Anda di halaman 1dari 3

Manifestasi Klinis Menurut U.

S Department of Health and Human Services (2008) pasien dengan serosis biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda pada stadium awal. Seiring dengan perjalanan penyakit, pasien mungkin menggalami: 1. Kelemahan & kelelahan 2. Penurunan nafsu makan 3. Mual & muntah 4. Penurunan berat badan 5. Nyeri tekan pada perut dan kembung saat caifran terakumulasi dalam perut 6. Gatal (pruritis) 7. Joundice 8. Spider angioma Gejala sirosis tergantung pada tingkat kerusakan yang terjadi pada hati. Beberapa tanda dan gejala sirosis dapat menjadi serius dan mengancam nyawa, tetapi sebagian besar sudah dapat tertangani dengan baik. Kondisi yang sering terjadi pada sirosis dekompensasi, diantaranya (Franciscus, 2012): 1. Asites dan edema 2. Bleeding varices 3. Memar dan berdarah (biasanya pada hidung) 4. Ginekomastia 5. Hepatic Enchepalopathy 6. Infeksi 7. Pruritis 8. Jaundice 9. Kanker hati 10. Malnutrisi 11. Menstruasi tidak teratur 12. Perubahan pada kuku 13. Hipertensi portal 14. Spider angioma (Nevi) 15. Sepsis

Penatalaksanaan a. Medis Terapi dan prognosis sirosis hati tergantung pada derajat komplikasi kegagalan hati dan hipertensi portal. Dengan kontrol pasien yang teratur pada fase dini akan dapat dipertahankan keadaan kompensasi dalam jangka panjang dan kita dapat memperpanjang timbulnya komplikasi. Terapi yang bisa dilaksanakan (Tarigan, 1996): 1. Pasien dalam keadaan kompensasi hati yang baik cukup dilakukan control yang teratur, istirahat yang cukup, diet TKTP, lemak secukupnya. 2. Pasien sirosis hepatis yang diketahui penyebabnya: a) Alkohol dan obat-obatan lain diajurkan menghentikan penggunaannya. Alkohol akan mengurangi pemasukan protein ke dalam tubuh. Dengan diet tinggi kalori (3000 kalori) kandungan protein makanan sekitar 70-90 g/hari. b) Hemokromatosis, dihentikan pemakaian preparat yang mengandung besi atau terapi kelasi (desferioksamin). Dilakukan venaseksi dua kali seminggu sebanyak 500cc selama setahun. c) Pada penyakit Wilson (penyakit metabolic keturunan), diberikan Dpenicilamine (chelating agent) 20 mg/kgBB/hari yang akan meningkatkan kelebihan cuprum, dan menambah ekskresi melalui urin. d) Pada hepatitis kronis autoimun diberikan kortikosteroid 3. Pada keadaan lain dilakukan terapi sesuai dengan gejala dan komplikasi yang timbul. a) Untuk asites diberikan diet rendah garam 0,5g/hari dan total cairan 1,5 l/hari. Spironolakton dengan dosis awal 2x25 mg/hari dinaikkan sampai total dosis 800 mg/hari, efek optimal terjadi setelah pemberian 3 hari. Idealnya pengurangan berat badan dengan pemberin diuretic ini adalah 1 kg/hari. Bila perlu kombinasi dengan flurosemid atau dilakukan filter cairan asites dengan Le Veen Shunt. b) Perdarahan varises esophagus (i) Pertama dilakukan pemasangan NG tube untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari saluran pencernaan. (ii) Bila perdarahan banyak, tekanan sistolik <100 mmhg, nadi >100 x/menit atau Hb <9% dilakukan pemberian IV FD dengan pemberian dekstrosa/salin dan transfuse darah secukupnya. (iii) Diberikan vasopressin 2 amp 0,1g dalam 500cc cairan D5% atau salin pemberian selama 4 jam dapat diulang 3 kali. (iv) Dapat dilakukan SB tube untuk menghentikan perdarahan varises. (v) Dapat dilakukan skleroterapi sesudah dilakukan endoskopi kalau ternyata perdarahan berasal dari pecahnya varises. Skleroterapi dilakukan pada Child ABC. (vi) Operasi pintas dilakukan pada Child AB atau dilakukan trenseksi esophagus. Tindakan tersebut dapat dilakukan pada saat perdarahan,

setelah dilakukan resusitasi dan ini merupakan tindakan darurat. Dinamakan tindakan elektif jika dilakukan setelah lewat masa darurat. c) Ensepaholpaty Dilakukan koreksi factor pencetus seperti pemberian KCl pada hipoglikemia, mengurangi pemasukan protein makanan dengan pemberian diet DH1, aspirasi cairan lambung bagi pasien yang mengalami perdarahan varises. Dilakukan klisma untuk mengurangi absorpsi nitrogen dan pemberian duphalac 2x2 sendok makan, pemberian neomisin peroral untuk sterilisasi usus dan pemberian antibiotic (ampisilin atau sefalosporin) pada keadaan infeksi sistemik. d) Peritonitis bacterial spontan biasa dijumpai pada sirosis alkoholik dengan asites. Terapi diberikan antibiotic pilihan seperti sefotaksim 2g/8 jam IV amoksisilin, aminoglikosida.

Daftar Pustaka: Franciscus, A. 2012. Symptoms & Complications of Cirrhosis. San Francisco: HSCP Fact Sheet a publications of the Hepatitis C support project. <http://www.hcvadvocate.org/hepatitis/factsheets_pdf/Cirrhosis_signs%20and%20sym ptoms.pdf>. Diakses 4 November 2012 Tarigan, P. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 edisi ketiga (hal: 271-279). Jakarta: Balai Penerbit FKUI