk administrasi?
 Apa saja yang didanai donor, bagaimana supaya
belanja bisa menjadi lebif efektif?
APA YANG AKAN KITA HASILKAN
DARI DHA KITA?
 Putuskan pertanyaan kebijakan apa yang
akan dijawab, misal:
 APakah daerah tergantung pada sumber
tertentu dalam pendanaan kesehatan seperti
Pusat atau donor?
 Apakah dana APBD untuk kesehatan sudah
memadai?
 Apakah program prioritas mendapatkan porsi
cukup?
 Siapa mendapat apa?
 Setelah bantuan GFATM berakhir, bagaimana
kelanjutan aktifitas yang telah dirintis?
Harapan dari NHA/DHA:
 NHA/DHA memberi informasi tentang
tingkat kecukupan, sustainability,
efisiensi, dan efektivitas pembiayaan
pada periode yang telah berjalan.
 NHA/DHA dipakai untuk penajaman
sasaran perencanaan dan penganggaran
kabupaten/kota
 NHA/DHA dipakai sebagai dasar untuk
efisiensi distribusi anggaran di periode
mendatang
Isyu-isyu (1):

Kecukupan (Adekuasi)

 Berapa idealnya? Meski tidak ada ukuran mutlak, tetapi


diperkirakan oleh WHO/ WB/ Macroeconomics sekitar
$ 34 atau USD 40, atau 5% GDP, atau Rp 42.000/ cap 
Bagaimana kondisi saat ini?
 Pemetaan (besar, sumber, penggunaan): NHA, DHA,
perbedaan potensi daerah
 Kebutuhan dana: costing (P2KT, SPM)
 Desentralisasi?
Table 2. Expenditure on Health, Indonesia 2001-2003

Indicator 2001 2002 2003

Percapita total expenditure on health (THE) US $ 21 US $ 26 US $ 30


Percapita Government expenditure on health US $ 7 US $ 9 US $ 11
Total health expenditure as % of GDP 3.1 3.2 3.1
Government health expenditure as % of THE 35.6 34.5 35.9
Private health expenditure (PHE) as % of THE 64.4 65.5 64.1
Out-of-pocket health expenditure as % of PHE 75.1 75.3 74.3

Source: WHO Report 2006

Pembiayaan kes 75% OOP  apa implikasinya??


Isyu-isyu (2):
 Persoalan alokasi sumber daya: efisiensi, equity
(pemerataan), sustainability (langgeng)
 Efisien: bagaimana penggunaan, prinsip ‘worth spent’
 Equity (pemerataan): prinsip keadilan  siapa dapat
apa?
 Peran Pemerintah: public goods & Gakin
 Faktor-faktor need, geografi, sosioekonomi
 Dalam SKN : UKM dan UKP
 Desentralisasi: Pem. Pusat & Daerah
 equity egaliter (you get what you need and you pay
what you can afford)
 Sustainability: habis proyek habis kegiatan?
 Mobilisasi Sumber daya: Pemerintah, Swasta,
masyarakat
Cita-cita Pembiayaan
 Cakupan universal: setiap penduduk ‘insured’
memiliki jaminan/asuransi kesehatan
 Suatu konsep pembiayaan kesehatan dimana out
of pocket minimal atau affordable
 Subsidi Melalui sisi Supply atau demand?
Pendekatan yang dilakukan adalah dengan
menetapkan tarif puskesmas dan RS yang
“terjangkau” (sisi supply)
 Persoalan tidak hanya barier biaya  Pemda
membantu
Kelompok Mampu

Kelompok Formal

Kelompok Informal

Kelompok MASKIN
Berbagai contoh
 Inggris dan Saudi Arabia memberikan
pelayanan kesehatan gratis bagi semua
penduduk, termasuk transplantasi. Swedia
juga menerapkan pembiayaan kesehatan
bersumber pajak/ government revenue
 Kanada dan negara-negara maju di Eropa
(Jerman), Australia, Asia (Korea, Jepang,
Taiwan), dan Kanada menerapkan sistem
asuransi kesehatan nasional. Semua
penduduk memiliki asuransi kesehatan
 Amerika Serikat menerapkan asuransi
komersial, program subsidi hanya bagi lansia
dan penderita penyakit terminal.
Contoh di tanah air
 Beberapa kabupaten (biasanya dikaitkan dengan
politis): membebaskan biaya kesehatan di
puskesmas dan RSUD
 Kaltim: menambah premi untuk PNS untuk
hindari cost sharing dan menjamin gakin melalui
PT Askes
 Tabanan (2008): Jamkesmas dengan kuota,
sisanya ditanggung Pemda kerjasama dengan PT
Askes, plus premi untuk personil non PNS/ TOMA,
askes PNS….. Keinginan ‘universal coverage’..
RSUD menjadi BLU sehingga mampu mengelola
dengan berkualitas dan insentif yang baik bagi
tenaga medis
(1) Macro estimate (WHO, Commission
on Macroeconomics and Health, 2001

• $30 - $40 per capita/yr for essential interventions


• should comes from :
(1) public expenditure and
(2) community and private expenditure
• this take 10% GNP of most least developed ctrs
• none of countries with IPC $500/yr managed to spend
$30 per person per yr
• none of those countries spend $20 from public expenditure
(2) Micro estimate (estimating program cost)

Required information:
(1) Target to be accomplished in the subsequent yr
(2) List of activities for the respective program
(3) Program target for the coming and its consequence on
the volume of activity
(4) Estimate of unit cost for each activity
(5) Break down of the cost into:
a. investment
b. operational
c. maintenance
Estimate of cost needed per capita per year
Program Type of services Coverage Total for Per
600.000 pop Capita
(*)
Macro estimate EPI Basic
Hb
90% infant
90% infant
4.282.279.351 7.137

TT 90% pregnant mothr


Elem shool grade I 100% pupil
(WB Indonesia, Lung TB
Elem shool grade II
Case finding
100% pupil
70/100.000 pop 115.948.591 193
Cure rate 91%
th/ for 20% poor
2000) Malaria Case finding 300/100.000 pop 334.442.104 557
th/ for 20% poor
Larva control 100% targeted village
$ 5/capita/yr DHF
Mosquito control
Case finding
100% targetd village
10/100.000 pop 2953904.274 4.923
th/ for 20% poor
Fogging 50% target
A batisasi 10% target
Breeding place (**) 10% target
Diarrhea Case finding 28/1000 pop 105.0185.998 1.750
th/ for 20% poor
A RI Case finding 11/1000 pop 678.813.851 1.131
th/ for 20% poor
STD Case finding 12/1000 pop 233.939.381 390
th/ for 20% poor
Treatment Basic service for 20% population 1.113.856.683 1.856
poor people
MCH 4 x A NC 80% pregnant mother 2.759339.727 4.599
Delivery + emergency 80% pregnant mother
Post natal care 80% pregnant mother
Nutrition Pregnant women 80% 1.888.814.976 3.148
*iron pill Child coverage 100%
*Vit. A Child coverage 80%
*Yodium Lactating mother 100%
Kapsul yodium 100%
Salt monitoring 100% school
School hlth Th/ worm 100% 353.071.552 588
Screening 100%
PHN Home visit 100% 2.505.518.244 4.176
FP A ctiv acceptor 60% 2.326.362.506 3.877
Contraceptive for the
poor
Water/sanitation 335.315.403 559
IMCI Sick child (0-4 th) 80% 3.772.445.850 6.287
Total 24.704.238.491 41.174
Komitmen Anggaran Kesehatan :

 Prosentase anggaran kesehatan APBD II terhadap


total APBD II  15% ???
 Tingginya komitmen daerah dilihat dari tingginya
proporsi anggaran kesehatan APBD II terhadap
total anggaran kesehatan - sustainability (>70%)
 Semakin besar dana kesehatan ke sektor non
kesehatan semakin sulit menentukan batasan
pembiayaan kesehatan
 Proporsi Anggaran Dinkes dan RSU menurut sumber
(Pusat, APBD I, dan APBD II)
Komitmen Anggaran Kesehatan :

 Makin tinggi (>60%) proporsi APBD II


Dinkes terserap untuk DIK, makin rendah
Komitmen Pemda.
 Komitmen pelayanan yang menjadi
tanggung jawab APBD II adalah program
yang dominan “Public Goods”
 Komitmen yang baik ditunjukkan dengan
alokasi yang relatif seimbang antara
Investasi (20%), Operasional (70%) dan
Pemeliharaan (10%)
 CONTOH:
 Pembiayaan Program AIDS
 Pembiayaan Program TB
HIV/AIDS: ketergantungan kepada Donor tinggi
Dilaporkan rutin kepada UNGASS

Indonesia AIDS Spending in 2006


Jan-Dec 2006 FINANCING SOURCES
International Sources
TOTAL Public (Sub- Public Sources
International Multilateral Mult
Total) All Other Bilaterals
AIDS Spending Categories Central/National Sub National Sub-Total (sub total) UN Agencies Glo
Public
TOTAL 56,576,587 15,038,484 13,179,463 1,859,021 41,538,103 28,175,558 13,362,545 2,897,137 10
1. Prevention 23,179,628 5,029,743 4,377,906 651,837 - 18,149,885 15,581,136 2,568,749 1,477,949 1

2. Care and Treatment 14,073,523 106,832 92,158 14,674 - 13,966,690 4,403,757 9,562,934 188,472 9

3. Orphans and Vulnerable Children * 45,850 - - - - 45,850 - 45,850 45,850


Program Management and Administration
4. 12,161,368 8,998,960
Strengthening 8,127,294 871,666 - 3,162,408 2,600,023 562,385 562,344
5. Incentives for Human Resources ** 4,562,592 340,779 215,206 125,573 - 4,221,813 4,003,611 218,202 218,111
Social Protection and Social Services excluding
6. 27,174 27,174
Orphans and Vulnerable Children - 27,174 - - - - -

7. Enabling Environment and Community Development 2,413,421 495,866


327,768 168,098 - 1,917,554 1,538,129 379,425 379,412
Research excluding operations research which is
8. 113,031 39,129
included under 39,129 - - 73,902 48,902 25,000 25,000

Bilateral = negara lain: DFID, USAID, AusAID dll


Multilateral  GF, WB, UN
Publik  Pemerintah (Pusat dan sub-nasional)
Provincial Commitment to Health
•Less than 8% of budget committed to health for all provinces and
districts;
•Wide disparities in funding levels between province;
•Only ONE Province (Lampung) has slightly increased their health
budget between 2004 and 2006;
•In several provinces the percentage has fallen (although absolute
values may be rising).

APBD I DINKES/ TOTAL APBD I


at 4 Pr ovince , 2004 - 2006

8.0%

7.0%

6.0%

5.0%

4.0%

3.0%

2.0%

1.0%

0.0%
2004 2005 2006 2004 2005 2006 2004 2005 2006 2004 2005 2006

K A LTIM LA MP UNG NTB B A NTEN


District Commitment to Health

APBD DINKES/TOT APBD II

9.0%
8.0%
7.0%
6.0%
5.0%
4.0%
3.0%
2.0%
1.0%
0.0%
2004

2005

2006

2004

2005

2006

2004

2005

2006

2004

2005

2006

2004

2005

2006

2004

2005

2006

2004

2005

2006
KUTAI BARAT BALIKPAPAN BANDAR LAMPUNG LOMBOK MATARAM PANDEGLANG
LAMPUNG TENGAH BARAT
Provincial Commitment to TB
 Public funds (APBD vs. donor) are only a very small
proportion of total TB budgets at provinces;
 Public funds, in general, are not increasing over time (with
some exceptions) and do not seem to respond to changes in
donor funding.
Provincial Funding for TB, by Source

1,000,000,000
900,000,000
800,000,000
700,000,000
600,000,000
500,000,000
400,000,000
300,000,000
200,000,000
100,000,000
-
2004 2005 2006 2004 2005 2006 2004 2005 2006 2004 2005 2006

KALTIM LAMPUNG NTB BANTEN

APBD I TB APBD I (staff) APBN PHP KNCV GF-ATM HWS


District Commitment to TB
(TB funds: a small percentage of APBDII devoted to health)

APBD II TB/ APBD DINKES

3.0%

2.5%

2.0%

1.5%

1.0%

0.5%

0.0%
2004
2005
2006

2004
2005
2006
2004
2005

2006
2004
2005
2006

2004

2005
2006
2004
2005
2006

2004
2005
2006
KUTAI BALIKPAPAN BANDAR LAMPUNG LOMBOK MATARAMPANDEGLANG
BARAT LAMPUNG TENGAH BARAT
District Commitment to TB
•Public funds (APBD II) make up a larger share of TB funds at the district
level than at the province level (although still generally under 70%);
•62% to 100% of district level contributions are for staff.

Budgeting TB Program by Source at 7 District 2004 - 2006

1,200,000,000

1,000,000,000

800,000,000

600,000,000

400,000,000

200,000,000

-
2004

2005

2006

2004

2005

2006

2004

2005

2006

2004

2005

2006

2004

2005

2006

2004

2005

2006

2004

2005

2006
KUTAI BALIKPAPAN BANDAR LAMPUNG LOMBOK MATARAM PANDEGLANG
BARAT LAMPUNG TENGAH BARAT

APBD II (staff) APBD II TB APBN APBD I KNCV GF-ATM PHP HWS


District Commitment
Further analysis shows that almost all non-staff funding at district level comes
from outside sources
TB Program by Source & by Cost Item at 7 District 2004

500,000,000

450,000,000

400,000,000

350,000,000

300,000,000

250,000,000

200,000,000

150,000,000

100,000,000

50,000,000

0
prog

prog

prog

prog

prog

prog

prog
capital

capital

capital

capital

capital

capital
drugs

drugs

drugs

drugs
others

drugs
others

drugs
others

drugs
staff salary

staff salary

staff salary

staff salary

staff salary

staff salary

staff salary
staff salary
case finding

case finding

case finding

case finding

case finding

case finding

case finding
lab supplies

lab supplies

lab supplies

lab supplies

lab supplies

lab supplies

lab supplies
Kutai Barat Balikpapan Bandar Lam pung lom bok barat m ataram Pandeglang
lam pung Tengah

APBD I APBD II APBD II (s taff) APBN GF-ATM KNCV PHP


Sufficiency
•TB expenditure (all sources) per capita seems to be between 600 and 2,000
Rp per capita → This may lead us to a target for all districts;
•However, only Kutai Barat comes close to this level of spending with public
funds, showing that districts may have substantial differences in their financial
capacity.

TB Expenditure per capita 2004

2,500
2,000

1,500

1,000

500

0
2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004

KUB A R B A LIKP A P A N B A NDA R LA M TENG LOM B OK M A TA RA MP A NDEGLA NG


LA M P UNG B A RA T

percapita Angg TB (donors) percapita Angg TB (APBN+APBD I)


percapita Angg TB APBD II
Sufficiency
•Dividing TB Expenditures (all sources) by the estimated number of cases
(based on regional incidence) shows similar findings as cost per capita;
•Cost per expected case range from 400,000 to 1,000,000 rp – large difference;
•Policy direction  More work need to determine what should be target
expenditures for districts, keeping in mind that case finding rate may influence
the result.

Expenditure per Estimated Number of TB cases 2004

1,200,000
1,000,000
800,000
600,000
400,000
200,000
0
2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004

KUB A R B A LIKP A P A N B A NDA R LA M TENG LOM B OK M A TA RA MP A NDEGLA NG


LA M P UNG B A RA T

Per estimasi Angg TB (donors) Per estimasi Angg TB (APBN+APBD I)


Per estimasi Angg TB APBD II
Efficiency
•Costs per case treated varies from under Rp.700,000 to over Rp.3,200,000;
•Need to explain why this variation is so high, although lower coverage (in
terms of case finding) seems to be associated with higher cost per case.
Cost Per case Treated 2004
3,500,000
3,000,000
2,500,000
2,000,000
1,500,000
1,000,000
500,000
-
2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004

KUBAR BALIKPAPAN BANDAR LAM TENG LOM BOK M ATARAM PANDEGLANG


LAM PUNG BARAT

Coverage 34.0% 20.4% 67.8% 36.5% 50.8% 69.6% 33.2%


Percases Angg TB (donors) Percases Angg TB (APBN+APBD I) Percases Angg TB APBD II
MENGHITUNG KESENJANGAN
(RESOURCE GAP)
 Dengan mengetahui sumber daya yang
dikorbankan (spending atau expenditure) dapat
diketahui ‘ketersediaan’ selama ini (resource
available)
 Misal: trend exp utk HIV-AIDS selama 3 tahun
 Dengan mengetahui berapa biaya dibutuhkan
untuk mencapai target suatu program dapat
diketahui berapa sumber daya dibutuhkan
(resource needed)
 Misal: kebutuhan utk HIV-AIDS sd 2011
 Bila diketahui kedua informasi tsb, dapat
diidentifikasi kesenjangan (resource gap)
 Misal: ternyata terdpt kekurangan dana sebesar
Rp…………………, itupun bila kontribusi donor tetap,
dibutuhkan advokasi
Diskusi kasus:
Hasil Studi
Pembiayaan Kesehatan Daerah
di DI.Yogyakarta dan Provinsi
Lampung
Tahun 2002 - 2003

Buatlah dalam 5 kelompok, dan dikumpulkan minggu depan


Pertanyaan
 Pilihlah salah satu kabupaten di Lampung dan di
Yogyakarta sebagai kasus. Buatlah analisis perbandingan
antar keduanya. Sangat dianjurkan untuk menggunakan
data, referensi, dan asumsi tambahan untuk
memperkaya analisis. Analisis diarahkan pada
pertanyaan berikut ini;
 Bagaimana tanggapan anda melihat fakta pembiayaan
kesehatan seperti itu?
 Apa yang menyebabkan peningkatan/penurunan
pengeluaran biaya kesehatan di daerah tersebut?
 Bagaimana tingkat keberlangsungan biaya kesehatan di
daerah tersebut? Dan Bagaimana komitmennnya?
 Jika anda menjadi kepala dinas, apa yang harus anda
lakukan menyikapi fakta pembiayaan kesehatan seperti itu?
PROSENTASE ANGGARAN KESEHATAN
APBD
Anggaran Total APBD II % Kes APBD II/Angg Total % Anggaran kes APBD
Kabupaten 2002 2003 2002 2003 2002 2003
Kota Bandar Lampung 279,253,893,210 362,313,123,503 46.00% 56.00% 5.00% 4.00%
Kab Lampung Selatan 329,008,526,000 392,756,844,000 59.23% 44.79% 6.06% 5.58%
Kab Lampung Tengah 332,064,383,645 395,917,039,000 43.01% 34.94% 3.87% 4.20%
Kab Lampung Timur 310,391,720,033 356,950,478,038 57.71% 71.82% 6.52% 8.29%
Kab Tanggamus 266,512,120,444 316,138,916,422 65.67% 57.67% 5.53% 7.50%
Kab Tulang Bawang 210,890,812,973 284,898,526,773 58.13% 36.00% 6.66% 4.73%
Kab Lampung Utara 246,557,756,459 289,321,957,378 62.55% 51.61% 6.82% 6.03%
Kab Lampung Barat 189,986,189,489 214,757,744,650 52.39% 53.39% 4.26% 4.67%
Kab Way Kanan

Tabel 1 Yogya
Bantul 340,599,227,943 403,013,347,513 53.96% 54.23% 6.54% 7.33%
Sleman 668,491,939,449 782,879,908,091 75.88% 80.33% 3.95% 4.23%
Kulon Progo 240,895,506,861 281,412,794,977 54.35% 49.06% 8.90% 8.03%
BIAYA PERKAPITA

Anggaran total Kesehatan Perkapita


Kabupaten 2002 2003 2002 2003
Kota Bandar Lampung 30,008,745,307 28,095,427,023 39,624.00 36,531.00
Kab Lampung Selatan 33,648,240,937 48,936,080,334 29,342.52 42,088.02
Kab Lampung Tengah 29,893,143,052 47,568,274,244 28,328.66 44,701.10
Kab Lampung Timur 35,083,273,842 41,211,404,530 40,133.29 46,838.43
Kab Tanggamus 22,443,572,042 41,129,639,752 28,040.44 51,353.63
Kab Tulang Bawang 24,146,318,410 37,462,379,523 33,918.80 52,566.16
Kab Lampung Utara 26,901,767,911 33,774,105,178 50,764.57 62,196.80
Kab Lampung Barat 15,455,583,966 18,765,962,758 40,963.86 47,065.99
Kab Way Kanan 13,211,563,954 28,993,292,613 36,983.87 80,823.40

DIY Yogya
Bantul 41,257,118,078 54,474,114,890 53,123.67 69,057.55
Sleman 34,791,728,952 41,222,842,541 40,665.54 47,122.86
Kulon Progo 39,448,659,355 46,056,502,809 88,354.00 102,743.00
Komposisi Pembiayaan Kesehatan di Pusat, Propinsi dan Kabupaten
Tahun 2003

2003
KABUPATEN/KOTA
Pusat Propinsi Kabupaten
Propinsi Lampung
Kota Bandar Lampung 33.00 5.05 61.95
Kota Metro 32.57 3.96 63.47
Kab. Lampung Selatan 46.22 4.45 49.33
Kab. Tanggamus 42.33 3.64 54.03
Kab. Lampung Timur 38.49 4.11 57.41
Kab. Lampung Tengah 58.51 4.18 37.32
Kab. Lampung Utara 39.45 3.00 57.55
Kab. Lampung Barat 42.53 4.16 53.30
Kab. Tulang Bawang 53.64 4.12 42.23
Kab. Way Kanan 31.42 2.34 66.24

Propinsi DI. Yogyakarta


Kota Yogya 16.09 14.25 69.67
Kab. Bantul 38.69 0.03 61.27
Kab. Sleman 14.64 0.04 85.31
Kab. Kulon Progo 19.04 14.93 66.03
Kab. Gunung Kidul 19.46 19.92 60.62
Komposisi Pembiayaan Kesehatan
di Sektor Kesehatan dan Non Kesehatan Tahun 2003
Sektor Sektor non
KABUPATEN/KOTA
Kesehatan Kesehatan
Propinsi Lampung
Kota Bandar Lampung 85.45 14.55
Kota Metro 88.27 11.73
Kab. Lampung Selatan 92.32 7.68
Kab. Tanggamus 100.00 -
Kab. Lampung Timur 91.42 8.58
Kab. Lampung Tengah 94.15 5.85
Kab. Lampung Utara 91.49 8.51
Kab. Lampung Barat 96.90 3.10
Kab. Tulang Bawang 92.49 7.51
Kab. Way Kanan 98.69 1.31

Propinsi DI. Yogyakarta


Kota Yogya 91.38 8.62
Kab. Bantul 99.36 0.64
Kab. Sleman 98.81 1.19
Kab. Kulon Progo 96.64 3.36
Kab. Gunung Kidul 96.47 3.53
Proporsi Pembiayaan Kesehatan di Dinkes
Menurut Jenis Pembiayaan, Tahun 2002

2002
KABUPATEN/KOTA
Investasi Operasional Pemeliharaan
Propinsi Lampung
Kota Bandar Lampung 5.64 93.67 0.69
Kota Metro 17.09 80.93 1.98
Kab. Lampung Selatan 8.00 86.50 5.50
Kab. Tanggamus 10.46 87.18 2.36
Kab. Lampung Timur 19.02 79.73 1.25
Kab. Lampung Tengah 17.08 80.53 2.39
Kab. Lampung Utara 18.12 80.70 1.18
Kab. Lampung Barat 8.49 89.65 1.86
Kab. Tulang Bawang 20.62 78.82 0.56
Kab. Way Kanan 30.82 64.42 4.76

Propinsi DI. Yogyakarta


Kota Yogya 12.43 85.08 2.49
Kab. Bantul 11.08 87.12 1.80
Kab. Sleman 11.14 85.60 3.26
Kab. Kulon Progo 21.71 77.61 0.68
Kab. Gunung Kidul 8.57 89.99 1.44
Proporsi Pembiayaan Kesehatan di Dinkes
Menurut Jenis Pembiayaan Tahun 2003

2003
KABUPATEN/KOTA
Investasi Operasional Pemeliharaan
Propinsi Lampung
Kota Bandar Lampung 14.61 84.37 1.02
Kota Metro 24.78 67.19 8.03
Kab. Lampung Selatan 9.42 85.23 5.35
Kab. Tanggamus 22.41 71.20 6.39
Kab. Lampung Timur 36.40 58.25 5.34
Kab. Lampung Tengah 37.35 59.58 3.08
Kab. Lampung Utara 16.82 82.45 0.73
Kab. Lampung Barat 18.78 79.18 2.05
Kab. Tulang Bawang 26.24 69.93 3.83
Kab. Way Kanan 48.94 50.00 1.06

Propinsi DI. Yogyakarta


Kota Yogya 5.20 93.39 1.41
Kab. Bantul 5.80 93.06 1.14
Kab. Sleman 11.80 84.16 4.04
Kab. Kulon Progo 18.57 80.62 0.81
Kab. Gunung Kidul 10.22 88.08 1.71
Proporsi Pembiayaan Kesehatan di Dinkes Kabupaten Lampung Barat, Tahun
2002 - 2003
Fungsi 2002 2003
Alkes 4.94% 3.88%
Belanja Barang 4.89% 8.06%
Belanja Lain-lain 0.64% 1.79%
Belanja Pegawai 52.38% 33.57%
Belanja Pemeliharaan 0.65% 1.13%
Belanja Perjalanan 0.13% 0.18%
Harkes Dasar 2.07% 4.67%
Harkes Rujukan 2.23% 3.11%
Investasi Gedung 1.78% 2.93%
Investasi Sarana 0.54% 7.60%
Labkes - 0.03%
Perencanaan 3.38% 2.47%
Preventif 2.03% 1.30%
Preventif Obat 19.07% 23.11%
Promotif 1.35% 1.25%
Riset & Development 0.28% 0.23%
Training 3.64% 4.68%
Proporsi Pembiayaan Kesehatan di Dinkes Kota Metro Menurut Fungsi
Program, Tahun 2002 - 2003

Fungsi 2002 2003


P2M 4.65% 7.53%
Yankesmas 11.36% 14.98%
Kesling 1.20% 0.22%
FM 17.35% 11.71%
Sarkes 8.89% 16.50%
Gizi 2.13% 1.05%
KIA/Kesga 3.59% 1.85%
SDK 2.39% 5.67%
Promkes 2.76% 1.75%
Rutin/Adm 45.70% 38.75%