Anda di halaman 1dari 12

Pra Konferensi Annapolis

27 November 2007, Amerika Serikat (AS) telah menjadi tuan rumah suatu
Konferensi Timur Tengah. Konferensi ini digelar di Akademi Angkatan Laut AS di
Annapolis, Maryland. Konferensi ini membahas proses perdamaian antara Palestina
dan Israel. Pihak Palestina yang diwakili oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas,
pihak Israel diwakili oleh Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, dan sebagai
penengah konferensi Annapolis dari pihak AS diwakili oleh Presiden AS George W.
Bush.

AS telah mengundang lebih dari 40 negara termasuk negara-negara yang tidak


memiliki hubungan diplomatik dengan Israel seperti Suriah dan Arab Saudi bahkan
Indonesia. Konferensi itu diharapkan akan menghasilkan poin-poin negoisasi yang
akan mengarah pada pembentukan negara Palestina dan Israel serta realisasi
perdamaian antara Israel-Palestina. Konferensi ini akan dipimpin langsung oleh
Presiden AS Geroge W. Bush.

Sebelum pertemuan dilakukan, Juru runding Israel dan Palestina melanjutkan


persiapan konferensi perdamaian Timur Tengah di kota Annapolis, AS. Mereka telah
bertemu di Washington bersama Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice, untuk
mencoba dan menetapkan ketentuan dasar untuk perundingan mendatang.
Condoleezza Rice, Menlu Israel Tzipi Livni dan mantan Perdana Menteri Palestina
Ahmed Qurei berencana untuk menyepakati dokumen bersama untuk pertemuan
Annapolis.1

Setelah pertemuan masing-masing juru runding, kesibukan dilanjutkan dengan


Presiden George Bush akan melangsungkan pembicaraan bilateral dengan Presiden
Palestina Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert di Washington
pada tanggal 26 November secara terpisah.2

Adanya keterlibatan Arab Saudi untuk mendukung konferensi tersebut untuk


dapat membujuk Presiden Palestina, Mahmud Abbas, agar mau berkompromi dan

1
“Diplomasi Gencar pra-konferensi Timteng” http://www.bbc.co.uk/ diakses pada tanggal 19
Desember 2008.
2
Pertemuan Bilateral sebagai masa transisi untuk proses selanjutnya. “Konferensi Annapolis :
Konferensi Timur Tengah yang Sia-Sia”, http://www.syabab.com/ diakses pada tanggal 17
Desember 2008.

1
membujuk Olmert untuk menyetujui kesepakatan yang akan membuka perdamaian
yang lebih luas dengan Arab.

Dalam kaitannya keterlibatan Arab Saudi sebagai pendukung konferensi


Annapolis, sebagai anggota Liga Arab, Arab Saudi diharapkan dapat menambahkan
satu agenda tentang proses pengembalian kembali dataran tinggi Golan yang
dikuasai oleh Israel kepada Suriah. Suriah akan berpartisipasi dalam konferensi
Annapolis jika pengembalian dataran tinggi Golan masuk dalam agenda konferensi.

Mesir dan Arab Saudi sebagai mitra AS di Timur Tengah melobi AS secara intensif
agar konferensi damai Annapolis bersifat komprehensif dan Dataran Tinggi Golan
harus masuk dalam agenda konferensi. Negara-negara Arab menyampaikan kepada
AS bahwa hanya dengan menggelar konferensi damai komprehensif dengan
melibatkan Suriah dan Lebanon bisa diminimalkan opini dunia Arab yang cukup kuat
menentang Konferensi Annapolis tersebut.

Atas tekanan negara-negara Arab, AS akhirnya memenuhi tuntutan Suriah


dengan memasukkan isu Dataran Tinggi Golan dalam agenda konferensi. Bahkan,
Rusia menjadwalkan akan menggelar konferensi damai serupa Konferensi Annapolis
dengan memberi prioritas pada isu Dataran Tinggi Golan dan hubungan Israel-
Suriah.

Suriah akhirnya memang memutuskan berpartisipasi dalam Konferensi Annapolis


itu setelah tuntutannya dipenuhi. Namun, Suriah hanya mengirimkan Wakil Menteri
Luar Negeri Faisal Miqdad (bukan tingkat menteri luar negeri) untuk memimpin
delegasi negara itu.

Bagi Suriah, jalan menuju Konferensi Annapolis tentu tidak mudah. Suriah
berbeda dari negara-negara Arab lain. Di satu pihak, Suriah berada dalam satu kubu
dengan Iran yang berjuang melawan hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah. Di
pihak lain, diplomasi klasik Suriah senantiasa menempatkan isu pembebasan
Dataran Tinggi Golan pada tempat tertinggi.

Bagi Suriah, konferensi damai Annapolis, meskipun tidak ada jaminan, bisa
dijadikan pintu harapan menuju pengembalian Dataran Tinggi Golan.

Selain itu, yang tak kalah penting dalam jangka pendek dan menengah, Suriah
melihat Konferensi Annapolis bisa dijadikan sebagai ajang mencapai transaksi
politik dengan AS soal isu-isu regional, seperti isu Lebanon, Palestina, dan Irak.

2
Di samping itu pula, melalui Konferensi Annapolis, hubungan Suriah bisa lebih
dekat dengan negara-negara Arab yang dikenal sebagai mitra AS, seperti Mesir,
Arab Saudi, dan Jordania.

Misi Suriah tentu ingin mengakomodasi kepentingan dua kubu yang


bertentangan itu dalam satu waktu, yakni Suriah berangkat ke Annapolis, tetapi
tidak merusak hubungan strategisnya dengan Iran. Sejak awal, Suriah sudah
bermanuver untuk mengakomodasi dua kepentingan itu.3

Agenda konferensi Annapolis mencakup enam masalah pokok yaitu Negara


Kedaulatan Palestina, status final Kota Jerusalem sebagai ibukota Palestina,
perbatasan, pengungsi Palestina, permukiman Yahudi, keamanan, dan pembagian
sumber air.4

Kesepakatan penting dalam konferensi Annapolis, kedua pihak sepakat untuk


menciptakan mekanisme monitoring pengimplementasian Peta Jalan, yang isinya
proposal pendirian Negara Palestina merdeka yang berdampingan dengan ‘damai’
bersama Israel. Konferensi juga menyepakati pengguliran proses negosiasi langsung
antara Israel dan Palestina setiap dua minggu sekali dengan AS akan bertindak
sebagai penengah.

Pasca Konferensi Annapolis


Dalam perjalanannya, banyak kalangan dan para analisis politik berpandangan
skeptis yang menganggap konferensi Annapolis sia-sia atau mengalami
ketidakberhasilan. Ketidakberhasilan tersebut mempunyai beberapa faktor
pendukung. Pertama, Ketiga negosiator dalam konferensi tersebut pemerintahannya
dalam masa lemah. Di pihak Palestina persaingan kekuasaan antara kelompok Fatah
dari Mahmoud Abbas dan kelompok Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza semakin
meruncing, dimana kekuasaan serta posisi Abbas sebagai juru penengah semakin
dipertanyakan.

Ketidakmampuan Abbas dalam menyatukan rakyat Palestina untuk terintegrasi


menjadi satu menjadi penghalang Abbas dalam mencapai keinginan perdamaian

3
“Pasca Konferensi Annapolis Kaki Suriah Berpijak di Dua Kubu” http://www2.kompas.com/
diakses pada tanggal 19 Desember 2008.
4
”Palestina Minta RI Berperan Dalam Konferensi Annapolis” http://www.antara.co.id/ diakses
pada tanggal 19 Desember 2008.

3
dengan Israel. Kelompok Hamas dan Jihad Islami yang lebih frontal dan agresif atas
perlawanan terhadap kaum Zionis Israel.

Di sisi lain, Ismail Haniya pemimpin Hamas menandatangani sebuah dokumen di


parlemen Palestina yang menyatakan Abbas tidak berhak untuk mengajukan
konsesi dalam kesepakatan damai apapun. Perpecahan rakyat internal Palestina
sendiri disertai konflik senjata perebutan wilayah kekuasaan menjadi pendorong
sulitnya pencapaian kesepakatan internal rakyat Palestina.

Lain halnya dengan permasalahan dari Perdana Menteri Israel Ehud Olmert,
adalah banyaknya pemimpin partai dan tokoh-tokoh Israel yang mengajukan opsi
tidak percaya terhadap Olmert dan kelemahan koalisi Olmert di Parlemen Israel.
Kehadiran Olmert di konferensi Annapolis memunculkan indikasi bahwa Olmert
hanya mengikuti tekanan AS. Maka kehadiran Olmert tersebut di konferensi
Annapolis di tengah pesimis lebih bernilai sebagai basa-basi untuk mendapat
simpatik Bush. Di samping itu, Olmert juga masih menginginkan mendapat
dukungan Negara-negara Arab terkait dengan isu nuklir Iran. Jadi, sejak awal,
Olmert sudah pesimis tentang isu perdamaian dengan Palestina.

Banyaknya desakan tokoh dan pemimpin partai Israel yang semakin menguat
kepada Olmert untuk tidak mengalah terhadap tuntutan Palestina. Bahkan, intelijen
Israel yang menyampaikan warning kepada Olmert dari sikap membuang klaim
Israel yang ingin menjadikan Yerussalem sebagai ibukota Palestina, atau bahkan
sekedar mengakui Palestina menguasai sisi Timur Yerussalem termasuk wilayah
Tembok Ratapan.

Olmert hanya akan berupaya mencari kesepahaman tentang isu-isu mendasar


yang menjadi akar konflik Israel-Palestina.

Situasi tidak kondusif juga terlihat di AS sebagai pihak penengah dan pembentuk
ide konferensi Timur Tengah di Annapolis. Situasi di AS menghadapi satu tahun
masa berakhirnya pemerintahan Bush. Sikap pemerintah AS yang bersemangat
untuk menyelenggarakan konferensi Annapolis, tentu ada kaitannya terhadap peta
politik AS di Timur Tengah. Jika konferensi Annapolis mengalami keberhasilan, boleh
jadi merupakan upaya AS untuk melancarkan kepentingan AS di Timur Tengah.
Adapula suatu pandangan terhadap sikap AS tersebut dalam kaitanya jadwal pemilu
AS yang semakin dekat. Sehingga isu perdamaian Timur Tengah bisa menjadi

4
kepentingan politik Bush. Peran AS dalam konflik Timur Tengah, dianggap bisa
sedikit mendongkrak pamor Bush yang hancur akibat kebijakannya di Irak.

Dengan demikian, baik Israel maupun Palestina, dan juga negara-negara Arab
sebenarnya sudah skeptis memandang konferensi ini. Apalagi dalam sejarahnya,
Israel tak pernah mau tunduk pada hasil perundingan, kecuali dengan sesuatu yang
jelas menguntungkan mereka saja. Dan kuat dugaan, krisis Palestina pun akan terus
berlanjut. Sebagaimana pernyataan yang berulangkali dinyatakan oleh para tokoh
Palestina, bahwa Israel memang tidak memahami kecuali bahasa kekerasan dan
senjata.

Banyaknya indikator untuk menilai ketidakkeberhasilan konferensi Annapolis.


Awal pasca konferensi Annapolis memang terjadinya gencatan senjata antara
pejuang Hamas dan tentara Israel, terutama di jalur Gaza selama beberapa bulan.
Tetapi disaat Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Israel Ehud
Olmert berunding, pembangunan pemukiman Yahudi di Al-Quds Timur justru
ditingkatkan oleh pemerintah Israel.

Adapun pasca konferensi Annapolis, pertengahan tahun 2008 keadaan di Israel


dan Palestina konflik mulai bergejolak, terutama di daerah Gaza yang merupakan
basis dari kelompok Hamas. Pemberlakuan blokade ekonomi5 oleh Israel di Gaza
membuat banyak warga Gaza menderita kelaparan, kekurangan obat dan
kekurangan sumber-sumber kehidupan, misal listrik padam, pembatasan bantuan
makanan dari masyarakat internasional dan macetnya distribusi bahan bakar.

Pemberlakuan blokade ekonomi oleh Israel di Jalur Gaza, dilakukan sejak


kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza bulan Juni tahun 2007. Israel bahkan
memperketat blokade itu sejak meletusnya aksi kekerasan di perbatasan Jalur Gaza.
Pasukan keamanan Israel melarang kapal-kapal yang membawa bantuan
kemanusiaan untuk membongkar muatannya ke Jalur Gaza.6

5
Blokade adalah usaha untuk mencegah persediaan logistik, pasukan, informasi dan bantuan
untuk mencapai daerah pasukan musuh. Blokade adalah salah satu hal yang hampir ada di
semua kampanye militer dan alat pilihan untuk peperangan ekonomi melawan negara
musuh.
6
“Israel Cegah Bantuan Kemanusiaan Ke Gaza”, http://www.kompas.com/ diakses pada
tanggal 19 Desember 2008.

5
Pemberlakuan blockade ekonomi oleh militer Israel sudah berjalan kurang lebih 1
tahun. Pemberlakuan blockade ekonomi yang diwarnai oleh aksi kekerasan ataupun
perlawanan dari kelompok hamas. Selain aksi kekerasan, di Jalur Gaza juga diwarnai
dengan aksi gencatan senjata antara militer Israel dengan kelompok Hamas.

Kesepakatan gencatan senjata disepakati akhir tahun 2007 dan diakhir dengan
serangan yang dilakukan oleh tentara Israel di jalur Gaza pada bulan Maret 2008.
Serangan Israel tersebut mendapat seruan dari berbagai masyarakat internasional.
Serangan brutal yang dilakukkan oleh Israel, untuk membalas serangan roket oleh
milisi hamas. Penggempuran Jalur Gaza melalui darat dan dukungan dari angkatan
udara Israel menjadikan perlawanan yang tidak seimbang. Korban yang berjatuhan
dari pihak Palestina lebih banyak dari masyarakat sipil terutama wanita, anak-anak
dan orang lanjut usia.

Tanggapan masyarakat internasional atas serangan balasan yang dilakukan


militer Israel, antara lain:

Presiden Palestina, Mahmud Abbas mengatakan sangat disesali bahwa yang


terjadi lebih dari holocaust. Kepada dunia kami persilakan untuk melihat dengan
mata kepala sendiri apa yang terjadi dan menilai siapakah yang melakukan
terorisme internasional. Disesali bahwa Israel memakai kata ini (shoah-red), yang
dilarang selama lebih dari 60 tahun, `holocaust` dan kami menuntut agar dunia
segera menanggapinya. Ia meminta "perlindungan internasional bagi rakyat
Palestina". Tak masuk akal bahwa reaksi Israel terhadap serangan roket asal
Palestina -- yang kami kutuk -- bisa begitu mengerikan dan menakutkan. Serangan
itu ditujukan kepada "wanita, anak-anak, dan orang lanjut usia yang tidak berdosa.7

DK PBB membuat pernyataan bahwa mendesak Israel dan milisi Palestina


menggelar gencatan senjata di Gaza. Anggota Dewan Keamanan sangat prihatin
dengan hilangnya hidup warga sipil di selatan Israel dan Gaza, dan mengutuk
meningkatnya kekerasan. Kejadian ini menggarisbawahi perlunya semua pihak
untuk segera menghentikan aksi kekerasan.8

7
http://www.antara.co.id/arc/2008/3/2/abbas-kutuk-aksi-israel-di-gaza-sebagai-holocaust/
diakses pada tanggal 20 Desember 2008.
8
http://international.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/03/02/18/88276/18/ diakses
pada tanggal 20 Desember 2008.

6
Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon mengutuk Israel sebagai "berlebihan dan
tidak sepadan" ("excessive and disproportionate") dalam mengerahkan kekuatan di
Jalur Gaza. Walau mengakui hak Israel untuk mempertahankan diri sendiri, ia
mengutuk penggunaan kekuatan yang berlebihan yang menyebabkan kematian
cederanya begitu banyak penduduk sipil, termasuk anak-anak.9

Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, mengatakan Israel "tidak gembira" atas
jatuhnya korban sipil, namun dia menyalahkan Hamas yang menembakkan roket
dan Hamas "akan menerima ganjaran".10

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad memprediksikan bahwa Israel akan


"tumbang" dan para pemimpinnya akan diadili ketika ia mengutuk serangan
mematikan Israel di Jalur Gaza. Ia telah mengatakan tahun lalu bahwa Holocaus
yang sebenarnya adalah di Palestina. Untuk setiap anak yang dibunuh (di wilayah
Palestina), kasus judisial akan dibentuk untuk menemukan orang di baliknya.
Mereka akan tahu mereka akan diadili, satu per satu. Negara Yahudi itu sedang
menghadapi konfrontasi yang membayang. Gaza adalah awal, masalah yang
sebenarnya di tempat lain. Mereka akan tahu bahwa keduanya pada pembukaannya
dan dalam kenyataannya mereka akan menghadapi kekalahan dan sekarang ini
mereka akan tumbang.11

Juru bicara Abbas, Nabil Abu Rudeina, mengatakan ini merupakan kesalahan
Israel karena itu pembicaraan sekarang akan dihentikan. Demikian juga kontak di
semua level, karena adanya agresi Israel ini, komunikasi tidak berarti lagi.12

Juru bicara Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni, Arye Mekel, mengatakan
keputusan Palestina adalah sebuah kesalahan, dan berharap pembicaraan akan
dilanjutkan lagi dalam waktu dekat.13
9
http://www.antara.co.id/arc/2008/3/2/sekjen-pbb-nyatakan-tindakan-israel-di-gaza-
berlebihan/ diakses pada tanggal 20 Desember 2008.
10
http://www.antara.co.id/arc/2008/3/2/sekjen-pbb-nyatakan-tindakan-israel-di-gaza-
berlebihan/ diakses pada tanggal 20 Desember 2008.
11
http://www.antara.co.id/arc/2008/3/2/ahmadinejad-israel-akan-tumbang-pemimpinnya-
akan-diadili diakses pada tanggal 20 Desmber 2008.
12
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/03/080302_israelolmert.shtml diakses
pada tanggal 20 Desember 2008.
13
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/03/080302_israelolmert.shtml diakses
pada tanggal 20 Desmber 2008.

7
Penggunaan bom tandan atau bom cluster14 oleh militer Israel pada saat
serangan maret 2008 silam banyak mengakibatkan jatuhnya korban sipil dari
Palestina. Karena itu, tanggal 29 Mei 2008 diadakan persetujuan larangan produksi
dan penggunaan bom tandan yang akhirnya ditandatangani oleh 111 negara, dalam
sebuah konferensi di Dublin, ibu kota Irlandia. Tetapi dalam konfereni tersebut
Rezim Zionis Israel sebagai produsen bom tandan menolak menandatangani
kesepakatan tersebut.

Setelah serangan Maret 2008 diberlakukannya kesepakatan gencatan senjata


antara pejuang Hamas dan tentara keamanan Israel pada bulan juni lalu.
Kesepakatan gencatan senjata tersebut diperantarai oleh Mesir. Gencatan senjata
habis masa berlakunya pada desember tahun ini. Masing-masing kedua belah pihak
memperkirakan keuntungan jika adanya kesepakatan gencatan senjata
diperbaharui.

Setelah bulan November 2008, satu bulan sebelum kesepakatan gencatan


senjata antara Hamas dan Israel habis masa berlakunya, tank-tank Israel mulai
masuk kembali ke perbatasan Jalur Gaza. Kedatangan tank-tank itu meningkatkan
aksi kekerasan di perbatasan Jalur Gaza. Milisi-milisi Hamas melakukan perlawan
dengan cara menembakkan peluru Mortir dan Roket ke arah perbatasan Jalur
Gaza.15

Israel tak akan tolerir serangan roket oleh milisi Hamas ke pemukimam Yahudi di
perbatasan Gaza. Sehingga Militer Israel kembali melakukkan operasi militer di Jalur
Gaza. Operasi yang dilancarkan militer Israel menewaskan sedikitnya 10 militan
Hamas di Gaza. Rangkaian serangan udara militer Israel juga menambah jumlah
korban dari militan hamas.

Hasil Akhir Konferensi Annapolis dan Perkembangan Situasi Terakhir

Kesepakatan akhir dari konferensi Annapolis untuk menciptakan Negara


Palestina yang berdaulat berdampingan dengan Negara Israel yang berdaulat

14
Bom tandan atau bom cluster adalah bom yang mengeluarkan ratusan bom kecil seukuran
bola tenis, yang dikenal dengan sebutan "bomblets".
15
“Tank-Tank Israel Terobos Gaza”, http://www.kompas.com/ diakses pada tanggal 20
Desember 2008.

8
secara damai. Tetapi dengan perkembangan situasi konflik Palestina dan Israel yang
masih rentan, proses perdamaian kedua masih jauh dari proses perwujudan
perdamaian.

Apalagi Israel tetap bertahan dengan kebijakan politiknya yang serba tolak
(rejectionism) terhadap Palestina. Secara tegas Israel menolak pembekuan
pembentukkan pemukiman Yahudi, menolak pembicaraan masa depan tentang
Yerussalem yang telah diduduki pada perang 1967. Dengan demikian, Israel secara
langsung menghambat proses pembentukan Negara Palestina yang berdaulat,
Yerussalem sebagai ibukota Palestina.

Pembangunan pagar pemisah Tepi Barat oleh Israel semakin memperburuk


keadaan. Pemerintah Israel sengaja membangun pagar pemisah Tepi Barat berupa
dinding baja dan besi yang direncanakan sepanjang 450mil16 dan diberi pagar dan
kawat berduri, dengan tujuan untuk menjaga keamanan perbatasan antara
pemukiman Yahudi dengan Palestina. Sebagian besar pembangunan pagar pemisah
tersebut lebih banyak dikonsentrasikan ke wilayah Tepi Barat. Tetapi bagi penduduk
Palestina pemagaran dianggap sebagai perebutan wilayah yang akan merongrong
Negara masa depan mereka yang dijanjikan.

Perkembangan situasi Pemerintahan Israel setelah munculnya opsi tidak percaya


kepada PM Ehud Olmert atas dugaan korupsi adalah penggantian PM Ehud Olmert.
Pemilu di Israel dengan kandidat Perdana Menteri adalah Tzipi Livni Menteri Luar
Negeri Israel dengan Menteri Perhubungan Shaul Mofaz. Kemenangan tipis Livni
atas Mofaz mengantarkan Livni akan menjadi PM Israel pengganti PM Ehud Olmert
tahun depan.

Terpilihnya Livni sebagai PM Israel, tidak membawa perubahan yang berarti


tentang kebijakannya di Palestina. Livni dalam pidatonya jika terpilih menjadi PM
Israel yang baru akan berusaha menggulingkan Hamas. Hal ini menjadikan semakin
panasnya isu yang berkembang di Timur Tengah.17

Hal berlawanan dengan kebijakan PM Israel baru Tzipi Livni, salah satu pemimpin
garis keras Hamas Mahmud Zahar berpendapat akan menegosiasikan kesepakatan
16
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/amnesty-international-israel-harus-hentikan-
pembangunan-tembok-pemisah-di-tepi-barat.htm diakses pada tanggal 20 Desember 2008.
17
http://international.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/12/23/18/176292/ancaman-
untuk-hamas-bukti-ketidakseriusan-israel diakses pada tanggal 21 Desember 2008.

9
gencatan senjata dengan pemerintahan Israel bentukan Tzipi Livni. Zahar akan
menegosiasikan hal tersebut dengan beberapa syarat utama dengan ancaman.
Hamas sepakat menghentikan serangan roket dan mortirnya jika pemerintah Israel
tersebut menghentikan aksi blockade ekonomi dan menghentikan aksi militer ke
daerah Gaza. Hamas juga akan mengancam melakukkan aksi bom bunuh diri di
Israel jika Israel terus menebar ancaman dan menginvasi daerah tersebut.
Ketegangan ini semakin memanas sejak pemberlakuan gencatan senjata 6 bulan
berakhir pada 19 Desember 2008 lalu.18

Berita pada bulan desember akhir, 28 Desember 2008, serangan yang dilakukan
oleh militer Israel dengan pesawat tempurnya F-16 memakan korban sekitar 228
orang dan 750 lainya luka berat di Jalur Gaza. Serangan udara yang brutal dilakukan
oleh Israel dianggap oleh sebagian besar masyarakat internasional merupakan
serangan balasan terhadap roket Hamas yang berlebihan.19

Solusi Untuk Masa Depan Palestina dan Israel

Solusi dari Konferensi Annapolis adalah pembentukan two-state solution dengan


adanya Negara Palestina yang berdaulat penuh berdampingan dengan Negara
Israel secara damai. Secara teori hal ini dapat diwujudkan dengan beberapa syarat.
Palestina mengharapkan kembali tanah-tanah yang telah dirampas Israel dalam
perang 1967, Yerussalem sebagai ibukota Palestina serta mendapatkan kembali
hak-hak hidup sebelum perang dengan rezim zionis Israel.

Dan dalam prakteknya atau dalam kenyataannya kebijakan rejectionism dari


pemerintah Israel yang tidak akan tunduk dengan syarat-syarat yang dikeluarkan
oleh Palestina, maka proses perdamaian sulit untuk dicapai. Apalagi pemerintah
Israel tidak akan pernah menghentikan program pembangunan pemukiman Yahudi
di berbagai wilayah. Hal ini merupakan taktik dan strategi pemerintah Israel untuk
mendapatkan lebih banyak tanah rampasan, yang secara halus mengusir warga-
warga Palestina. Contoh kasusnya dapat dilihat kasus perampasan tanah Al-Quds
oleh rezim zionis Israel. Aksi kekerasan militer Israel dengan dalih aksi pembalasan

18
http://www.tempointeraktif.com/hg/timteng/2008/12/23/brk,20081223-152319,id.html
diakses pada tanggal 21 Desember 2008.
19
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/28/13083392/indonesia.kutuk.serangan.israel.di
.gaza diakses pada tanggal 29 Desember 2008.

10
roket-roket yang diluncurkan Hamas ke perbatasan Jalur Gaza secara berlebihan
sehingga menimbulkan jatuhnya korban sipil dari Palestina dalam jumlah besar.

Solusi proses perdamaian juga tidak bisa terlepas dengan peran Dewan
Keamanan (DK) PBB, Hak Veto yang dimiliki oleh Amerika Serikat dapat
menghalangi proses pembentukkan Negara Palestina yang berdaulat. Kelompok
Hamas yang telah dimasukkan sebagai daftar hitam sebagai teroris oleh
pemerintah AS. Sehingga sangat jelas AS tidak akan bisa mengakui keberadaan
Negara Palestina selama Hamas masih melakukan aksi terror dan tidak bersedia
bersatu dengan kelompok Fatah pimpinan Presiden Palestina sekarang Mahmoud
Abbas. AS akan menggunakan Hak Vetonya selama itu diperlukan dalam
mempertahankan peta politiknya di Timur Tengah.

Tentu solusi dua negara bukanlah solusi atas persoalan tanah Palestina. Solusi
dari beberapa kaum Muslim yang secara naluri membela Palestina. Pasalnya, Israel
berdiri di atas tanah rampasan. Pengakuan dunia muslim terhadap negara Israel
akan menunjukkan kelemahan dan kebodohan dunia Muslim. Konferensi Annapolis
hanyalah konferensi sia-sia yang tidak berarti sama sekali bagi kaum Muslim
terutama di Palestina yang menginginkan pembebasan dari penjajahan Yahudi
Israel.

Penulis berpendapat bahwa ide pendirian Negara Palestina hanya bisa


diwujudkan bila invasi militer Israel dan okupasi dihentikan, dan secara adil
ditetapkan wilayah masing-masing Negara secara adil. Pembagian secara adil dapat
dilakukan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak secara mediasi atau mandate
dari DK PBB bila kesepakatan tidak mencapai titik kesepakatan. Penghancuran
tembok/pagar pemisah yang dibangun oleh Israel di Tepi Barat harus dirobohkan.
Pembangunan pagar pemisah yang tidak sesuai dengan ketentuan pembagian
tanah, jelas merugikan pihak Palestina. Israel menanggapi hal ini dengan cara
pembangunan pemukimam warga Yahudi di perbatasan pagar pemisah untuk
memperoleh hak milik tanah tersebut. Pembangunan pagar pemisah yang hampir
setinggi gedung 3 lantai membuat sebagian warga di Tepi Barat kehilangan mata
pencaharian.

Penghentian blockade ekonomi di Jalur Gaza oleh pemerintah Israel, hal ini untuk
memperbaiki system pengairan, perbaikan arus barang dan jasa untuk
kemanusiaan dan kesediaan pemerintah Israel untuk mengembalikan tanah-tanah
11
hak warga Palestina yang dicaplok Israel. Kesepakatan gencatan senjata antara
militer Israel dengan Hamas dan penyatuan warga Palestina yang terpecah menjadi
dua bagian, Fatah dan Hamas.

Serangan Israel pada bulan Desember 2008 di Jalur Gaza, membuat kondisi di
Timur Tengah semakin panas. Hamas akan berencana membalas serangan udara
Israel yang memakan korban 228 jiwa dan 750 luka-luka dengan cara
menembakkan roket ke pemukiman Yahudi. Belum tercapainya kesepakatan baru,
dan aksi serangan balasan membuat keduanya sulit mencapai kata perdamaian.

DAFTAR PUSTAKA

Referensi Internet :

http://international.okezone.com/

http://www2.kompas.com/

http://www.antara.co.id/

http://www.bbc.co.uk/

http://www.eramuslim.com/

http://www.kompas.com/

http://www.syabab.com/

http://www.tempointeraktif.com/

12