Anda di halaman 1dari 26

DEMAM TIFOID

Syifa Aulia Luthfiyani


131.0211.016
Typhus abdominalis, Typhoid fever.
Infeksi akut pada saluran cerna yang di sebabkan
oleh Salmonella typhi.

DEFINISI
ETIOLOGI

• Gram negatif
• Tidak berkapsul
• Kebanyakan berflagella
• Tidak berspora
• Punya 3 antigen
- Antigen somatik (O) atau
dinding sel
- Antigen Flagellar (H)
- Antigen K/Vi (Kapsul)
EPIDEMIOLOGI

• Banyak ditemukan di negara berkembang, dimana


hygiene dan sanitasi lingkungan kurang baik
• WHO : 17Juta kasus/tahun dgn mortalitas
600.000, 70% di Asia
• Indonesia merupakan wilayah endemik
TRANSMISI

Transmisi bakteri ini melalui fekal-oral.


Kuman dari tinja dan urin dapat masuk ke dalam tubuh
melalui (tertelan) :
Air yang tercemar kuman
Makanan yang terkontaminasi kuman
- Sayuran mentah yg terkontaminasi
- Sayur atau buah yg dipupuk dgn kotoran manusia
GEJALA KLINIS

Masa inkubasi = 10-20 hari  Gejala klinis


Jika masa inkubasi 1-10 hari Paratyphi
3 kelainan pokok demam tifoid :
1. Demam Berkepanjangan (>7 hari)
2. Gx. Saluran cerna
Spt : Konstipasi-obstipasi, kadang diare, mual & muntah
3. Gx. Kesadaran
Pada kondisi yg parah, berupa penurunan kesadaran
ringan, apatis smp koma.
Minggu ke-1

Ditemukan keluhan & gejala yg serupa dgn


peny.infeksi akut pd umumnya, yaitu :
• Demam (meningkat perlahan2 terutama di sore
hari) , dapat disertai :
- Nyeri kepala - Anoreksia
- Konstipasi-obstipasi/diare - Mual muntah
- Rasa tidak enak diperut - Epistaksis
- Batuk dll
Minggu ke-2

Gejala-gejala lebih jelas yi berupa :


• Demam
• Bradikardi relatif
• Lidah berselaput
• Hepatosplenomegali
• Meteorismus
• Gangguan mental: somnolen, stupor, koma,
delirium atau psikosis
• Roseola (jarang ditemukan pada orang indonesia)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan LAB rutin


• Darah perifer lengkap: paling sering leukopeni,
dapat normal atau leukositosis
• Anemia ringan
• Trombositopenia
• LED meningkat
• SGOT dan SGPT meningkat
2. Uji Widal
Tujuan

untuk deteksi antibodi ‘Aglutinin’ thd S. Typhi dalam serum


penderita
Prinsip

pd uji Widal terjadi suatu rx.aglutinasi antara antigen S. Typhi dgn


antibodi bernama Aglutinin. Antigen pd uji Widal adalah
suspensi Salmonella yg sudah dimatikan

Aglutinin O = badan kuman, H= flagel kuman, Vi = simpai kuman


Semakin tinggi titer, semakin besar kemungkinan infeksi
Aglutinin O : Muncul di akhir minggu pertama
demam dan masih di jumpai setelah 4-6 bulan
Aglutinin H : hari ke 10-12 dgn O tapi bertahan lebih
lama yi setelah 9-12 bulan

Titer positif
3. Uji Tubex
• Uji semikuantitatif kolorimetrik yang cepat (menit)
• Mendeteksi antibodi anti-S.typhi O9
• Dapat mendeteksi penyakit secara dini (hari ke 4-5 )
• Sensitifitas dan spesifisitas kuat
Skor Interpretasi Keterangan

<2 Negatif Tidak menunjukkan infeksi aktif

3 Borderline Tidak dapat disimpulkan  ulang

4-5 Positif Infeksi tifoid aktif

>6 Positif Indikasi kuat infeksi tifoid


4. Typhidot
• Test menggunakan antigen S.typhi utk
mendeteksi antibodi IgM dan IgG pada membran
luar S typhi
• Hasil positif dapat ditemukan 2-3 hari
• Sensitifitas dan spesifitas baik
5. Dipstick Test
• Suatu test khusus mendeteksi IgM spesifik yang
ada pada serum atau Whole Blood sampel
• Mudah dan cepat (1 hari)
6. Kultur darah
• Hasil biakan positif  memastikan demam tifoid
• Hasil negatif tidak menyingkirkan
• Dipengaruhi oleh:
– Pemberian antibiotik
– Volume darah kurang
– Darah mesti langsung dimasukkan ke dalam media
empedu
– Riwayat vaksinasi
PATOFISIOLOGI

Air/makanan terkontaminasi kuman

Sebagian dimusnahkan di dalam lambung

Sebagian lolos ke usus dan berkembang

Bila respon imun <<  kuman menembus


sel epitel ( sel M)
Menembus lamina propria  difagosit oleh
makrofag

Dibawa oleh makrofag ke plak payeri ileum

Menjalar ke KGB mesentrika

Melalui duktus torasikus  aliran darah


sistemik (bakteriemia I = asimptomatik)
Menyebar ke seluruh sistem RES (TU hati &
limfa)

Berkembang di dalam organ hati & limpa

Masuk ke aliran darah kembali (bakteriemia II


=simptomatik )  gejala klinis sistemik

Dari hati  empedu sebagian dikeluarkan


dikeluarkan bersama feses, sebagian di serap
kembali (proses berulang)
PENATALAKSANAAN

Istirahat dan • Mencegah komplikasi


perawatan • Mempercepat kesembuhan

• Mengembalikan rasa
Diet dan nyaman
penunjang • Mengembalikan kesehatan

• Menghentikan dan
Antibiotika mencegah penyebaran
kuman
1. Istirahat dan Perawatan
Istirahat
Istirahat total di tempat tidur selama satu minggu
setelah bebas demam
Perawatan
Perlu di jaga kebersihan tempat tidur, pakaian
2. Diet
Diet pasien awal-awal diberi bubur saring 
bertahap bubur kasar  terakhir nasi

Supaya tidak memperberat kerja usus


3. Pemberian Antibiotik
Kloramfenikol
• Di Ina  pilihan utama
• Dosis : 4 X 500 mg  s/d 7 hari bebas demam
• Penurunan demam rata2 setelah 5 hari

Tiamfenikol
 Dosis hampir sama dengan kloramfenikol

 Penurunan demam rata2 setelah 5 hari


 Supresi sumsum tulang lebih rendah
Kotrimoksazol
Dosis : 480mg 2x 2tab selama 14 hari
Mengandung Sulfametoksazole 400 mg dan
Trimetoprim 80 mg
Mekanisme
Sefalosporin generasi ke 3

Seftriakson
Dosis : 3-4 gram/hari, 3-5 hari

Flurokuinolon
Ciprofloxacin, dosis : 2x500mg 6 hari
Ofloxacin, dosis : 600mg/hari 7 hari
Norfloksasin, dosis 200-400 mg/hari (14 hari)

Flerofloksasin, dosis 400 mg/hari (7 hari)


Untuk ibu hamil
Seftriakson, amoksisilin atau ampisilin
KOMPLIKASI

INTESTINAL EKSTRAINTESTINAL
• Hematologi  DIC
• Perdarahan saluran
• Hepatitis tifosa
cerna
• Pankreatitis tifosa
• Perforasi usus
• Miokarditis
• Manifestasi neuropsikiatrik
(tifoid toksik)