Anda di halaman 1dari 6

KONSEP DESAIN PEMBELAJARAN:

Model Dick dan Carey


Oleh
Muhammad Yaumi

Model Pendekatan Sistem Dick & Carey

Sistem adalah suatu set dari bagian-bagian yang saling berhubungan,


semuanya bekerja sama menuju tujuan yang didefinisikan. Bagian-bagian
dari sistem saling bergantung pada output (luaran) dan input (masukan),
dan seluruh sistem menggunakan umpan balik untuk menunjukkan tujuan
yang ingin dicapai. Jika tidak tercapai, maka sistem dimodifikasi sampai
mencapai tujuan yang diinginkan. Proses pembelajaran dapat dipandang
sebagai suatu sistem. Tujuan sistem ini untuk menyempurnakan belajar.
Adapun komponen dari sistem pembelajaran adalah pebelajar, instruktur,
materi pembelajaran, dan lingkungan belajar. Komponen-komponen ini
berinteraksi agar tujuan dapat dicapai. Misalnya, dalam suatu ruangan
tradisional, instruktur mereviu contoh persoalan di dalam buku teks atau
buku petunjuk dengan pebelajar di dalam suatu ruangan yang tenang. Untuk
menunjukkan apakah belajar itu terjadi, maka asesmen harus dilakukan.
Diskusi mengenai proses pembelajaran hanya terfokus pada waktu
ketika pebelajar dan pembelajaran hadir bersama di dalam ruangan kelas
dengan tujuan belajar dapat terjadi; tetapi bagaimana dengan persiapan
terhadap proses pembelajaran? Bagaimana instruktur memutuskan apa yang
dilakukan dan kapan? Bukan suatu hal yang mengejutkan ketika seseorang
dengan suatu pandangan sistem melihat persiapan, implementasi, evaluasi,
dan revisi pembelajaran sebagai suatu proses yang terintegrasi. Dengan
pengertian sistem yang lebih luas, berbagai sumber menyediakan input
(masukan) pada persiapan pembelajaran. Output(luaran)nya adalah
beberapa produk atau kombinasi dari produk dan prosedur yang
diimplementasikan. Hasilnya digunakan untuk menunjukkan apakah sistem
harus diganti, dan jika demikian bagaimana melakukannya.
Tujuan buku ini untuk menggambarkan suatu pendekatan sistem untuk
desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi pembelajaran. Ini bukan
sistem fisik layaknya heating and air conditioning (alat pendingin dan
pemanas) tetapi merupakan suatu sistem yang prosedural. Kita akan
mendeskripsikan rangkaian tahapan, semuanya akan menerima masukan
dari langkah-langkah sebelumnya dan akan menyediakan hasil untuk
langkah berikutnya. Semua komponen akan bekerja sama dalam rangka
untuk memproduksi pembelajaran yang efektif. Sistem tersebut termasuk
komponen evaluasi untuk menunjukkan apa, jika ada sesuatu yang keliru
dan bagaimana memperbaikinya.

1
Komponen Model Pendekatan Sistem

1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran. Langkah pertama dalam


model pendekatan sistem adalah untuk menunjukkan apa sesungguhnya
para pembelajar dapat lakukan setelah mereka menyelesaikan
pembelajaran. Tujuan pembelajaran boleh saja berasal dari sejumlah
tujuan dari hasil analisis terhadap prestasi (performance), kebutuhan, dari
pengalaman praktis terhadap kesulitan belajar siswa, analisis terhadap
orang-orang yang sedang melakukan pekerjaan, atau dari persyaratan
lain untuk suatu pembelajaran.
2. Melakukan analisis pembelajaran. Setelah mengidentifikasi tujuan
pembelajaran, kita akan secara bertahap menunjukkan apa yang sedang
dilakukan orang ketika mereka melaksanakan tujuan itu. Langkah
terakhir dalam proses analisis pembelajaran adalah untuk menunjukkan
keterampilan, pengetahuan, dan sikap apa yang diketahui sebagai entry
behaviors, pengetahuan awal, yang diperoleh pebelajar untuk dapat
memulai pembelajaran. Untuk menggambarkan bagaimana hubungan
antara keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi akan
dibuatkan suatu diagram.
3. Menganalisis pebelajar dan konteks. Sebagai tambahan di dalam
menganalisis tujuan pembelajaran, terdapat suatu analisis parallel
terhadap pebelajar, konteks di mana mereka akan belajar keterampilan
itu, dan konteks yang mana yang mereka akan menggunakannya.
Keterampilan yang dimiliki pebelajar, kesukaan, dan sikap ditunjukkan
bersama dengan karakteristik terhadap penentuan pembelajaran dan
penentuan di mana keterampilan itu pada akhirnya digunakan. Informasi
penting ini membentuk sejumlah langkah yang perlu diperbaharui di
dalam model, khususnya dalam strategi pembelajaran.
4. Menulis sasaran (TIK) prestasi. Berdasarkan analisis pembelajaran
dan pernyataan pengetahuan awal, kita akan menulis pernyataan khusus
apa yang akan dapat pebelajar lakukan ketika mereka menyelesaikan
pembelajaran. Pernyataan ini (berasal dari keterampilan-keterampilan
yang terindefikasi melalui analisis pembelajaran) akan mengidentifikasi
keterampilan yang akan dipelajari, kondisi di bawah keterampilan yang
mana harus dilakukan, dan kriteria yang menunjukkan keberhasilan
prestasi.
5. Mengembangkan instrument asesmen. Berdasarkan TIK yang telah
ditulis, kita akan mengembangkan asesmen yang paralel dan dapat
mengukur kemampuan pebelajar untuk melaksanakan apa yang telah
digambarkan dalam TIK. Penekanannya terletak pada hubungan dari
berbagai keterampilan yang digambarkan dalam TIK dan untuk apa
asesmen itu dibutuhkan.
6. Mengembangkan strategi pembelajaran. Berdasarkan informasi dari
kelima langkah terdahulu, sekarang perlu diidentifikasi strategi yang akan
digunakan dalam pembelajaran untuk mencapai sasaran akhir. Strategi
akan menekankan pada komponen untuk mengembangkan belajar
2
termasuk kegiatan prapembelajaran, presentasi isi, partisipasi pebelajar,
asesmen, dan kegiatan yang mengikutinya. Strategi tersebut akan
berdasarkan pada teori belajar mutakhir dan hasil dari penelitian belajar,
karakteristik media, yang akan digunakan untuk menyampaikan
pembelajaran. Hal ini digunakan untuk mengembangkan dan menyeleksi
materi dan rencana untuk pembelajaran ruangan kelas interaktif,
pembelajaran yang bermediasi, belajar jarak jauh yang menggunakan
teknologi seperti website, atau peralatan belajar lainnya yang
menggunakan sistem penyampaian pembelajaran.
7. Mengembangkan dan menyeleksi materi pembelajaran. Dalam
langkah ini, kita akan menggunakan strategi pembelajaran untuk
memproduksi pembelajaran. Strategi tersebut mencakup petunjuk bagi
pebelajar, materi pembelajaran, dan asesmen. ( ketika kita menggunakan
istilah materi pembelajaran kita memasukkan semua bentuk
pembelajaran seperti petunjuk bagi instruktur, module untuk pebelajar,
OHP, video tape, format computer berdasarkan multimedia, dan website
untuk pemeblajaran jarak jauh. Yang dimaksudkan dengan Istilah materi
untuk memiliki konotasi yang luas.) Keputusan untuk mengembangankan
materi orisinil akan tergantung pada jenis hasil belajar, ketersediaan
materi relevan yang ada, dan ketersediaan sumber-sumber
pengembangan. Kriteria untuk menyeleksi di antara materi yang ada
harus tersedia.
8. Desain dan melaksanakan evaluasi formatif. Mengikuti
penyelesaian draft pembelajaran, rangkaian evaluasi harus dilakukan
untuk mengumpulkan data yang digunakan untuk mengidentifikasi
bagaimana memperbaika pembelajaran. Terdapat tiga jenis evaluasi
formatif yang merujuk pada; evaluasi orang perorang, kelompok kecil, dan
percobaan lapangan. Setiap jenis evaluasi menyediakan perancang
dengan jenis informasi yang berbeda-beda yang dapat digunakan untuk
memperbaiki pembelajaran. Teknik yang sama dapat diterapkan pada
evaluasi formatif materia dan pembelajaran ruangan kelas yang ada.
9. Merevisi pembelajaran. Langkah terakhir dalam proses desain dan
pengembangan (dan langkah pertama dalam lingkaran pengulangan)
adalah merevisi pembelajaran. Data yang diperoleh dari evaluasi formatif
dibuat ringkasan dan diterpretasi guna mengidentifikasi kesulitan yang
dialami oleh pebelajar dalam mencapai tujuan dan menghubungkan
kesulitan ini dengan kekurangan khusus tentang pembelajaran. Baris
dalam gambar pada awal bab ini berlabelkan “merevisi pembelajaran”
menunjukkan bahwa data yang diperoleh dari evaluasi formatif bukanlah
data ssederhana yang digunakan untuk merevisi pembelajaran itu sendiri,
melainkan digunakan untuk menguji kembali validitas analisis
pembelajaran dan asumsi terhadap pengetahuan awal karakteristik
pebelajar. Hal ini sangat perlu untuk menguji kembali pernyataan sasaran
prestasi dan item-item tes melalui data yang dikumpulkan. Staregi
pembelajarandireviu dan akhirnya semua pertimbangan digabungkan

3
dalam revisi pembelajaran untuk menciptakaan pembelajaran yang lebih
efektif.
10. Mendesain dan melakukan evaluasi sumatif. Walaupun evaluasi
sumatif merupakan evaluasi akhir terhadap efektivitas suatu
pembelajaran tetapi evaluasi ini bukanlah merupakan bagian dari proses
desain. Evaluasi sumatif merupakan nilai absolut dan atau relatif atau
kelayakan suatu pembelajaran dan hanya terjadi setelah pembelajaran
dievaluasi secara sumatif dan telah dilakukan perbaikan seperlunya untuk
mencapai standar perancang pembelajaran. Karena evaluasi sumatif
biasanya tidak melibatkan perancang pembelajaran tetapi dilakukan oleh
penilai independen, dengan demikian komponen ini tidak dianggap
bahagian integral dari proses desain pembelajaran.

Menggunakan Model Pendekatan Sistem

Terdapat sejumlah pertanyaan yang perlu dikaji lebih jauh sehubungan


dengan penggunaan model pendekatan system.

Mengapa Menggunakan pendekatan Sistem?


Sejumlah hasil penelitian telah dilakukan untuk menjawab pertanyaan
tentang keseluruhan efektivitas pendekatan sistem dalam desain
pembelajaran. Walaupun telah banyak penelitian telah dilakukan seputar
berbagai komponen, tetapi studi mendalam yang melibatkan keseluruhan
model masih amat sangat jarang karena tingkat kesulitannya sangat tinggi
untuk dilakukan. Beberapa studi yang telah dipublikasikan cenderung
memberi dukungan kuat pada pendekatan. Sedangkan, yang member
dukukan utama pada model berasal dari para perancang yang telah
menggunakan proses dan telah mendokumnetasikan kesuksesan mereka
bersama pebelajar.
Nampaknya, ada sejumlah alasan mengapa pendekatan sistem dalam
desain pembelajaran efektif digunakan. Pertama, karena lebih focus dari
permulaan, apa yang harus pebelajar ketahui atau yang mampu mereka
lakukan ketika pembelajaran disimpulkan. Tanpa statemen yang tepat,
rencana teratur, langkah-langkah implementasi maka akan menjadi kabur
dan tidak efektif. Kedua, hubungan antara setiap komponen sangat jelas
terutama hubungan antara strategi pembelajaran dengan hasip (outcome)
belajar yang diharapkan. Ketiga dan merupakan alas an yang paling penting
dalam rangka keberhasilan pendekatan system adalah prosesnya yang
empiris dan dapat diuji kembali. Pembelajaran didesain bukan untuk satu
penyampaian saja tetapi digunakan dalam kesempatan di mana saja dan
diperuntukkan pada kesempatan di mana saja dan jumlah pebelajar berapa
pun juga.

Sistem Penyampaian Pembelajaran yang bagaimana yang cocok dengan


pendekatan Sistem?

4
Pendekatan sistem yang digunakan dalam desain pembelajaran
mencakup perencanaan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi
pembelajaran. Sebagai bagian dari proses ini, metode penyampaian dalam
pembelajaran harus dipilih. Dalam berbagai contoh, amat sangat cocok jika
instruktur hadir menyampaikan materi pembelajaran, sementara dalam
situasi lain berbagai media dapat digunakan. Pada masa sekarang, hamper
semua pemeblajaran menggunakan computer sebagai media pembelajaran.
Di sisi lain, pendekatan system merupakan suatu peralatan yang tidak
ternilai harganya untuk mengidentifikasi apa yang harus diajarkan,
menentukan bagaimana materi pembelajaran itu diajarkan, dan
mengevaluasi pembelajaran apakah efektif atau tidak.
Prosedur yang digambarkan untuk mengembangkan strategi
pembelajaran dalam buku ini adalah suatu prosedur yang umum. Akan sama
penerapannya pada pengembangan pembelajaran yang menggunakan
materi prin sederhana dengan multi media digital yang komplek yang biasa
digunakan dalam pembelajaran jarak jauh melalui website. Prosedur dapat
menjadi mudah digunakan sesuai dengan persyaratan media apa saja yang
dipilih, walaupun banyak penelitian yang mengatakan bahwa prosedur itu
lebih kepada proses analisis dan strategi pembelajaran dari pada cara
penyampaian yang menentukan keberhasilan pembelajaran. Pendekatan
system adalah proses perencanaan umum yang memberi keyakinan bahwa
produk pembelajaran yang dikembangkan untuk sistem penyajian harus
responsif terhadap kebutuhan pebelajar dan efektif dalam mencapai hasil
belajar yang diinginkan.

Apakah penggunaan pendekatan sistem menyiratkan bahwa semua


pembelajaran akan selalu berorintasi pada individu?
Dari berbagai diskusi yang telah diikuti, mungkin para pembaca
mengira bahwa pembelajaran yang didesain secara sistematis sama dengan
pembelajaran yang berorintasi pada pembelajaran mandiri; sebenarnya
tidak. Pembelajaran mandiri menjadikan pebelajar berkembang sesuai
dengan kecepatan mereka sendiri. (Dianggap sebagai definisi sederhana dari
pembelajaran mandiri) suatu prin modul yang didesain dengan baik atau
pembelajaran berbasiskan komputer tentu saja dapat digunakan untuk
belajar mandiri. Jadi, pendekatan sistem dapat digunakan untuk mendesaian
pembelajaran berbasis kelompok—jika ingin menggunakan istilah ini untuk
membedakannya dengan pembelajaran mandiri. Seperti disebutkan
sebelumnya bahwa pendekatan sistem dapat digunakan untuk
mengembangkan segala bentuk pembelajaran yang dipandu instruktur
maupun kegiatan interaktif dalam kelompok.
Kita seharusnya hati-hati di dalam memperbedakan antara proses
mendesain pembelajaran dan penyampaian pembelajaran. Pendekatan
sistem pada dasarnya merupakan suatu proses desain, sedangkan
instruktur, modul, komputer, dan televisi adalah mekanisme penyampaian.
Mekanisme penyampaian ini dapat digunakan pada satu atau banyak
pebelajar pada waktu yang bersamaan. Bagian utama dari proses disain
5
adalah untuk menentukan bagaimana pembelajaran dapat disampaikan
secara efektif.

Siapa saja yang menggunakan pendekatan sistem?


Seperti telah dipelajari dalam model disain pembelajaran (kita
berharap semoga kita dapat menggunakan dalam mendisain setiap
pembelajaran) bahwa untuk dapat mendisain dan menggunakannya
memerlukan waktu dan usaha maksimal. Mungkin kita juga akan berkata
bahwa “saya tidak pernah menggunakan proses ini untuk mempersiapkan
seluruh materi pembelajaran,” dan apa yang kita katakan itu benar adanya.
Kita sering temukan bahwa setiap instruktur yang telah belajar proses akan
dating dengan dua reaksi. Pertama, mereka akan segera memulai
menggunakan beberapa komponen, kalau tidak semuanya, dalam model
pendekatan system. Reaksi kedua, pendekatan system pembelajaran yang
mereka miliki tidak akan sama karena perbedaan wawasan yang mereka
peroleh pada saat menggunakan proses.
Kelompok pengguna kedua dari pendekatan disain sistem
pembelajaran (DSP) berkembang cukup pesat. Mereka secara khusus
diarahkan untuk menjadi disainer pembelajaran, karena itu mereka dilatih
untuk menggunakan pendekatan system untuk mendisain system
pembelajaran yang baru atau untuk memperbaiki system yang sudah ada.
Berbeda dengan kelompok instruktur yang bekerja sendiri, kelompok disainer
pembelajaran bekerja bersama dengan tim mereka di dalam mendisain
pembelajaran. Tim tersebut akan melibatkan ahli konten, ahli media, ahli
evaluasi dan manajer untuk menghasilkan produk pembelajaran yang
bertujuan untuk menghasilkani pembelajaran secara efektif dan efisien.
Buku ini telah dirancang untuk kebutuhan baik instruktur yang ingin
mengetahui lebih dalam tentang pendekatan system dan perancang pemula
pembelajaran yang mungkin menekuni karir pada dunia disain pembelajaran.
Penulisan buku ini juga dimaksudkan untuk membekali pengetahuan disain
bagi guru-guru sekolah umum, professor di universitas, para trainer
perusahaan, dan instruktur kemiliteran. Kami yakin dan percaya bahwa
model pendekatan disain instruksional yang ditawarkan dalam buku ini amat
sangat cocok baik untuk pendidikan formal seperti sekolah dan universitas
maupun pendidikan nonformal atau informal seperti workshop dan training.