Anda di halaman 1dari 31

ARGUMEN VALID

(Penarikan Kesimpulan yang Sah/Valid)


TABEL KEBENARAN
PERNYATAAN EKIVALEN
IMPLIKASI

Senilai

Senilai
1. Premis dan Argumen

Pernyataan-pernyataan yang digunakan untuk


menarik kesimpulan disebut premis.

Suatu premis dapat berupa aksioma, hipotesa,


definisi atau pernyataan yang sudah dibuktikan
sebelumnya.

Argumen adalah kumpulan kalimat yang terdiri atas


satu atau lebih premis yang mengandung bukti-
bukti (evidence) dan suatu (satu) konklusi.
2. Validitas Pembuktian
Konklusi diturunkan dari premis-premis atau premis-premis mengimplikasikan konklusi,
dalam argumentasi yang valid,

konklusi akan bernilai benar jika setiap premis yang digunakan juga bernilai benar

Jadi validitas argumen tergantung pada bentuk argumen itu dan dengan bantuan tabel
kebenaran.

Konklusi benar jika mengikuti hukum-hukum logika yang valid, dan negasinya adalah salah.

Mentukan validitas suatu argumen dengan tabel kebenarannya tidaklah praktis.

Cara yang lebih praktis banyak bertumpu pada tabel kebenaran dasar dan bentuk
kondisional. Bentuk argumen paling sederhana dan klasik adalah Modus ponens dan
Modus tolens
1. Modus Ponen

Contoh:
• Premis 1 : p  q
• Premis 2 : p
• Konklusi : q
Cara Baca:
• Diketahui jika p maka q benar
• dan p benar
• disimpulkan q benar.
Notasi :  menyatakan konklusi
seperti p  q, p  q)
Contoh-1 :
Premis 1 : Jika saya belajar, maka saya lulus ujian
(benar)
Premis 2 : Saya belajar (benar)
Konklusi : Saya lulus ujian (benar)

Premis-1 Premis-2  Konklusi

Kok bisa begitu ?


Implikasi dari Konjungsi Premis-premis terhadap
Konkulusi harus Tautologi (Selalu Benar)

Premis-1 Premis-2  Konklusi


2. Modus Tolen :
2. Modus Tolen :
Premis 1 : p  q
Premis 2 : ~ q
Konklusi : ~ p

Contoh :
Premis 1 : Jika hari hujan maka saya memakai jas hujan (benar)
Premis 2 : Saya tidak memakai jas hujan (benar)
Konklusi : Hari tidak hujan (benar)

Perhatikan bahwa jika p terjadi maka q terjadi, sehingga jika q tidak


terjadi maka p tidak terjadi.
Tabel kebenaran Modus Tolens:
Suatu argumen sah jika Implikasi dari Konjungsi Premis-premis
terhadap Konkulusi harus Tautologi (Selalu Benar)

Premis-1 Premis-2  Konklusi


3. Silogisma
Premis 1 : p  q
Premis 2 : q  r
Konklusi : p  r

Contoh :
Premis 1 : Jika kamu benar, saya bersalah (B)
Premis 2 : Jika saya bersalah, saya minta maaf (B)
Konklusi : Jika kamu benar, saya minta maaf (B)

4. Silogisma Disjungtif
Premis 1 : p  q
Premis 2 : ~ q
Konklusi : p
Suatu argumen benar (sah) jika Implikasi dari Konjungsi Premis-
premis terhadap Konkulusi harus Tautologi (Selalu Benar)

Premis-1 Premis-2  Konklusi

Tautologi
Tabel Kebenaran Silogisma Disjungtif
Premis 1 : p  q
Premis-1 Premis-2  Konklusi
Premis 2 : ~ q
Konklusi : p

Tautologi
Jika kedua pernyataan p dan q dapat sekaligus bernilai benar, maka argumen di bawah ini
tidak valid.
Premis 1 : p ∨ q
Premis 2 : q
Konklusi : ~ p
Tetapi jika kedua pernyataan p dan q tidak sekaligus bernilai benar (disjungsi eksklusif), maka
sillogisma disjungtif di atas adalah valid.
Contoh :
1. Premis 1 : Pengalaman ini berbahaya atau membosankan (B)
Premis 2 : Pengalaman ini tidak berbahaya (B)
Konklusi : Pengalaman ini membosankan (B)

2. Premis 1 : Air ini panas atau dingin


Premis 2 : Air ini dingin (B)
(B)
Valid
Konklusi : Air ini tidak panas (B)

3. Premis 1 : Obyeknya berwarna merah atau sepatu Tidak


Premis 2 : Obyek ini berwarna merah Valid
Konklusi : Obyeknya bukan sepatu (tidak valid)
Konjungsi
Premis 1 : p
Premis 2 : q
Konklusi : p  q
Artinya : p benar, q benar. Maka p  q benar.
SKETSA DIAGRAM ARGUMEN MODUS PONEN
• Premis 1 : P  Q Jika P maka Q (benar)
• Premis 2 : P P (benar)
• Konklusi : Q Q (benar)

Adakah penjelasan yang mudah dimengerti ?


Kita pakai diagram Ven !
Implikasi dirubah menjadi Kuantifier
PQ dibaca: Jika P maka Q
Artinya: P terjadi pasti Q terjadi
Asal P pasti Q
P syarat cukup terjadinya Q
Asal terjadi P, Q pun terjadi
Setiap yang bersifat P pasti bersifat Q
Semua P adalah Q
Semua P ada di dalam Q   x, x
Contoh: Tunjukkan argumen berikut Valid
Premis-1: Jika seseorang sadar maka ia diampuni
Premis-2: Ali sadar
Konklusi: Ali diampuni
Premis-1: Jika seseorang sadar maka ia diampuni
Jika sadar maka diampuni (Dipersingkat)
Jika sadar pasti diampuni
Semua yang sadar diampuni (Pakai quantifier)

Premis-2: Ali sadar (benar)


Apa konsekuensi langsung
bagi Ali?
Jawab: Ia pasti diampuni
Atau
Konklusinya: Ali diampuni!
Ani juga diampuni, apakah berarti Ani sadar?
Jawab:
• Kita tahu Ani tidak berdiri pada wilayah
sadar, berarti ia tidak sadar!
• Tetapi Ani diampuni!
• Kita tidak tahu atribut lain dari Ani
dalam posisinya diampuni

ARGUMEN TIDAK VALID: ARGUMEN TIDAK VALID:


P1 Jika sadar maka diampuni
P2 Ani diampuni
K Ani sadar

Bukan Tautologi
Premis-1: Semua ikan berbafas dengan insang
Premis-2: Ikan paus bernafas dengan paru-paru
Konklusi: Ikan paus bukan ikan
Mana di antara argumen berikut yang sah?
• Premis 1 : Jika x=2 maka x2= 4
• Premis 2 : x = 2
• Konklusi : x2=4

• Premis 1 : Jika emosi maka cemas


• Premis 2 : Ali cemas
• Konklusi : Ali emosi

• Premis 1 : Jika sabar maka kuat


• Premis 2 : Ali orangnya lemah
• Konklusi : Ali orangnya tidak sabar
Mana di antara argumen berikut yang sah?
No.1
• Premis 1 : Semua manusia fana
• Premis 2 : Sokrates adalah manusia
• Konklusi : Sokrates fana
No.2
• Premis 1 : Jika sungguh-sungguh belajar akan lulus ujian
• Premis 2 : Ali tidak lulus ujian
• Konklusi : Ali tidak sungguh-sungguh belajar
No.3
• Premis 1 : Jika sadar maka diampuni
• Premis 2 : Ani diampuni
• Konklusi : Ani sadar
Mana di antara argumen berikut yang sah?
No. 4
• Premis 1 : P  Q
• Premis 2 : P
• Konklusi : Q
No. 5
• Premis 1 : P  Q
• Premis 2 : P
• Konklusi : Q
No. 6
• Premis 1 : P  Q
• Premis 2 : Q
• Konklusi : P
No. 7
• Premis 1 : P  Q
• Premis 2 : P
• Konklusi : Q
Mana di antara argumen berikut yang sah?
No. 8
• Premis 1 : P  Q
• Premis 2 : Q
• Konklusi : P
No. 9
• Premis 1 : P  Q
• Premis 2 : P
• Konklusi : Q
No. 10
• Premis 1 : P  Q
• Premis 2 : Q
• Konklusi : P
No. 11
• Premis 1 : P  Q
• Premis 2 : P
• Konklusi : Q
Skets Modus Tolen

Premis 1 : P  Q Semua P adalah Q


Premis 2 : Q Bukan Q
Konklusi : P Bukan P

Terlihat
Semua yang bukan Q (biru)
adalah bagian dari yang bukan P
(Coklat)
Jadi benarlah kesimpulannya P
SKETSA DIAGRAM MODUS SILOGISMA
Premis 1 : P  Q
Premis 2 : Q  R
Konklusi : P  R

P  Q …. Jika P maka Q
Jika terjadi P pasti terjadi Q
Asal P pasti Q
Semua P adalah Q

Q  R … Jika Q maka R Jika semua P adalah Q dan semua Q adalah


Jika terjadi Q pasti terjadi R R, maka pastilah semua P adalah R
Asal Q pasti R Konklusi: Jika P maka R (P  R)
Semua Q adalah R
Pembuktian Tidak Langsung
Pembuktian-pembuktian yang telah kita bicarakan di atas, merupakan pembuktian yang
langsung. Suatu argumen adalah valid secara logis jika premis-premisnya bernilai benar
dan konklusinya juga bernilai benar.

Berdasarkan pemikiran ini, jika premis-premis dalam suatu argumen yang valid membawa
ke konklusi yang bernilai salah, maka paling sedikit ada satu premis yang bernilai salah.
Cara pembuktian ini disebut pembuktian tidak langsung atau pembuktian dengan
kontradiksi atau reductio ad absurdum.

Contoh :
Premis 1 : Semua manusia tidak hidup kekal (Benar)
Premis 2 : Chairil Anwar adalah manusia (Benar)
Buktikan bahwa “Chairil Anwar tidak hidup kekal” (premis 3) dengan melakukan
pembuktian tidak langsung.
Bukti :
Kita misalkan bahwa : Chairil Anwar hidup kekal (premis 4) (dan kita anggap bernilai benar).
Maka berarti : Ada manusia hidup kekal (premis 5).
Tetapi premis 5 ini merupakan negasi dari premis 1. Yang sudah kita terima kebenarannya.
Oleh karena itu premis 5 ini pasti bernilai salah.
Karena premis 5 bernilai salah maka premis 4 juga bernilai salah. Sebab itu premis 3
bernilai benar.
Jadi terbukti bahwa “Chairil Anwar tidak hidup kekal”.

Ringkasannya, kita dapat membuktikan bahwa suatu pernyataan bernilai benar, dengan
menunjukkan bahwa negasi dari pernyataan itu salah. Ini dilakukan dengan
menurunkan konklusi yang salah dari argumen yang terdiri dari negasi pernyataan itu
dan pernyataan atau pernyataan-pernyataan lain yang telah diterima kebenarannya.