Anda di halaman 1dari 18

SKIZOFRENIA

BATASAN

• Suatu psikosa fungsional dengan


gangguan utama pada proses berpikir
disertai disharmoni antara proses
berpikir, afek emosi, kemauan dan
psikomotor disertai distorsi
kenyataan terutama karena waham
dan halusinasi
ETILOGI
• Keturunan, melalui gen resesif
• Endokrin, berhubungan dengan sering timbulnya skizofrenia pada
waktu pubertas, kehamilan atau puerperium dan klimakterium.
• Metabolisme, oleh karena pada penderita tampak pucat dan tidak
sehat
• SSP, yaitu pada diencephalons atau korteks otak
• Teori Adolf Meyer, bahwa skizofrenia merupakan suatu reaksi yang
salah sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama-lama orang
itu menjauhkan diri dari kenyataan.
• Teori Sigmund Freud , adanya kelemahan ego, superego
dikesampingkan dan id yang berkuasa serta terjadi suatu regresi ke
fase narsisisme.
• Eugen Bleuler, yang mengenalkan istilah skizofrenia yang artinya
jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara
proses berpikir, perasaan atau perbuatan.
• Teori lain menyatakan skizofrenia sebagai suatu sindroma yang
disebabkan antara lain keturunan, pendidikan yang salah, tekanan
jiwa atau penyakit badaniah.
• Teori yang lain menyatakan skizofrenia adalah gangguan
psikosomatik, dimana gejala pada badan merupakan sekunder dari
gangguan dasar psikogenik.
GEJALA PRIMER

1. Gangguan proses berpikir


• Merupakan inti gangguan, terutama asosiasi
• Terjadi inkoherensi dalam percakapan
• Kadang2 clang association, blocking,
perseverasi, stereotipi
2. Gangguan afek dan emosi
• Kedangkalan : acuh tak acuh
• Inadekuat : menangis tapi tersenyum
• Emosi yang berlebihan
• Hilang kemampuan untuk mengadakan hubungan
emosi yang baik
Lanjutan Gejala Primer

3. Gangguan kemauan
• Mempunyai kelemahan kemauan: tidak dapat
mengambil keputusan adalah bertindak dalam
suatu keadaan
• Negativisme, ambivalensi kemauan,
otomatisme
4. Gejala psikomotor
• Katatonik: dapat stupor, hiperkinesa
• Katalepsi, fleksibilitas serea, stereotipi,
negativisme
• Logorea, neologisme, manerisme
GEJALA SEKUNDER

1. Waham
• Sering tidak logis dan sangat bizar
• Terdiri dari waham primer dan sekunder
2. Halusinasi
• Timbul tanpa penurunan kesadaran
• Paling sering adalah halusinasi pendengaran
• Kadang2 halusinasi penciuman, citarasa,
taktil
PEDOMAN DIAGNOSTIK
1. Harus ada sedikitnya satu dari gejala berikut
• Thought echo : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama namun
kualitasnya berbeda.
• Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar
masuk ke dalam pikirannya atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu dari luar dirinya.
• Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang
lain atau umum mengetahuinya.
• Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar
• Delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan dari luar
• Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan
pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar
• Delusional perception : pengalaman indrawi yang tidak wajar yang
bermakna khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
• Halusinasi auditorik berupa suara yang berkomentar terus-menerus
terhadap perilaku penderita, jenis suara yang berasal dari salah satu
bagian tubuh, mendiskusikan perihal penderita diantara mereka
sendiri.
• Waham-waham yang menetap
Lanjutan Pedoman Diagnostik

2. Atau paling sedikit dua gejala yang harus ada


• Halusinasi yang menetap dari panca indra apa saja,
terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau
berbulan-bulan terus menerus.
• Arus pikiran yang terputus atau mengalami sisipan yang
berakibat inkoherensi atau neologisme
• Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah, posisi
tubuh tertentu, flexibilitas serea, mutisme atau stupor
• Gejala-gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang
jarang dan respons emosional yang tumpul yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan social dan
menurunnya kinerja social.
Lanjutan Pedoman Diagnostik

3. Adanya gejala khas tersebut diatas


berlangsung selama kurun waktu satu
bulan adalah lebih
4. Harus ada perubahan yang konsisten dan
bermakna dalam mutu keseluruhan dari
beberapa perilaku pribadi, bermanifestasi
sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu, larut
dalam diri sendiri dan penarikan diri
secara social.
SKIZOFRENIA PARANOID
• Memenuhi kriteria umum skizofrenia
• Halusinasi / waham yang menonjol
• Suara halusinasi yang mengancam penderita atau
memberi perintah atau halusinasi auditorik tanpa
bentuk verbal berupa bunyi pluit, mendengung atau
bunyi tawa
• Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa atau
bersifat seksual. Halusinasi visual mungkin ada
tetapi jarang menonjol.
• Waham dapat berupa hampir tiap jenis.
• Gangguan afektif, dorongan kehendak dan
pembicaraan serta gejala katatonik secara relatif
tidak nyata / tidak menonjol.
• Sering mulai sesudah umur 30 thn
• Kepribadian sebelumnya adalah skizoid
SKIZOFRENIA HEBREFENIK
• Memenuhi kriteria umum skizofrenia
• Pertama kali ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda 15 –
25 thn
• Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas pemalu dan senang
menyendiri
• Dilakukan pengamatan kontinyu selama 2-3 bulan untuk gambaran
• Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat
diramalkan atau manerisme, ada kecenderungan untuk
menyendiri, dan perilaku yang menunjukkan hampa tujuan dan
perasaan.
• Afek pasien yang dangkal dan tidak wajar, sering disertai
cekikikan atau perasaan puas diri
• Proses berpikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tidak
menentu serta inkoheren
• Yang paling menonjol adalah gangguan afektif dan dorongan
kehendak serta gangguan proses berpikir. Halusinasi dan waham
mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol.
SKIZOFRENIA KATATONIK
• Memenuhi kriteria umum skizofrenia
• Satu atau lebih perilaku yang harus mendominasi
gejala klinis :
• Stupor atau mutisme
• Gaduh gelisah
• Menampilkan posisi tubuh tertentu
• Negativisme
• Rigiditas
• Flexibilitas cerea
• Gejala lain, misal otomatisme perintah
• Timbulnya pertama kali umur 15-30 thn, biasanya
akut didahului oleh stress emosional.
DEPRESI PASCA SKIZOFRENIA

• Diagnosa ditegakkan hanya bila:


• Penderita telah menderita skizofrenia
selama 12 bulan terakhir
• Beberapa gejala skizofrenia masih tetap
ada
• Gejala depresif menonjol dan
mengganggu dan telah ada dalam kurun
waktu paling sedikit 2 minggu
SKIZOFRENIA RESIDUAL
• Untuk Diagnosa harus memenuhi syarat:
• Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol misal
kelambatan psikomotorik, afek yang tumpul , sikap
pasif dan ketiadaan inisiatif
• Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang
jelas dimasa lampau
• Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun
dimana intensitas & frequensi gejala yang nyata
seperti waham dan halusinasi telah sangat
berkurang.
• Tidak terdapat dementia atau penyakit oranganic
• Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali
serangan skizofrenia
SKIZOFRENIA SIMPLEKS

• Diagnosa ini sulit dibuat, karena tergantung


pada pemantapan perkembangan yang berjalan
perlahan dan progresif dari:
• Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual
tanpa didahului riwayat halusinasi, waham atau
manifestasi lain dari episode psikotik
• Disertai dengan perubahan perilaku pribadi yang
bermakna, bermanifestasi sebagai kehilangan minat
yang menyolok, tidak berbuat sesuatu tanpa tujuan
hidup dan penarikan diri secara social.
• Sering timbul pertama kali pada masa
pubertas
SKIZOAFEKTIF
• Diagnosa ini hanya dibuat apabila gejala
definitive adanya skizofrenia dan gangguan
afektif sama-sama menonjol pada saat
bersamaan
• Terdapat 2 type yaitu
1. MANIK, dengan afek yang meningkat secara
menonjol dengan iritabilitas atau kegelisahan yang
memuncak, dan dalam episode yang sama harus
jelas ada sedikitnya satu atau lebih gejala
skizofrenia yang khas.
2. DEPRESIF, dimana afek depresif harus menonjol
disertai sedikitnya 2 gejala khas depresif dan
dalam episode yang sama sedikitnya harus ada 1/
lebih gejala skizofrenia yang khas.
PROGNOSA
• Kepribadian prepsikotik, bila skizoid maka
prognosa jelek.
• Bila timbulnya akut, maka prognosa baik
• Jenis skizofrenia: dimana katatonik paling baik,
kemudian paranoid. Sedangkan hebefrenia dan
simpleks prognosanya jelek.
• Umur: makin muda permulaan makin jelek
prognosa
• Terapi: makin cepat makin baik prognosanya
• Bila ditemukan factor pencetus, prognosa baik
• Adanya factor keturunan, prognosa jelek.
TERAPI

• Farmakoterapi, dengan neroleptika


dosis rendah
• TEK, dimana hasilnya paling baik pada
type katatonik
• Terapi koma insulin
• Psikoterapi dan rehabilitasi
• Lobotomy prefrontal