Anda di halaman 1dari 29

KECACATAN MH

Qurrota Ayun
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Kusta  masalah medis, social dan
ekonomi  stigma buruk dan diskriminasi

Kusta  kecacatan fisik


• Pencegahan kecacatan merupakan tujuan
utama penanggulangan kusta

Indonesia  peringkat ke-3 kasus kusta


terbanyak
PENDAHULUAN
WHO (2008)  kasus kusta di dunia
312.036 kasus; kasus baru 249.007 kasus

Indonesia
• 2008: 17.243 kasus
• 2011: 20.023 kasus baru; kecacatan tingkat 2
sebanyak 2.025 orang
• Prevalensi tertinggi di Jawa Timur (CDR >10/100.000)
 high endemic
• Kasus baru 4.132 orang, kecatatan tingkat II 13%
PENDAHULUAN
Tujuan Pengobatan Faktor yang mempengaruhi
kecacatan
Tipe kusta
Memutus rantai
penularan Lama sakit

Mengobati dan Jumlah saraf yang terkena


menyembuhkan
Reaksi kusta
penderita
Demografik
Mencegak komplikasi
Jenis pengobatan

Metode penemuan kasus baru


TINJAUAN LITERATUR
DEFINISI
Kusta  infeksi Mycobacterium leprae

Ditemukan oleh Dr. Gerhard Henrik Armauer Hansen (1873) 


Morbus Hansen

Penularan  kontak erat dan lama

Sistem organ yang terkena


• Kulit
• Saraf perifer
• Mukosa saluran napas atas
• Organ lain, kecuali SSP
DEFINISI
Klasifikasi Deformitas
• WHO (1980)
Primer  langsung oleh
– Kecacatan kusta  granuloma
abnormalitas
struktur dan fungsi Sekunder  akibat
deformitas primer
– Menimbulkan
ketidakmampuan
melaksanakan
fungsi normal dan
isolasi
ETIOLOGI
• M. leprae
• ukuran 3-8 µm x 0,5 µm, tahan asam dan
Etiologi alcohol serta positif-Gram, BTA, obligat
intrasel, reproduksi maksimal pada suhu 27-
30 C

• Faktor Pengetahuan
Kecacatan • Fator lama sakit
• Faktor keteraturan berobat
PATOGENESIS KECACATAN

Infeksi melalui Proliferasi di sel


Reaksi
kulit/saluran schwan dan
granuloma
napas makrofag

Membentuk
Kerusakan
massa
system organ
lepromata

Saraf
Mata Kulit Hepar
Perifer
PATOGENESIS KECACATAN
Tahap 1
• Kelainan saraf  penebalan, nyeri, gangguan
sensorik

Tahap 2
• Kerusakan saraf  paralisis parsial, dapat terbentuk
luka, kekakuan sendi

Tahap 3
• Penghancuran saraf  kelumpuhan menetap, infeksi
progresif, kerusakan tulang dan kebutaan
GEJALA KLINIS
Cardinal signs
•Perubahan warna kulit
dengan lesi yang mati
rasa
•Penebalan saraf yang
disertai dengan
gangguan fungsi dan
anestesi
•Basil tahan asam (BTA)

•Diagnosis  setidaknya
1 tanda utama
TIPE KUSTA
Tanda Kusta PB MB
Bercak Kusta Jumlah 1-5 Jumlah >5
Penebalan saraf tepi Hanya 1 saraf Lebih dari 1 saraf
disertai gangguan fungsi
(mati rasa,kelemahan otot)
Kerokan jaringan kulit BTA negative BTA positif
Distribusi Unilateral atau bilateral Bilateral simetris
asimetris
Permukaan bercak Kering,kasar Halus, mengkilap
Batas bercak Tegas Kurang tegas

Mati rasa pada bercak Jelas Kurang

Derformitas Proses terjadi lebih cepat Terjadi pada tahap lanjut

Ciri khas - Maradosis, facies leonine,


ginekomastia pada pria
KLASIFIKASI KECACATAN KUSTA
Klasifikasi Cacat
Cacat pada tangan dan kaki. α
Tidak ada gangguan sensibilitas, tidak ada
Tingkat 0 kerusakan atau deformitas yang terlihat
Ada gangguan sensibilitas, tanpa kerusakan
Tingkat 1
atau deformitas yang terlihat
Tingkat 2 Terdapat kerusakan atau deformitas
Cacat pada mata
Tidak ada kelainan/kerusakan pada mata
Tingkat 0
(termasuk visus)
Ada kelainan/kerusakan pada mata,tetapi
Tingkat 1
tidak terlihat, visus sedikit berkurang
Ada kelainan mata yang terlihat (misalnnya
Tingkat 2 lagoftalmus, ritis,kekeruhan kornea)dan atau
visus sangat terganggu
KECACATAN KUSTA
N. ulnaris
• Anestesia ujung jari anterior kelingking dan jari manis
• Clawing jari manis dan kelingking
• Atrofi hipotenar, otot interoseus, otot lumbrikalis
medial

1.N. radialis:
Anestesia dorsum manus, serta ujung proksimal jari
telunjuk
Tangan gantung (wrist drop)
Tak mampu ekstensi jari-jari atau pergelangan tangan.
KECACATAN KUSTA
N. Medianus
Anestesia pada ujung jari bagian anterior
ibu jari,telunjuk, dan jari tengah
Tidak mampu aduksi ibu jari
Clawing ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
Ibu jari kontraktur
Atrofi otot tenar dan kedua otot
lumbrikalis lateral
KECACATAN KUSTA
N. poplitea lateralis
Anestesia tungkai bawah, bagian lateral
dan dorsum pedis; Kaki gantung (foot
drop); Kelemahan otot peroneus

1.N. tibialis posterior


Anestesia telapak kaki; Claw toes; Paralisis
otot intriksik kaki dan kolaps arkus pedis;
Jari kaki kiting (claw toes)
KECACATAN KUSTA

1.N. fasialis
 Cabang temporal dan zigomatik menyebabkan
lagoftalmus; Cabang bukal, mandibular dan servikal
menyebabkan kehilangan ekspresi wajah dan
kegagalan mengatupkan bibir; Lagoftalmus; Mulut
mencong
1.N. trigeminus
 Anestesia kulit wajah, kornea dan konjungtiva mata;
Atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral
MANIFESTASI KECACATAN

Mata Tulang rawan Tulang & sendi Lidah

• Iritis, • epistaksis • Absorbsi • Ulkus


iridosiklitis • Hidung pelana • Mutilasi • nodus
• Penurunan • Artritis
visus - kebutaan

Laring Testis Kelenjar limfe Rambut Ginjal

• Suara parau • Epididimitis • Limfadenitis • Alopesia • Glomerulo-


akut • Madarosis nefritis
• Orkitis • Nefritis
• Atrofi interstisial
TATALAKSANA
Prinsip tatalaksana kusta: mencegah dan mengobati kecacatan

Multi Drug Treatment (MDT)


MDT untuk pausibasiler (I, TT, BT, MDT untuk Multibasiler (BB,BL, LL,
dengan BTA negative) atau semua tipe dengan BTA positif)
• Rifampisin 600 mg/bulan • Rifampisin 600 mg / bulan
• DDS 100 mg setiap hari • DDS 100 mg setiap hari
• 6 dosis selama 6 bulan sampai 9 • Klofazimin 300 mg / bulan  50 mg
bulan sehari atau 100 mg selama sehari
• Pemantauan  klinis tiap bulan, atau 3 kali 100 mg setiap minggu
bakteriologis setelah 6 bulan; pasca • 24 dosis dalam 24 sampai 36 bulan
RFT per 2 tahun  RFC • Pemantauan  klinis tiap bulan,
bakteriologis setelah 3 bulan; pasca
RFT per tahun selama 5 tahun 
RFC
PENCEGAHAN KECACATAN

• Diagnosis dini kusta


• Pemberian MDT cepat dan tepat
prevention of • Mengenali gejala dan tanda
disabilities reaksi  pemberian
(POD) kortikosteroid segera
• Waktu terbaik untuk mengurangi
risiko  dalam 6 bulan
PENCEGAHAN KECACATAN
Gangguan • Memakai sepatu pada kaki yang terkena
Sensibilitas • Memakai sarung tangan

Gangguan
• Memakai kacamata
Mata

• Memeriksa ada tidaknya memar, luka


Perawatan atau ulkus
Kulit • tangan dan kaki direndam, disikat dan
diminyaki agar tidak kering dan pecah
TATALAKSANA KECACATAN
• memahami pemikiran penderita dan memberikan
Konseling segala informasi tentang pengendalian kusta

KELUARGA BINAAN
Mencuci tangan dan kaki setiap malam sesudah bekerja
dengan sedikit sabun
Merendam kaki sekitar 20 menit dengan air dingin
Pemeliharaan Kalau kulit sudah lembut, kaki digosok dengan karet busa
agar kulit kering terlepas
kulit harian
1.Kulit dioles dengan minyak

Secara teratur kulit diperiksa


TATALAKSANA KECACATAN
KELUARGA BINAAN
Tangan
 Menggunakan sarung tangan waktu bekerja
 Tidak merokok
 Tidak menyentuh gelas/barang panas secara
Proteksi langsung
tangan dan  Melapisi gagang alat-alat rumah tangga
dengan bahan lembut
kaki
Kaki
 Menggunakan alas kaki
 Membatasi berjalan kaki,sedapatnya jarak
dekat dan perlahan
TATALAKSANA KECACATAN

• Tujuan: mencegah kontraktur,


meningkatkan fungsi gerak,
meningkatkan kekuatan otot,
meningkatkan daya tahan
Fisioterapi
• Latihan
• Latihan gerak sendi (aktif dan pasif)
• Peregangan otot tungkai
• Program latihan dapat ditingkatkan
TATALAKSANA KECACATAN

• Fisik
• Fisioterapi &Operasi
• Dilakukan untuk memperbaiki fungsi
Rehabilitasi dan kosmetik
medis • Kekaryaan
• Memberi lapangan pekerjaan yang
sesuai
• Psikoterapi
PENUTUP
PENUTUP
Kusta  masalah kompleks (sensorik, motoric, otonom) 
kecacatan

Diagnosis  setidaknya 1 cardinal sign

Faktor yang mempengaruhi kecacatan


• Reaksi reversal
• Pengobatan terlambat
• Compliance pengobatan buruk
• Status gizi
• Tipe MH
• Faktor demografik
PENUTUP
Pengobatan kusta
• Cegah dan obati resistensi, memperpendek masa
pengobatan, mempercepat pemutusan mata rantai
penularan
• Menggunakan MDT regimen Pausibasiler dan Multibasiler

Pencegahan Kecacatan

• Perawatan kulit sehari-hari  menjaga kulit tidak kering

Rehabilitasi

• Fisik (operasi & fisioterapi), kekaryaan, psikologi