Anda di halaman 1dari 13

A.

DEFINISI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA KDRT terhadap istri adalah segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istri yang berakibat menyakiti secara fisik, psikis, seksual dan ekonomi, termasuk ancaman, perampasan kebebasan yang terjadi dalam rumah tangga atau keluarga. Selain itu, hubungan antara suami dan istri diwarnai dengan penyiksaan secara verbal, tidak adanya kehangatan emosional, ketidaksetiaan dan menggunakan kekuasaan untuk mengendalikan istri. Setelah membaca definisi di atas, tentu pembaca sadar bahwa kekerasan pada istri bukan hanya terwujud dalam penyiksaan fisik, namun juga penyiksaan verbal yang sering dianggap remeh namun akan berakibat lebih fatal dimasa yang akan datang.

B. GEJALA-GEJALA KEKERASAN TERHADAP ISTRI Gejala-gejala istri yang mengalami kekerasan adalah merasa rendah diri, cemas, penuh rasa takut, sedih, putus asa, terlihat lebih tua dari usianya, sering merasa sakit kepala, mengalami kesulitan tidur, mengeluh nyeri yang tidak jelas penyebabnya, kesemutan, nyeri perut, dan bersikap agresif tanpa penyebab yang jelas. Jika anda membaca gejalagejala di atas, tentu anda akan menyadari bahwa akibat kekerasan yang paling fatal adalah merusak kondisi psikologis yang waktu penyembuhannya tidak pernah dapat dipastikan.

C. BENTUK-BENTUK KEKRASAN DALAM RUMAH TANGGA Bentuk-bentuk kekerasan terhadap istri tersebut, antara lain: 1. Kekerasan Fisik Kekerasan fisik adalah suatu tindakan kekerasan (seperti: memukul, menendang, dan lain-lain) yang mengakibatkan luka, rasa sakit, atau cacat pada tubuh istri hingga menyebabkan kematian. 2. Kekerasan Psikis Kekerasan psikis adalah suatu tindakan penyiksaan secara verbal (seperti: menghina, berkata kasar dan kotor) yang mengakibatkan menurunnya rasa percaya diri, meningkatkan rasa takut, hilangnya kemampuan untuk bertindak dan tidak berdaya. Kekerasan psikis ini, apabila sering terjadi maka dapat mengakibatkan istri semakin tergantung pada suami meskipun suaminya telah membuatnya menderita. Di sisi lain, kekerasan psikis juga dapat memicu dendam dihati istri. 3. Kekerasan Seksual
http://psikologi.or.id

Kekerasan seksual adalah suatu perbuatan yang berhubungan dengan memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual dengan cara-cara yang tidak wajar atau bahkan tidak memenuhi kebutuhan seksual istri. 4. Kekerasan Ekonomi Kekerasan ekonomi adalah suatu tindakan yang membatasi istri untuk bekerja di dalam atau di luar rumah untuk menghasilkan uang dan barang, termasuk membiarkan istri yang bekerja untuk di-eksploitasi, sementara si suami tidak memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sebagian suami juga tidak memberikan gajinya pada istri karena istrinya berpenghasilan, suami menyembunyikan gajinya,mengambil harta istri, tidak memberi uang belanja yang mencukupi, atau tidak memberi uang belanja sama sekali, menuntut istri memperoleh penghasilan lebih banyak, dan tidak mengijinkan istri untuk meningkatkan karirnya.

D. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan suami terhadap istri, antara lain: 1) 2) 3) 4) Masyarakat membesarkan anak laki-laki dengan menumbuhkan keyakinan bahwa anak laki-laki harus kuat, berani dan tidak toleran. Laki-laki dan perempuan tidak diposisikan setara dalam masyarakat. Persepsi mengenai kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga harus ditutup karena merupakan masalah keluarga dan bukan masalah sosial. Pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama mengenai aturan mendidik istri, kepatuhan istri pada suami, penghormatan posisi suami sehingga terjadi persepsi bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan. 5) 6) 7) 8) 9) 10) Budaya bahwa istri bergantung pada suami, khususnya ekonomi. Kepribadian dan kondisi psikologis suami yang tidak stabil. Pernah mengalami kekerasan pada masa kanak-kanak. Budaya bahwa laki-laki dianggap superior dan perempuan inferior. Melakukan imitasi, terutama anak laki-laki yang hidup dengan orang tua yang sering melakukan kekerasan pada ibunya atau dirinya. Masih rendahnya kesadaran untuk berani melapor dikarenakan dari masyarakat sendiri yang enggan untuk melaporkan permasalahan dalam rumah tangganya, maupun dari pihak- pihak yang terkait yang kurang mensosialisasikan tentang kekerasan dalam rumah tangga, sehingga data kasus tentang (KDRT) pun, banyak
http://psikologi.or.id

dikesampingkan ataupun dianggap masalah yang sepele. Masyarakat ataupun pihak yang tekait dengan KDRT, baru benar- benar bertindak jika kasus KDRT sampai menyebabkan korban baik fisik yang parah dan maupun kematian, itupun jika diliput oleh media massa. Banyak sekali kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT) yang tidak tertangani secara langsung dari pihak yang berwajib, bahkan kasus kasus KDRT yang kecil pun lebih banyak dipandang sebelah mata daripada kasus kasus lainnya. 11) Masalah budaya, Masyarakat yang patriarkis ditandai dengan pembagian kekuasaan yang sangat jelas antara laki laki dan perempuan dimana laki laki mendominasi perempuan. Dominasi laki laki berhubungan dengan evaluasi positif terhadap asertivitas dan agtresivitas laki laki, yang menyulitkan untuk mendorong dijatuhkannya tindakan hukum terhadap pelakunnya. Selain itu juga pandangan bahwa cara yang digunakan orang tua untuk memperlakukan anak anaknya , atau cara suami memperlakukan istrinya, sepenuhnya urusan mereka sendiri dapat mempengaruhi dampak timbulnya kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT). 12) Faktor Domestik Adanya anggapan bahwa aib keluarga jangan sampai diketahui oleh orang lain. Hal ini menyebabkan munculnya perasaan malu karena akan dianggap oleh lingkungan tidak mampu mengurus rumah tangga. Jadi rasa malu mengalahkan rasa sakit hati, masalah Domestik dalam keluarga bukan untuk diketahui oleh orang lain sehingga hal ini dapat berdampak semakin menguatkan dalam kasus KDRT. Lingkungan. Kurang tanggapnya lingkungan atau keluarga terdekat untuk merespon apa yang terjadi, hal ini dapat menjadi tekanan tersendiri bagi korban. Karena bisa saja korban beranggapan bahwa apa yang dialaminya bukanlah hal yang penting karena tidak direspon lingkungan, hal ini akan melemahkan keyakinan dan keberanian korban untuk keluar dari masalahnya. Selain itu, faktor penyebab terjadinya kekerasan terhadap istri berhubungan dengan kekuasaan suami/istri dan diskriminasi gender di masyarakat. Dalam masyarakat, suami memiliki otoritas, memiliki pengaruh terhadap istri dan anggota keluarga yang lain, suami juga berperan sebagai pembuat keputusan. Pembedaan peran dan posisi antara suami dan istri dalam masyarakat diturunkan secara kultural pada setiap generasi, bahkan diyakini sebagai ketentuan agama. Hal ini mengakibatkan suami ditempatkan sebagai orang yang memiliki kekuasaan yang lebih tinggi daripada istri. Kekuasaan suami terhadap istri juga dipengaruhi oleh penguasaan suami dalam sistem ekonomi, hal ini
http://psikologi.or.id

mengakibatkan masyarakat memandang pekerjaan suami lebih bernilai. Kenyataan juga menunjukkan bahwa kekerasan juga menimpa pada istri yang bekerja, karena keterlibatan istri dalam ekonomi tidak didukung oleh perubahan sistem dan kondisi sosial budaya, sehingga peran istri dalam kegiatan ekonomi masih dianggap sebagai kegiatan sampingan.

E. DAMPAK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Kekerasan terhadap istri menimbulkan berbagai dampak yang merugikan. Diantaranya adalah : Dampak kekerasan terhadap istri yang bersangkutan itu sendiri adalah: mengalami sakit fisik, tekanan mental, menurunnya rasa percaya diri dan harga diri, mengalami rasa tidak berdaya, mengalami ketergantungan pada suami yang sudah menyiksa dirinya, mengalami stress pasca trauma, mengalami depresi, dan keinginan untuk bunuh diri. Dampak kekerasan terhadap pekerjaan si istri adalah kinerja menjadi buruk, lebih banyak waktu dihabiskan untuk mencari bantuan pada Psikolog ataupun Psikiater, dan merasa takut kehilangan pekerjaan. Dampaknya bagi anak adalah: kemungkinan kehidupan anak akan dibimbing dengan kekerasan, peluang terjadinya perilaku yang kejam pada anak-anak akan lebih tinggi, anak dapat mengalami depresi, dan anak berpotensi untuk melakukan kekerasan pada pasangannya apabila telah menikah karena anak mengimitasi perilaku dan cara memperlakukan orang lain sebagaimana yang dilakukan oleh orang tuanya.

F. SOLUSI UNTUK MENGATASI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Untuk menurunkan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga maka masyarakat perlu digalakkan pendidikan mengenai HAM dan pemberdayaan perempuan; menyebarkan informasi dan mempromosikan prinsip hidup sehat, anti kekerasan terhadap perempuan dan anak serta menolak kekerasan sebagai cara untuk memecahkan masalah; mengadakan penyuluhan untuk mencegah kekerasan; mempromosikan kesetaraan jender; mempromosikan sikap tidak menyalahkan korban melalui media. Sedangkan untuk pelaku dan korban kekerasan sendiri, sebaiknya mencari bantuan pada Psikolog untuk memulihkan kondisi psikologisnya. Bagi suami sebagai pelaku, bantuan oleh Psikolog diperlukan agar akar permasalahan yang menyebabkannya melakukan kekerasan dapat terkuak dan belajar untuk berempati dengan menjalani terapi kognitif. Karena tanpa adanya perubahan dalam pola pikir suami dalam menerima dirinya sendiri dan istrinya maka kekerasan akan kembali terjadi.
http://psikologi.or.id

Sedangkan bagi istri yang mengalami kekerasan perlu menjalani terapi kognitif dan belajar untuk berperilaku asertif. Selain itu, istri juga dapat meminta bantuan pada LSM yang menangani kasus-kasus kekerasan pada perempuan agar mendapat perlidungan. Suami dan istri juga perlu untuk terlibat dalam terapi kelompok dimana masingmasing dapat melakukan sharing sehingga menumbuhkan keyakinan bahwa hubungan perkawinan yang sehat bukan dilandasi oleh kekerasan namun dilandasi oleh rasa saling empati. Selain itu, suami dan istri perlu belajar bagaimana bersikap asertif dan memanage emosi sehingga jika ada perbedaan pendapat tidak perlu menggunakan kekerasan karena berpotensi anak akan mengimitasi perilaku kekerasan tersebut. Oleh karena itu, anak perlu diajarkan bagaimana bersikap empati dan memanage emosi sedini mungkin namun semua itu harus diawali dari orangtua. Mengalami KDRT membawa akibat akibat negatif yang berkemungkinan mempengaruhi perkembangan korban di masa mendatang dengan banyak cara. Dengan demikian, perhatian utama harus diarahkan pada pengembangan berbagai strategi untuk mencegah terjadi penganiayaan dan meminimalkan efeknya yang merugikan ada beberapa solusi untuk mencegah KDRT antara lain : 1. 2. Membangun kesadaran bahwa persoalan KDRT adalah persoalan sosial bukan individual dan merupakan pelanggaran hukum yang terkait dengan HAM. Sosialiasasi pada masyarakat tentang KDRT adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dan dapat diberikan sangsi hukum. Dengan cara mengubah pondasi KDRT di tingkat masyarakat pertama tama dan terutama membutuhkan. 3. 4. Adanya konsensus bahwa kekerasan adalah tindakan yang tidak dapat diterima. Mengkampanyekan penentangan terhadap penayangan kekerasan di media yang mengesankan kekerasan sebagai perbuatan biasa, menghibur dan patut menerima penghargaan. 5. Peranan Media massa. Media cetak, televisi, bioskop, radio dan internet adalah macrosystem yang sangat berpengaruh untuk dapat mencegah dan mengurangi kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT). Peran media massa sangat berpengaruh besar dalam mencegah KDRT bagaimana media massa dapat memberikan suatu berita yang bisa merubah suatu pola budaya KDRT adalah suatu tindakan yang dapat melanggar hukum dan dapat dikenakan hukuman penjara sekecil apapun bentuk dari penganiayaan.
http://psikologi.or.id

6.

Mendampingi korban dalam menyelesaikan persoalan (konseling) serta kemungkinan menempatkan dalam shelter (tempat penampungan) sehingga para korban akan lebih terpantau dan terlindungi serta konselor dapat dengan cepat membantu pemulihan secara psikis.

G. MODUL KONSELING DAN TERAPI PERILAKU BAGI PELAKU KDRT PENGANTAR: Modul intervensi merupakan tindak lanjut dari hasil assesment Modul intervensi seyogyanya tailor made , rasional dan mampu laksana Modul intervensi diupayakan serasi budaya dan menjaring dukungan komunitas Modul intervensi sebaiknya disertai mekanisme supervisi perubahan perilaku di luar sesi konseling TUJUAN: Klien memahami tentang KDRT serta dampaknya dan konsekuensi hukum Klien memahami tentang HAM dan Kesetaraan gender Klien Menyadari KDRT adalah perilaku salah klien menyadari memiliki kekuatan untuk berubah Klien mampu mengolah konflik dengan cara tanpa kekerasan Klien mampu mengenali emosi/pikiran negatifnya yang relevan dengan KDRT RUANG LINGKUP: Psikoedukasi tentang KDRT & Kesetaraan Gender Konseling /MET: membangkitkan motivasi untuk berubah Pendekatan Kognitif & Perilaku : 1. Mengenali pikiran/emosi negatif 2.Mengenali dan mengelola situasi konflik 3. Mengenali dan mengelola amarah Terapi relaksasi singkat: 1. relaksasi otot progresif singkat 2. mengatur nafas lambat BAHAN: Terdiri dari 5 sub modul/sesi, yaitu: Konseling Mengelola Pikiran/Emosi Negatif Mengelola Konflik Mengelola Amarah
http://psikologi.or.id

Tehnik Relaksasi LANGKAH-LANGKAH: Penjelasan singkat pesan dasar Topik Ilustrasi kasus KDRT bahas Mengisi lembar penilain diri Permainan tema KDRT Pekerjaan Rumah Monitoring perilaku di luar program

KONSELING PENGERTIAN: Konseling adalah hubungan antara dua orang (konselor dan klien) yang bersifat saling membantu, untuk menyelesaikan masalah tertentu Konseling merupakan proses kolaborasi yang bertujuan memberdayakan klien dalam menanggapi masalah kehidupan Konseling bertujuan mengembangkan mekanisme koping yang efektif dalam menghadapi masalah kehidupan Dasar Pendekatan Konseling adalah pendekatan humanistik , yaitu keyakinan bahwa seseorang mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menentukan bagi dirinya, mempunyai potensi untuk berkembang yang pada dasarnya baik Konselor berperan sebagai fasilitator yang mendorong diwujudkannya potensi yang baik itu, dan ia menghargai klien sebagai individu yang unik dan bebas serta bertanggung jawab TUJUAN: Klien bersama konselor mampu mengatasi suasana krisis kejiwaan. Klien bersama konselor mampu mengenali kekeliruannya di masa lampau dan memotivasi diri untuk bangkit Klien mampu menerima situasi yang tak mungkin berubah dan terus berjuang mengubah yang bisa diubah Tujuan akhir adalah klien mempunyai motivasi kuat untuk merubah perilakunya METODE: 1. Pelatih memaparkan ilustrasi kasus KDRT 2. Klien diminta memahami dan berempati terhadap kasus tersebut 3. Klien diandaikan dalam posisi kasus 4. Langkah langkah apa yang akan klien lakukan
http://psikologi.or.id

Diskusikan Bermain peran saling tukar peran dengan konselornya

MENGELOLA PIKIRAN & EMOSI NEGATIF: PENGERTIAN: Pikiran negatif atau persepsi salah terhadap kejadian disekitar kehidupan kita akan mempengaruhi suasana emosi dan tindakan kita. Pikiran yang salah, memicu emosi dan tindakan yang tidak rasional, misalnya; KDRT Belajar mengenali pikiran salah lantas mengelolanya menjadi enerji positif bermanfaat untuk mencegah KDRT Pendekatan terapi kognitif perilaku sangat bermanfaat membantu proses perubahan TUJUAN: Klien semakin bisa mengenali perilaku KDRT, siklus KDRT, faktor pemicu, dan dampaknya Klien terlatih untuk mengenali pikiran negatif dan motif yang mendorong tindakannya (KDRT) Klien mampu mengubah perilakunya dengan melalui perubahan pada pola pikirnya terhadap masalah METODE: Mengenali pemikiran-pemikiran (kognisi) yang salah/keliru Kognisi tersebut merefleksikan bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri, kehidupan/dunia mereka, masa lalu & masa depan mereka. Mengganti/mengoreksi distorsi kognisi tersebut dengan kognisi yang fungsional, realistik, sehingga akan menuju kepada perbaikan klinis. ILUSTRASI: MODEL A-B-C PEMBENTUKAN PERILAKU ABC A = Peristiwa/kejadian B = Pikiran otomatis dari diri kita mengenai A C = Perubahan emosi dan perilaku Kebanyakan orang berpikir bahwa A menyebabkan C. Yang sebenarnya terjadi adalah B, yaitu pemikiran dari diri sendirilah yang memiliki pengaruh lebih besar. LANGKAH LANGKAH:
http://psikologi.or.id

TAHAP 1: Mengumpulkan data/fakta-fakta Secara singkat menggambarkan peristiwa/kejadian yang tidak menyenangkan/traumatis dari masa lalu, saat ini, atau masa depan, & rasa yang dihasilkan. Nilai intensitas dari perasaan-perasaan tersebut (nilai dari 1-10) Ingatlah, menghadapi secara langsung perasaan yang mengganggu adalah suatu cara untuk menghentikan mereka dari mengendalikan kita. TAHAP 2: Analisis pikiran Buat daftar pikiran-pikiran otomatis Mengenali distorsi/kekeliruan dari pikiran-pikiran tersebut Berusaha untuk merespon, atau mendiskusikan tiap pikiran otomatis yang keliru tersebut TAHAP 3: Menilai hasil Menilai hasil, yakni menyadari bahwa perubahan persepsi kognitif terhadap suatu peristiwa telah menghasilkan perubahan respons emosi dan perilaku. Structured Problem Solving 6 steps Step 1: Tuliskan daftar masalah yang seringkali memicu kemarahan/tindak kekerasan Step 2: Pikirkan beberapa alternatif cara penyelesaian masalah Step 3: Tuliskan keuntungan dan kerugian masing masing alternative tersebut Step 4: Tentukan pilihan yang terbaik dan termungkin dari berbagai alternative tadi Step 5: Buat daftar langkah langkah yang akan ditempuh untuk melaksanakan alternative solusi yang dipilih Step 6:Evaluasi perkembangan

MENGELOLA KONFLIK PENGERTIAN: Konflik dalam kehidupan keluarga, konflik sering dijadikan kambing hitam untuk mengesahkan tindakan KDRT oleh suami terhadap istri Konflik dalam kehidupan berkeluarga dapat melanggengkan KDRT Mengelola konflik yang terjadi dalam kehidupan keluarga merupakan salah satu cara untuk mengurangi risiko KDRT TUJUAN: Mengubah pola relasi yang penuh konflik menjadi pola relasi yang saling menghargai
http://psikologi.or.id

Mengadopsi pola beradaptasi terhadap masalah interpersonal yang penuh pertentangan menjadi kerjasama METODE: Ilustrasi Kasus KDRT & Konflik Keluarga Diskusi Bermain Peran PR

MENGELOLA AMARAH PENGERTIAN: Amarah atau sifat tempramental sering dijadikan kambing hitam untuk mengesahkan terjadinya tindak kekerasan Mengesahkan bahwa memang perilaku tempramentalnya yang menyebabkan klien melakukan KDRT adalah keliru dan tidak bertanggung jawab Tapi walau bagaimanapun latihan mengelola amarah tetap merupakan bagian penting yang perlu dilatihkan pada pelaku KDRT TUJUAN: Klien memiliki keterampilan mengelola amarah dengan cara sederhada dan efektif Klien menyadari bahwa ledakan kemarahan membawa konsekuensi luas Terbentuk suatu pola sehat dalam proses kognitif klien dalam merespon situasi yang biasanya mencetuskan ledakan kemarahan METODE Ilustrasi Kasus Penjelasan teknik mengelola amarah Bermain peran Diskusi PR

TEKNIK RELAKSASI PENGERTIAN: Melatih relaksasi berarti melatih mengontrol diri Melatih relaksasi berarti menerima diri apa adanya Melatih relaksasi membantu berpikir jenih Relaksasi dapat mengendalikan berbagai bentuk manivestasi dari stres Pada akhirnya relaksasi bermanfaat untuk mengontrol dorongan perilaku
http://psikologi.or.id

berkekerasan TUJUAN: Klien mampu melakukan tehnik nafas lambat sebagai salah satu alat pereda ketegangan Klien mampu melalukan relaksasi progresif singkat untuk menumbuhkan perasaan tenang dan terkendali METODE: Penjelasan tentang tehnik relaksasi Demonstrasi tehnik bernafas lambat Tutup mata anda dan carilah posisi yang paling nyaman. Sepanjang proses relaksasi anda boleh saja menggerakkan tubuh sepanjang hal tersebut membuat anda merasa nyaman. Bantu tubuh anda untuk memulai relaksasi dengan bernafas lambat dan dalam. Ambil nafas perlahan melalui hidung sepanjang tiga hitungan, kemudian hembuskan pelan pelan lewat mulut sepanjang lima hitungan. Sambil menghembuskan nafas bayangkan bahwa anda melepas beban di pikiran anda lewat mulut. Ulangi lagi prosedur di atas beberapa kali sampai anda mendapatkan irama nafas yang paling nyaman. Lakukan latihan nafas lambat ini selama sepuluh menit setiap sebelum tidur dan bangun tidur. Demonstrsi tehnik relaksasi progresif singkat Simulasi & Praktek Diskusi

H. CONTOH KASUS
1. Aniaya Bocah dengan Disetrika

indosiar.com, Karawang - Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) kembali terjadi di Karawang, Jawa Barat. Kali ini dilakukan sepasang suami istri (pasutri) yang tega menganiaya bocah perempuan berusia 10 tahun dengan berbagai pukulan benda tumpul serta menggunakan setrika panas. Korban terpaksa dilarikan ke rumah sakit dengan sejumlah luka, sementara pelaku kini mendekam di sel tahanan kepolisian. Marni Barus, warga Perumnas Bumi Teluk Jambi, Kecamatan Teluk Jambi Timur, Karawang hanya bisa bertunduk dan menangis saat digiring polisi ke ruang pemeriksaan. Perempuan yang memiliki tiga orang anak ini ditangkap petugas akibat penganiayaan yang dilakukan bersama suaminya.

http://psikologi.or.id

Aksi kekerasan sendiri dilakukan tersangka Marni terhadap Ayu Wandira, bocah perempuan berusia 10 tahun yang selama ini tinggal dan dipekerjakan di rumahnya. Menurut tersangka, tindakannya yang membuat dirinya harus berurusan dengan kepolisian terjadi lantaran khilaf. Korban dinilai sering berbohong, tidak menuruti perintahnya serta mengambil makanan tanpa seijinya. Akibat perbuatannya Ayu mengalami sejumlah luka di tubuh. Luka tersebut akibat pukulan hingga cubitan dan tamparan. Bahkan luka akibat setrikaan hingga kini masih membekas dibagian lengan dan punggungnya. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersangka Marni harus mendekam di sel tahanan Mapolres Karawang. Namun polisi membebaskan Sembiring, suami Marni lantaran tidak cukup bukti. Sementara itu Ayu Wandira yang mengalami luka penganiayaan hingga kini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Karawang. (Zaenal Arifin/Sup)
2. Istri Usia 15 Tahun Disiksa Suami

indosiar.com, Garut - Reni Rismayanti (15 tahun) warga Kecamatan Leles, Kabupaten Garut ini, hanya bisa merintih kesakitan saat dibopong petugas dari dalam mobil menuju tempat pengobatan alternatif. Wanita muda yang baru sebulan menikah ini, kerap disiksa suaminya. Akibat penyiksaan tersebut, tulang pinggang belakang Reni patah hingga tak bisa berjalan. Menurut Reni, awalnya ia hanya menegur suaminya yang pulang malam dalam keadaan mabuk. Namun suaminya itu malah tak terima dan menyiksa Reni. Reni juga diancam akan dibunuh Rendi, jika melapor kepada orang tuanya. Korban mengaku tindak penganiayaan itu, bukan yang pertama. Ia sering ditonjok, ditendang bahkan disundut rokok oleh suaminya itu, serta pernah disekap selama satu minggu didalam kamar, dengan makan seadanya. Karena tak kuat lagi menahan penyiksaan, korban Reni bersama ibunya melapor ke polisi. Sementara suami korban yang kabur melarikan diri, usai menyiksa istrinya itu, masih dalam kejaran petugas.(Deni Muhammad Arif/Ijs)

http://psikologi.or.id

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)

(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar psikologi Klinis yang dibimbing oleh Ibu Diantini Ida Viatrie)

Oleh: Baquandi Karina wisnu Asmaul khusnah Deska tri ismiani Fakul hidayah Yesi sevien marita Kunto

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN BIMBINGAN KONSELING DAN PSIKOLOGI PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

Oktober 2009

http://psikologi.or.id