Anda di halaman 1dari 2

Jumat, 15 November 2002

Kabupaten Maros

BERBUKIT gamping terjal dengan cekungan yang dalam, gua-gua di


lerengnya, sementara di bawah tanah mengalir sungai yang memancarkan
air bening di beberapa tempat. Topografi seperti itu disebut karst oleh para
ahli geografi dan geologi. Dan, bagian Bumi seperti itulah yang
mengangkat nama Maros (Sulawesi Selatan) ke percaturan dunia.

Belakangan ini karst Maros-Pangkep, juga pegunungan Sewu di Jawa


bagian selatan dan Lorenz di Papua disebut-sebut diusulkan untuk
dijadikan warisan dunia (world heritage). Kalau itu menjadi kenyataan,
wilayah tersebut harus dilindungi dari eksploitasi. Sebagai warisan dunia, masyarakat
internasional akan ikut menjaga kelestariannya.

Padahal, kini di wilayah karst yang masuk Kabupaten Maros telah berdiri pabrik semen dan juga
beberapa pabrik marmer yang mengambil bahan baku di situ. Di kawasan tersebut cadangan
batu gamping, bahan baku semen, diduga sebanyak 11.650 juta ton. Sedangkan marmer di perut
Bumi Maros diper-kirakan 2.609 juta ton. Marmer Maros terkenal karena variasi warnanya yang
sesuai dengan selera pasar. Produknya sudah diekspor ke Singapura dan Malaysia.

Di sini timbul dilema. Pemerintah daerah cenderung me-macu pendapatan daerah dengan
mengundang investor merealisasi potensi yang dikandung Maros. Sementara para ahli dan
pencinta lingkungan di tingkat nasional maupun internasional meng-hendaki kawasan karst di
Ma-ros diabadikan untuk warisan internasional. Sekali kawasan ini rusak dan habis dieksploitasi,
keistimewaan itu tidak akan tergantikan lagi.

Kehidupan ekonomi Maros bergantung pada pertanian. Tahun 2001 kontribusi sektor ini tercatat
Rp 543 milyar, atau 62,3 persen dari total kegiatan ekonomi. Dari angka tersebut, tanaman
bahan makanan menyumbang 28,9 persen dan perikanan 28,8 persen.

Bisa dimaklumi, sektor pertanian dominan di wilayah ini mengingat hampir separuh luas Maros
yang 1.619 kilometer persegi di tahun 2000 merupakan dataran rendah. Kondisi ini cocok untuk
tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Luas Kabupaten Maros
dikoreksi belakangan ini. Berdasarkan keputusan yang disahkan DPRD tanggal 19 Oktober 2002,
luasnya menjadi 1.881 kilometer persegi. Bertambah 270 kilometer persegi, yang didapat dari
hasil perhitungan ulang luas laut yang dimiliki.

Padi sebagai produk unggulan tanaman bahan makanan memainkan peranan penting di Maros.
Produksinya di atas rata-rata provinsi. Tahun 2001 produksi padi rata-rata Sulawesi Selatan
(Sulsel) adalah 150.448 ton dengan tingkat produktivitas 4,4 ton per hektar. Maros memang
bukan penghasil padi terbesar, namun produksinya bisa dibanggakan dengan 204.577 ton, dan
produktivitas 5,2 ton per hektar. Sementara lahan perkebunan rakyat seluas 14.548 hektar yang
menyerap 22.455 tenaga kerja yang menghasilkan kelapa, kopi, cengkeh, kakao, lada. jambu
mete, dan kemiri.

Kemiri merupakan komoditas unggulan. Dari 26.928 ton produksi kemiri Sulawesi Selatan, Maros
menyumbang 21 persen. Jumlah tersebut merupakan terbesar kedua setelah Kabupaten Bone.
Bunga kemiri bahkan diabadikan dalam lambang daerah.

***

LETAK Kabupaten Maros sangat strategis. Di samping merupakan jalur lintas utama ke wilayah
Sulsel bagian utara lewat darat, juga berdempetan dengan Kota Makassar. Keberadaan Bandar
Udara Hasanuddin di kabupaten ini menambah nilai strategis Maros. Tahun 2001 Bandara Ha-
sanuddin mencatat 12.176 pe-nerbangan yang datang dan 12.191 penerbangan yang pergi.
Penumpang turun 488.704 orang dan berangkat 419.187 orang. Bandara Hasanuddin menjadi
pintu gerbang tidak hanya untuk Kota Makassar, tapi juga Maros. Di sini produk unggulan daerah
seperti mangga, jeruk, serta kacang mete laris dibeli pelancong.

Di samping tanaman bahan makanan, perikanan juga menjadi unggulan dengan produksi tahun
2001 sebanyak 27.887 ton. Hasil tangkapan laut 14.043 ton, sisanya dari ikan tambak air payau,
kolam, dan sawah. Udang yang dibudidayakan di tambak merupakan produk andalan. Bahkan,
sudah diekspor ke Hongkong dan Jepang dengan harga yang menggiurkan. Karena itu, tidak
mengherankan kalau banyak petani ikan lebih berminat menggeluti tambak udang. Dari 4.303
keluarga, sebanyak 3.162 keluarga petani ikan menggantungkan hidup dari tambak.
Selain kekayaan alam, Maros juga kaya akan keindahan alam. Potensi alam seperti karst dan
daerah konservasi perlu dipromosikan. Sebut saja misalnya, cagar alam Karaenta (+1000
hektar), cagar alam Balusaraung (+ 5.700 hektar), cagar alam Bantimurung (+1000 hektar), dan
taman wisata Bantimurung (20 hektar) serta kawasan wisata alam Gua Pattunuang (+1.500
hektar).

Di kawasan karst dan konservasi ini bisa ditemukan jenis flora dan fauna yang langka. Di sana
masih ditemukan sekitar 280 spesies tanaman, lebih dari 100 spesies kupu-kupu serta ratusan
gua yang dihiasai stalaktit dan stalakmit yang indah. Cocok untuk wisata alam dan wisata minat
khusus yang banyak digandrungi wisatawan asing.

Hingga kini baru Bantimurung dan Taman Prasejarah Leang-Leang yang sering dikunjungi
wisatawan. Di tahun 2001, Kawasan Wisata Bantimurung dikunjungi 260.700 orang, sedangkan
Taman Prasejarah Leang-Leang dikunjungi 2.600 wisatawan. Hampir semua wisatawan lokal.

Belum ada investor yang serius berminat menggarap potensi pariwisata di kawasan ini. Mereka
lebih berminat menambang kekayaan perut bumi Maros yang justru berada di karst, yang
menjadi daya tarik dunia. Kalau ini tidak dicermati bisa menjadi bumerang di kemudian hari.
Keindahan dan daya tarik bumi Maros akan tinggal dongeng bagi anak cucu dan masyarakat
dunia. (FX. Sriyadi Adhisumarta/Litbang Kompas)