Anda di halaman 1dari 51

Ecotourism / Sustainable Tourism

Environment, Area & Destination Planning


Hand-out, USAHID (Maret 2017)

Ecotourists exploring the Amazon © Andy Drumm

1
USAHID / NOVI PIPIN SADIKIN - 2017
Definition of Ecotourism:
TIES (2015), ekowisata adalah perjalanan yang
bertanggung jawab ke kawasan alami yang melakukan
upaya konservasi lingkungan, memperpanjang
kesejahteraan masyarakat lokal, dan melibatkan
interpretasi dan pendidikan/pembelajaran, bagi para
pelaku, staff dan wisatawan.

TIES (2015) menyatakan bahwa ekowisata adalah


mengenai upaya memadukan konservasi, masyarakat
dan perjalanan yang berkelanjutan.

2
USAHID / NOVI PIPIN SADIKIN - 2017
Conceptual model of tourism (Eriksson,2003)

3
USAHID / NOVI PIPIN SADIKIN - 2017
Definisi Pembangunan Pariwisata
Berkelanjutan oleh UNWTO
Pariwisata berkelanjutan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai
pariwisata yang memperhitungkan penuh dampak ekonomi, sosial dan
lingkungan saat ini dan masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung,
industri, lingkungan dan masyarakat setempat.

Praktek manajemen dan pedoman pembangunan pariwisata


berkelanjutan dapat diaplikasikan ke semua bentuk aktifitas pariwisata di
semua jenis destinasi wisata, termasuk pariwisata massal dan berbagai
jenis kegiatan pariwisata lainnya.

Prinsip-prinsip keberlanjutan mengacu pada aspek lingkungan, ekonomi,


dan sosial-budaya dari suatu destinasi wisata. Untuk menjamin
keberlanjutan jangka panjang, maka keseimbangan antar 3 dimensi
tersebut harus dibangun dengan baik.
Dengan demikian, aspek dalam pembangunan pariwisata
yang berkelanjutan harus:
1. Aspek Lingkungan
Memanfaatkan secara optimal sumber daya lingkungan yang merupakan
elemen kunci dalam pengembangan pariwisata, mempertahankan
proses ekologi dan turut andil dalam melestarikan warisan alam dan
keanekaragaman hayati di suatu destinasi wisata.

2. Aspek Ekonomi
Memastikan kegiatan ekonomi jangka panjang yang layak, memberikan
manfaat sosial ekonomi kepada semua stakeholder dengan adil, seperti
pekerjaan tetap, kesempatan mendapatkan penghasilan (membuka
usaha) dan pelayanan sosial kepada masyarakat lokal, serta membantu
mengurangi kemiskinan.

3. Aspek Sosial-Budaya
Menghormati keaslian sosial budaya masyarakat setempat, melestarikan
nilai-nilai warisan budaya dan adat yang mereka bangun, dan
berkontribusi untuk meningkatkan rasa toleransi serta pemahaman
antar-budaya.
• Pengembangan pariwisata berkelanjutan memerlukan
partisipasi dari para stakeholder terkait serta
kepemimpinan politik yang kuat untuk memastikan adanya
partisipasi yang aktif dan kesepakatan antar stakeholder.\

• Pencapaian pariwisata berkelanjutan merupakan proses


yang berkesinambungan dan membutuhkan pemantauan
yang konstan, inovasi menganai langkah-langkah
pencegahan dan perbaikan yang diperlukan terhadap
dampak dari kegiatan pariwisata juga harus terus dilakukan.

• Pariwisata berkelanjutan juga harus menjaga tingkat


kepuasan dan memastikan pengalaman yang berarti untuk
para wisatawan, meningkatkan kesadaran mereka tentang
isu-isu keberlanjutan dan mengajak wisatawan untuk turut
serta mempromosikan praktik pengelolaan lingkungan yang
baik di sekitar mereka.
Karakteristik Ekowisata Dan Wisata Massal
Ekowisata Wisata Massal
Ekowisata memiliki kerapatan yang Wisata massal memiliki kerapatan yang
rendah tinggi
Ekowisata harus memiliki interpreneur Wisata massal tidak harus menyediakan
yang bertugas untuk menjelaskan tentang jasa interpreneur karena pada umumnya
terbentuknya tempat tersebut. wisata massal adalah tempat wisata hasil
rancangan manusia.

Ekowisata lebih ke alam Ekowisata lebih menonjolkan bangunan


(sungai,danau,kawah,air terjun) (DUFAN (Dunia Fantasi), BNS (Batu Night
Spectaculer) dll.)
Ekowisata hanya mampu menampung Wisata massal memiliki kapasitas
sedikit pengunjung. pengunjung lebih tinggi.

Ekowisata pada umumnya dikelola oleh Wisata massal lebib terorganisir karena
penduduk setempat sehingga ada campur tangan dari pemerintah
pengorganisasianya masih kurang. setempat.

Ekowisata lebih menonjolkan sisi “ back Wisata massal lebih mengutamakan


to nature “ nya. kenyamanan pengunjung.
Demand/permintaan
• PERMINTAAN : ukuran dasar keberhasilan suatu daerah dlm menarik
pengunjung. Semua kegiatan perencanaan untuk  atau mengatur D.
Program pemasaran ditujukan pd  D (periode tertentu/thn; segmen pasar
tertentu)
• PUSH FACTOR
• MENGETAHUI PERMINTAAN membutuhkan penget definisinya, apa yg
membentuk D, yg mempengaruhi D, & D yad. Penggunaan data D penting
dlm bisnis pariwisata.
• PEMBANGUNAN DAERAH TUJUAN, oleh pemerintah & perusahaan swasta
memerlukan DATA D yg akurat. Suatu usulan pemb. harus punya gambaran
D, yg di harapkan sebelum anggaran di setujui.
• Indonesia telah memiliki data jumlah & sebaran (lokasi & waktu) wisatawan
yg relatif baik. Bgm menggunakannya?

9
USAHID / NOVI PIPIN SADIKIN - 2017
WISATAWAN
• setiap orang yang mengunjungi negara lain, dimana dia
memp. tempat tinggal tetap, karena beberapa alasan
mengunjungi daerah lain
• Demand, permintaan

10
USAHID / NOVI PIPIN SADIKIN - 2017
Kategori berdasarkan

 OBYEK & ATRAKSI UTAMA


(ecotourism/green tourism/alternative tourism; wst
budaya, wst alam)

 TUJUAN BERWISATA
(wst rekreasi, wst edukasi, wst medis, wst o.raga, wst
konvensi, wst belanja, wst ziarah, wst kuliner, dll)

 LETAK GEOGRAFIS KAWASAN


(wst pegunungan, wst pesisir, wst bahari)

P/D/M
11
USAHID / NOVI PIPIN SADIKIN - 2017
Wisatawan berdasar tipe perjalanan
KATEGORI KARAKTERISTIK
The organised perjalanan yang sangat diorganisir; kontak minimum
mass tourist dengan kultur tujuan; bepergian di dalam kelompok besar
The individual Bersandar pd perjalanan keliling operator unt menyusun
mass tourist penginapan & penerbangan; menikmati unsur kebebasan
tetapi kehendak masih unt terus tinggal mengikuti jalur
The explorer Usaha unt menghindari jejak/jalur wisatawan; membuat
pengaturan perjalanan sendiri; belajar bahasa tempat yg
dikunjungi, & mencoba unt berhub dg orang lokal;
mempertahankan sebag nilai2 & untuk rutin hidup rumah
tangga
The drifter Usaha untuk menjadi bag dr masy lokal dg hidup &
bekerjasama dg mereka; mengelakkan kontak dg wstwan
lain dan industri wisata

12
USAHID / NOVI PIPIN SADIKIN - 2017
MOTIVASI BERWISATA
memp peran yg sangat besar dlm membentuk permintaan untuk
melakukan perjalanan wisata selain waktu luang & pendapatan

McINTOSH & GOELDNER, ‘90:


 FISIK, berhbg dg istirahat fisik, olah raga, rekreasi, hiburan &
motivasi lain yg terkait dg kesehatan
 BUDAYA, mengetahui ttg daerah lain – makanan, musik, seni,
tarian, lukisan, agama & cerita rakyat.
 KEBERSAMAAN, sebuah keinginan unt bertemu dg org2 baru,
mengunjungi sahabat, membuat kawan baru, melepaskan
rutinitas, keluarga/tetangga
 STATUS & GENGSI, tertuju pd kebutuhan diri sendiri &
pengembangan pribadi. kategori ini berhbg dg bisnis, konvensi,
studi, hobi, & pendidikan.
13
USAHID / NOVI PIPIN SADIKIN - 2017
• KEPUASAN WISATAWAN
o Time, money, energy
o Their satisfaction dihasilkan dari travelling act

• MENGATASI PENINGKATAN WISATAWAN YG BERLEBIHAN


o Visitor capacity : Carrying capacity, Regulation, facility
o Env’t capacity : visitor impact mngt issues (motor coach/
tram/trail)

• PERBEDAAN PREFERENSI WISATAWAN & MASY LOKAL


Menghindari konflik
Masyarakat lokal: suka berbeda dg yg biasa, turis : suka asli

14
USAHID / NOVI PIPIN SADIKIN - 2017
Prinsip Ekowisata (TIES 2015)
1. Meminimalkan dampak terhadap fisik, sosial, perilaku dan psikologi
2. Membangun kesadaran mengenai lingkungan dan budaya, serta
menghormatinya
3. Memberikan pengalaman yang positif bagi wisatawan dan tuan
rumah
4. Memberikan manfaat ekonomi langsung bagi konservasi
5. Menghasilkan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat lokal dan
industri swasta
6. Memberikan pengalaman interpretatif yang menjadi kenangan bagi
wisatawan yang dapat membantu meningkatkan kepekaan kepada
situasi politik, lingkungan dan sosial negara tuan rumah.
7. Merancang, membangun dan mengoperasikan fasilitas berdampak
rendah
8. Mengenali hak-hak dan kepercayaan spiritual masyarakat adat dan
kearifan lokal di dalam komunitas dan bekerja sama dengan mereka
dalam suatu kemitraan untuk mengembangkan pemberdayaan.
15
USAHID / NOVI PIPIN SADIKIN - 2017
Pendahuluan
area
berhutan
(hutan kota)

ekosistem perkotaan: kebijakan konservasi


• nilai-nilai konservasi
• keanekaragaman hayati manajemen hutan
• jasa ekosistem
Hutan & RTH di daerah perkotaan
dipengaruhi oleh kegiatan manusia

Hutan kota tak dikelola  kekhawatiran


akan keselamatan & keamanan

Dampak Pengelolaan hutan & perawatan


tanaman understory / bawah
• Nilai rekreasi meningkat
• Keragaman/jumlah tumbuhan vaskular
• Keragaman/jumlah burung passerine
Manajemen hutan di Jepang
(Satoyama)
Satoyama  sistem penggunaan lahan tradisional
berupa hutan pertumbuhan sekunder di lembah /
lereng bukit, berbatasan lahan pertanian di
pedesaan  bentang alam pertanian khas Jepang

Era Pra Pembangunan


• didominasi oleh hutan coppices
• bahan baku arang, bahan bakar dan kompos

Era awal abad 20  dipertahankan

Era akhir abad 20  modernisasi (bentang alam


yang kompleks dan zonasi tidak sesuai peraturan),
menjadi lahan milik pribadi, menghilang ketika nilai
ekonomi hilang
Aktor pengelola hutan memberikan dampak berbeda kepada hasil
pengelolaan hutan

Pemerintah Daerah:
• manajemen ekosistem secara spasial terbatas
• manajemen di kawasan lindung mahal  anggaran terbatas.
• manajer  mengelola taman umum  tidak memiliki pengetahuan ekologi, tidak mengerti cara
mempertahankan karakteristik ekologi taman

Kelompok masyarakat lokal (pengguna lahan):


• mengelola lahan secara individu / kooperatif  pentingnya pengelolaan secara kolaboratif.
• berbasis relawan  terorganisir dengan LSM / ornop / kelompok kepentingan kolaboratif
• kegiatan menjaga keanekaragaman hayati & menyediakan jasa ekosistem berdasarkan
pengetahuan ekologi lokal
• kegiatan tersebut sering menutupi daerah yang relatif kecil  terbatas dalam wilayah yang lebih
besar secara spasial

Pemilik tanah (swasta):


Memiliki luasan hutan tertentu  manajemen didorong oleh faktor ekonomi (mis. harga produk
hutan)  risiko  ekologi yang tidak diinginkan negara (mis. Pemanenan/ kelebihanan pohon) 
mengabaikan manfaat ekologi lahan bagi masyarakat
Aktor • kerangka kerja khalayak sasaran:
kemampuan/ institusional pelaku manajemen
keinginan • sistem pemerintah terkait
mengelola lahan
sesuai keinginan
publik campuran kebijakan + tindakan

Analisis lembaga pengelolaan SDA 

Analisis kelembagaan dan kerangka pembangunan (Andersson & Ostrom,


2008; Ostrom, 2011; Ostrom & Cox, 2010) 

tindakan manajemen & aktor dipengaruhi oleh aturan “rules in use"


dsb
Struktur hutan dipengaruhi:

• bentang alam dan faktor biofisik lainnya, terutama kondisi


yang sangat heterogen (perbukitan/pegunungan)

• aspek sosial ekonomi (mis. insentif untuk konservasi ukuran,


profitabilitas produk hutan) mempengaruhi struktur hutan

• efek dari tindakan konservasi tertentu sesuai aktor


manajemen yang berbeda  bervariasi
Analisis Tindakan Konservasi yang Efektif
Tindakan konservasi

Evaluasi tindakan manajemen


UU
pemerintah • Menganalisis kombinasi aktor dan tindakan
konservasi tertentu  mempengaruhi struktur
vegetasi hutan

peraturan / insentif  • Analisis kelembagaan & kerangka pembangunan


mendorong / menghambat  menekankan kondisi biofisik (mis. bentuk lahan)
pemangku kepentingan + mempengaruhi tindakan manajemen
melakukan tindakan tertentu

mengembangkan
kerangka kelembagaan
lebih efektif & seimbang
UU perencanaan kota (1968) 2 zonasi penggunaan lahan utama:
• Area Peningkatan Urbanisasi (UPA) prioritas pengembangan kota
• Area Control Urbanisasi (UCA) dilarang untuk pembangunan perkotaan  untuk
melestarikan lahan pertanian dan hutan di dalam / sekitar perkotaan.

Isu utama pengelolaan hutan satoyama (Masalah)  Pengabaian:


(1) perubahan struktur hutan
(2) kehilangan keanekaragaman hayati
(3) Kehilangan konteks sejarah
(4) Kehilangan pengetahuan ekologi tradisional terkait keberlanjutan hutan

Indikator:

• Indikator intensitas manajemen tanaman understory / bawah  ketinggian dari


bambu kerdil, Pleioblastus chino  ditinggalkan tanpa manajemen  mencapai
ketinggian 4 m

• Hubungan antara kelimpahan bambu kerdil - konservasi biologis & pemanfaatan


rekreasi  bambu kerdil signifikan mengurangi kekayaan spesies dari vegetasi
understory / bawah & habitat spesies burung tertentu.
http://bamboodirect.com/bamboo/catalog/shrubctlg.html
Pipin Noviati Sadikin
Definisi dan Batasan Pulau Kecil + Pesisir

Penduduk P3K ≤ 200.000 jiwa


Ukuran P3K ≤ 10.000 km²

Sosial, Ekonomi, Budaya yang


Ekologis & habitat terpisah dari khas
mainland island Rentan konflik
Flora fauna endemik
Labil  aktivitas geologi
Keterbatasan fisik (SDA)
Tidak mampu mempengaruhi
hidroklimat Pesisir  daratan + perairan
Daratan & lautan dekat Saling mempengaruhi
Keterbatasan area tangkapan air Pesisir daratan = desa daratan
Pesisir perairan = 4-12 mil laut
Tabel Dampak & Resiko
SEKTOR DAMPAK RESIKO BENCANA
• Banjir karena kenaikan muka air Kematian, terluka, sakit,
laut, kehilangan mata pencaharian,
• Kekeringan kerusakan pada bangunan dan
Permukiman
prasarana permukiman dan barang
milik masyarakat

Gangguan: Banjir, • macet,


tanah longsor, • fasilitas transportasi rusak
Transportasi
pohon tumbang,

• Saluran air kotor Saluran air rusak


• tidak mampu menampung
Sanitasi Lingkungan
tambahan air hujan yang ekstrem

• Kurang air minum , krn air Tidak tersedia air bersih/ sulit
berkurang, memperoleh air bersih
Ketersediaan Air & • peningkatan suhu,
Pengairan • penurunan kualitas air, karena
intrusi air laut
SEKTOR DAMPAK RESIKO BENCANA
• Banjir, Fasilitas rekreasi rusak
• suhu tidak menentu,
Pariwisata & Rekreasi
• kunjungan wisata menurun

Fasilitas Umum Fasilitas rusak Fasilitas rusak,


(kesehatan,
pendidikan dll)

SEKTOR DAMPAK RESIKO BENCANA

• Salinisasi lahan sawah di wilayah Pengairan rusak


pantai;
Pertanian • Peningkatan serangan hama dan
penyakit

Perubahan areal tangkapan di laut Tangkapan berkurang /


Perikanan tidak ada
SEKTOR DAMPAK RESIKO BENCANA
• Salinitas meningkat -- • Hasil panen gagal/ berkurang
Ekosistem darat/pesisir lahan pertanian • Beberapa jenis tanaman rusak/
pantai • Spesies punah mati

• Perusakan terumbu karang • Pemutihan Karang


• Limbah beracun • Mangrove berkurang/ hutan
Ekosistem pantai • Rusaknya hutan mangrove hilang
mangrove/bakau

Perubahan ekosistem di Peran muara sungai tempat


muara sungai berkembang biak ikan tertentu
Ekosistem sungai
jadi menurun
Delapan
Rencana
Elemen pengelolaan
resiko
Strategi Tanggung
Keterkaitan dg
proses
jawab utk
Adaptasi pembangun-an
perencanaan
lain

Delapan Peraturan &


Pendidikan &
elemen strategi penegakan
komunikasi
adaptasi hukum

Informasi & Jaringan


Iptek yg baik pendukung

Sumber: Tompkins et al.


2005. Surviving Climate Adaptasi
Change in Small Islands keuangan
Identifikasi
masalah & sektor
terkait

Pengarusutamaan
Identifikasi bahaya
Kebijakan
iklim
pembangunan

Perumusan Identifikasi
strategi adaptasi kerentanan

Analisis & evaluasi


resiko
SEKTOR DAMPAK ADAPTASI
Permukiman/ Banjir •Relokasi, mundur dari pantai atau
Perumahan membangun rumah panggung
•Perencanaan Wilayah, Zonasi, jalur
evakuasi
•Peringatan Dini
Transportasi Banjir, Longsor, Membangun jalan layang, jalur sepeda
Sistem Transportasi
terganggu

Sanitasi Saluran air hujan dan Pembangunan saluran air tanpa


Lingkungan air kotor tdk mampu perkerasan
menampung
SEKTOR DAMPAK ADAPTASI

Pengairan Kendala supply air minum, Perencanaan dan pengelolaan sumber air
krn air berkurang, alternatif, seperti: panen air hujan, lobang
peningkatan suhu, biopori
penurunan kualitas air, Komersialisasi/swastanisasi
karena intrusi air laut Pembagian air yang adil
Fasilitas umum Fasilitas rusak, pegawai Perencanaan ulang fasilitas kesehatan,
(kesehatan & tidak ada, supply obat- persampahan dan pendidikan di kawasan
pendidikan) obatan terbatas karena yang aman
cuaca, pelayanan pada Membangun alat pemecah ombak, seperti :
masyarakat terhambat dari ban bekas
Pertanian Pengairan rusak Perubahan pengelolaan dan kebijakan
Salinisasi lahan sawah di Perlindungan terhadap kawasan pertanian
wilayah pantai yang dapat berfungsi juga sebagai
Peningkatan serangan penampungan air jika banjir
hama dan penyakit
Perikanan Perubahan areal Pengelolaan, monitoring, pelatihan kerja
tangkapan Modernisasi industri perikanan
SEKTOR DAMPAK & RESIKO ADAPTASI

Ekosistem Peningkatan salinitas di lahan - Perubahan praktek


darat/pesisir pertanian penggunaan lahan
pantai Kepunahan keanekaragaman hayati - Pengelolaan lahan dan
pertamanan
Ekosistem Perusakan terumbu karang, seperti: - Penyemaian terumbu
pantai pemutihan terumbu karang karang
Limbah beracun - Pelestarian hutan
Rusaknya hutan mangrove
mangrove

Ekosistem Perubahan ekosistem di muara - Revitalisasi fungsi muara


sungai sungai sungai sebagai pengendali
banjir dengan pengerukan,
pelebaran dan penataan
DAS.
TABEL 2 DAMPAK UTAMA PERUBAHAN IKLIM DAN IMPLIKASINYA
TERHADAP PARIWISATA
Dampak Implikasi pada Pariwisata
Meningkatnya suhu Musim yang berubah, tekanan panas pada turis, biaya pendinginan, perubahan dalam pola kehidupan
populasi tanaman-kehidupan liar-serangga dan jangkauan penyebarannya
Berkurangnya dan glasier yang Hilangnya salju di tempat wisata olahraga musim dingin, meningkatnya biaya menghasilkan salju, semakin
menciut singkatnya periode olah raga musim dingin, berkurangnya estetika lansekap.
Meningkatnya frekuensi dan Meningkatnya resiko pada fasilitas pariwisata, meningkatnya biaya asuransi dan kehilangan akibat
intensitas badai ekstrim ketidakpastian, biaya-biaya tambahan
Berkurangnya endapan dan Ketiadaan air, persaingan penggunaan air antara sektor pariwisata dan sektor lainnya, penggurunan,
meningkatnya evaporasi di meningkatnya ancaman terhadap kebakaran alam yang mengancam infrastruktur dan berdampak pada
beberapa wilayah permintaan
Meningkatnya frekuensi endapan Kerusakan akibat banjir pada aset-aset arsitektur dan budaya, kerusakan pada infrastruktur pariwisata,
berat di beberapa wilayah perubahan musim
Meningkatnya tingkat permukaan Erosi di pesisir, hilangnya daerah pantai, meningkatnya biaya melindungi dan merawat permukaan laut dan
laut perlindungan laut.
Meningkatnya suhu permukaan Meningkatnya pemutihan terumbu karang dan penurunan sumber daya laut dan keindahannya bagi tujuan
laut wisata olahraga selam dan snorkelling
Berubahnya kondisi Kehilangan daya tarik alam dan spesies sebagai tujuan wisata, meningkatnya resiko terkena penyakit di
keanekaragaman hayati terestrial daerah tropis dan subtropis
dan akuatik
Lebih sering dan membesarnya Kehilangan daya tarik alam, meningkatnya resiko banjir, rusaknya infrastruktur pendukung pariwisata
kebakaran hutan
Perubahan kondisi tanah, terutama Kehilangan aset-aset arkeologi dan sumberdaya alam yang berdampak pada berkurangnya tujuan wisata
tingkat kelembabannya, erosi dan
keasaman
KEGIATAN ADAPTASI BAGI SEKTOR PARIWISATA KELAUTAN
& PPK
menjaga kesehatan ekosistem bawah laut, maka terumbu
karang akan sehat kembali dan tampil cantik, begitu pula
populasi ikan-ikan laut yang cantik akan berkembang.
Tindakan tersebut adalah:
Mengurangi penangkapan ikan di sekeliling daerah
terumbu karang yang merupakan tujuan wisata kegiatan
menyelam dan snorkelling.
Mengembangkan zona-zona larangan atau area
pemancingan, penyelaman dan snorkelling
Memisahkan zona penyelaman dan snorkelling dengan
zona memancing atau menangkap ikan guna mengurangi
konflik.
Menghentikan praktik penangkapan ikan dengan metode
yang merusak lingkungan bawah laut dan menurunkan
populasi ikan.
# 3: Kebijakan Level Obyek Ekowisata:
Lanskap Ekowisata
Hand-out 2 kuliah PS

Manajemen lanskap ekowisata


• To improve, to manage
Forms
Functions
Values (disajikan dalam handout terpisah)

37
Memelihara dan meningkatkan karakter lanskap obyek
ekowisata

Manajemen Lanskap Alami


• Kualitas: picturesque, simple (stark), idyllic (charming,
sempurna dalam banyak hal misalnya untuk penggunaan
tertentu), bizarre (unusual), majestic (nobility,
membanggakan), graceful, delicate (marked by great skill),
ethereal (tidak semata-mata fisik), serene (clear)
• Kategori: pegunungan, danau, pesisir, dataran rendah,
lembah, sungai, hutan, ngarai, padang pasir
• Modifikasi:
– Eliminasi elemen yang tidak “menopang”
– Aksentuasi
– Alterasi

38
– Preservasi
– Intensifikasi
– Destruksi  merusak karakter lanskap asal, sangat tidak
dianjurkan

Manajemen Lanskap Binaan


– Memelihara/meningkatkan kesesuaian penggunaan
• Terhadap lingkungan sekitar
• Sesuai dengan potensi tapak
• Memanfaatkan fitur lanskap
• Efisiensi secara fungsional dan keatraktifan secara visual
• Menghindari yang unfit, misplaced, ugly
– Suitability
– Harmoni terhadap alam

39
Harmoni terhadap alam:
• Geologi: topografi, lempeng tektonik, tanah dengan
berbagai sifat dan cirinya serta hub-nya dengan
penggunaan ~ manajemen kesiagaan menghadapi
bencana
• Hidrologi: siklus hidrologi, manajemen air untuk
minum, kebutuhan sehari-hari, untuk pertanian,
untuk irigasi turf, untuk konservasi
• Biologi
• Botani
• Ekologi

– Emphasis

40
# 1: KEBIJAKAN PENGELOLAAN EKOWISATA
Hand-out mk Kebijakan dan Pengelolaan Ekowisata
PS (Juni 2017)

Kebijakan (Policy) dan Pengembangan/Pembangunan


(Development) [Suharto, 2005]
• Dua konsep yang terkait
– Pembangunan: operasi kebijakan
– Kebijakan ynag menunjuk pada kerangka kerja pembangun-
an memberi pedoman bagi pengimplementasian tujuan-
tujuan pembangunan
• Development = perubahan yang terencana dan
berkesinambungan

Pipin Noviati Sadikin (2017)


Pengelolaan Kawasan Wisata 41
• Kebijakan (policy)
– Kebijakan (Suharto, 2005)
• prinsip, cara bertindak atau perangkat pedoman yang memberikan
arah terhadap pelaksanaan strategi-strategi pembangunan
• suatu ketetapan yang berlaku yang dicirikan oleh perilaku yang
konsisten dan berulang, baik dari yang membuatnya maupun yang
mentaatinya
• Berorientasi kepada masalah dan tindakan (action)
• Kebijakan bukan kebijaksanaan (wisdom) juga bukan ‘kebajikan’
(virtues)
– Kebijakan (Dowling dan Fennell, 2003)
• The plan of action adopted or pursued by governments, businesses
and so on where as strategies represent the steps to achieved
them.

42
Kebijakan
• Level
– Mikro (skala tapak (site)/lokal)
– Medium (regional, propinsi)
– Makro (nasional, supranasional dan global)

• Kelompok yang mempengaruhi kebijakan


– Pressure group: asosiasi industri pariwisata, kelompok
konservasi, komuniti dan individu yang sangat
berpengaruh
– Pegawai pemerintahan
– Perwakilan (representatives: anggota badan, parlemen)
– Akademisi dan konsultan

43
Kebijakan publik
• Kegunaan: me-rebounding dominasi globalisasi dan
kapitalisme serta melindungi sustainability pengelolaan
lingkungan
• Pergeseran pengertian ‘publik’ dari ‘penguasa orang banyak’
menjadi ‘bagi kepentingan orang banyak’
• Pengertian kebijakan publik:
– “whatever government choose to do or not to do”
– “a purposive course of action followed by an actor or set of actors in
dealing with a problem or matter of concern”
• Konsep:
– Tindakan pemerintah yang berwenang
– Respon terhadap masalah nyata di masyarakat
– Berorientasi tujuan

44
• Keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu
• Justifikasi yang dibuat terhadap langkah-langkah atau rencana
tindakan yang telah dirumuskan, bukan sebuah maksud atau
janji-janji

Policy diimplementasikan dalam planning


• Dokumen perencanaan
• Strategi
• Assessment terhadap berbagai hambatan dan peluang

45
Beberapa strategi secara makro pengembangan
pariwisata (Wisansing, 2005):

1. Boosterism
– Fokus: sebanyak mungkin menarik turis
– Marketing: direduksi menjadi promosi semata

2. Pendekatan ekonomi
– Basis: analisis ekonomi (model input-output)
– Marketing berbasis perilaku konsumen, segmentasi pasar
– Kelemahan: ketidakseimbangan distribusi benefit, aneka
dampak negatif, terjadinya growth paradigm

46
3. Pendekatan fisik/spatial
– Pendekatan: kehati-hatian (cautionary approach)
khususnya tentang dampak negatif pengembangan
pariwisata terhadap komuniti, carrying capacity,
mengelola dampak wisata
– Beberapa prinsip marketing: orientasi terhadap
irritation index (irridex), modus turis dan tourist area

4. Pendekatan komuniti
– Pendekatan: adaptasi, wisata alternatif
• Product approach
• Industry approach

47
5. Pendekatan integratif
– Knowledge-based platform
• Berorientasi tujuan
• Sistematik: konseptual, prediktif
• Demokratik: menurut level stakeholders dari sejak
fase perencanaan
• Integratif  mengintegrasikan rencana
pengembangan ekowisata dengan mainstream
perencanaan taman, heritage (warisan sejarah),
konservasi

48
ANALISIS KEBIJAKAN

Definisi (Nagel, 2001)


“determining which of various alternative public or
governmental policies will most achieve a given set of goals in
light of the relations between the policies and the goals”

Model Analisis Kebijakan (Dunn, 1981)


• Model prospektif ~ predicting
• Model retrospektif ~ evaluatif
• Model integratif ~ holistik, komprehensif

49
Elemen utama analisis kebijakan
• Tujuan (goals), termasuk constraint normatif dan bobot relatif
dari tujuan
• Kebijakan, program, proyek, keputusan (decisions), opsi,
means dan alternatif lainnya yang tersedia atau digunakan
untuk pencapaian goal.
• Hubungan antara kebijakan-kebijakan dan tujuan-tujuan,
termasuk hubungan yang terjadi (established by) intuisi,
kewenangan, statistik, observasi, deduksi, perkiraan dan
sebagainya.
• Penarikan konklusi tentatif mana kebijakan atau kombinasi
kebijakan yang terbaik yang diadopsi untuk tujuan, kebijakan
dan hubungan-hubungan.
• Menentukan second- atau third-best alternative
50
Pergeseran paradigma kebijakan publik

Aspek Government Governance


(pemerintahan) (tata kelola)
Proses perumusan Pemerintah • Pemerintah
kebijakan • Stakeholder
• Analis kebijakan
• Independent think tank
Penetapan Pemerintah Pemerintah
kebijakan
Analisis kebijakan • Pemerintah • Stakeholder
• Public contractor • Analis kebijakan
• Government think • Independent think tank
tank

51