0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan42 halaman

Semalam Jadi

Diunggah oleh

izzahnaelul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan42 halaman

Semalam Jadi

Diunggah oleh

izzahnaelul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TESTIS & OVARIUM

Organ Genitalia Interna (Male)


Organa genitalia interna terdiri dari:

• Testis
• Epididimis
• Ductus deferens
• Funiculusspermaticus
• Kelenjar seks tambahan:
- Kelenjar prostat (Prostata)
- Vesicula seminalis (Glandula vesiculosa)
- Kelenjar COWPER (Glandula bulbourethralis)
Perkembangan Organa Genitalia Interna.
• Sampai minggu ke-7, perkembangan genitalia interna identik pada kedua jenis kelamin
(stadium indiferen seksual). Pada laki-laki, primordium gonad primiti{ berkembang
menjadi Tes. tis. Testis berkembang di Regio lumbalis setinggi mesonefros yang
memberikan beberapa Canaliculus yang berperan sebagai penghubung antara Testis dan
Epididimis. Karena pertumbuhan longitudinal tubuh, Testis mengalami relokasi ke
kaudal {Descensus testis) tetapi tetap berhubungan dengan struktur-struktur vaskularnya.
Di sepanjang Gubernaculum testis, terbentuk kantong peritoneal (Proc. vaginalis
peritonei) yang mencapai bagian yang nantinya akan menjadi Scrotum dan berperan
dalam memandu penurunan Testis, suatu proses yang dalam keadaan normal selesai saat
lahir. Saat lahir, Proc. vaginalis peritonei menutup dan mengalami obliterasi di area
Funiculus spermaticus. Bagian distal Proc. vaginalis menetap dan membentuk Tunica
vaginalis testis, Hormon seks Testis (terutama testosteron) menginduksi diferensiasi
akhir duktus WOLFFIAN menjadi genitalia laki-laki interna (Epididymis, Ductus
deferens), Vesicula seminalis, dan kelenjar seks tambahan lain (kelenjar prostat, kelenjar
COWPER) dari Sinus urogenitalis. Hormon anti-MULLERIAN menekan diferensiasi
duktus MULLERIAN menjadi genitalia perempuan.
Testis [Orchis], dan Epididymis
• Testis berbentuk telur dan berukuran 4x3 cm (20-
30 g). Testis memiliki Polus superior dan inferior
(Extremitas superior dan inferior). Letak
Epididymis berdekatan dengan sisi superior dan
dorsal Testis dan menempel Testis melalui ligamen
superior dan inferior (Ligg. epididymis superius
dan inferius). Epididymis memiliki bagian-bagian
berikut: kepala (Caput), badan (Corpus), dan ekor
(Cauda) yang berlanjut sebagai Ductus deferens.
potongan sagital; dilihat dari sisi kanan
• Tunica albuginea padat yang mengelilingi Testis memberikan septa ke
dalam parenkim Testis dan membagi parenkim menjadi 370 lobulus
(Lobuli testis). Tubulus seminiferus dalam lobulus tersebut adaFascia
spermatica interna Caput epididymidis Appendix testis (Appendix
epididymidis) Extremitas superior Facies lateralis Testis l\4argo anterior
dan menempel Testis melalui ligamen superior dan inferior (Ligg.
epididymis superius dan inferius). Epididymis memiliki bagian-bagian
berikut: kepala (Caput), badan (Corpus), dan ekor (Cauda) yang berlanjut
sebagai Ductus deferens. Caput epididymidis Lobuli testis Septula testis
Tunica albuginea lah tempat produksi sperma. Jaringan interstisial di
antara Tubulus seminiferus mengandung testosteron yang menghasilkan
sel-sel LEYDlG testikular. Di Mediastinum Testis, struktur neurovaskular
masuk dan keluar dari Testis dan di sini Tubulus seminiferus berhubungan
dengan Caput epididymis.
Testis [Orchis], dan Epididymis, dengan
pembuluh darah
dilihat dari sisi kanan
• Testis dihubungkan dengan Caput
epididymis melalui saluran kecil (Ductuli
efferentes testis). Epididymis sendiri
terdiri dari saluran yang melingkar-lingkar
dengan panjang 6 m yang berlanjut
sebagai vas deferens (Ductus deferens)
pada bagian akhir Epididymis. Dengan
panjang 35-40 cm dan ketebalan 3 mm,
vas deferens terletak di dalam Funiculus
spermaticus dan berjalan melalui Canalis
inguinalis ke aspek dorsal Vesica urinaria.
Bagian terminal vas deferens bergabung
dengan saluran ekskretorius Vesicula
seminalis untuk membentuk Ductus
ejaculatorius, yang masuk ke dalam Pars
prostatica Urethra laki-laki. Testis dan
Epididymis didarahi oleh A. testicularis
dan pleksus vena (Plexus pampiniformis).
Pembuluh darah Organa genitalia interna;
Innervasi
Serabut preganglion simpatik turun dari plexus aorticus
abdominalis melalui plexus hypogastricus superior dan dari
ganglia sakralis dari truncus sympatichus melalui Nn. Splancnici
sacrales untuk bersinaps dengan neuron postganglion di ganglia
dari plexus hypogastricus inferior. Serabut preganglion ini
mencapai visera pelvis, dan juga kelenjar acesoria. Serabut saraf
simpatik ke vas deferens mengaktivasi kontraksi otot polos untuk
pengeluaran sperma ke dalam urethra. Serabut postganglion
simpatik ke testis dan epididimis berjalan di plexus testicularis di
sepanjang sisi A. testicularis setelah bersinap di ganglia
aorticorenalia atau plexus hypogastricus superior.
spermatogenesis
Testis memiliki fungsi ganda yaitu menghasilkan
sperma dan menyekresikan testosteron. Sekitar
80% masa testis terdiri dari tubulus seminiferus
yang sangat berkelok-kelok dan menjadi tempat
terjadinya spermatogenesis.
• Spermatogenesis mencakup tiga tahap utama: proliferasi mitotik, meiosis, dan
pengemasan
• PROLIFERASI MITOTIK
Spermatogoniayang terletak di lapisan terluar tubulus terus-menerus bermitosis,
dengan semua sel anak mengandung komplemen lengkap 46 kromosom identik
dengan sel induk. Proliferasi ini menghasilkan pasokan sel germinativum baru yang
terus-menerus. Setelah pembelahan mitotik sebuah spermatogonium, salah satu sel
anak tetap di tepi luar tubulus sebagai spermatogonium tak berdiferensiasi sehingga
turunan sel germinativum tetap terpelihara. Sel anak yang lain mulai bergerak ke arah
lumen sembari menjalani berbagai tahap yang dibutuhkan untuk membentuk sperma,
yang kemudian akan dibebaskan ke dalam lumen. Pada manusia, sel anak penghasil
sperma membelah secara mirotis dua kali lagi untuk menghasilkan empar spermatosit
primer identik. Setelah pembelahan mitotik terakhir, spermatosit primer masuk ke fase
istirahat saar kromosom-kromosom terduplikasi dan untai-untai rangkap rersebur terap
menyatu sebagai persiapan untuk pembelahan meiotik pertama.
• MEOSIS
Selama meiosis, setiap spermatosit primer (dengan jumlah diploid 46
kromosom rangkap) membentuk dua spermatosit sekunder (masing-
masing dengan jumlah haploid 23 kromosom rangkap) selama
pembelahan meiosis pertama, akhirnya menghasiikan empat spermatid
(masing-masing dengan 23 kromosom tunggal) akibat pembelahan
meiotik kedua. Setelah tahap spermatogenesis ini tidak terjadi
pembelahan lebih lanjut. Setiap spermatid mengalami remodeling
menjadi spermatozoa. Karena setiap spermatogonium secara mitotis
menghasilkan empat spermatosit primer dan setiap spermatosit primer
secara meiotis menghasilkan empat spermatid (calon spermatozoa), maka
rangkaian spermatogenik pada manusia secara teoritis menghasilkan 16
spermatozoa setiap kali spermatogonium memulai proses ini.
Pengemasan.
Pembentukan spermatozoa yang sangat khusus dan bergerak dari spermatid
memerlukan proses remodeling, atau pengemasan ekstensif elemen-elemen
sel, suatu proses yang dikenal sebagai spermiogenesis. Spermiogenesis
adalah suatu proses morfologik kompleks yang mengubah spermatid bulat
menjadi sel sperma yang memanjang. Selama spermiogenesis, ukuran dan
bentuk spermatid berubah, dan kromatin nukleus memadat. Fase akhir
pematangan di tandai dengan terlepasnya kelebihan atau sisa sitoplasma
spermatid dan pelepasan sel sperma ke dalam lumen tubulus seminiferus.
Sel sertoli kemudian memfagosit sisa sitoplasma tersebut. Sel plasma
matang terdiri dari kepala dan acrosoma yang mengelilingi bagian anterior
nukleus, leher, pars intermedia yang ditandai oleh adanya selubung
mitokondria padat dan bagian utama atau pars principalis.
genitalia interna (female)

Terdiri dari :
Vagina
Uterus
Tuba uterina
Ovarium

Ovarium berfungsi sebagai tempat pematanag


folikel dan produksi hormon sex pada wanita
(esterogen dan progesteron)
Perkembangan ovarium

genitalia interna berkembang pada kedua jenis


kelamin dengan cara yang sama sampai
minggu ke 7. pada wanita, primordium gonad
primitif kemudian berkembang menjadi
ovarium. mirip dengan testis, ovarium juga
berkembang di daerah lumbar. dalam
perjalanan pertumbuhan tubuh, ovarium
bergerak tetapi hanya sampai ke pelvis yang
lebih rendah dan tidak meninggalkan cavitas
peritoneum.
Genitalia interna female
• Ovarium
• Tuba falopii
• Uterus
• Vagina
Ovarium
Almond, Ukuran 2-4 cm, terletak di sisi uterus. Terdiri atas beberapa bagian:
- Extremiti Superior → Diikat oleh Fimbrae & Ligamentum Suspensorium
Ovarii → Vasa Ovarica
- Extremiti Inferior → Diikat oleh Ligamentum Ovarii Proprium →
Ligamentum Latum
- Margo Anterior & Posterior
Pendarahan

- Arteri OVARIKA
Berasal dari Aorta Desc pars
Abdominalis, beranastomosis
dengan A. Uterina
- Vena OVARICA KANAN
→ V. Cava Inferior
- V. OVARICA KIRI
-> V. Renalis
Tuba Uterina

Terdapat 2 Tuba uterina, digantung oleh


Mesosalpinx

Terdiri dari:
- Intramural
- Isthmus (dibatasi)
- Ampula (lebar) → Fertilisasi
- Infundibulum → Dilingkupi oleh Fimbrae
→ terjadinya Kehamilan Ektopik
Pendarahan
- Arteri Uterina, R. Tubarius dan
A. Ovarica
- Vena mengikuti Arteri
Uterus
Organ berongga, berdinding otot, seperti buah pir, berposisi anteflexi.
Letak: Diantara Vesica urinaria & Rectum
Batas: Tuba uterina dan Vagina
Pendarahan
- Arteri Uterina merupakan percabangan dari Arteri Iliaca Interna
- Pembulu balik : Plexus Venosus
Vagina
Saluran yang menghubungkan vulva dengan rahim.
Ruggae menyusun dinding vagina
• Didapatkan fornix anterior, posterior, dan lateral.
• Letak antara Vesicel Urinaria dan Rectum
Pendarahan
- Perdarahan: A. Uterina (bagian atas) dan
A. Vaginalis cabang A. Iliaca Interna (bagian depan dan
bawah).
- Vena → Plexus Venosus
Systerna genitalia feminina
• Tractus genitalia feminina terutama terdapat di
dalam cavitas pelvis dan perineum, meskipun
selama kehamilan, uterus mengembang ke dalam
cavitas abdominalis. Komponen-komponen utama
systema genitale ini terdiri dari (Gambar 5.27):
• sebuah ovarium pada setiap sisi, dan n
• sebuah uterus, vagina. dan clitoris pada garis
tengah.
• Selain itu. sepasang glandulae genitales
accessoriae (glandula vestibularis major) berkaitan
dengan tractus tersebut.
• Ovarium Seperti testis pada pria, ovarium mula-
mula berkembang pada dinding posterior abdomen
dan kemudian berjalan turun sebelum kelahiran,
bersama dengan pembuluh-pembuluh darah, vasa
lymphatica, dan nervinya. Tidak seperti testis,
ovarium tidak bermigrasi melalui canalis inguinalis
ke dalam perineum, tetapi berhenti dan mengambil
posisi pada dinding lateral cavitas pelvis .
• Ovarium merupakan
tempat produksi ovum
(oogenesis). Ovum yang
matang diovulasikan ke
dalam cavitas peritonealis
dan secara normal
diarahkan oleh fimbriae
tubae pada ujung tuba
uterina ke dalam ostium
abdominale tubae uterinae
yang berdekatan.
Oogenesis
Proses Oogenesis
• 1. Sel-Sel Kelamin
• Primordial Sel-sel kelamin primordial mula-mula terlihat di dalam ektoderm embrional
dari saccus vitellinus, dan mengadakan migrasi ke epitelium germinativum kira-kira
pada minggu ke 6 kehidupan intrauteri (dalam kandungan). Masing-masing sel kelamin
primordial (oogonium) dikelilingi oleh sel-sel pregranulosa yang melindungi dan
memberi nutrien oogonium dan secara bersama-sama membentuk folikel primordial.
• 2. Folikel Primordial
• Folikel primordial mengadakan migrasi ke stroma cortex ovarium dan folikel ini
dihasilkan sebanyak 200.000 buah. Sejumlah folikel primordial berupaya berkembang
selama kehidupan intrauteri dan selama masa kanak-kanak, tetapi tidak satupun
mencapai pemasakan. Pada waktu pubertas satu folikel dapat menyelesaikan proses
pemasakan dan disebut folikel de Graaf dimana didalamnya terdapat sel kelamin yang
disebut oosit primer.
• 3. Oosit Primer
• Inti (nukleus) oosit primer mengandung 23 pasang kromosom (2n). Satu pasang
kromosom merupakan kromosom yang menentukan jenis kelamin, dan disebut
kromosom XX. Kromosom-kromosom yang lain disebut autosom. Satu kromosom
terdiri dari dua kromatin. Kromatin membawa gen-gen yang disebut DNA.
• 4. Pembelahan Meiosis
• Pertama Meiosis terjadi di dalam ovarium ketika folikel de Graaf mengalami
pemasakan dan selesai sebelum terjadi ovulasi. Inti oosit atau ovum membelah
sehingga kromosom terpisah dan terbentuk dua set yang masing-masing
mengandung 23 kromosom. Satu set tetap lebih besar dibanding yang lain karena
mengandung seluruh sitoplasma, sel ini disebut oosit sekunder. Sel yang lebih
kecil disebut badan polar pertama. Kadang-kadang badan polar primer ini dapat
membelah diri dan secara normal akan mengalami degenerasi. Pembelahan
meiosis pertama ini menyebabkan adanya kromosom haploid pada oosit sekunder
dan badan polar primer, juga terjadi pertukaran kromatid dan bahan genetiknya.
• 5. Oosit Sekunder
• Pembelahan meiosis kedua biasanya terjadi hanya apabila kepala spermatozoa
menembus zona pellucida oosit. Oosit sekunder membelah membentuk ootid yang
akan berdiferensiasi menjadi ovum dan satu badan polar lagi, sehingga terbentuk
tiga badan polar dan satu ovum masak, semua mengandung bahan genetik yang
berbeda. Ketiga badan polar tersebut secara normal mengalami degenerasi. Ovum
yang masak yang telah mengalami fertilisasi mulai mengalami perkembangan
embrional.
Hormon-hormon yang berperan
• Proses pembentukan oogenesis dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon,
diantaranya:
• Pada wanita usia reproduksi terjadi siklus menstruasi oleh aktifnya aksis
hipothalamus -hipofisis - ovarium. Hipothalamus menghasilkan hormon
GnRH (gonadotropin releasing hormone) yang menstimulasi hipofisis
mensekresi hormon FSH (follicle stimulating hormone) dan LH
(lutinuezing hormone). FSH dan LH menyebabkan serangkaian proses di
ovarium sehingga terjadi sekresi hormon estrogen dan progesteron. LH
merangsang korpus luteum untuk menghasilkan hormon progesteron dan
meransang ovulasi. Pada masa pubertas, progesteron memacu tumbuhnya
sifat kelamin sekunder. FSH merangsang ovulasi dan meransang folikel
untuk membentuk estrogen, memacu perkembangan folikel. Hormon
prolaktin merangsang produksi susu. Mekanisme umpan balik positif dan
negatif aksis hipothalamus hipofisis ovarium
Uterus
• Uterus merupakan organ berdinding otot
yang tebal pada garis tengah di antara
vesica urinaria dan rectum. Uterus terdiri
dari corpus uteri dan cervix uteri, dan ke
inferior bergabung dengan vagina. Ke
arah superio, tuba uterina mengarah ke
lateral dari uterus dan terbuka ke dalam
cavitas peritonealis yang langsung
berdekatan dengan ovarium.
• Corpus uteri mendatar secara
anteroposterior dan, di atas level dari asal
tuba uterina (Gambar 5.29), memiliki
ujung superior yang membulat (fundus
uteri), Cavitas uteri merupakan celah
sempit bila dilihat dari lateral, dan
berbentuk seperti segitiga terbalik bila
dilihat dari anterior. Setiap sudut superior
cavitas uteri berlanjut dengan ostium
uterinum tubae dan sudut inferior
berlanjut dengan canalis cervicis uteri.
• Uterus merupakan lokasi implantasi ovum yang sudah dibuahi, perkembangan
fetus selama masa kehamilan, dan persalinan. Selama siklus reproduksi dimana
implantasi tidak terjadi, uterus adalah sumber dari menstruasi. Secara anatomis,
uterus dibagi menjadi fundus, korpus, dan serviks. Bagian dalam dari uterus
disebut sebagai kavum uteri. Secara histologis, uterus dibagi menjadi 3 lapisan
jaringan, yakni :
• 1. Perimetrium (Serosa)
• Merupakan lapisan terluar dari uterus dan merupakan bagian dari peritoneum
viseral.
• 2. Miometrium
• Terdiri dari 3 lapisan otot polos, bagian yang paling tebal terletak di fundus, dan
paling tipis di bagian serviks. Miometrium berperan pada saat proses persalinan,
dimana terjadinya kontraksi yang merupakan respon dari oksitosin yang
dihasilkan oleh hipofisis posterior untuk membantu mengeluarkan fetus dari
uterus.
• 3. Endometrium
• Merupakan lapisan paling dalam dari uterus, dimana lapisan ini paling kaya akan
vaskularisasi. Endometrium dibagi menjadi lagi menjadi 2 lapisan yakni stratum
fungsionalis (melapisi kavum uteri dan meluruh pada saat menstruasi) dan
stratum basalis (bagian yang lebih dalam, permanen, dan dapat mengembalikan
stratum fungsionalis yang baru setelah terjadinya menstruasi)
Tuba uterina
• Tuba uterina memanjang dari setiap sisi ujung
superior corpus uteri menuju dinding lateral pelvis
dan tertutup di dalam tepi atas bagian mesosalpinx
ligamentum latum uteri. Karena ovarium digantung
pada aspectus posterior ligamentum latum uteri, tuba
uterina berjalan ke superior di atas, dan berakhir di
lateral dari, ovarium.
• Setiap tuba uterina memiliki ujung yang berbentuk
terompet yang meluas (infundibulum tubae uterinae),
yang melengkung mengelilingi polus superolateral
ovarium yang terkait. Tepi infundibulum tubae
uterinae dikelilingi dengan tonjolan seperti jari kecil
yang disebut flmbriae tubae. Lumen tuba uterina
terbuka ke dalam cavitas peritonealis di ujung
infundibulum tubae uterinae yang menyempit.
Medial dari infundibulum tubae uterinae, tuba uterina
meluas untuk membentuk ampulla tubae uterinae dan
kemudian menyempit untuk membentuk isthmus
tubae uterinae, sebelum bergabung dengan corpus
uteri.
• Infundibulum tubae uterina yang berfimbrae
memfasilitasi pengumpulan ovum yang telah
diovulasikan dari ovarium. Biasanya pembuahan
terjadi di ampulla tubae uterinae.
Cervix Uteri
• Cervix uteri membentuk bagian inferior
uterus dan berbentuk seperti silinder yang
lebar, dan pendek dengan saluran di tengah
yang sempit. Secara normal corpus uteri
melengkung ke depan (anteflexi pada cevix
uteri) di atas permukaan superior vesica
urinaria yang kosong. Selain itu, cervix
uteri membentuk sudut ke depan (anteversi)
pada vagina sehingga ujung inferior cervix
uteri mengarah pada bagian atas aspectus
anterior dari vagina. Karena ujung cervix
uteri berbentuk kubah, yang menonjol ke
dalam vagina, dan sebuah saluran, atau
fornix vaginae, terbentuk mengelilingi tepi
cervix uteri dan fornix vaginae bergabung
dengan dinding vagina. Canalis cervicis
uteri yang berbentuk tabung terbuka, ke
bawah, sebagai ostium uteri externum,
menuju rongga vagina, dan ke atas, sebagai
Vagina
• Vagina adalah organ kopulasi pada wanita. Vagina adalah
sebuah tabung fibromusculorum yang dapat melebar,
yang memanjang dari perineum melewati dasar pelvis
dan masuk ke dalam cavitas pelvis. Ujung bagian dalam
vagina membesar untuk membentuk suatu daerah yang
disebut kubah vagina.
• Dinding anterior vagina berhubungan dengan basis
vesica urinaria dan urethra: bahkan, urethra tertanam di
dalam, atau menyatu dengan, dinding anterior vagina. Ke
arah posterior, vagina terutama berkaitan dengan rectum.
• Ke inferior, vagina membuka ke dalam vestibulum
vaginae dari perineum tepat di posterior dari ostium
urethrae externum. Dari lubang luar vagina (introitus
vaginae), vagina berjalan ke posterosuperior melewati
membrana perinei dan masuk ke dalam cavitas pelvis, di
mana vagina dilekatkan oleh dinding anteriornya ke tepi
cervix uteri yang melingkar.
• Fornix vaginae adalah recessus yang terbentuk di antara
tepi cervix uteri dan dinding vagina. Berdasarkan
posisinya. fornix vaginae dibagi lagi menjadi sebuah
fornix vaginae pars posterior, sebuah fornix vaginae pars
anterior, dan dua fornix vaginae pars lateralis
Ovarian & Menstrual Cycles
• Menstruasi merupakan hasil kerja sama yang sangat rapi dan baku dari sumbu
Hipotalamus – Hipofisis – Ovarium (sumbu HHO). Terdapat dua siklus yang
memegang peran penting dalam terjadinya haid atau menstruasi yakni siklus
ovarium dan siklus uterus (endometrial).
• Siklus ovarium
• Durasi rata-rata pada siklus ini kurang lebih 28 hari (dari rentang 25-32 hari).
Terjadinya suatu peristiwa hormonal menyebabkan ovulasi dan pada akhirnya
mengarah ke siklus menstruasi. Perubahan histologis pada endometrium (siklus
uterus) selalu berjalan bersamaan dan berkesinambungan dengan siklus ovarium.
• Siklus uterus (endometrial)
• Uterus merupakan organ target steroid seks ovarium, sehingga perubahan
histologik pada dinding endometrium selaras dengan pertumbuhan folikel atau
seks steroid yang dihasilkannya. Lapisan endometrium yang berperan dalam
proses menstruasi hanyalah stratum fungsionalis, hal ini dikarenakan lapisan ini
memberi respons terhadap stimulus steroid seks. Pada akhir fase luteal ovarium,
sekresi estrogen dan progesteron menurun drastis sehingga mengakibatkan
stratum fungsionalis terlepas atau meluruh, dan menyisakan stratum basalis
sedikit bagian dari stratum fungsionalis. Selanjutnya endometrium yang tipis
tersebut memasuki siklus haid berikutnya

Anda mungkin juga menyukai