Anda di halaman 1dari 45

MESOTELIOMA

 Mesotelioma adalah neoplasma yang


berasal dari dari sel mesotel di
permukaan lapisan pleura, cavum
peritoneum, tunika vaginalis atau
perikardium.

 Mesotelioma merupakan suatu tumor


primer yang dikenal dalam bentuk
Pendahuluan terlokalisasi (benigna) sering fibroma
dan bentuk difus (maligna) yang sangat
agresif.

 Benign mesotelioma juga dapat


menjadi agresif pada beberapa kasus,
sehingga tumor ini disebut solitary
fibrous tumor.
 80% kasus ditemukan di pleura dan
sering ganas, maka mesotelioma sering
diidentikkan dengan mesotelioma
maligna (MM) pleura.

 Analisis data di AS dari tahun 1973-2000


menunjukan kasus mesotelioma
semakin meningkat dan diperkirakan
ada sekitar 7.000 kasus mesotelioma
pada laki-laki/ tahun
 Pleura merupakan membran serosa
yang melingkupi parenkim paru,
mediastinum, diafragma serta tulang
iga.
Anatomi Pleura
 Pleura terdiri atas dua bagian, yaitu
pleura parietal dan visceral
 Pleura parietal mencapai ketinggian sekitar
1-1,5 inci (2,5-4cm) di atas sepertiga medial
clavicula.

 Pleura parietal dibagi menurut permukaan


yang diliputinya.
1. Pleura parietal costae yang membatasi
permukaan dalam tulang iga dan otot
interkostal.
2. Pleura parietal mediastinum yang melapisi
struktur mediastinum.
3. Pleura parietal diafragmatika yang melapisi
permukaan cembung diafragma.
4. Pleura parietal servikal yang mencapai leher
dan melebar hingga di atas tulang iga
pertama.
 Pleura viseral diinervasi saraf-saraf otonom
sehingga peka terhadap tarikan tetapi tidak peka
terhadap nyeri dan raba

 pleura parietal diinervasi saraf saraf interkostalis


dan nervus frenikus sehingga peka terhadap nyeri,
suhu, raba, dan tekanan.

 Pleura parietal diperdarahi oleh sirkulasi arteri


sistemik, terutama arteri interkosta dan sirkulasi
vena dari pleura parietal akan masuk ke dalam
sirkulasi vena sistemik

 pleura visceral mendapat aliran darah dari


sirkulasi pulmoner teutama percabangan sirkulasi
arteri bronkial dan memiliki penyerapan atau
drainase vena ke dalam sistem vena pulmoner.
Lapisan
pleura
pleura secara umum terdiri dari 5 lapisan :
 selapis sel-sel mesotel, lapisan
 selapis jaringan ikat subendotel tipis yang
termasuk lamina basalis
 selapis jaringan elastik dan superfisial tipis
(sering tergabung dengan lapisan kedua)
 selapis jaringan ikat longgar yang terdiri
dari jaringan adiposa, fibroblas, sel mast dan
sel mononuklear lain, saraf, pembuluh darah
dan pembuluh limfe
 selapis jaringan fibroelastik dalam (sering
menempel dengan jaringan di bawahnya
yaitu parenkim paru, mediastinum,
diafragma, tulang atau otot tulang iga).
 Mikrovili pada pleura diduga berperan dalam
pembentukan, absorpsi dan pengaturan
permukaan cairan pleura yang licin.

Fisiologi sel  Mikrovili juga berperan dalam menyerap


glikoprotein yang mengandung asam hialuronat
tinggi untuk melubrikasi permukaan pleura dan
mempermudah gesekan di antara paru dan
toraks.
Fungsi sel
mesotel
 Pleura berperan dalam sistem pernapasan melalui
tekanan pleura yang ditimbulkan oleh rongga
pleura

Fisiologi .

tekanan pleura  Tekanan pleura bersama tekanan jalan napas akan


menimbulkan tekanan transpulmoner yang
selanjutnya akan memengaruhi pengembangan
paru dalam proses respirasi.
 Tekanan pleura secara fisiologis :
Tekanan cairan pleura dan tekanan permukaan
pleura

 Jumlah cairan rongga pleura diatur


keseimbangan menurut hukum Starling yang
ditimbulkan oleh tekanan pleura dan kapiler,
kemampuan sistem penyaliran limfatik pleura
serta keseimbangan elektrolit.
 Hukum Starling :

Jf = Kf [(P kapiler – P pleura) – σ (π kapiler – π


pleura)]
 Akumulasi cairan pleura di rongga pleura melalui
pleura parietal diatur oleh hukum Starling,
sedangkan pemindahan atau pengeluaran cairan
pleura di rongga pleura dipertahankan oleh
sistem limfatik pleura parietal.
Pembentukan dan penyerapan cairan pleura pada
keadaan normal:
 Proses respirasi melibatkan tekanan pleura dan
tekanan jalan napas

 Udara mengalir melalui jalan napas dipengaruhi


tekanan pengembangan jalan napas yang
mempertahankan saluran napas tetap terbuka
serta tekanan luar jaringan paru (tekanan pleura)
yang melingkupi dan menekan saluran napas.

 Perbedaan antara kedua tekanan (tekanan jalan


napas dikurangi tekanan pleura) disebut tekanan
transpulmoner. Tekanan transpulmoner
memengaruhi pengembangan paru sehingga
memengaruhi jumlah udara paru saat respirasi.
 Patofisiologi mesotelioma berdasarkan etiologinya
:
1. Asbestosis
2. Simian virus 40 (SV 40)
Patofisiologi 3. Erionite
mesotelioma 4. Radiasi
5. Gen abnormal
Asbestosis
 Perannya diperkirakan melalui inaktivasi gen
supresor tumor yang dikenal sebagai antigen T
Simian virus 40 SV40 (Tag).Tag bersifat mutagenik dan
(SV 40) menyebabkan perubahan kromosom
 Diantara perbedaan tipe dari serat mineral,
erionite adalah yang paling poten menyebabkan
malignant mesotelioma.

Erionite  Untuk patogenesisnya sendiri belum dapat


diketahui, kemungkinan hampir sama dengan
asbestosis
 Terdapat beberapa laporan kasus
mesotelioma maligna pada pasien-
pasien yang menerima radiasi pada
thorax dan abdomen.
 Pasien-pasien kanker yang diterapi
dengan radioterapi menunjukan
Radiasi peningkatan resiko untuk malignant
mesotelioma dan rata-rata interval
antara radioterapi dan kejadian
mesotelioma setelah mendapat radiasi
21 tahun yang lalu.
 Mesotelioma adalah penyakit genetik
yang bersifat autosom dominan.

 Penelitian karyotip dan analisa


komparasi hibrida gen menunjukkan
Gen abnormal adanya kerusakan gen yang multiple
pada sebagian besar penderita
mesotelioma, beberapa diantaranya
adalah delesi pada lengan pendek (p)
kromosom 1,3 dan 9 dan lengan
panjang (q) kromosom 6, 13 dan 15
 Batuk
 Nyeri ketika batuk
 Benjolan yang tidak biasa pada dada di
bawah lapisan kulit
 Adanya gejala efusi pleura, seperti:
sesak napas, sakit ketika bernapas
Manifestasi Klinis
 Penurunan berat badan yang drastis
 Badan terasa lemah
 Gejala-gejala pada stadium lanjut
termasuk pneumonia, kaheksia dan
anoreksia disertai kesulitan menelan
 Pada pemeriksaan fisik, ditemukan
tanda tanda efusi pleura yaitu redup
pada perkusi dan bunyi pernapasan
yang menurun pada auskultasi. Pada
ekstremitas bisa ditemukan adanya jari
tabuh.

 Pada pemeriksaan laboratorium


ditemukan eosinofilia, trombositosis,
anemia, kemungkinan defisiensi asam
folat dan defisiensi vitamin B12, pada
kasus-kasus yang jarang, tumor
bertumbuh dan menyebar kemudian
menyebabkan hemothorax atau
sindrom vena cava superior
 1. Foto thoraks
 Gambaran mesothelioma yang paling umum : unilateral, konsentris, seperti plak,
atau penebalan pleura nodular

Pemeriksaan
 Pada mesotelioma juga disertai adanya gambaran efusi pleura sehingga dapat
mengaburkan penebalan pleura yang mendasari.
radiologi
 Nodul paru dan massa hilus biasanya berasal dari perluasan tumor mesothelioma
langsung ke parenkim paru dan struktur mediastinum, seperti kelenjar getah bening,
perikardium, dan jantung.
 Tanda-tanda penyakit lanjut: Distorsi mekanis dari hemithorax, massa dinding dada,
reaksi periosteal iga atau destruksi tulang iga oleh tumor
Keunggulan CT Scan dibandinkan foto
thoraks:
 Penebalan pleura dan efusi dapat
dibedakan

CT Scan  Sejauh mana tumor menginvasi


permukaan pleura , ke dalam
mediastinum, diafragma, atau dinding
dada dapat dievaluasi lebih baik
dengan CT scan daripada dengan foto
polos.
penebalan pleura dan
lobular irreguler

plak non-kalsifikasi
Slice aksial dari CT
scan Thoraks pasien
mesothelioma
maligna
Slice aksial dari CT scan Thoraks pasien
mesothelioma maligna akibat asbestosis.

plak kalsifikasi

penebalan pleura
irregular

efusi
pleura
encasement komplit

encasement komplit

encasement komplit

invasi mediastinum massa besar isodens

invasi awal ke dalam


dinding dada lateral
 MRI menghasilkan gambar yang lebih
unggul dari CT scan dalam
menunjukkan fokus soliter dari invasi
dinding dada, keterlibatan fasia
Magnetic endothoracic, dan invasi ke diafragma
Resonance
Imaging (MRI)  Plak pleura berserat biasanya
isointense atau relatif kurang intens
terhadap otot
massa isointensitas
Gambar koronal dengan otot.
T1 pasien
mesothelioma
maligna
Invasi tumor ke
mediastinum
mesothelioma maligna
invasi ke dalam dinding
dada
 USG dapat menunjukkan penebalan
pleura atau efusi pada pasien dengan
mesothelioma.

Ultrasonografi(US  USG dapat digunakan sebagai panduan


G) untuk biopsi, tetapi tidak biasanya
digunakan untuk menilai sejauh mana
perjalanan penyakit pada pasien
mesothelioma
mesothelioma maligna
yang sudah
dikonfirmasi dengan
biopsi
Ada efusi pleura kecil
sampai sedang

hemidiafragma
echogenic kanan

hati
 Pemeriksaan PET yang menggunakan
isotop 18 Fluoro-deoxyglucose (FDG)
telah digunakan untuk mengevaluasi
kelainan intrathoracal, termasuk MM.
selain kelainan anatomis, PET dapat
juga memberikan informasi biokimia
lesi.
Positron emission
tomography (PET)  Dapat membedakan mesotelioma
maligna dengan lesi jinak pada pleura

 PET pada MM memiliki sensitivitas 91%


dan spesifitas 100R%.
Potongan koronal 18F-
FDG PET / CT, penyerapan
FDG pada lesi
mesothelioma maligna
dengan metastasis pada
tulang
• mesotelioma terdapat pada pleura kanan atau
Stadium I : kiri dan dapat melibatkan paru-paru,
pericardium , diaphragm pada sisi yang sama.

• mesotelioma menyerang dinding dada, kedua


Stadium
StagingII
pleura, organ mediastinum dan kelenjar
limfe juga terlibat

• mesotelioma telah penetrasi melalui


Stadium III diaphragma masuk ke dalam perioneum,
dengan keterlibatan dari limfe

Stadium IV • metastasis jauh ke organ lain


Thank you…..