Anda di halaman 1dari 23

HIPERTENSI Kelompok 1

BLOK 10
DEFINISI
Hipertensi adalah suatu manifestasi gangguan keseimbangan hemodinamik sistem
kardiovaskular, dimana patofisiologinya disebabkan oleh multi faktor.
Paling penting yakni tekanan darah harus persistens di atas atau sama dengan
140/90 mmHg dan terbukti.
KLASIFIKASI
Hipertensi jika memiliki tekanan darah
sistolik ≥ 140 mmHg dan atau
tekanan darah diastolic ≥ 90 mmHg
pada pemeriksaan yang berulang.
ETIOLOGI
Hipertensi dikatakan primer jika penyebabnya tidak diketahui atau idiopatik (90%).
Sekunder jika penyebabnya diketahui (10%), antara lain akibat :
Penyakit seperti ginjal kronik, koarktasio aorta, obstructive sleep apnea, penyakit
paratiorid dan lainnya.
Obat-obatan seperti prednison, fludrokortison, triamsinolon
Makanan seperti sodium, etanol, licorice dan lain-lain
EPIDEMIOLOGI
Hipertensi sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia
Prevalensi antara Negara maju dan berkembang hampir sama besar
Berdasarkan National Health and Nutrition Examination Survey, di Amerika tahun
1999-2000 insiden hipertensi pada orang dewasa sekitar 58-65 juta orang atau
sebesar 29-31%
Hipertensi di Indonesia, berdasarkan riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2013
didapatkan prevalensi hipertensi sebesar 26,5% .
Prevalensi hipertensi berdasarkan dari pengukuran tekanan darah didapatkan
31,7% tahun 2007 kemudian mengalami penurunan tahun 2013 menjadi 25,8%
Prevalensi berdasarkan usia dimana prevalensi hipertensi lebih tinggi terjadi pada
kelompok yang lanjut usia
MANIFESTASI KLINIS
Umumnya pasien yang mengalami hipertensi dapat terlihat sehat atau beberapa
pasien sudah memiliki faktor resiko tambahan, namun kebanyakan asimptomatik
Pasien yang asimptomatik dapat disebabkan karena :
a. Peningkatan tekanan darahnya sehingga menyebabkan berdebar-debar,
impoten, rasa melayang
b. Akibat penyakit jantung atau hipertensi vaskular seperti sesak napas sakit
dada, cepat capek, bengkak pada kedua kaki atau perut. Untuk gangguan
vaskular seperti pandangan kabur akibat perdarahan interna, transient cerebral
ischemic, dan lainnya.
c. Penyakit-penyakit dasar seperti hipertensi sekunder, polidipsi dan poliuria,
kelemahan otot pada aldosteronisme primer, dan lainnya.
Pasien dikatakan hipertensi jika memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan
atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg pada pemeriksaan yang berulang.
FAKTOR RESIKO
Faktor resiko mayor : Kerusakan organ target :
Hipertensi
Jantung : seperti pembesaran ventrikel
Merokok terutama sigaret
kiri, angina atau infark miokard, gagal
Obesitas (BMI ≥ 30 kg/m2)
jantung, dan lainnya
Immobilitas

Dislipidemia Otak : seperti strok atau TIA (Transient


Diabetes melitus Ischemic Attack)
Mikroalbuminuria
Penyakit ginjal kronis
Laju filtrasi glomerulus < 60 mL/menit

Usia (> 55 tahun pada laki-laki, > 65 tahun pada wanita) Penyakit arteri perifer
Riwayat keluarga dengan kematian kardiovaskular prematur (< 55 tahun
pada laki-laki, < 65 tahun pada wanita)
Retinopati
PATOFISIOLOGI
A. Peran volume intravaskular
TD ↑ hasil interaksi antara curah jantung (CJ) dan tahanan total perifer (TPR) 
dipengaruhi beberapa faktor yaitu :
• Asupan NaCl ↑  ginjal memberikan respon untuk mengekskresi garam keluar
bersama urin akan me↑. Jika upaya ekskresi NaCl melebihi ambang kemampuan
ginjal  menyebabkan ginjal untuk meretensi H2O  volume intravaskular me↑
CJ me↑  akibatnya terjadi ekspansi volume intravaskular  TD me↑. TPR juga
akan me↑, lalu secara perlahan CJ me↓ menjadi normal akibat autoregulasi.
• Jika TPR vasodilatasi maka TD akan me↓, sebaliknya TPR vasokonstriksi maka TD
akan me↑.
CONT...
A. Peran volume intravaskular
CONT...
B. Peran kendali saraf autonom
• Persarafan autonom dibagi dua :
a. saraf simpatis  menstimulasi saraf viseral melalui neurotransmiter seperti
katekolamin, epinefrin, dopamine
b. saraf parasimpatis  menghambat stimulasi saraf simpatis.
• Neurotransmiter akan me↑ DJ diikuti pe↑ CJ  akibatkan TD me↑  terjadi
agregasi platelet.
• Pe↑ neurotransmiter  menyebabkan efek negatif pada jantung, ini karena jantung
memiliki reseptor α1, β1, β2  yang memicu terjadinya kerusakan miokard, aritmia,
hipertrofi akibat progresivitas hipertensi aterosklerosis.
CONT...
B. Peran kendali saraf autonom
CONT...
C. Peran renin angiotensin aldosteron (RAA)
• Diawali proses pembentukan angiotensinogen di hati  kemudian angiotensinogen
oleh renin (dihasilkan oleh makula densa apparat juxta glomerulus ginjal) diubah
menjadi angiotensin I  lalu angiotensin I oleh ACE diubah menjadi angiotensin II.
• Angiotensin II akan meningkatkan aldosteron, retensi Na, retensi H2O, ekskresi K+,
ekskresi Mg+  tekanan darah me↑
• Jika ada faktor risiko yang tidak ditangani  akan memicu sistem RAA  TD me↑
(terutama akibat progresivitas angiotensin II.
CONT...
C. Peran renin angiotensin aldosteron (RAA)
CONT...
D. Peran dinding vaskular pembuluh darah
• Paradigma baru hipertensi dimulai dengan disfungsi endotel  kemudian lanjut
menjadi disfungsi vaskular  vaskular biologi berubah  berakhir menjadi
kerusakan organ target.
• Progresivitas hipertensi atau sindrom aterosklerotik diawali dengan faktor resiko
yang tidak ditangani baik  akibatkan hemodinamik TD alami perubahan,
hipertensi semakin me↑, vaskular biologi berubah, dinding pembuluh darah semakin
menebal  berakhir dengan kejadian kardiovaskular.
• FR dibagi : FR tradisional dan non tradisional  bergabung dengan faktor lokal,
genetik  menyebabkan vaskular biologi berubah semakin tebal akibat alami
kerusakan berupa lesi vaskular dan remodelling  akibat inflamasi, vasokonstriksi,
trombosis, ruptur atau erosi plak.
CONT...
D. Peran dinding vaskular pembuluh darah
DIAGNOSIS
Anamnesis, Pemeriksaan fisik : Pemeriksaan penunjang :
Anamnesis
Beberapa pemeriksaan yang
Terkait dengan keluhan pasien, riwayat penyakit dilakukan yaitu :
dahulu, riwayat penyakit keluarga, dan lainnya.
 Urinalisis  protein, leukosit, eritrosit
Pemeriksaan fisik
 Hematokrit atau hemoglobin
Dilakukan pengukuran tekanan darah dengan benar,
penghitungan BMI pasien. Auskultasi arteri karotis,  Elektrolit darah  kalium
abdominal, bruit arteri femoralis. Pemeriksaan
palpasi pada kelenjar tiroid, palpasi di ekstremitas  Ureum/kreatinin
bawah untuk melihat adanya edema. Pemeriksaan  Kadar gula darah puasa
abdomen untuk melihat adanya pembesaran ginjal,
massa intra abdominal, serta pulsasi aorta yang  Kolesterol total
abnormal.
 Elektrokardiografi untuk melihat adanya
hipertrofi ventrikel kiri.
CONT...
Alur diagnosis yang digunakan
berdasarkan The Canadian
Recommendation for The
Management of Hypertension
2014 yaitu :
TATALAKSANA Guideline :

Non farmako :
Menurunkan berat badan
Diet rendah garam
Olahraga
Mengurangi konsumsi alkohol
Berhenti merokok
CONT...
PROGNOSIS-KOMPLIKASI
Antara lain :
Hipertensi yang tidak diobati terkenal karena meningkatkan risiko kematian dan
sering digambarkan sebagai silent killer
Hipertensi ringan sampai sedang, jika tidak diobati, dapat dikaitkan dengan risiko
penyakit aterosklerotik pada 30% orang dan kerusakan organ pada 50% orang
dalam waktu 8-10 tahun setelah onset
Kematian akibat penyakit jantung iskemik atau stroke meningkat secara progresif
saat TD meningkat. Untuk setiap peningkatan sistolik 20 mmHg sistolik atau 10 mmHg
di BP di atas 115/75 mmHg, tingkat mortalitas untuk kedua penyakit jantung iskemik
dan stroke ganda
Retinopati hipertensif dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke jangka panjang.
KESIMPULAN
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan diastolik >90 mmHg, dilakukan pada
dua kali atau lebih pengukuran dengan selang waktu 10-15 menit. Berdasarkan suvei National Health and
Nutrition Examination Survey, di Amerika tahun 1999-2000 insiden hipertensi pada orang dewasa sekitar 58-
65 juta orang atau sebesar 29-31%. Di Indonesia berdasarkan RISKESDES pada tahun 2013 didapatkan
prevalensi hipertensi sebesar 26,5% . Tatalaksana yang dapat diberikan adalah adalah terapi nin farmako
dan terapi farmako. Kebanyakan orang yang didiagnosis dengan hipertensi akan mengalami peningkatan
tekanan darah seiring bertambahnya usia. Hipertensi yang tidak diobati terkenal karena meningkatkan risiko
kematian dan sering digambarkan sebagai silent killer. Hipertensi ringan sampai sedang, jika tidak diobati,
dapat dikaitkan dengan risiko penyakit aterosklerotik pada 30% orang dankerusakan organ pada 50%
orang dalam waktu 8-10 tahun setelah onset.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kesehatan. 2006. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi [pdf]. Available at
: http://binfar.kemkes.go.id/?wpdmact=process&did=MzI2LmhvdGxpbms [Accessed 12
Agustus 2017].
Muhadi., 2016. JNC 8: Evidence-based Guideline Penanganan Pasien Hipertensi Dewasa [pdf].
Available at: http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/article/download/11/9
[Accessed 11 Agustus 2017].
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. 2015. Pedoman Tatalaksana Hipertensi
pada Penyakit Kardiovaskular [pdf]. Available at:
http://www.inaheart.org/upload/file/Pedoman_TataLaksana_Gagal_Jantung_2015.pdf
[Accessed 12 Agustus 2017].
Setiati. S. Et al., 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi VI. Jakarta: InternaPublishing.
Thankappan, K. R. et al. (2010) ‘Risk factor profile for chronic non-communicable diseases:
Results of a community-based study in Kerala, India’, Indian Journal of Medical Research,
131(1), pp. 53–63. doi: 10.1111/jch.12237
TERIMA KASIH