Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanah merupakan tubuh alam dihasilkan dari berbagai proses dan faktor

pembentuk yang berbeda. Karena itu tanah mempunyai karakteristik yang berbeda

demikian akan memerlukan manajemen yang berbeda pula untuk tetap menjaga

keberlanjutan fungsi-fungsi tanah tersebut.

Koloid tanah yang memiliki muatan negatif besar akan dapat

menyerapsejumlah besar kation. Jumlah kation yang dapat diserap koloid dalam

bentuk dapat tukar pada pH tertentu disebut kapasitas tukar kation. Kapasitas tukar

kation merupakan jumlah muatan negative persatuan berat koloid yang dinetralisasi

oleh kation yang mudah diganti. Kapasitas tukar kation didefinisikan sebagai nilai

yang diperoleh pada pH 7 yang dinyatakan dalam milligram setara per 100 gram

koloid.

Kapasitas tukar kation tanah tergantung pada tipe dan jumlah kandungan liat,

kandungan bahan organik dan pH tanah. Kapasitas tukar kation tanah yang memiliki

banyak muatan tergantung pH dapat berubah-ubah dengan perubahan pH. Keadaan

tanah yang sangat masam menyebabkan tanah kehilangan kapasitas tukar kation dan

kemampuan menyimpan hara kation dalam bentuk dapat tukar karena perkembangan

muatan positif. Kapasitas tukar kation kaolinit menjadi sangat berkurang karena

perubahan pH dari menjadi 5,5. Kapasitas tukar kation yang dapat dijerap 100 gram

tanah pada pH 7. Kapasitas tukar kation menunjukkan kemampuan tanah untuk

menahan kation-kation dan mempertukarkan kation-kation tersebut. Kapasitas tukar


kation penting untuk kesuburan tanah maupun untuk genesis tanah. Beberapa

pengukuran kapasitas tukar kation telah dilaksanakan dengan hasil berbeda-beda.

Kation-kation tidak dapat dipisahkan dari permukaan padatan. Namun tidak

dapat ditukar dengan kation lain untuk tetap mempertahankan kenetralan listrik

system. Kation-kation yang diadsorpsi pada padatan tanah dapat tersedia untuk

tanaman dengan jalan pertukaran dengan ion H yang dikeluarkan oleh akar tanaman.

Penukaran ion harus dilakukan bila ingin mengeluarkan kation-kation yang

diadsorbsi melalui pencucian.

Berdasarkan uraian di atas, maka dianggap perlu untuk melakukan praktikum

mengenai Kapasitas Tukar Kation tanah untuk mengetahui tingkat Kapasitas Tukar

Kation pada tanah Alfisol, Alluvial, Vertisol dan Ultisol .

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari praktikum Kapasitas Tukar Kation adalah untuk mengetahui dan

membandingkan nilai Kapasitas Tukar Kation pada tanah Alfisol, Ultisol, Vertisol

dan Alluvial serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Kegunaannya dari praktikum ini adalah sebagai bahan informasi untuk

mengetahui jumlah kation-kation yang dapat dijerap dan ipertukarkan pada berbagai

jenis tanah di atas yang dapat digunakan sebagai suatu areal pertanian.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Tanah Alfisol

Kapasitas Tukar Kation tanah adalah jumlah muatan negatif tanah baik yang

bersumber dari permukaan koloid anorganik (liat) muatan koloid organik (humus)

yang merupakan situs pertukaran kation-kation. Baha organik tanah

Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, Mg+, K+, Na+, H+, Al3+ dan

sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut dalam air tanah atau

dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam miliekuivalen) yang

dapat diserap oleh tanah persatuan berat tanah (biasanya per 100 gram) dinamakan

Kapasitas Tukar Kation (KTK). Kation-kation yang telah dijerap oleh koloid-koloid

tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi, tetapi dapat diganti oleh kation lain yang

terdapat di dalam larutan tanah (Foth, 1991).

Kapasitas tukar kation menunjukkan kemampuan tanah untuk menahan kation-

kation dan mempertukarkan kation-kation tersebut. Kapasitas tukar kation penting

untuk kesuburan tanah maupun untuk genesis tanah. Beberapa pengukuran KTK

tanah telah dilaksanakan dengan hasil yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena

1. KTK bervariasi sesuai dengan pH. Oleh karena itu dalam

menentukan KTK di laboratorium harus dijelaskan pada pH berapa

KTK tersebut ditentukan. Beberapa tanah menunjukkan KTK rendah

pada pH lapang (pH rendah) tetapi tinggi pada pH tinggi, misalnya

pada pH 8,2. Hal ini disebabkan karena perbedaan daya reaksi

kation-kation dengan koloid tanah yang ada apakah kolid-koloid

tersebut berupa mineral liat kristalin, hidroksida, senyawa amorf atau


bahan organic. Penentuan KTK pada pH 7 banyak dilakukan.

2. Hasil analisis KTK dapat berbeda karena kation yang dipergunakan

untuk mengganti kation-kation dalam koloid tanah (bahan

pengekstrak) berbeda (Hardjowigeno, 1985).

2.2. Tanah Alluvial

Dalam analisis KTK, mula-mula semua kation yang dapat dipertukarkan diganti

dengan kation tertentu misalnya dengan NH4+ (dari larutan NH4Oac), kemudian

ditentukan jumlah kation yang diperlukan untuk mengganti kation tersebut. Beberapa

kation terutama K bila digunakan sebagai kation pengganti akan memberi gambaran

yang kurang tepat karena sebagian dari K dapat diikat oleh mineral liat tertentu

seperti mineral illit (Hardjowigeno, 1993).

Ada dua cara yang banyak dipakai untuk menentukan KTK yaitu penjenuhan

dengan ammonium pada pH 7 (NH4Oac, pH 7) dan dan metode penjumlahan kation

di mana semua kation yang dapat dipertukarkan yaitu kation basa + kation asam

dijumlahkan. Karena adanya perubahan KTK akibat perubahan pH, maka KTK tanah

dapat dibedakan menjadi KTK tetap (permanent charge) dan KTK tergantung pH

(pH-dependent charge) (Hardjowigeno, 1993).

KTK tetap adalah jumlah muatan negative dari liat akibat subtitusi ion-ion

dengan muatan rendah terhadap ion-ion dalam struktur kristal yang bervalensi lebih

tinggi. Hal ini terjadi pada waktu proses pembentukan liat sedang berjalan. Sebagai

contoh misalnya subtitusi Al3+ terhadap Si4+ dalam Si tetrahedron atau subtitusi Mg2+
terdapat Al3+ dalam Al octahedron. Akibat subtitusi tersebut maka terjadilah

kelebihan muatan negative dalam mineral liat yang merupakan KTK tetap

(Purwowidodo, 1982).

2.3. Tanah Ultisol

Ultisol merupakan tanah yang telah mengalami proses pelapukan lanjut melalui

proses Luxiviasi dan Podsolisasi. Ditandai oleh kejenuhan basa rendah (kurang dari

35% pada kedalaman 1,8 m), Kapasitas Tukat Kation kurang dari 24 me per 100

gram liat, bahan organic rendah sampai sedang, nutrisi rendah dan pH rendah (kurang

dari 5,5) (Munir, 1996).

Tingkat pelapukan dan pembentukan Ultisol berjalan lebih cepat, daerah-daerah

yang beriklim humid dengan suhu tinggi dan curah hujan tinggi menyebabkan Ultisol

mempunyai kejenuhan basa-basa rendah. Selain itu Ultisol juga mempunyai

kemasaman tanah, kejenuhan Aldd tinggi, Kapasitas Tukar Kation rendah (kurang

dari 24 me per 100 gram tanah), kandungan nitrogen rendah, kandungan fosfat dan

kalium tanah rendah serta sangat peka terhadap erosi(Soepraptoharjo, 1979).

Pengaruh pemupukan lebih lanjut pada tanah Podsolik merah kuning untuk

menambah jumlah dan tingkat ketersediaan unsure hara makro, karena telah diketahui

bahwa Ultisol miskin akan basa-basa (yang ditandai dengan kejenuhan basa kurang

dari 35%) dan KTK rendah (kurang dari 24 me per 100 gram liat) (Munir, 1996).

KTK dan jumlah kemasaman terukur pada Ultisol sanagt tergantung pada pH

larutan yang digunakan dalam penetapan, misalnya nilai terbesar dari KTK dan
kemasaman umumnya diperoleh bila penetapan dilakukan pH 8,2 sedang pada pH 7,0

dan terendah bila ditetapkan pada pH tanah. Sumber utama KTK bergantung pH dan

kemasaman mencakup hidrolisis senyawa-senyawa Al hidroksi antar lapisan

(Soepardi, 1979).

2.4. Tanah Vertisol

Vertisol adalah tanah yang memiliki KTK dan kejenuhan hara yang tinggi. Rekasi

tanah bervariasi dengan asam lemah hingga alkaline lemah, nilai pH antara 6,0

sampai 8,0, pH tinggi (8,0 - 9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi dan

Vertisol masam (pH 5,0 – 6,2) (Munir, 1996).

KTK tanah-tanah Vertisol umumnya sangat tinggi disbanding dengan tanah-tanah

mineral lainnya. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan liat yang terbungkus

mineral Montmorillonit dengan muatan tetap yang tinggi. Kandungan bahan organik

sungguhpun tidak selalu harus tinggi mempunyai KTK yang sangat tinggi. Katio-

kation dapat tukar yang dominant adalah Ca dan Mg sdan pengaruhnya satu sama lain

sangat berkaitan dengan asal tanah (Lopulisa, 2004).

Kejenuhan basa ynag tinggi, KTK yang tinggi, tekstur yang relative halus,

permeabilitas yang rendah dan pH yang relative tinggi dan status hara yang tidak

seimbang merupaka karakteristik Vertisol (Hardjowigeno, 1985).


III. BAHAN DAN METODE

3.1. Tempat dan Waktu

Praktikum Kapasitas Tukar Kation dilaksanakan di Laboratorium Kimia Tanah,

Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar. Yang

dilaksanakan pada hari Rabu, 25 April 2007, pukul 13.30 WITA sampai selesai.

3.2. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tempat botol roll film,

gelas ukur, erlemeyer, tabung destilasi, corong dan timbangan.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel tanah Alfisol,

Aluvial, Ultisol, Vertisol, aquadest, tissue roll, kertas label, alkohol 70%, Amonium

asetat 1 N, MgO 0,5 gr, 25 ml NaOH 10 N, 20 ml Conway, HCl 0,1 N dan kertas
saring.

3.3. Pelaksanaan Percobaan

Adapun Prosedur Kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah :

1. Memasukkan 5 gram sampel tanah ke dalam botol roll film

2. Menambahkan 25 ml Ammonium Asetat 1 N

3. Mengocok selama 1 jam

4. Menyaring sampai semua tanah pindah ke kertas saring (untuk analisis

Kapasitas Tukar Kation)

5. Mengencerkan hasil saringan sampai 50 ml (untuk analisa Ca, Mg, K, Na)

6. Mencuci dengan alkohol 70% tanah pada kertas saring sampai bebas NH3

7. Memasukkan 0,5 gr MgO setelah bebas NH3, memasukkan ke dalam tabung

destilasi, dan ditambahkan NaOH 10 N sebanyak 25 ml

8. Mendestilasi, destilasi ditampung ke dalam erlemeyer yang berisi 20 ml

Conway

9. Menitrasi dengan HCl 0,1 N

10. Menghitung dengan menggunakan rumus

KTK ( c mol/kg) = ml penitar x N x 100/5


g sampel
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebgai

berikut:

Tabel 2 : Hasil perhitungan penentuan KTK tanah pada tanah Alfisol, Ultisol, vertisol
dan Alluvial.

Jenis Tanah Nilai KTK ( cmol/g)


Alfisol 2,63
Ultisol 0,55
Vertisol 3,33
Alluvial 2,04
Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2007

4.2. Pembahasan
Berdasarkan praktikum penentuan KTK yang telah dilakukan, maka

kita dapat memperoleh nilai KTK pada jenis tanah Alfisol, Ultisol, Vertisol, dan

Alluvial yang berbeda. Dimana antara jenis-jenis tanah tersebut, tanah Vertisol

memiliki nilai KTK yang sangat tinggi yaitu bernilai 3,33 cmol/kg bila dibandingkan

dengan tanah Alfisol yang bernilai 2,63 cmol/kg, tanah Alluvial 2, 04 cmol/kg dan

tanah Ultisol yang bernilai 0,95 cmol/kg yang sangat rendah.

Tanah Ultisol memiliki nilai KTK tanah yang sangat rendah yaitu bernilai

0,55 cmol/g. Tanah Ultisol memiliki kandungan bahan organik yang rendah, daya

menahan air jelek dan kandungan unsur hara sangat rendah sehingga nilai KTK

tanahnya sanagt rendah sebab kurangnya unsur-unsur hara yang dapat dijerap oleh

tanah serta kejenuhan basa yang sangat rendah dalam tanah untuk meningkatkan

kapasitas tukar kation dalam tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarief (1984)

bahwa tanah Ultisol memiliki KTK tanah yang sangat rendah serta memiliki ukuran

pori-pori makro yang sukar untuk menjerap air dalam tanah serta kurangnya tingkat

kejenuhan basa dalam tanah.

Tanah Alluvial memiliki nilai KTK tanah yang sedang atau tidak terlalu tinggi

dan tidak terlalu rendah yaitu bernilai 2,04 cmol/g. Hal ini disebabkan oleh kejenukan

basa, tekstur dan struktur yang kurang mantap dan KTK tanah yang agak rendah.

Menurut Hakim, dkk (1986) bahwa tanah Alluvial berada pada daerah yang bercurah

hujan tinggi yang memperlihatkan KTK yang rendah karena sering mengalami

pencucian dan kejeuhan basa yang rendah yang diikuti dengan kandungan N dan K

atau kandungan P dan K yang sangat dipengaruhi oleh tekstur tanahnya.


Tanah Alfisol memiliki nilai KTK tanah yang cukup tinggi yaitu bernilai 2,63

cmol/g, bila dibandingkan dengan tanah Ultisol dan Alluvial yang sangat rendah. Hal

ini disebabkan karena pada tanah ini kurang mengalami pencucian dan pelapukan

dlam tanah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi KTK tanah Alfisol tersebut

menjadi cukup tinggi, dimana tanah Alfisol memiliki tekstur tanah yang halus,

struktur tanah yang berhubungan dengan agregasi partikel liat serta tingkat pH tanah

yang cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Foth (1994) bahwa tanah Alfisol

berkembang di daerah hutan humid yang mengandung 205 atau lebih lempung dari

horizon A, dan tanahnya kurang mengalami pencucian dan pelapukan , sehingga

bahan organic dan KTK-nya cukup tinggi.

Tanah Vertisol memiliki nilai KTK tanah yang sangat tinggi yaitu bernilai

3,33 cmol/g. Hal ini disebabkan karena pada tanah Vertisol memiliki kandungan

bahan organik yang tergantung tekstur tanah, jika tekstur tanahnya halus atau banyak

kandungan liatnya serta daya menyerap air dalam tanah tinggi sehingga menimbulkan

tingkat kapasitas tukar kation yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat

Lopulisa (2004) bahwa semua tanah dalam ordo ini mempunyai KTK yang tinggi

serta dapat dijenuhi dengan Al tetapi pada Vertisol dengan KTK yang sama dan dapat

mengabsorbsi air dalam jumlah yang relative tinggi dalam pembahasan dan

pengeringan atau pada kondisi adanya dya hisap dan daya tegang pada KTK tanah

yang tinggi pula.

Faktor-faktor yang mempengaruhi KTK tanah adalah rekasi tanah (pH),

tekstur tanah, tipe dan kandungan liat, bahan organik dan suatu pengapuran dan
pemupukan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum penentuan KTK tanah, maka dapat ditarik kesimpulan

sebagai berikut:

1. Nilai KTK tanah Alfisol yaitu 2,63 cmol/g yang memiliki kandungan bahan

organik dan KTK yang cukup tinggi.

2. Nilai KTK tanah Ultisol yaitu 0,55 cmol/g yang memiliki kandungan bahan

organik dan KTK yang sangat rendah.

3. Nilai KTK tanah Vertisol yaitu 3,33 cmol/g yang memiliki kandungan bahan

organik dan KTK yang sangat tinggi.

4. Nilai KTK tanah Alluvial yaitu 2,04 cmol/g yang memiliki kandungan bahan

organik dan KTK yang agak rendah

5. Faktor-faktor yang memepengaruhi KTK tanah adalah reaksi tanah (pH),

tekstur tanah, tipe dan kandungan liat, bahan organic dan suatu pengapuran

dan pemupukan.
Saran

Sebaiknya pada tanah-tanah yang kandungan bahan organiknya rendah harus

ditambah dan dilakukan pengapuran atau penambahan unsur hara dalam tanah supaya

KTK tanah menjadi lebih baik, sehingga tanaman yang tumbuh memperoleh hara

dalam jumlah dan kapasitas yang sesuai.

LAMPIRAN

Perhitungan nilai KTK unuk tanah Alfisol, Vertisol, Ultisol dan Alluvial pada

percobaan penentuan KTK adalah sebagai berikut:

 Tanah Alfisol

Dik: ml penitar = 6,7 ml

N = 0,098

G sampel = 5 gram

Dit:

KTK (c mol/g) = …?

Penye:

KTK (c mol/g) = ml penitar x N x 100/5


g sampel

= 6,7 x 0.098 x 100/5


5

= 13,13
5

= 2,63 c mol/kg
 Tanah Ultisol

Dik: ml penitar = 1,4 ml

N = 0,098

G sampel = 5 gram

Dit:

KTK (c mol/g) = …?

Penye:

KTK (c mol/g) = ml penitar x N x 100/5


g sampel

= 1,4 x 0.098 x 100/5


5

= 2,74
5

= 0,55 c mol/kg

 Tanah Vertisol

Dik: ml penitar = 8,5 ml

N = 0,098

G sampel = 5 gram

Dit:

KTK (c mol/g) = …?

Penye:
KTK (c mol/g) = ml penitar x N x 100/5
g sampel

= 8,5 x 0.098 x 100/5


5

= 16,66
5

= 3,33 c mol/kg
 Tanah Alluvial

Dik: ml penitar = 5,2 ml

N = 0,098

G sampel = 5 gram

Dit:

KTK (c mol/g) = …?

Penye:

KTK (c mol/g) = ml penitar x N x 100/5


g sampel

= 5,2 x 0.098 x 100/5


5

= 10,19
5

= 2,04 c mol/kg
DAFTAR PUSTAKA

Foth D.H., 1991. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Foth D.H, 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Hardjowigeno, S. 1993. Genesis dan Klsifikasi Tanah. Fakultas Pasca Sarjana


Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hardjowigeno, S. 1985. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Presinso,


Jakarta.

Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. R. Saul, M. A.


Diha, Go Ban Ilong, N. H. Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
Universitas Lampung, Lampung.

Lopulisa, C, 2004. Klasifikasi Tanah-Tanah Utama Dunia. Lembaga Penerbitan


Universitas Hasanuddin. Makassar.

Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. P.T. Dunia Pustaka Jaya. Jakarta.

Sarief, S. 1984. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Guara bandung. Bandung.

Soepardi, 1979. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.

Soepraptoharjo, 1979. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian, Universitas


Brawijaya, Malang.

Purwowidodo, 1982. Teknologi Mulsa. Dewa Ruci Press, Jakarta.