Anda di halaman 1dari 5

TERRORISME 2000

Terroris bukanlah masalah baru dalam perpolitikan internasional. Sejarah


mencatat bahwa penggunaan terror sebagai salah satu sarana untuk mencapai
kepentingan politik di suatu Negara atau kelompok kepentingan bahkan sudah ada
sejak 2000 tahun yang lalu. Pilihan penggunaan kekerasan dan terror tampak
menjadi pilihan oleh suatu kelompok yang disebut oleh Zealot (66-76SM) yang
menentang penjajahan Roma terhadap Yudea. Pada waktu itu Zealot menjadi
organisasi partai politik yang beroposisi dengan pemerintahan Herodes. Kaum
Zealot yang menuntut “kemurnian” agama dan menentang tindakan yang
dianggapnya asusila atau bersifat anti Yahudi ini sering berbaur dengan masyarakat
di pasar dan secara sembunyi-sembunyi melakukan penikaman terhadap orang
yang dianggap melakukan tindakan asusila. Berbagai aksi tersebut tak pelak telah
menimbulkan terror bagi masyarakat umum. Lantas apakah yang dimaksud terror
itu?

Terdapat beragam definisi terorisme, kata terorisme pertama kali digunakan di


Perancis untuk menggambarkan suatu system pemerintahan baru yang diadopsi
dari Revolusi Perancis (1789-1799). Sebutan Regime de la terreur
(pemerintahan/rezim terror) ditujukan untuk mempromosikan demokrasi dan aturan
rakyat melalui revolusi untuk mendongkel rezim yang berkuasa. Namun demikian
dampak dari kekerasan dan tekanan dari terreur telah ditransformasikan sebagai
alat Negara untuk menakut-nakuti. Sejak saat itu terorisme mempunyai kontasi
negative, naming demikian istilah ini tidak meluas sampai kemudian pada abad 19
istilah ini diadopsi oelh kelompok revolusioner Rusia untuk menggambarkan
kegigihan perjuangan mereka melawan Tsar. Sampai saat ini terorisme diasumsikan
sebagai terkait dengan anti pemerintahan.

Beragamnya pengertian terorisme antara lain dapat dilihat dari beberapa


definisi berikut :

1. Undang Undang Inggris Terrorist Act 2000


“ The use or threat of action… designed to influence the government or to
intimidate the public or a section of the public… for the purpose of
advancing a political, religious or ideological cause.”
2. Pemerintahan Amerika Serikat
“ Violent acts or acts dangerous to human life that… appear to be intended
(i) to intimidate or coerce a civilian population; (ii) to influence the policy of
a government by intimidation or coercion; (iii) to affect the conduct of a
government by assassination or kidnapping.”
3. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
“Terrorism is an anxiety inspiring method of repeated violent action,
employed by (semi) clandestine individual, group or state actors for
idiosyncratic, criminal or political reasons whereby –in contrast or
assassination –the direct targets of attacks are not the main targets. The
immediate human victims of violence are generally chosen randomly
(Target of opportunity) or selectively (representative or symbolic targets)
from a target population, and serve as message generators. Threat-and
violence-based communication processes between terrorist 9organization),
imperiled victims, and main target are used to menipulte the main target
(audience(s), turning it into a target of terror, a target of demands, a target
of intention, depending on wether intimidation, coercion, or propaganda is
primarily sought.
4. Oxford Advance Learner Dictionary
Penggunaan kekeraasan demi mencapai tujuan dalam bidang politik atau
dengan memaksa sebuah pemerintahan untuk melakukan sebuah tindakan
sesuai tuntutan tertentu melalui penciptaan rasa ketakutan di antara
sejumlah orang.
5. Bruce Hoffman
Terorisme senantiasa bermotif dengan tujuan politik; melalui cara kekerasan
atau yang sejenis; menciptakan efek ketakutan psikologis melalui sasaran
target yang dijadikan korban; dibawah komando sebuah organisasi yang
memiliki mata ranati melalui jaringan komando atau melalui struktur-
struktur sel, namun anggotanya tidak memakai lencana ataupun lencana
indentitas; dan dilakukan oleh kelompok-kelompok sub nasional atau non
state.
6. Walter Laqueur
Sebagai aplikasi dari tindakan-tindakan kekerasan ataupun ancaman
kekerasan dengan menciptakan kepanikan di sebuah masyarakat, tindakan
untuk memperlemah ataupun bertujua untuk menggulingkan sebuah
pemerintahan dan membawa perubahan politik.

Kata kunci dari Terorisme adalah : Kekerasan, Tujuan menghalalkan segala


cara, Gerakan yang terselubung, Militansi dan Fanatisme.
Kekerasan sebagai bagian yang penting dibutuhkan dalam aksi politik atau
dengan kata lain, pesan politik digunakan melalui efek kekerasan. Efek kekerasan
yang ditimbulkan, diharapkan dapat memantulkan pesan politik, sehingga semakin
dramatis kekerasan yang terjadi maka semakin efektif perhatian dunia yang
direbut. Atmosfer yang direbut adalah atmosfer ketakutan dan penghancuran.
Tujuan aksi terror dapat bertujuan ideologis, agama maupun politis dari
kelompok tertindas. Pengorbanan nyawa manusia akan dilakukan sepanjang dapat
memenuhi tujuannya, bahkan dengan tindakan barbar dan penggunaan senjata.
Adapula gerakan teroris dilakukan secara terselebung dengan alas an bahwa
kaum teroris tidak mempercayai mekanisme politik konvensional yang seba
terbuka, sehingga semakin terselubung maka akan semakin berhasil aksi terornya.
Sifat militansi dan fanatisme yang tinggi membangkitkan semangat; meski
dengan taruhan nyawa sekalipun untuk mulianya sebuah tujuan. Dengan atas nama
agama inilah yang membuat pelaku terorisme sering berani melakukan tindakan
‘kamikaze’ dengan keyakinan akan mendapat imbalan surga.
Tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh aksi Terorisme adalah :
1. Penghancuran terhadap rezim dan sitem politik yang dijadikan sasaran
target dan sekaligus memperlemah kekuasan yang ada.
2. Apa yang mereka lakukan diharpkan dapat menimbulkan efek publisitas
yang luas untuk dapat dilihat public nasional maupun internasional.
3. Berupaya meminggirkan pemikiran negative terhadap klaim mereka dengan
cara memperlemah perlawanan kekuatan public melalui tindakan intimidasi
dan memaksa untuk mau menerima kasusnya.
4. Memberikan dukungan kepada masyarakat yang secara politik tersisih.

Cara yang dilakukan teroris :


1. Cyberterrorism : tindakan terror yang dilakukan dengan cara menggunakan
teknologi yang terkait dengan computer.
2. Bioterrorism : bentuk terorisme yang menggunakan senjata biologis
sebagai medianya. Misalnya penggunaan bakteri Anthrax.
3. Ekoterrorism : sabotase dengan mengatasnamakan penyelamatan
lingkungan dan mahkluk hidup melalui aksi-aksi pembakaran, pengeboman,
sabotase.
4. The “Bin Laden Type”, yakni model aksi terror baru yang disponsori oleh
individu yang mempunyai dana melimpah dengan bisnis yang legal,
penganut agama yang fanatic dan penganut aliran politik yang ekstrim,
namun tidak melibatkan diri secara langsung dalam tindakan terror.

Meskipun fenomena terorisme sebagai salah satu cara untuk mencapai


kepentingan politik bukanlah fenomena baru dalam perpolitikan internasional,
namun aksi terorisme era sekarang terdapat kecenderungan perbedaan dengan
aksi terorisme beberapa decade lalu. Akhir-akhir ini (tahun 2000-an) terdapat
kecenderungan jika terorisme termasuk dalam kejahatan transnasional
(transnational organized crime) dengan pelaku yang mempunyai jaringan lintas
batas Negara. Akibatnya penanganannya juga tidak bisa dilakukan oleh satu Negara
saja, namun perlu kerjasama dengan Negara lain untuk mengatasinya.

Target dalam aksi Terorisme,

1. Objective Driven Act


Jika aksi terorisme ditujukan agar pemerintah yang menjadi target teroris
memenuhi keinginan/permintaan mereka. Cara yang biasanya digunakan
untuk target ini adalah penculikan dan penyanderaan.
2. Terror Driven Act
Jika tindakan berupa tindakan balas dendam atau sebagai peringatan attau
ancaman kekerasan yang akan terjadi jika pemerintah tidak mengubah
kebijakannya. Metode yang biasanya dipilih adalah pengeboman.

Pemilihan sasaran target juga tergantung pada tujuan teroris. Sasaran bisa
merupakan pilihan ‘symbol’ Negara yang menjadi tujuan teroris; dan karena teroris
juga mengedepankan efek publisitas, maka pilihan sasaran cenderung semakin
dramatis dan menelan banyak korban.
Pilihan target seperti mall, pasar, tempat ibadah atau sarana public lainnya
biasanya dipilih secara random (acak), yaitu jika teroris berupaya ‘hanya member
peringatan’ kepada pemerintah yang dituju tentang kemungkinan serangan yang
akan mereka lakukan. Dengan pilihan ini maka korban seringkali adalah orang
awam yang bahkan sama sekali tidak tahu dengan masalah politik.
Dengan eratnya korelasi aksi terorisme dengan kekerasan, maka dapat
dikatakan bahwa terorisme merupakan propaganda melalui tindakan kekerasan.
Sejarah mencatat bahwa banyak pilihan kekerasan yang digunakan oleh kaum
miskin dalam bentuk kekerasan kolektif dan kerusuhan baik pada masyarakat
perkotaan maupun masyarakat petani. Tidak adanya komunikasi yang efektif
dengan pihak penguasa (pemerintah) untuk menyalurkan ketidakpuasan mereka,
membuat kelompok ini sering menggunakan kekerasan (dan terror) untuk memaksa
pemerintah melakukan perubahan kebijakan.