Anda di halaman 1dari 3

Bagaimanakah Menulis Daftar Pustaka yang Benar?

HL | 22 January 2011 | 08:42 Dibaca: 20927 Komentar: 24 7 dari 8 Kompasianer menilai bermanfaat

Menulis itu berbeda dengan mengarang. Menulis adalah kegiatan kebahasaan produktif yang merangkaikan beragam tulisan, baik bersumber dari tulisan orang lain maupun pemikiran penulis. Mengarang dapat didefinisikan sebagai kegiatan mengeluarkan pikiran imajinatif menjadi bentuk karangan. Berdasarkan definisi itu, tentu akan ditemukan perbedaan yang mencolok, bahwa menulis sering terinspirasi oleh tulisan sebelumnya. Jadi, penulis menjadikan tulisan orang lain sebagai sumber pengetahuan dasar untuk menulis bukunya. Buku baru yang ditulisnya dapat memperkuat buku sebelumnya, melengkapi, dan atau menolak. Maka dari itu, pada bagian akhir sebuah buku, penulis wajib mencantumkan daftar pustaka. Ini tidak dilakukan oleh pengarang. Apakah Anda pernah melihat daftar pustaka pada bagian akhir sebuah novel?
Berkenaan dengan itu,

Buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya.

penulis yang jujur harus menuliskan sumber bacaan yang pernah digunakan untuk penulisan bukunya. Penulis yang jujur harus mengakui bahwa tulisannya merupakan kompilasi beragam informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari membaca buku karya orang lain. Jadi, penulis yang jujur selalu berpedoman kepada kejujuran bersikap: setiap buku selalu saling menginspirasi. Oleh karena itu, penulis yang jujur perlu berterima kasih kepada penulis pandahulunya dengan menuliskan bukunya dalam daftar pustaka. Lalu, bagaimanakah menulis daftar pustaka yang benar?
Penulisan buku dapat bersumberkan dari beragam jenis tulisan. Oleh karena itu, teknik penulisan pun berbedabeda. Inspirasi penulisan buku dapat bersumber dari tulisan buku milik orang lain, penelitian, artikel (baik media cetak maupun elektronik/ internet). Karena sumbernya berbeda-beda, teknik penulisannya pun berbeda-beda. Penulisan Daftar Pustaka dari Buku Buku adalah sumber utama penulisan buku lainnya. Buku sering digunakan sebagai rujukan penulisan bagi penulis yang berbeda. Ini diperkenankan karena ilmu memang berkembang dan berubah-ubah. Ilmu berkembang untuk menuju penyempurnaan teori atau konsep. Jika sumber tulisan dari buku, penulisan daftar pustaka diurutkan sebagai berikut. Nama penulis[tanpa dibalik-titik] spasi tahun terbit[titik] spasi judul buku[cetak miring-titik] spasi kota penerbit[titik dua] nama penerbit. Contoh: Johan Wahyudi. 2010. Menjadi Cerpenis. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Jika seorang penulis menggunakan dua atau lebih buku dari penulis yang sama, daftar pustaka ditulis dengan mengurutkan tahun lama ke tahun yang lebih muda. Di bawah nama penulis diberi garis panjang tanpa putus sebanyak 10 spasi. Jika satu baris tidak mencukupi, baris berikutnya dibuat menggantung atau hanging. Contoh: Johan Wahyudi. 2009. Menjadi Cerpenis. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. ___________.. 2010. Terampil Menulis Surat. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Jika sebuah buku ditulis dua orang, keduanya ditulis lengkap. Contoh: Johan Wahyudi dan Ilham Ahmad Husaini. 2009. Panduan Menjadi Juara. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Jika sebuah buku ditulis tiga orang atau lebih, hanya penulis utama yang ditulis dengan diikuti dkk (dan kawankawan). Penulis utama adalah penulis yang letak namanya berada di kiri atau atas susunan penulis. Contoh: Johan Wahyudi, Ilham Ahmad Husaini, dan Muhammad Zuhdi Alghifari. 2009. Panduan Menjadi Juara. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. (salah). Johan Wahyudi, dkk. 2009. Panduan Menjadi Juara. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. (benar). Nama asing dibalik karena nama asing meletakkan nama diri di belakang nama keluarga atau nama marga. Contoh: Noam Chomsky. 1997. Introducing of Linguistic. British: Universal Oxford Press Ltd. (salah). Chomsky, Noam. 1997. Introducing of Linguistic. British: Universal Oxford Press Ltd. (benar). Penulisan Daftar Pustaka dari Penelitian Penulisan daftar pustaka yang bersumberkan hasil penelitian atau jurnal tidak mempunyai banyak perbedaan dengan penulisan daftar pustaka yang bersumber dari buku. Perbedaannya hanya meletakkan jenis penelitian dengan diapit tanda kurung. Contoh: Johan Wahyudi. 2009. Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyunting Karangan dengan Penerapan Metode Inkuiri (Tesis). Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Jika bersumber dari jurnal penelitian, daftar pustaka ditulis sebagai berikut. Johan Wahyudi. 2009. Meningkatkan Kemampuan Menulis Petunjuk dengan Pemanfaatan Lingkungan Sekolah. (Jurnal Bahasa dan Sastra Nomor 05 Volume 1 Tahun III). Samarinda: Balai Bahasa Kalimantan Timur. Penulisan Daftar Pustaka dari Artikel Kita sering membaca banyak artikel, baik di media cetak maupun internet. Dari artikel tersebut, kita sering terinspirasi untuk menjadikannya sebagai sumber penulisan buku. Seorang penulis buku harus bersikap jujur. Artinya, penulis buku harus menuliskan sumber tersebut ke dalam daftar pustakanya. Penulisan artikel ke dalam daftar pustaka menggunakan urutan sebagai berikut. Nama penulis[tanpa dibalik-titik] spasi tahun terbit[titik] spasi judul artikel [cetak miring-titik] spasi dalam [nama media cetak lengkap dengan tanggal, bulan dan tahunnya-titik]. Contoh:

Johan Wahyudi. 2010. Ayo Menulis Buku dalam Majalah Guruku Edisi Juni 2010. Jika bersumber dari internet, daftar pustaka ditulis dengan urutan sebagai berikut. Nama penulis[tanpa dibalik-titik] spasi tahun terbit[titik] spasi judul artikel [cetak miring-titik] spasi dalam [nama media cetak lengkap dengan tanggal, bulan, tahun, dan waktu mengunduhnya-titik]. Contoh: Johan Wahyudi. 2010. Jika Naskah Buku Penerbit dalamhttp://media.kompasiana.com/buku/2011/01/20/jika-naskah-buku-ditolakpenerbit/ diunduh pada Sabtu, 22 Januari 2011 jam 08.12. Ditolak

Begitulah pedoman penulisan daftar pustaka yang digunakan penerbit dan kampusku. Mungkin saja ditemukan perbedaan dalam pengurutan daftar pustaka. Ada juga penerbit atau lembaga yang membalik nama penulis. Menurutku, orang Indonesia meletakkan nama diri pada namanya. Itu teramat berbeda dengan orang asing yang meletakkan nama diri di belakang nama keluarga. Memang ada beberapa daerah yang mempunyai hokum kekerabatan dengan menuliskan marganya. Namun, nama marga ternyata ditulis di belakang nama diri. Jadi, itu tidak berpengaruh dalam penulisan daftar pustaka. Kita perlu menyepakati satu hal: menghormati dan menghargai penulis yang tulisannya digunakan orang lain. Penulis harus menghormati jika ingin dihormati. Dan itu harus dimiliki penulis buku sejati. Selamat pagi dan selamat berlibur. Semoga sekadar tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan. Amin. Terima kasih.

Anda mungkin juga menyukai